Arab McDonalds (sumber : thewvsr.com)

Arab McDonalds (sumber : thewvsr.com)

Lagi-lagi masa depan Amerika serta pengaruh dan kekuasaannya di kancah global kembali diperbincangkan. Hal ini mengemuka setelah beberapa negara calon super power mengalami perlambatan ekonomi sejak tahun 2013 lalu. Isu melemahnya pengaruh dan kekuasaan Amerika, sebenarnya sudah menjadi perbincangan hangat sejak dasawarsa 1980-an. Bahkan Josep S. Nye, sempat mengulas hal ini dalam bukunya yang berjudul “Bound to Lead : The Changing Nature of American Power”. Buku ini terbit pada tahun 1990, ketika kontribusi Produk Nasional Bruto (PNB) Amerika terhadap dunia mengalami penurunan cukup tajam : dari 32,7% (1985) menjadi 25,5% (1990). Pada saat itu, di Eropa juga baru saja terjadi reunifikasi Jerman Barat dan Jerman Timur, serta runtuhnya Blok Timur pimpinan Uni Sovyet.

Meski Amerika keluar sebagai pemenang Perang Dingin dan menjadi negara adidaya, namun kekhawatiran akan memudarnya pengaruh mereka di gelanggang internasional cukuplah menggema. Pada tahun 1989, separuh dari rakyat Amerika mengira bahwa negara mereka sedang mengalami kemunduran. Hanya satu dari lima orang Amerika yang percaya bahwa negara itu menjadi pemuncak kekuatan ekonomi dunia, meskipun PNB Amerika saat itu adalah yang terbesar. Di bidang militer, mereka juga mencemaskan kemampuan nuklir serta kekuatan tentara konvensional, terlebih jika dibandingkan dengan Uni Sovyet. Saking takutnya mereka kehilangan kekuasaan, banyak buku dan artikel yang terbit di tahun 1980-an mengulas sejarah kemunduran bangsa-bangsa.

Seperti halnya cinta, kekuasaan lebih mudah dialami daripada diukur. Robert Dahl, seorang ahli politik terkemuka, mendefinisikan kekuasaan sebagai kemampuan untuk menyuruh orang melakukan sesuatu yang dengan cara lain tidak akan dilakukannya. Karena kemampuan untuk mengendalikan orang lain itu seringkali dihubungkan dengan kepemilikan sumber tertentu, maka para pimpinan politik sering mendefinisikan kekuasaan sebagai memiliki sumber-sumber. Sumber-sumber itu meliputi populasi, teritorial, sumber daya alam, jangkauan ekonomi, kekuatan militer, budaya, dan teknologi. Dengan definisi itu, maka kekuasaan tampak lebih konkret dan bisa diukur.

Dalam artikel kali ini kita akan melihat seberapa besar kekuasaan dan pengaruh Amerika dewasa ini, dengan mengacu kepada empat sumber terakhir, yakni jangkauan ekonomi, kekuatan militer, budaya, dan teknologi. Tanpa mengabaikan tiga faktor pertama, penulis berpendapat empat faktor terakhirlah yang justru menentukan pengaruh dan kekuasaan suatu negara. Disamping itu empat faktor tersebut masihlah samar-samar. Sehingga memberikan ruang kepada kita untuk mendiskusikannya.

 
Ekonomi

Para Penggerak Ekonomi Amerika (sumber : seopreview.blogspot.com)

Para Penggerak Ekonomi Amerika (sumber : seopreview.blogspot.com)

Jika melihat keadaan ekonomi Amerika dewasa ini, mungkin banyak orang yang percaya bahwa kemunduran itu sedang terjadi. Data yang menjadi rujukan banyak ekonom adalah andil perekonomian Amerika terhadap dunia. Dimana berdasarkan data tahun 2014, kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika terhadap dunia turun menjadi 22,5%. Angka ini merosot jika dibandingkan tahun 2001 yang mencapai 32,2%. Berdasarkan rasio total hutang per PDB, nampak bahwa hutang Amerika dari tahun ke tahun terus meningkat. Sejak tahun 2012, nilai hutang negeri Paman Sam telah melampaui dari apa yang bisa mereka hasilkan. Dan di tahun lalu, rasio tersebut sudah mencapai angka 103,2%. Meski angka ini masih lebih baik jika dibandingkan Jepang, Italia, ataupun Portugal, namun keadaan ini cukuplah mengkhawatirkan.

