Revitalisasi KRL Commuter dan Transportasi Berbasis Rel di Jabodetabek

Posted: 25 Juli 2022 in Perkotaan
Tag:, , , , , ,

Stasiun Manggarai

Tahun 2010, saya pernah membahas mengenai revitalisasi KRL Commuter Jabodetabek di artikel ini (KRL Jabotabek, Ayo Berbenah !). Disitu saya berharap agar sepuluh tahun ke depan kita bisa memiliki fasilitas kereta komuter yang modern. Namun hanya tiga tahun berselang, harapan saya terkabul. Tak perlu menunggu sepuluh tahun, di tahun 2013 kita sudah memiliki kereta komuter yang boleh dibilang cukup modern. Memang belum serancak yang ada di Singapura, tapi boleh lah. Ketika itu di bawah kepemimpinan Ignasius Jonan, PT Kereta Api Indonesia (KAI) benar-benar melakukan revitalisasi. Tak hanya kereta luar kota saja yang dibenahinya, tapi juga kereta dalam kota atau yang dikenal dengan KRL Commuter Jabodetabek. Jonan menyadari, selama ini KRL Commuter mengalami inefisiensi. Dari kebocoran karcis, pegawainya yang korup, hingga jaringannya yang tak efektif.

Pelan-pelan, satu-satu, permasalahan demi permasalahan ia tangani. Langkah pertama yang ia lakukan adalah membenahi problem kepegawaian KAI yang seabrek. Ia lalu menaikkan gaji pegawai KAI berlipat-lipat. Masalah kebocoran karcis, disiasatinya dengan penggunaan tiket elektronik. Sejak saat itu, semua pengguna KRL harus memiliki tiket kereta, dan gak ada lagi yang bisa bayar petugas di atas rangkaian. Selain itu, ia juga memperbaiki fasilitas kereta dan stasiun. Semua rangkaian tak ada lagi yang tak ber-AC. Pedagang asongan dilarang masuk ke stasiun, apalagi sampai ke dalam rangkaian. Toilet stasiun-pun juga tak luput dari pembenahannya. Jonan juga mengubah jalur kereta yang selama ini tak efektif. Ia menambah lintasan Bogor yang hanya melayani rute Jakarta Kota, dengan rute baru menuju Jatinegara. Dari Bekasi, ia juga memecah jalur ke Jakarta Kota, via Manggarai dan Pasar Senen. Dengan segala pembenahan itu, jumlah penumpang KRL melonjak gak karu-karuan. Dari sebelumnya cuma empat ratus ribu per hari, naik hingga menyentuh angka satu juta.

Kini setelah Jonan tak lagi menjabat, legacy-nya itu masih kita rasakan. Malah boleh dibilang pelayanan KRL Commuter sekarang semakin membaik. Dulu, pas awal-awal Jonan merevitalisasi, jumlah satu rangkaian hanya 8 gerbong. Kini sebagian besar sudah 12 gerbong. Jalurnya-pun sudah semakin panjang. Untuk lin ke barat daya, sudah menjangkau kota Rangkasbitung. Begitu pula lin ke timur yang sudah mencapai Cikarang. Jalur ke Tanjungpriok yang bertahun-tahun terbenam dan terlupakan, juga sudah diaktifkan. Yang juga perlu dicatat adalah renovasi stasiun di sepanjang lintas Manggarai-Cikarang, serta pembangunan stasiun baru Matraman. Terakhir dan kini sedang dikerjakan adalah pembangunan Stasiun Manggarai yang nantinya akan menjadi stasiun sentral. Dengan selesainya Manggarai, maka seluruh perjalanan dalam kota, antar kota, dan ke bandara, bisa dilayani dari stasiun ini.

