Demo 22 Mei : (Bukan) Jihad, Tapi Anarki Untuk Menggulingkan Jokowi

Posted: Mei 27, 2019 in Politik
Tag:, , , ,

Demo 22 Mei Berakhir Rusuh

Minggu lalu (Selasa, 21 Mei 2019) KPU akhirnya mengumumkan hasil Pemilihan Umum serentak 2019. Pasangan Joko Widodo – Ma’ruf Amin dinyatakan sebagai pemenang kontestasi Pemilihan Presiden untuk masa bakti 2019-2024. Seperti yang telah diwacanakan sebelumnya, kubu penantang yakni pasangan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno tak akan menerima hasil keputusan tersebut. Sebagai bentuk penolakan, para pendukung Prabowo kemudian menggelar aksi demonstrasi di depan kantor Bawaslu. Aksi yang dijanjikan akan berjalan damai itu, ternyata berakhir ricuh. Dari hasil investigasi polisi, ditemukan ada sekolompok orang yang menyerukan jihad dalam aksi tersebut. Mereka tergabung ke dalam kelompok GARIS (Gerakan Reformis Islam) yang diduga merupakan sempalan ISIS. Tak hanya mereka, beberapa ustad partisan yang berceramah di mushola-mushola kampung juga menyerukan aksi jihad pada tanggal 22 Mei kemarin.

Mendengar seruan tersebut, banyak jemaah yang kemudian bertanya-tanya. Benarkah aksi demonstrasi bisa dikategorikan sebagai bentuk jihad. Terlebih demonstrasi kemarin itu lebih bernuansa politis, yakni dalam rangka perebutan kekuasaan. Melihat maraknya kesalahpahaman dalam mengartikan jihad, sejumlah ulama seperti Quraish Shihab akhirnya angkat bicara. Menurut mantan Menteri Agama itu, aksi massa yang kemudian menimbulkan kerusuhan adalah sebuah keburukan. Kalau ada kebaikan yang dilakukan dengan cara yang buruk, maka harus dihindari. Karena menurutnya, kita harus menghindarkan keburukan daripada memperoleh manfaat yang mungkin didapat dari aksi tersebut. Lebih lanjut Quraish menyampaikan, aksi-aksi seperti ini mirip kejadian di Suriah. “Benihnya itu kecil, sama dengan puntung rokok. Ini yang harus kita cegah. Jangan merokok di pom bensin. Jangan sampai kerusuhan terjadi. Karena kalau terjadi, kita tahu mulanya tapi tak tahu akhirnya.”

Tak hanya Quraish Shihab, cendekiawan muslim Azyumardi Azra juga menolak keras pernyataan yang mengatakan bahwa aksi demonstrasi sebagai bentuk jihad. Menurutnya, kalau ada yang bilang 22 Mei itu jihad, saya kira itu adalah ulama yang partisan. Azyumardi menambahkan, seharusnya ulama jangan partisan. “Ulama harusnya menenangkan umat, memberi kesabaran apalagi di bulan puasa gini. Dengan menggunakan istilah jihad, itu mempolitisasi agama”, jelasnya. Senada dengan pendapat mereka, ketua umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir sebelumnya sudah menghimbau masyarakat untuk tidak mengikuti aksi 22 Mei. Menurutnya, “sungguh mahal harganya manakala Indonesia mengalami eskalasi kerusuhan dan anarki karena persengketaan politik pemilu lima tahunan. Masih banyak permasalahan dan agenda nasional untuk diselesaikan bersama menuju Indonesia yang bersatu, adil, makmur, bermartabat, berdaulat, dan berkemajuan.”

 

* * *

Kalau kita mau mempelajari sunnah-sunnah Rasul, maka dalam Islam tak ada seruan jihad untuk melawan pemimpinnya sendiri. Jika ada yang menganggap bahwa saat ini pemerintahan Jokowi zalim, telah melakukan kecurangan, dan harus digulingkan dengan people power, mungkin Anda perlu menyimak wasiat Rasulullah SAW berikut ini.

 

Dari Abdullah bin Masud, beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda. “Sesungguhnya kalian nanti akan menemui atsarah (yaitu : pemerintah yang tidak memenuhi hak rakyat). Maka bersabarlah hingga kalian menemuiku di haudl”  [HR. Al-Bukhari no. 7057 dan Muslim no. 1845]. Dalam hadist tersebut, Imam An-Nawawi rahimahullah berkata : “Terdapat anjuran untuk mendengar dan taat kepada penguasa, walaupun ia seorang yang zalim dan sewenang-wenang. Maka berikan haknya (sebagai pemimpin) yaitu berupa ketaatan, tidak keluar ketaatan darinya, dan tidak menggulingkannya. Bahkan perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim adalah dengan sungguh-sungguh lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT supaya Dia menyingkirkan gangguan/siksaan darinya, menolak kejahatannya, dan agar Allah memperbaikinya (kembali taat kepada Allah dan meninggalkan kezalimannya)” [Syarh Shahih Muslim lin-Nawawi, 12/232].

Jauh sebelum itu, Imam Malik rahimahullah-pun juga pernah berseru kepada umat muslim untuk tetap menaati pemimpin yang zalim. Beliau juga memberi catatan bahwa apabila ada sekelompok orang yang memberontak dan ingin merebut kekuasaannya, maka umat muslim tidak boleh membantunya, karena pemimpin tersebut zalim. Seseorang bertanya kepada Imam Malik, “Apakah boleh membantu pemimpin dalam rangka memerangi pemberontakan?” Beliau menjawab, “(ya, boleh) Jika yang dibantu tersebut khalifah seperti Umar bin Abdul Aziz.”

Majalah Tempo, Melakukan Investigasi Kerusuhan 22 Mei

Orang itu kembali bertanya lagi, “Jika tidak seperti Umar bin Abdul Aziz?” Maka beliau menjawab, “Biarkanlah kezaliman mereka dibalas oleh Allah dengan kezaliman. Kemudian masing-masing diantara mereka juga akan diberikan balasan.” (Abdul Aziz Asy-Syinawi, Al-Aimmah Al-Arba’ah: Hayatuhum Mawaqifuhum Ara’ahum). Dalam sumber lain disebutkan, Imam Malik menjawab, “Kalau pemimpinnya seperti Umar bin Abdul Aziz maka wajiblah manusia membantunya dan berperang bersamanya. Tapi kalau tidak seperti itu, maka biarkan saja apa yang dituntut dari mereka. Allah pasti akan membalas orang zalim dengan tangan orang zalim juga, lalu Allah akan membalas keduanya.” (Syarah Al-Kharsyi ‘Ala Mukhtashar Khalil, 8/60).

 

Dari hadist di atas — yang kemudian ditafsirkan oleh Imam Malik dan Imam An-Nawawi, dengan gamblang disampaikan kepada kita bagaimana cara menyikapi pemerintahan yang zalim. Nah, kalau memang rezim sekarang ini dianggap zalim, maka tetap saja tak satupun orang yang berhak menggulingkannya. Terlebih negara kita merupakan negara demokrasi yang memiliki aturan untuk melakukan suksesi pemerintahan. Pemilihan Presiden yang baru saja selesai diselenggarakan, merupakan salah satu cara untuk melakukan suksesi tersebut. Dan metode ini sudah disepakati oleh wakil-wakil rakyat di parlemen. Kalaupun dalam proses pemilihan ditemukan adanya kecurangan, maka undang-undang kita sudah mengatur cara menyelesaikannya. Lalu kini jika ada sekelompok orang yang berteriak-teriak curang, namun tak mau menyelesaikannya dengan cara yang telah disepakati, maka mereka tak hanya melawan negara, namun juga telah mengkhianati agama.

Sikap lainnya yang harus dikedepankan oleh seorang muslim dalam menghadapi pemimpin yang zalim adalah dengan bersabar. Para ulama ahlul sunnah mengatakan, bersabar dan tidak keluar dari ketaatan bukan berarti kita meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar. Kita tetap diwajibkan untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar kepada siapapun – termasuk kepada penguasa/pemimpin – sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Namun tidak boleh dengan mengatasnamakan amar ma’ruf nahi munkar, kita menjelek-jelekkan penguasa di muka umum, mengatakan kalimat-kalimat provokatif seperti penguasa korup, penguasa kafir, thaghut, dan sebagainya.

Pernyataan-pernyataan seperti itu boleh jadi akan menimbulkan fitnah yang besar. Dimana antara pemimpin dan rakyat akan semakin renggang dan menjauh. Lantaran itu, pesan agama untuk taat pada perkara yang mubah dan ma’ruf-pun akhirnya ditinggalkan karena kebencian terhadap pemimpin. Apabila ini terus berlanjut, api fitnah semakin menyala-nyala, peperangan-pun akan berkobar, dan akhirnya tertumpahlah darah. Gambaran ini bukanlah cerita fiktif belaka, namun telah terjadi di negeri-negeri Timur Tengah. Apalagi dalam aksi kemarin, pihak-pihak yang diduga terkait dengan ISIS juga ikut bermain. Seperti yang diketahui, ISIS merupakan organisasi politik yang telah membuat fitnah besar di Irak dan Suriah, sehingga negara itu kini mengalami porak poranda.

Dan kemarin kejadian seperti di Suriah hendak diujicobakan di negeri ini. Adanya seorang purnawirawan yang menyelundupkan senjata, ditemukannya peluru tajam yang mengakibatkan kematian demonstran, pengakuan enam tersangka yang hendak membunuh tokoh-tokoh nasional, serta tertangkapnya jaringan terorisme yang akan meledakkan bom tanggal 22 Mei kemarin, boleh jadi merupakan bagian dari skenario untuk men-Suriah-kan Indonesia. Itulah mengapa sejak jauh-jauh hari, ulama-ulama hanif sudah melarang digelarnya aksi demonstrasi. Namun karena ada sejumlah politisi yang memprovokasi massa, jadilah kerusuhan kemarin tak terhindarkan. Syukur saja kerusuhan cuma terjadi di sekitar Tanah Abang dan Petamburan – tak meluas ke seluruh Jakarta. Sehingga skenario mereka untuk membuat negara ini kacau, tak kejadian! Ya, mudah-mudahan saja polisi cepat menuntaskan penyelidikannya dan menangkap aktor intelektual di balik kerusuhan 22 Mei kemarin.

 

Karangan Bunga Polri

Karangan Bunga, Dukungan Masyarakat terhadap TNI/Polri

 

Dari narasi yang dibangun oleh pendukung Prabowo selama ini, bahwa adanya kecurangan Pemilu, tuduhan korup, rezim kafir, dan thaghut terhadap pemerintahan Jokowi, apakah itu semua benar-benar ada? Kalau tidak, maka mereka telah dua kali berbuat kezaliman : fitnah yang mendorong orang untuk berbuat anarki dan berusaha mendelegetimasi pemerintahan yang sah. Kalau sudah begini, kita cuma bisa berdoa : semoga Tuhan mengampuni kita semua.

 

sumber gambar : http://www.liputan6.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s