Selain dua alasan di atas, faktor lainnya yang sering diajukan banyak pihak adalah kegagalan sistem kapitalisme Amerika dalam menjawab berbagai persoalan dewasa ini. Krisis tahun 2008, adalah salah satu contoh kegagalan kapitalisme Amerika yang rakus. Dimana para “binatang ekonomi” yang selalu ingin menangguk untung besar itu, dipediarkan mengucurkan kredit kepada orang-orang yang jelas tak mampu membayar (subprime). Akibatnya, muncul hutang dalam jumlah besar yang kemudian berdampak sistemik terhadap sistem keuangan mereka. Dalam krisis kali ini, banyak perusahaan yang bertumbangan. Empat perusahaan keuangan, termasuk AIG dan Citigroup, terpaksa harus di-bailout pemerintah Amerika. Bahkan Lehman Brothers, salah satu perusahaan keuangan tertua dengan aset mencapai USD 690 miliar, harus mengalami kebangkrutan.

Selain perusahaan keuangan, krisis kali ini juga menghantam tiga perusahaan otomotif Amerika : The Big Three. General Motors, Chrysler, dan Ford, mengalami pendarahan akibat kerugian yang cukup besar. Market share mereka-pun turun dari 70% (1998) menjadi hanya sekitar 53% (2008). Tak hanya itu, dari segi penjualan-pun, untuk pertama kalinya General Motors tersingkir sebagai penjual mobil terbesar di dunia. Pada tahun 2007, posisinya digantikan oleh Toyota, dan enam tahun kemudian kembali terlampaui oleh perusahaan otomotif asal Jerman : Volkswagen. Penurunan penjualan ini tentu berakibat langsung terhadap jalannya roda perusahaan. Dimana pemerintah Amerika kemudian memberikan dana talangan untuk membiayai operasional mereka sehari-hari. Jika menilik kegagalan perusahaan otomotif Amerika dewasa ini, maka akan terlihat bagaimana tidak efisiennya mereka dalam membuat mobil. Kendaraan Amerika yang terkenal boros itu, kini tak bisa lagi bersaing dengan auto-auto company dari negara lain. Sebagai perbandingan, saat ini mobil buatan Amerika masih membutuhkan 9,4 liter untuk setiap 100 km-nya. Sedangkan Jepang telah berhasil menciptakan mobil dengan rasio bahan bakar 5,2 liter per 100 km. Bahkan perusahaan Eropa telah mampu menekan penggunaan bahan bakar hingga ke angka 5 liter.

Grafik Penjualan Tiga Perusahaan Otomotif Dunia : Toyota, GM, VW (sumber :  www.digitaljournal.com)

Grafik Penjualan Tiga Perusahaan Otomotif Dunia : Toyota, GM, VW (sumber : http://www.digitaljournal.com)

Meski dari indikator di atas terlihat bahwa Amerika sedang mengalami penurunan, namun di sisi lain — seperti penggunaan mata uang US dollar dalam perdagangan dunia, maka akan nampak kalau sesungguhnya pengaruh Amerika tetaplah dominan. Dominasi mata uang Amerika, bermula sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua. Dimana untuk memulihkan ekonomi Eropa yang hancur akibat perang, Amerika mengucurkan pinjaman ke negara-negara tersebut. Dengan membanjirnya uang Amerika di benua Eropa, maka mata uang itu mulai menggantikan kedudukan Poundsterling, Mark, Lira, dan Franc. Hingga saat ini, meski Eropa telah mempunyai mata uang tunggal, namun kedudukan US dollar tetap tak tergantikan. Mata uang ini masih dianggap sebagai alat tukar paling stabil, sehingga banyak digunakan oleh pemerintahan dan perusahaan-perusahaan di seluruh dunia. Berdasarkan data IMF di tahun 2011, hampir dua per tiga transaksi antar negara menggunakan mata uang ini. Jumlah itu jauh di atas mata uang kuat lainnya, seperti Euro, Yuan, dan Yen. Walau hutang Amerika terus mengalami kenaikan, serta adanya kebijakan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing) yang diterapkan akhir-akhir ini, namun kepercayaan masyarakat terhadap mata uang itu belumlah memudar. US dollar masih dianggap sebagai salah satu instrumen investasi yang cukup aman, disamping emas dan logam mulia lainnya.

