Tahun 2020 lalu, Presiden Amerika Donald Trump menjatuhkan sanksi kepada perusahaan teknologi asal China : Huawei. Sanksi ini merupakan puncak dari kemarahan pemerintah Amerika terkait adanya dugaan operasi mata-mata (spy operation) yang dilakukan pemerintah Tiongkok melalui perusahaan-perusahaan teknologinya : Huawei dan ZTE. Dalam keterangan resminya, Trump mengatakan bahwa hukuman yang dikeluarkannya itu adalah untuk melindungi keamanan nasional Amerika yang sedang dimata-matai Tiongkok. Atas sanksi tersebut, Departemen Perdagangan Amerika mewajibkan kepada Huawei beserta 70 perusahaan afiliasinya, untuk meminta ijin kepada pemerintah Amerika terlebih dahulu ketika hendak membeli mikrochip yang diproduksi dengan menggunakan teknologi Amerika. Tak hanya itu, Departemen Kehakiman Amerika juga menahan CFO Huawei : Meng Wanzhou, dan mendakwanya dengan 23 dakwaan atas berbagai dugaan kejahatan, termasuk penipuan bank dan mencuri rahasia dagang.
Mendengar sanksi serta dakwaan yang dikenakan kepada Huawei, pemerintah Tiongkok lantas tak tinggal diam. Dalam keterangannya, pemerintah China membantah kalau mereka sedang memata-matai Amerika. Mereka juga menyatakan kalau alasan keamanan yang dilontarkan oleh Trump hanyalah alibi untuk menghambat perkembangan industri semikonduktor Tiongkok. Melalui situs berita resminya : Global Times, pemerintah China mengancam untuk melakukan pembatasan terhadap perusahaan-perusahaan Amerika seperti Qualcomm, Cisco, serta Apple. Mereka juga melagak untuk menangguhkan pembelian pesawat dari Boeing, serta memblokir perusahaan chip : Micron Technology. Terakhir, pemerintah China berencana untuk mengganggu rantai pasok semikonduktor dunia dengan menghentikan ekspor germanium dan gallium. Dua bahan baku penting dalam pembuatan semikonduktor yang mana lebih dari separuhnya dikuasai Tiongkok.
* * *
Nama William Shockley, Robert Noyce, Gordon Moore, serta Jay Lathrop, mungkin tak seterkenal Thomas Alva Edison ataupun Albert Einstein. Namun mereka adalah individu-individu luar biasa yang cukup berjasa atas transformasi teknologi paling dramatis dalam sejarah umat manusia. Ya, mereka adalah pencipta chip silikon yang memungkinkan adanya teknologi komputer serta artificial intelligence yang kita gunakan saat ini. Kalau kita membaca riwayat keempat tokoh tersebut, mereka adalah warga negara Amerika yang tumbuh dalam ekosistem yang menghargai pengetahuan, inovasi, dan kewirausahaan. Mereka adalah orang-orang yang menjadikan Amerika saat ini sebagai negara adidaya dengan kekuatan ekonomi dan militer yang mumpuni. Gara-gara penemuannya, para ilmuwan segera terdorong untuk melakukan penelitian-penelitian baru yang memungkinkan terciptanya laptop, telepon pintar, drone, serta kamera digital. Tak hanya itu, berkat keunggulan sistem teknologi persenjataan Amerika yang berbasis pada mikrochip, Ukraina mampu bertahan melawan Rusia hingga hari ini.
Dengan kemampuannya yang begitu besar, tak mengherankan jika Amerika mati-matian mempertahankan dominasi mereka dalam industri semikonduktor. Para perancang dan pembuat chip di Silicon Valley tahu, bahwa negara mereka akan menjadi pemimpin dunia hanya selama mereka dapat mempertahankan keunggulan dalam industri tersebut. Setelah keunggulan itu hilang, permainan akan segera berakhir, dan mereka akan menjadi followers. Itulah mengapa, kini Tiongkok dan beberapa negara ambisus seperti Jepang, Jerman, Taiwan, serta Korea Selatan, sangat ingin menguasai teknologi mikrochip. Bahkan untuk menjadi pemimpin dalam industri ini, Tiongkok rela menggelontorkan dana penelitian miliaran dollar serta mengimpor lebih banyak mikrochip dibandingkan produk lainnya – termasuk minyak.
Ambisi Tiongkok untuk melipat kepemimpinan Amerika lewat industri mikrochip sebenarnya sudah terlihat sejak tahun 2018 lalu. Pada saat itu Huawei – perusahaan teknologi terbesar di Tiongkok, berencana untuk menggelontorkan dana penelitian dan pengembangan hingga mencapai USD 20 miliar. Mereka juga mematenkan penemuannya yang mencapai puluhan ribu itu di China maupun diluar China. Pada tahun 2020, perusahaan ini selangkah lebih maju dengan menemukan teknologi telekomunikasi generasi kelima, atau yang lebih dikenal dengan 5G. Dengan ditemukannya 5G, maka produk-produk Huawei sudah bisa menggunakan teknologi nirkabel generasi berikutnya yang super cepat. Bak kebakaran jenggot, Amerika-pun lalu mendorong negara-negara sekutunya untuk mencari alternatif lain diluar teknologi tersebut. Sembari memberikan sanksi yang kemudian memukul telak penjualan Huawei hingga turun 32% pada triwulan ketiga 2021.
Kekhawatiran Amerika terhadap Huawei sebenarnya bukan tanpa alasan. Selain karena pendirinya yang merupakan mantan teknisi Tentara Pembebasan Rakyat, desas desus yang beredar konon pemerintah China juga ikut membiayai pengembangan perusahaan tersebut. Itulah mengapa di tahun 2011 lalu, pemerintah Amerika menolak untuk bekerjasama dengannya. Ketakutan Amerika semakin menjadi-jadi setelah disahkannya Undang-Undang Intelijen Nasional dan Undang-Undang Keamanan Siber di tahun 2017. Undang-Undang itu mewajibkan perusahaan teknologi Tiongkok untuk membantu operasi intelijen negara. Dalam operasi intelijen di Xinjiang misalnya, Huawei telah membantu pengawasan dan penahanan massal warga Uighur di kamp interniran Xinjiang. Teknologi kecerdasan buatan milik mereka juga telah membantu pemerintah China dalam melakukan pengenalan wajah (face recognition) terhadap kelompok etnis Uighur yang dianggap membangkang.
Meski terus mendapat tekanan dari Amerika, Huawei nampaknya tak pernah putus asa. Pada hari Selasa (29 Agustus) lalu, perusahaan yang berbasis di Shenzhen itu berhasil meluncurkan smartphone teranyar : Mate 60 Pro. Produk yang diklaim telah menggunakan teknologi 5G terbaru itu, digadang-gadang akan menyaingi ketenaran Apple 14 Pro. Yang perlu dicatat dari peluncuran ini adalah digunakannya mikrochip buatan Semiconductor International Manufacturing Corporation (SMIC). SMIC merupakan perusahaan semikonduktor terbesar di China yang berbasis di Shanghai. Perusahaan itu yang memasok Kirin 9000S, sebuah chipset berukuran 7 nanometer yang konon kualitasnya setara dengan chip produksi TSMC (Taiwan) dan Samsung (Korea Selatan). Perlu diketahui, selama ini Huawei sangat bergantung pada chip produksi dua perusahaan tersebut. Karena Huawei terkena sanksi Amerika, kedua perusahaan itupun menghentikan pasokan chip ke perusahaan yang didirikan oleh Ren Zhengfei itu. Nah, kini setelah SMIC mampu memproduksi chipset yang setara dengan para kompetitornya, maka cepat atau lambat pabrikan smartphone China lainnya akan beralih ke produk-produk SMIC. Dan dalam jangka panjang, perusahaan ini akan menggerus omset duo raksasa teknologi asal Taiwan dan Korea Selatan tersebut.
Selain itu yang tak kalah pentingnya adalah keberhasilan Huawei mengembangkan operating system-nya sendiri. Sistem operasi yang diberi nama HarmonyOS itu, ternyata telah memasuki fase pengembangan keempat. Sehingga kualitasnya sudah jauh lebih baik dibandingkan fase pertama yang muncul di tahun 2019 lalu. Meski kualitas HarmonyOS saat ini masih jauh tertinggal dibandingkan Android ataupun iOS (keduanya produk Amerika), namun langkah tersebut patut diacungi jempol. Jika saja Huawei bisa membuktikan kualitas HarmonyOS pada produk barunya itu, maka produsen-produsen smartphone China lainnya kemungkinan akan menggunakan sistem operasi miliknya. Dan dalam jangka panjang tentu ini akan menggigit pendapatan Google sekaligus mengurangi ketergantungan China terhadap teknologi Amerika.
Meski China telah berhasil menguasai teknologi 5G, pembuatan mikrochip, serta operating system-nya sendiri, namun jangan dikira mereka telah mampu mengatasi teknologi Amerika. Apalagi sudah banyak yang percaya diri dan mengatakan kalau China sudah memenangkan pertarungan mikrochip dewasa ini. Masih jauuhh kawan! Selain kualitas produknya yang masih tergolong medioker, Tiongkok juga belum dapat menembus teknologi pembuatan mesin litografi. Mesin litografi, barang apa pula itu? Mesin litografi adalah perangkat yang dibutuhkan oleh perusahaan semikonduktor untuk membuat mikrochip berkualitas tinggi. Dan teknologi penciptaan mesin itu, masih dikuasai sepenuhnya oleh Amerika – dan mungkin juga Jerman. Jadi, meskipun China telah mampu membuat mikrochip-nya sendiri, namun karena mesin litografinya masih diimpor dari Belanda, maka Tiongkok belum bisa lepas dari ketergantungan pada teknologi Barat. Selain SMIC, perusahaan semikonduktor yang masih mengimpor mesin-mesin litografi dari ASML adalah Samsung dan TSMC. Advanced Semiconductor Materials Lithography atau yang disingkat ASML adalah perusahaan Belanda yang membuat mesin litografi yang teknologinya banyak dipasok oleh para ilmuwan Amerika.
Oleh karenanya ketika mendengar Huawei berhasil menanamkan chipset berukuran 7 nanometer buatan SMIC, anggota parlemen Amerika, Mike Gallagher-pun langsung naik pitam. Ia meminta kepada Joe Biden agar melarang seluruh perusahaan Amerika mengekspor teknologi semikonduktor kepada perusahaan-perusahaan yang bekerjasama dengan Huawei, terutama SMIC yang menurutnya sudah berani melanggar sanksi Amerika. Bagi sebagian orang, tindakan Amerika ini memang terkesan arogan. Tapi bukan Amerika namanya kalau tak berani memperjuangkan kepentingan nasional mereka. