Auwal Masjid, mesjid pertama di Afrika Selatan yang didirikan oleh ulama Indonesia (sumber : www.vocfm.co.za)

Auwal Masjid, mesjid pertama di Afrika Selatan yang didirikan oleh ulama Indonesia (sumber : http://www.vocfm.co.za)

Ada yang menarik dari laporan Tempo edisi 8-14 Februari 2016. Dalam laporan itu, Tempo mencatat mengenai kisah-kisah ulama Indonesia yang pernah hidup di Afrika Selatan. Mungkin sebagian dari Anda pernah mendengar nama Syekh Yusuf al-Makassari, ulama asal Gowa, Sulawesi Selatan yang dibuang pemerintah Belanda ke Tanjung Harapan pada tahun 1694. Ternyata selain Syekh Yusuf, masih banyak lagi ulama-ulama Indonesia yang diasingkan Belanda dan kemudian menjadi pendakwah Islam di ujung Benua Hitam itu. Diantaranya adalah Imam Abdullah bin Qadi Abdussalam atau yang dikenal dengan Tuan Guru. Beliau adalah pangeran asal Kesultanan Tidore yang dibuang Belanda pada tahun 1793. Bersama beliau ikut pula tiga orang muridnya : Abdol Rauf, Noro Imam, dan Badrodien. Disamping Syekh Yusuf dan Tuan Guru, dalam laporan itu disebut juga nama Syekh Matura atau Cakraningrat IV dari Madura, Imam Jabaruddin dari Jawa, serta Syekh Abdurrahman dari Padang.

Bagi sebagian masyarakat Capetown, kedatangan Islam di Afrika Selatan dipercaya bertepatan dengan tibanya Syekh Yusuf al-Makassari dari Srilanka. Syekh Yusuf yang menjalani masa pembuangannya sejak tahun 1684, menjadi seorang eksil setelah membantu Sultan Ageng Tirtayasa menentang kompeni Belanda. Dari Banten ia kemudian diasingkan ke Srilanka hingga sembilan tahun lamanya, sebelum akhirnya dipindahkan ke Afrika Selatan. Setibanya di Afrika, ia ditempatkan di kawasan Kaap, tepatnya di desa pertanian Zandvliet, mulut sungai Eerste. Menurut Abu Hamid dalam bukunya “Syekh Yusuf Makassar : Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang”, dalam pembuangannya itu beliau membawa serta 49 orang yang terdiri dari dua orang istri, putra-putri, 14 sahabat, dan 12 santri. Bersama para santri dan sahabat-sahabatnya inilah, ia kemudian menjadi pelopor penyebaran Islam di Afrika Selatan.

Di tempat pembuangannya yang baru, mula-mula Syekh Yusuf memantapkan pengajaran agama kepada para pengikutnya. Kemudian ia mempengaruhi orang-orang buangan lainnya yang didatangkan ke Kaap, yang sebagiannya berstatus budak. Dalam berdakwah, beliau dibantu oleh 12 orang santri yang melakukan pelayanan terhadap para eksil dan tahanan politik. Syekh Yusuf yang merupakan seorang sufi, banyak mengajarkan ilmu-ilmu tasawuf, khususnya tarekat Naqsyabandiyah dan Khalwatiyah. Inilah agaknya yang memikat banyak orang, terutama kaum “kulit berwarna” yang ketika itu berada di bawah jajahan bangsa Eropa. Pada tahun 1699, Syekh Yusuf wafat dalam usia 72 tahun. Meski jasadnya telah dikubur lebih dari tiga abad lalu, namun namanya masih tetap dikenang hingga hari ini. Nelson Mandela, tokoh pembebas sekaligus mantan presiden Afrika Selatan, bahkan menempatkan Syekh Yusuf sebagai salah satu inspiratornya dalam berjuang. Selain itu untuk mengenang kehadiran beliau di Capetown, kawasan Zandvliet yang dulunya menjadi tempat Yusuf bermukim, diabadikan dengan nama kampung halamannya : Macassar.

Syekh Yusuf al-Makassari

Syekh Yusuf al-Makassari

Raja Tambora, Abdul Basyir Nilauddin, juga merupakan salah seorang tahanan Belanda di Afrika Selatan. Ia dibuang VOC pada tahun 1697 setelah dituduh berkomplot melawan Sultan Dompu yang menjadi sahabat Belanda. Setibanya di Capetown ia ditempatkan di sebuah kandang kuda dan tidur beralaskan kotoran hewan. Perlakuan Belanda yang tak manusiawi itu mungkin juga disebabkan karena usianya masih muda. Berbeda dengan tahanan politik Indonesia lainnya yang dibuang ketika sudah berumur, Abdul Basyir diasingkan ke Afrika pada saat berusia 28 tahun. Di tanah kelahirannya Sumbawa, beliau terkenal sebagai penghafal Quran. Tak salah jika di pembuangan, beliau menulis mushaf Al Quran berdasarkan ingatannya. Setelah sekian lama berguru dengan Syekh Yusuf al-Makassari, Abdul Basyir kemudian menikahi putrinya : Siti Sara Marouf. Dari pernikahan itu beliau dikaruniai lima orang anak. Di Afrika Selatan kehidupan Abdul Basyir sangatlah memprihatinkan. Bersama para tahanan lainnya, ia cuma bisa bekerja di perkebunan untuk menghidupi keluarga. Pada tahun 1719 beliau wafat, dan jenazahnya dimakamkan di Capetown.

Imam Abdullah bin Qadi Abdussalam atau Tuan Guru, juga banyak berkontribusi terhadap perkembangan Islam di Afrika Selatan. Beliau diasingkan ke ujung benua Afrika pada tahun 1780, setelah melakukan perlawanan terhadap Belanda di tanah kelahirannya, Tidore. Bersama tiga saudaranya : Callie Abdul Rauf, Badaruddin, dan Nurul Imam, ia ditempatkan di Pulau Robbin, sebuah pulau terpencil yang berjarak 50 mil dari Capetown. Walau berada di dalam pengasingan, Imam Abdullah tetap menyerukan ajaran Islam. Dia menulis buku “Ma’rifat Al-Islam wal Iman” yang diselesaikannya pada tahun 1781. Buku yang berisi tentang yurisprudensi hukum Islam itu, kemudian menjadi pegangan bagi banyak kaum muslim di kawasan Cape.

Setelah menjalani masa pembuangan selama 13 tahun, pada tahun 1793 Tuan Guru akhirnya dibebaskan. Ia kemudian tinggal di Dorp Street, kawasan Melayu di Capetown. Disini ia mendirikan madrasah yang kemudian menjadi pusat pengajaran Islam bagi para budak dan orang-orang berkulit hitam. Beberapa muridnya yang kelak menjadi imam adalah Abdol Bazier, Abdol Barrie, Achmat van Bengalen, dan Imam Hadjie. Setelah Inggris mengambilalih Capetown pada tahun 1795, Gubernur Jenderal James Craig memberi izin umat muslim untuk mendirikan tempat ibadah. Kesempatan ini tak disia-siakan Tuan Guru, yang kemudian mengubah madrasahnya menjadi mesjid yang dikenal dengan Auwal Masjid (The Auwal Mosque). Hingga tahun 1800, beliau menjadi imam pertama mesjid tersebut, sebelum akhirnya digantikan oleh Imam Abdul Alim. Tuan Guru menikah dengan seorang perempuan lokal : Kaija van de Kaap. Dari pernikahannya itu, ia dikaruniai dua orang putra : Abdul Raqieb dan Abdul Rauf. Kelak keduanya menjadi pemimpin masyarakat muslim di Afrika Selatan. Saat ini, keturunan Tuan Guru yang cukup menonjol adalah Menteri Pengembangan Ekonomi Afrika Selatan, Ebrahim Patel. Dua tahun lalu, ia sempat berkunjung ke kota Tidore untuk mencari jejak leluhurnya.