Untuk mendukung rencana tersebut, di akhir bulan Mei lalu KRL Commuter kembali melakukan switch over persinyalan yang berakibat pada penghapusan rute Bogor/Depok-Jatinegara. Lin Cikarang/Bekasi yang sebelumnya melayani rute Jakarta Kota, dihapus dan diganti dengan rute melingkar via Tanah Abang. Dengan perubahan ini, maka penumpang dari Bekasi yang hendak ke Jakarta Kota, ataupun warga Bogor yang mau ke Sudirman, harus berpindah di Stasiun Manggarai. Akibatnya stasiun ini jadi lebih padat dan hiruk pikuk. Optimalisasi Stasiun Manggarai memang belum sepenuhnya berjalan seratus persen. Disamping bangunan Stasiun Manggarai yang baru jadi sebagian, akses kesinipun masih semrawut. Di pintu masuk stasiun, kita masih melihat bajaj serta ojek daring yang mangkal sembarangan. Belum lagi taksi yang sering berhenti seenaknya, sehingga menghambat laju lalu lintas orang yang hendak ke luar ataupun menuju stasiun.

Untuk mendukung Manggarai sebagai stasiun sentral, rencananya KAI akan membebaskan beberapa lahan di sekitar stasiun. Ada sekitar 25 hektar tanah milik negara yang kini menjadi pemukiman warga. Perlahan-lahan di sisi barat stasiun sebagian telah dibebaskan, dan kini telah menjadi tempat parkir. Selanjutnya di sebelah timur stasiun hingga sempadan Kali Ciliwung juga akan dibebaskan. Disini nantinya akan menjadi gerbang masuk serta area komersial. Untuk merevitalisasi Manggarai sebagai stasiun sentral memang harus all-out. Jangan tanggung-tanggung. Manggarai bisa menjadi stasiun percontohan yang mendatangkan pemasukan (cash cow) bagi KAI.

Karena stasiun ini nantinya akan menjadi tempat pemberangkatan kereta jarak jauh, maka harus dipikirkan pula lalu lintas menuju kesana. Saat ini, jalan-jalan di sekitar stasiun sangatlah kecil. Jalan Tambak, Jalan Minangkabau, serta Jalan Sultan Agung yang menjadi akses utama, masih terdiri dari dua lajur. Jalan-jalan ini mau tak mau harus diperlebar. Minimal empat lajur di kedua arahnya. Selain itu yang perlu menjadi perhatian adalah tempat parkir. Kalau kita melihat Stasiun Gambir yang menjadi pemberangkatan kereta antar kota saat ini, sangatlah semrawut! Untuk keluar parkir saja, kadang memakan waktu 20-30 menit. Belum lagi lot parkirnya yang terbatas. Oleh karenanya perlu dipikirkan tempat parkir yang representatif di Manggarai. Tempat parkir seperti di mal-mal, agaknya perlu diterapkan. Karena areanya yang terbatas, Manggarai bisa membangun gedung parkir ataupun parkir bawah tanah (basement). Terlebih stasiun ini sudah memiliki lorong bawah tanah yang bisa dijadikan akses untuk menuju peron stasiun.

Bang Sue Grand Station, Bangkok

Satu lagi hal mendesak yang harus dikerjakan oleh KAI Commuter adalah peremajaan stasiun pada lintas Bogor-Manggarai serta Duri-Tangerang. Jika saat ini baru Stasiun Tebet, Bogor, Duri, dan Batuceper yang dipermak, maka sudah seharusnya stasiun-stasiun lainnya juga dimodernisasi. Peremajaan stasiun tentunya harus berorientasi profit. Dengan cantiknya stasiun-stasiun tersebut, maka akan semakin banyak lagi masyarakat yang mau menaiki komuter. Hal ini pada gilirannya bisa meningkatkan sewa kios dan pemasang iklan di stasiun. Meski stasiun di lintas Cikarang-Manggarai telah semuanya diremajakan, namun agaknya KAI Commuter belum memaksimalkan stasiun-stasiun tersebut untuk area komersial. Para pemasang iklan serta penyewa kios nampaknya belum sebanyak di stasiun-stasiun central line antara Manggarai-Jakarta Kota.

Kalau kita melihat pengembangan stasiun kereta api di beberapa negara, terlihat kalau mereka cukup serius dalam menggarap sisi komersial diluar penumpang (non-core). Kita tak usah jauh-jauh melihat Jepang atau negara Eropa yang memang sejak dulu telah menjadikan stasiun-stasiunnya sebagai area komersial. Lihat saja Bang Sue Grand Station di Bangkok yang saat ini merupakan stasiun terbesar di ASEAN. Di stasiun seluas 298.200 m² itu, SRT (KAI-nya Thailand) menyediakan sekitar 52.375 m² area komersial serta 2.303 m² space iklan. Bang Sue diharapkan tak cuma sebagai hub transportasi berbasis rel di Bangkok, namun juga menjadi area bisnis yang menguntungkan. Area di sekitar stasiun rencananya akan disewakan kepada pihak swasta untuk dikembangkan menjadi apartemen ataupun kompleks perkantoran.

* * *

Jika nantinya Manggarai menjadi simpul pemberangkatan kereta antar kota, kereta komuter, serta kereta bandara, bagaimana dengan moda lainnya seperti kereta cepat (high speed rail), LRT (light rapid transit), dan MRT (moda raya terpadu) yang saat ini juga sedang dikebut pembangunannya? Harus ada satu lagi stasiun sentral yang menjadi simpul ketiganya. Mungkin Stasiun Halim yang akan menjadi pemberangkatan kereta cepat bisa menjadi pilihan. Selain sudah terhubung dengan jaringan LRT, stasiun ini juga cukup dekat dengan Bandara Halim Perdanakusuma. Karena Stasiun Halim berada di pinggir kota, maka selain LRT harus tersedia pula jaringan bus rapid transit yang mengkoneksikannya. Karena segmen pasar kereta cepat adalah kalangan pebisnis, maka diperlukan bus premium yang menjangkau pusat-pusat bisnis ibu kota. Dengan adanya moda transportasi yang menghubungkan banyak tempat, pasti akan banyak orang yang mau menggunakan moda kereta cepat. Agar lebih menarik, tinggal di-bundling saja tiket kereta cepat dengan bus premium.

Selain integrasi antar moda, yang juga kudu menjadi perhatian adalah bagaimana me-leverage LRT dan MRT untuk industri pariwisata di Jakarta. Bangkok yang saat ini menjadi kota paling banyak dikunjungi para turis, bisa sedemikian besar pendapatannya dari pariwisata karena layanan kereta apinya yang baik. Dari Bandara Suvarnabhumi, wisatawan bisa mengakses pusat kota dengan kereta bandara. Di Stasiun Makkasan penumpang bisa berpindah ke MRT lalu ke BTS Skytrain. Sehingga untuk menjangkau tempat-tempat wisata populer di tepian Sungai Chao Phraya atau pusat perbelanjaan seperti Siam Square dan Chatuchak, cukup menggunakan kereta api. Begitupula dengan Singapura. Wisatawan dimanjakan dengan jaringan MRT-nya yang powerfull. Dari Bandara Changi, dengan menaiki MRT kita bisa langsung menuju Merlion Park atau Orchard Road.

Nah, saat ini pemerintah kita sedang mempercepat penyelesaian LRT dan MRT fase kedua. Kalau itu selesai, banyak sekali spot-spot wisata yang bisa dijangkau dengan menggunakan kereta. Di Jakarta Utara, Ancol rencananya akan terhubung dengan MRT. Untuk mempermudah orang yang ingin ke Kepulauan Seribu, harus dibuatkan pula shuttle bus melingkar yang menghubungkan Stasiun MRT Ancol, Stasiun Commuter Ancol, dan Pelabuhan Muara Angke. Begitu juga yang hendak menuju pantai pasir putih di Pantai Indah Kapuk, harus ada moda transportasi yang menjangkaunya. Revitalisasi Kota Tua Jakarta yang termasuk di dalamnya pembangunan Stasiun MRT Kota, saya lihat bagus sekali! Kalau ini selesai, Kota Tua Jakarta akan menjadi old town heritage terbaik di ASEAN. Di Jakarta Pusat, tempat perbelanjaan seperti Sarinah, Grand Indonesia, Plaza Indonesia, dan Plaza Senayan, telah terhubung dengan Stasiun MRT Bundaran HI dan Senayan. Sedangkan di Jakarta Timur, Taman Mini bisa dikoneksikan dengan Stasiun LRT Kampung Rambutan. Dengan terhubungnya tempat wisata favorit ibu kota dengan moda transportasi berbasis rel, maka diharapakan akan mendongkrak jumlah turis yang datang ke Jakarta.

Peron Atas Stasiun Manggarai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s