Faktor lain yang cukup berpengaruh dan memainkan peranan penting dalam perekonomian dunia adalah etos wirausaha masyarakat Amerika. Hingga saat ini, Amerika masih menjadi rumah bagi sebagian besar perusahaan raksasa dunia. Berdasarkan data Fortune Global 500, pada tahun 2014 ada 128 perusahaan dengan pendapatan terbesar yang berasal dari Amerika. Jumlah ini jauh melampaui China (98), Jepang (54), Prancis (31), ataupun Inggris (29). Meski angka ini terus mengalami penurunan dalam satu dasawarsa terkahir, namun jika dilihat dari nilai pasar, perusahaan-perusahaan Amerika masihlah dominan. Dimana dari 10 perusahaan dengan nilai pasar terbesar, delapan merupakan perusahaan-perusahaan asal Amerika. Disamping itu, menurut indeks yang dipublikasikan oleh Millward Brown, lima perusahaan teratas dengan nilai merek termahal di dunia merupakan perusahaan-perusahaan yang berbasis di Amerika. Mereka adalah Apple, Google, IBM, McDonald’s, dan Microsoft.

Di bursa saham, pengaruh Amerika juga sangat terasa. Dua bursa mereka yakni New York Stock Exchange dan Nasdaq, masih menjadi acuan perdagangan saham di seluruh dunia. Selain menjadi bursa dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar, perusahaan-perusahaan investasi Amerika-pun masih menjadi pemain yang dominan. Dengan nilai investasi langsung sebesar USD 3,3 triliun, mereka bisa mengatur naik turunnya indeks di bursa-bursa global. Di bulan Juni-Juli lalu, Bursa Shanghai dan Bursa Shenzhen merasakan bagaimana besarnya pengaruh investor Amerika dalam mengatur harga saham perusahaan-perusahaan di China. Indeks Shanghai yang sebelumnya berada di posisi 5.166, turun sekitar 28% menjadi 3.700. Begitu pula halnya dengan indeks Shenzhen yang melorot hampir 40%, dari 3.140 ke 1.925, cuma dalam waktu tiga minggu. Meski secara nominal jumlah pengaruh Amerika agak sedikit menurun, namun secara intangible andil mereka dalam perekonomian dunia masihlah besar.

 

Peta Persebaran McDonalds di Seluruh Dunia (sumber : bme.eu.com)

Peta Persebaran McDonalds di Seluruh Dunia (sumber : bme.eu.com)


 
Teknologi

Dalam 50 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Amerika lebih banyak ditopang oleh penemuan-penemuan teknologi baru. Berdasrkan catatan “Encyclopedia Britannica“, dari 321 penemuan terbesar dunia, 161 diantaranya ditemukan oleh orang Amerika. Penemuan-penemuan mereka seperti mesin ATM, LCD, LED, komputer, mikrocip, AC, bar code, supermarket, dan internet, tanpa terasa telah mengubah perilaku manusia di seluruh dunia. Dengan penemuan internet saja, Amerika telah mengubah cara orang bertransaksi. Kini hampir semua jenis industri, dari perbankan hingga maskapai penerbangan, telah dioperasikan secara online. Akibatnya banyak lahir para start-up di negeri ini, yang kemudian menciptakan perusahaan besar dan cukup berpengaruh di dunia. Sebut saja misalnya Apple, Microsoft, dan Google, yang ketiganya masuk ke dalam top 10 perusahaan dengan nilai kapitalisasi terbesar.

Disamping kemudahan berbisnis, penemuan internet juga memungkinkan manusia untuk berinteraksi sosial. Memasuki abad ke-21, lagi-lagi Amerika menemukan sebuah platform baru yang mengubah cara orang berinteraksi. Penemuan itu kemudian dikenal dengan social media. Ada banyak platform media sosial di Amerika yang kemudian tumbuh menjadi perusahaan-perusahaan besar. Facebook, Twitter, Youtube, dan Instagram adalah beberapa platform yang memiliki jumlah pengguna paling banyak di dunia. Teknologi konstruksi baja juga merupakan penemuan Amerika yang cukup fenomenal. Berkat penemuan ini, telah memungkinkan para konstruktor untuk membangun gedung pencakar langit. Kini hampir sebagian besar kota-kota utama dunia, mengikuti jejak Amerika dalam membangun pencakar langit. Bahkan Dubai, salah satu bandar di tepi Teluk Persia, berangan-angan menyamai New York City dalam membangun gedung-gedung tinggi. Ada banyak lagi penemuan Amerika yang memberikan pengaruh signifikan terhadap peradaban manusia. Disamping IT dan teknologi konstruksi, penemuan bioteknologi, medis, pesawat terbang, militer, dan luar angkasa, masih menjadi domain Amerika saat ini.

 
Militer

Pada masa Perang Dingin, pengaruh kekuatan militer Amerika tak pernah dapat diukur secara akurat. Penyebabnya karena di masa itu Uni Sovyet masihlah menjadi pesaing aktual bagi mereka. Meski secara teknologi dan jumlah hulu ledak nuklir, militer Amerika jauh berada di depan, namun dari segi personil, Amerika harus puas berada di belakang Uni Sovyet – bahkan China. Begitu pula halnya dalam pengeluaran militer, dalam periode tertentu jumlah pengeluaran Uni Sovyet jauh lebih besar dibandingkan Amerika. Belum lagi dari sisi geopolitik, dimana letak Uni Sovyet yang membentang dari Eropa ke Asia, memudahkan mereka untuk memobilisasi kekuatan militer. Karena faktor-faktor inilah — belum lagi jika mempertimbangkan kegagalan Perang Vietnam (1962-1973), maka hegemoni negeri Paman Sam dalam Perang Dingin hanyalah bayang-bayang semata.

Karikatur oleh Monte Wolverton

Karikatur oleh Monte Wolverton

Lain ceritanya sejak keruntuhan Uni Sovyet di tahun 1991, dimana Amerika menjadi negara adidaya yang paling berpengaruh. Sejak saat itu, kebijakan militer Amerika selalu mendapat respons positif dari anggota NATO dan mayoritas anggota Dewan Keamanan PBB. Keluarnya Amerika sebagai (satu-satunya) negara super power, tentu telah mengubah haluan politik mereka dari negara penyeimbang menjadi negara yang mengatur jalannya perpolitikan dunia. Akibatnya, mereka menjadi negara yang paling sering berkonfrontasi dengan pihak lain.

Kebijakan Amerika di Irak (1991) menjadi test case pertama setelah tak adanya kekuatan lain yang bisa menandingi mereka. Amerika yang setelah Perang Dingin menganggap dirinya sebagai “polisi dunia”, merasa perlu untuk menginvasi Irak. Terlebih Kuwait yang menjadi korban keganasan Saddam, tak memiliki kekuatan yang memadai. Meski Irak mendapat dukungan Amerika selama Perang Iran-Irak (1980-1988), namun kali ini mereka justru berbalik memusuhi Saddam. Pasalnya negeri 1001 Malam itu telah mengganggu kepentingan Washington, terutama terkait dengan suplai minyak. Tak hanya dari dalam negeri, penyerangan Amerika ke Irak juga mendapat persetujan Liga Arab serta sekutu tradisional mereka (Inggris, Jerman, Prancis, dan Australia). Dalam invasi kali ini Amerika keluar sebagai pemenang, dan kepentingan mereka di kawasan Teluk-pun kembali terjaga. Kemenangan ini telah mengangkat kepercayaan diri serta martabat mereka sebagai penjaga keamanan dunia.

Pada tahun 2001, Amerika kembali menginvasi negara yang dianggapnya mengancam keamanan dunia. Kali ini yang menjadi korban adalah Afghanistan, negara yang sejak tahun 1996 dikuasai oleh rezim Taliban. Bagi perusahaan-perusahaan minyak Amerika dan Eropa, rezim ini telah menghambat kepentingan bisnis mereka di Asia Tengah. Tak ayal rezim yang menjadi pelindung Al Qaidah itu harus segera disingkirkan. Caranya, Amerika harus menciptakan keadaan yang bisa menjustifikasi penyerangan ke negara tersebut. Tragedi 9/11, yang dianggap oleh sebagian pihak sebagai rekayasa pemerintah Amerika, merupakan pembenaran untuk menggempur Afghanistan. Kaitannya, Al Qaidah yang dituduh sebagai pelaku tragedi tersebut mendapat perlindungan dari pemerintah Afghanistan. Dalam penyerangan ini, Amerika memperoleh dukungan Inggris, Australia, dan Kanada. Akibatnya dalam tempo relatif singkat Amerika berhasil mendongkel rezim Taliban, dan mendudukkan Hamid Karzai sebagai boneka mereka. Keberhasilan ini semakin melambungkan harga diri Amerika di mata masyarakat internasional.

Dua tahun berselang, Amerika kembali menginvasi Irak. Kali ini targetnya adalah melengserkan rezim Saddam Hussein yang dirasa menjadi ancaman serius. Sebelumnya Saddam telah beberapa kali menyerang Israel dan mengganggu kepentingan bisnis Amerika di Timur Tengah. Untuk membenarkan penyerangan tersebut, kali ini pemerintah Amerika menuduh Irak sebagai penghasil senjata pemusnah massal. Meski pendapat itu telah dibantah Badan Tenaga Atom Internasional, namun Amerika tetap menjalankan operasi penggulingan Saddam. Dalam penyerangan ini pemerintah George Walker Bush banyak mendapatkan kritik, baik dari kaum oposisi maupun sekutu mereka : Prancis. Meski aksi tersebut berhasil mendongkel kedudukan Saddam, namun kepercayaan masyarakat internasional terhadap Amerika agak memudar. Banyak pihak yang percaya, bahwa invasi Amerika pasca Perang Dingin sebenarnya hanya untuk memuluskan kepentingan ekonomi mereka, bukan untuk menjaga keamanan dunia.

Sylvester Stallone, Salah Satu Ikon Pop Dunia

Sylvester Stallone, Salah Satu Ikon Pop Dunia

Meski pendapat ini dibantah oleh Donald Rumsfeld, namun Michael Hardt dan Antonio Negri dalam bukunya “Empire” menilai invasi Amerika pasca Perang Dingin tak lebih seperti halnya imperialisme Eropa di abad ke-19. Menurutnya, serangan militer Amerika ke Irak (2003) merupakan awal kemunduran pengaruh Amerika di kancah perpolitikan global. Meski dewasa ini militer Amerika bisa bertindak secara absolut, namun di mata banyak pihak, Amerika tak lebih seperti kolonialis yang harus diwaspadai. Di beberapa negara Eropa, Rusia, China, dan mayoritas negara muslim, kekuatan militer Amerika lebih dianggap sebagai ancaman tenimbang sahabat yang bisa membantu. Sehingga dengan adanya kekhawatiran tersebut, akan kembali memunculkan persaingan diantara negara-negara potensial, yang dalam jangka waktu tertentu bisa melemahkan kekuatan militer Amerika. Hal ini bisa dilihat dari kasus melemahnya Imperium Roma, Turki Utsmani, ataupun Inggris, dimana mereka justru mendapatkan tantangan dari negara-negara pinggiran yang sebelumnya merasa terancam dengan kehadiran mereka.

 
Budaya

Pasca Perang Dunia Kedua, budaya pop Amerika telah mendapatkan tempat di hati banyak orang. Sebagian besar orang yang gandrung akan kebudayaan, setidaknya pernah menonton film produksi Hollywood atau mendengarkan musik ala Amerika. Sejak tahun 1950 hingga dewasa ini, dominasi sinema Amerika di jaringan bioskop global tak bisa terbendung. Berdasarkan catatan Stanley Rosen dalam jurnal “Hollywood, Globalization and Film Markets In Asia: Lessons For China?”, terungkap bahwa dari 10 film box office terpopuler (1991), seluruhnya adalah film-film produksi Hollywood. Di awal abad ke-21 kondisinya-pun hampir serupa. Dimana dari 29 film box office terpopuler (tahun 2002-awal 2003), semuanya dihasilkan oleh studio-studio milik Amerika. Begitu pula dengan lagu-lagu mereka yang selalu menjadi hits di tangga musik radio seluruh dunia. Tak pelak, kesuksesan tersebut telah menempatkan selebritis mereka seperti Sylvester Stallone, Arnold Schwarzenegger, Marilyn Monroe, Madonna, Angelina Jolie, Elvis Presley, Bon Jovi, dan Michael Jackson, sebagai ikon pop dunia.

Merebaknya budaya pop Amerika, tanpa disadari telah memberikan citra positif terhadap negara tersebut. Hampir keseluruhan gaya hidup masyarakat modern di paruh kedua abad ke-20, berkiblat ke negara ini. Dari gaya rambut, pakaian, sampai makanan, semuanya meniru gaya orang Amerika. Tak heran jika kemudian kita melihat bertebarannya kafe-kafe serta resto khas Amerika di berbagai belahan dunia. Sebagai catatan, saat ini saja McDonalds memiliki lebih dari 36.000 outlet di seluruh dunia, sementara Starbucks ada 22.766 kafe yang tersebar di 66 negara. Belum lagi Kentucky Fried Chickens, Dunkin Donuts, dan 7-Eleven, yang kesemuanya telah menjadi lambang gaya hidup masa kini. Mudahnya budaya Amerika melakukan penetrasi ke seluruh dunia, tentu disebabkan oleh kuatnya dukungan jaringan media mereka. MTV, Fox Channel, Cinemax, HBO, Disney, dan Cartoon Network, adalah beberapa media yang membantu menyebarkan American culture ke seantero dunia.

Faktor lain adalah besarnya pengguna Bahasa Inggris di seluruh dunia. Menurut perkiraan, ada sekitar dua miliar pengguna Bahasa Inggris saat ini, baik aktif maupun pasif. Meski kerajaan Inggris yang memperkenalkan Bahasa Inggris ke negara jajahannya, namun budaya pop Amerika-lah yang mempopulerkan bahasa tersebut ke pelosok muka bumi. Hampir semua orang yang ingin menikmati film dan musik kontemporer, haruslah memahami bahasa ini. Tak hanya itu, dalam diplomasi politik dan ekonomi-pun, Bahasa Inggris telah menjadi lingua franca antar bangsa. Akibatnya kursus Bahasa Inggris merebak di seluruh dunia.

Challenge of Democracy

Ideologi demokrasi juga merupakan soft power Amerika yang memberikan pengaruh cukup besar dalam perpolitikan global. Dengan isu demokrasi, Amerika bisa mendikte jalannya pemerintahan suatu negara. Di beberapa negara — terutama yang tak bersahabat dengan mereka, Amerika acap kali menyokong terjadinya kudeta atau suksesi secara paksa. Bahkan Amerika pernah men-support pembatalan hasil pemilihan umum karena pemenangnya adalah pihak yang tak diinginkan. Selama Perang Dingin, menurut catatan John Prados dan Gregory Treverton, Amerika pernah melakukan delapan kali dukungan terselubung terhadap aksi kudeta di suatu negara. Tiga diantaranya mengalami kegagalan, empat berhasil, dan satu tak ada kepastian. Pasca Perang Dingin, intervensi Amerika terhadap perpolitikan global terasa lebih intens. Bahkan mereka menciptakan istilah-istilah seperti : “poros setan”, “pelanggar hak asasi manusia”, dan “anti-demokrasi” terhadap negara-negara yang tak mau mengikuti kehendak mereka. Irak, Iran, Libya, Korea Utara, China, Myanmar, dan Suriah adalah beberapa negara yang sering memperoleh cap buruk Amerika. Selama periode 2010-2013, hampir keseluruhan suksesi politik di dunia Arab, ada andil Amerika di dalamnya. Hal ini mereka lakukan demi mengejar cita-cita demokratisasi ke seluruh dunia. Meski terkadang absurd, namun nilai demokrasi ala Amerika telah menyihir banyak negara di seluruh dunia. Termasuk Indonesia, yang sejak 1998 meninggalkan model demokrasi Pancasila, dan menjiplak hampir keseluruhan sistem demokrasi yang berlaku di Amerika.

 
* * *

Pada akhirnya kita harus mengakui bahwa pengaruh dan kekuasaan Amerika, baik dari aspek ekonomi, teknologi, militer, maupun kebudayaan, masihlah dominan. Meski artikel ini telah mengambil empat faktor utama dalam menilai pengaruh dan kekuasaan suatu bangsa, namun fakta yang tersaji bisa saja berubah secara drastis karena adanya invisible hand. Peperangan dan bencana alam adalah faktor-faktor yang tak terduga, yang bisa secara tiba-tiba menjungkirbalikkan keadaan dewasa ini.

 
Lihat pula :
1. Kebangkitan Asia dan Inkompetensi Barat
2. Amerika akan Kolaps ?
3. Peran dan Pengaruh Yahudi di Amerika

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s