Ulama Indonesia lainnya yang tercatat dalam sejarah Afrika Selatan ialah Jan van Boughies. Ia adalah seorang budak yang dibawa oleh Belanda dari tanah Bugis, Sulawesi Selatan. Setibanya di Capetown, ia dimerdekakan oleh seorang wanita setempat : Salia van Macassar yang kelak menjadi istrinya. Jan salah seorang murid Tuan Guru yang cakap berbahasa Arab. Oleh karenanya ia kemudian mengajar Bahasa Arab di madrasah asuhan Tuan Guru. Disamping itu Jan adalah seorang yang ambisius. Ia sangat menginginkan jabatan imam mesjid di The Auwal Mosque. Karena ambisinya tak tercapai, pada tahun 1807 bersama Frans van Bengalen ia membeli sebidang tanah di Long Street, Capetown. Disitu ia membangun rumah yang di atasnya berfungsi sebagai langgar. Empat tahun kemudian properti itu sepenuhnya telah menjadi milik Jan. Bersama para pengikutnya ia kemudian mendirikan Mesjid Palm Three atau yang dikenal dengan Jan van Boughies Masjid.

Bo Kaap

Bo Kaap, “Malay Quarter” di Capetown (sumber : landlopers.com)

Pada tahun 1820, ia menjadi imam mesjid tersebut dan mendapat gelar Imam Asnun. Tak hanya itu, ia juga menjadi pengajar tilawah serta teologi Islam. Reputasi Jan sebagai pemimpin umat yang campin sering menjadi catatan para sejarawan. Menurut Abdulkader Tayob dalam bukunya “Islam in South Africa : Mosques, Imams, and Sermons” dinyatakan bahwa ia juga banyak memerdekakan para budak. Antara tahun 1800-1818, tak kurang dari seratus kepala budak, baik itu dari Madagaskar ataupun Melayu dan kemudian Mozambik, yang ia bebaskan. Setelah kematian Salia van Macassar, Jan menikah lagi dengan gadis berusia 15 tahun : Samida van de Kaap. Pada tanggal 12 November 1846, Jan van Boughies wafat dalam usia 112 tahun. Jenazahnya kemudian dimakamkan di pemakaman Tana Baru, Capetown.

Syekh Matura atau yang bergelar Cakraningrat IV, juga pernah menjadi tahanan politik di Afrika Selatan. Dia menjadi orang buangan setelah melawan kekuasaan Belanda di Selat Madura yang berdekatan dengan wilayah kekuasaannya di Madura Barat. Setelah tertangkap atas bantuan Sultan Banjar, ia dibawa ke Batavia setelah akhirnya diasingkan Belanda ke Pulau Robbin. Yusril Ihza Mahendra yang pernah mengunjungi makam beliau menyatakan, bahwa di dinding makamnya itu tertera tulisan “The grave of Shaikh Mathura, the first man who reading the Holy Qur’an in South Africa”. Menurut penulis keterangan ini agaklah meragukan. Mengingat Syekh Matura tiba di Afrika Selatan pada tahun 1742, 48 tahun setelah kedatangan Syekh Yusuf al-Makassari. Beliau wafat pada tahun 1754 dan makamnya hingga hari ini menjadi tempat yang dikeramatkan.

Selain di Capetown banyak pula ulama Indonesia yang bermukim di Port Elizabeth. Salah satu nama yang tertera pada nisan South End Valley Cemetery, kompleks pemakaman muslim di kota itu — adalah Imam Haji Abu Rafi. Dia adalah seorang ulama keturunan Jawa yang menyebarkan Islam di Algoa Bay, nama lama untuk Port Elizabeth. Beliau berdakwah disana selama 42 tahun hingga akhirnya meninggal dunia pada tahun 1856 dalam usia 71 tahun. Imam Abu Rafi dan saudaranya Imam Abu Salie, dikenal sebagai leluhur komunitas muslim Melayu di ibu kota Eastern Cape itu. Mereka lahir di Capetown dari ayah yang asli dan lahir di Indonesia.

 

* * *

Berdasarkan catatan The World Factbook CIA, dewasa ini umat muslim di Afrika Selatan berjumlah sekitar 825.000 jiwa atau setara 1,5% populasi. Seperlimanya atau sekitar 176.000 jiwa adalah keturunan Indonesia yang disebut sebagai masyarakat Melayu Cape (Cape Malay). Meski mereka relatif lebih sedikit – dibandingkan keturunan India, namun memiliki pengaruh cukup signifikan. Hal ini disebabkan karena sebagian dari mereka yang dibawa ke Afrika Selatan berasal dari golongan bangsawan dan ulama. Sehingga kemudian banyak yang memiliki pesantren, menjadi pengajar, atau pemimpin pergerakan. Menurut Zaim Saidi dalam bukunya “Ilustrasi Demokrasi”, di awal abad ke-19 ketika umat muslim Afrika Selatan melakukan konsolidasi, sebagian penggeraknya adalah orang-orang Indonesia. Salah satu penandanya adalah Auwal Masjid di kawasan Bo-Kaap yang dipelopori oleh ulama asal Indonesia. Di kawasan yang juga dikenal sebagai “Malay Quarter” itu, kini setidaknya terdapat delapan buah mesjid. Selain pengajian, pembacaan Yasin, dan wiridan, di tempat ini juga masih berlangsung ritual muslim Indonesia lainnya, seperti ratieb atau sejenis debus di tanah Banten.

Indonesia's Heritage Corner

Indonesia’s Heritage Corner di Port Elizabeth (sumber : http://www.kemlu.go.id)

Mengenai komunitas Melayu Cape, menarik untuk disimak pendapat Ibrahim Salleh, Kepala Sekolah Muslim Bosmont. Menurut beliau selama ini banyak orang mengira bahwa komunitas tersebut berasal dari Malaysia. Padahal catatan F.R. Bradlow dalam situs www.sahistory.org.za, dari keseluruhan budak di Afrika Selatan pada paruh kedua abad ke-17 (1658-1700), sekitar 14,58%-nya berasal dari Indonesia. Sedangkan yang datang dari Malaysia hanya berjumlah 0,32%. Kedatangan orang-orang Indonesia ke Afrika Selatan terus bertambah hingga di penghujung abad ke-18, ketika negeri itu berganti kekuasaan dari Belanda ke tangan Inggris. Meski sebagian besar orang Melayu di Afrika Selatan berketurunan Indonesia, namun harus diakui justru pemerintah Malaysia-lah yang lebih intens menjalin kerja sama dengan mereka. Ke depan hal inilah yang menjadi tantangan bagi pemerintah Indonesia, untuk merangkul mereka sebagai potensi bangsa. Terlebih banyak diantara mereka yang juga aktif di dunia politik dan wirausaha. Semoga dengan diadakannya “Kongres Diaspora Indonesia” setiap tahunnya, akan tersambung lagi silaturahmi antara bangsa Indonesia dengan masyarakat Melayu Cape.

 

Lihat pula :
1. Orang Indonesia Mengukir Prestasi di Negeri Orang
2. Musisi Indonesia yang Mendunia

Iklan
Komentar
  1. Abdul khafid berkata:

    Keterangan nisan syech Mathura/Cakraningrat IV itu original tidak meragukan, sebab beliau adalah Qori’ pertama di sana. Bukan baca Qur’an biasa. Sudah pasti beliau bukan yg pertama membaca Qur’an karena ada tawanan yang lebih dahulu di sana seperti Syeh Yusuf dan Tuan Guru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s