Senen : Dari Pasar Buku, Thrifting, Hingga Nasi Kapau

Posted: 29 Mei 2021 in Perkotaan
Tag:, , , ,

Simpang Lima Senen (sumber : kompas.com)

Senen merupakan salah satu distrik di ibu kota yang tak pernah tidur. Aktifitasnya berdenyut nyaris 24 jam. Mulai dari pasar kue yang sudah ramai sebelum subuh, hingga para pedagang baju bekas yang baru tutup lewat tengah malam. Di paruh pertama abad ke-20, ada lima pusat perbelanjaan besar di Batavia, yakni Glodok-Pinangsia, Meester Cornelis (Jatinegara), Pasar Baru, Tanah Abang, dan Senen. Dari kelima pusat perbelanjaan itu, Senen yang menjadi trade mark sekaligus pusat gaya hidup. Pada dasawarsa 1930-an, berdiri dua bioskop ternama disini : Kramat Theater (kemudian berganti nama menjadi Rex Theater, lalu Grand Theater) dan Rivoli Theater. Keduanya sering menjadi tempat pemutaran perdana film-film baru atau film impor yang masuk ke Indonesia. Oleh karenanya sebelum meletus perang, Senen menjadi tempat berkumpulnya para muda-mudi.

Setelah masa kemerdekaan, Senen jadi tak terurus. Walikota Jakarta ketika itu, tak menaruh minat untuk mempertahankannya sebagai tempat perdagangan utama ibu kota. Akibatnya para gembel dan preman terus berdatangan ke kawasan ini. Di sepanjang rel antara Gang Sentiong hingga Pasar Senen, banyak berdiri pemukiman-pemukiman liar. Di utara stasiun arah ke Kemayoran, juga muncul tempat-tempat pelacuran. Pada dasawarsa 1950-an, Senen dikenal sebagai red light district-nya ibu kota. Hingga Ali Sadikin memindahkannya ke Kramat Tunggak, Senen populer sebagai tempat esek-esek kelas kecoa. Selain wanita tuna susila, pencopet, dan gelandangan, disini banyak pula berkumpul para seniman partikelir. Mereka yang kemudian menjadi terkenal antara lain Chairil Anwar (penyair), Misbach Yusa Biran (sutradara), Benyamin Sueb (aktor dan penyanyi), Soekarno M. Noer (aktor), dan Nurnaningsih (aktris).

Pada tahun 1962, pemerintah Jakarta mulai merevitalisasi kawasan ini dengan membangun apa yang dikenal dengan nama Proyek Senen. Proyek ini menggusur toko-toko milik orang Tionghoa yang sebelumnya mendominasi kawasan ini. Proyek Senen terdiri dari enam blok, dimana dalam perencanaannya masing-masing memiliki zonasi khusus. Ketika peristiwa Malari 1974, Senen menjadi sasaran para demonstran. Banyak toko-toko disini yang kemudian menjadi korban amuk massa. Pada tahun 1977, keseluruhan Proyek Senen rampung dibangun. Tak hanya para pedagang Tionghoa, di pasar inipun kemudian juga banyak berdagang para penggalas Minang. Orang-orang Minang yang dikenal sebagai pemain kain itu, banyak yang membuka toko di Blok I-III. Sedangkan para pedagang Batak, mengisi sebagian kios di Blok V-VI. Umumnya mereka menjual pakaian bekas dan buku-buku murah. Orang-orang Sunda juga banyak dijumpai disini. Mereka kebanyakan menjadi penjual sayur serta buah-buahan.

Pada tahun 1980, di belakang Blok VI dibangun pula terminal bus Senen. Terminal ini menggantikan Terminal Lapangan Banteng yang beralih fungsi menjadi taman kota. Di penghujung tahun 1980-an, pertokoan di Segi Tiga Senen-pun ikut digusur. Hal ini seiring dengan pembangunan The Atrium, pusat perbelanjaan modern yang sempat diisi oleh tenant berkelas seperti Yaohan dan Marks & Spencer. Semula, plaza seluas 66.000 meter persegi itu hendak menyasar kalangan menengah atas. Namun karena stigma Senen yang buruk, pusat perbelanjaan inipun tak berhasil mereposisi dirinya sebagai mal kelas atas. Pada tahun 1995, peritel asal Jepang Yaohan-pun angkat kaki. Dan sejak krisis ekonomi 1998, pamor Plaza Atrium terus merosot. Kegagalan The Atrium, memberikan pelajaran berharga bagi para pengembang, bahwa jika hendak membangun pusat perbelanjaan middle-up, maka juga harus menata lingkungan disekitarnya. Kini pusat perbelanjaan yang dikelola oleh Grup Cowell Development itu, malah dikenal sebagai pusat onderdil kendaraan bermotor.

Disamping lalu lintasnya yang semrawut, premanisme juga menjadi momok yang menakutkan. Di sepanjang ruas Jalan Pasar Senen, Kramat Bunder, hingga Bungur Besar, kerap berkeliaran para penodong dan tukang copet. Di bus kota, para pengamen-pun banyak yang berorasi dan meminta dengan gaya setengah memaksa. Sehingga banyak orang yang enggan berbelanja ke kawasan ini. Kini sejak pemerintah DKI menata trotoar dan jembatan penyeberangan orang, Senen nampak lebih glowing. Lampu penerangan-pun juga lebih banyak dari yang biasanya, sehingga mengurangi kesan angker kawasan tersebut.

Senen kini juga lebih tertata, sejak tak ada lagi para pedagang buku yang menggelar lapak di Jalan Kwitang. Sebelumnya, satu lajur di jalan tersebut dipakai oleh para pelapak yang menjajakan buku. Kini setelah dilarang berjualan disana, sebagian besar mereka pindah ke Blok M Square serta Thamrin City. Ada pula yang masih bertahan di Kwitang dan Kramat Raya, dengan menyewa kios di tepi jalan tersebut. Mencari buku di Senen, menjadi kesenangan tersendiri. Selain harganya yang miring, disini kita bisa mendapatkan buku-buku yang tak dijual di Gramedia ataupun Gunung Agung. Semasa kuliah, saya kerap membeli buku disini. Buku-buku karya Tan Malaka yang ketika itu masih dianggap tabu, sudah dijual bebas disini. Saya juga beroleh novel-novel lawas angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru, yang ketika itu masih amat langka.

Selain kios-kios buku, di simpang lima Senen juga berjajar penjual nasi kapau. Setidaknya ada sekitar 20 penjual nasi kapau yang menjajakan dagangannya secara terbuka. Ini mirip seperti los lambung di pasar-pasar di Sumatera Barat. Sebelum restoran nasi kapau kekinian menjamur di seantero Jabodetabek, disinilah orang dulu mencari nasi khas Bukittinggi itu. Selain gulai tunjang, tambusu, dan itik lado hijau, disini juga tersedia penganan khas Minang lainnya seperti bubur kampiun, es tebak, dan lemang tapai. Berdasarkan penelusuran penulis, rata-rata pedagang yang berjualan disini sudah masuk generasi kedua. Orang-orang tua mereka, dulu mengawalinya di tahun 1960-1970-an. Warung Ibu Kacamata yang menjadi langganan saya, sudah ada sejak tahun 1965. Pada tahun 2017, melalui program corporate social responsibility-nya, PT Mayora merenovasi kios-kios disini. Sehingga area yang kini dikenal sebagai Food Street Kramat itu menjadi lebih tertata.

Yang kini sedang ngetren di Pasar Senen adalah berburu baju-baju murah atau yang dikenal dengan istilah thrifting. Mengutip kamus daring cambridge.org, thrift adalah perilaku berhati-hati terhadap uang yang dikeluarkan. Secara harfiah, thrift berarti hemat. Namun menurut beberapa pencinta fesyen, thrifting sendiri didasari oleh kesadaran anak-anak muda atas perilaku brand-brand kenamaan yang cepat mendaur ulang produk-produk mereka. Banyak produk-produk yang sebenarnya masih bagus, sudah ditarik dari outlet mereka dan kemudian dilempar ke pasaran dengan harga murah. Di Jakarta, pusat perbelanjaan yang banyak menjual produk tersebut adalah Pasar Senen — disamping Metro Atom Plaza di Pasar Baru. Beberapa baju seken dari merek-merek kenamaan seperti H&M, Zara, dan Uniqlo, banyak yang dijual disini. Kalau Anda pintar mencari, Anda bisa mendapatkan baju murah dengan kualitas premium. Dari pengamatan penulis, harga yang ditawarkan bisa 1/10 dari harga di toko-toko resmi mereka. Bahkan sweater dari jenama kenamaan seperti Nike dan Levi’s, bisa dibanderol hingga Rp 35.000 per item-nya.

Sebenarnya, tak sedikit dari mereka yang berbelanja disini adalah para pencinta produk-produk branded. Mereka akan merasa senang ketika beroleh barang berkualitas dengan harga murah. Menurutnya ini seperti mendapatkan berlian di dalam onggokan besi tua. Saya sempat terpana ketika melihat ibu-ibu tertawa girang, mendapatkan tiga setel baju yang diecer Rp 20.000 per piece-nya. Gerak-gerik mereka seolah ingin berteriak : “eureka! saya dapat”. Yang juga bikin saya penasaran adalah ketika serombongan bapak-bapak sedang membeli sepatu kets dan tas kulit di salah satu kios di Blok III. Sepertinya mereka berpengalaman dengan produk-produk kulit, sehingga pandai menawarnya ke penjual. Ternyata aktivitas berburu produk-produk murah tak hanya menjadi monopoli kaum hawa, tetapi juga menjangkiti para pria yang sudah sepuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s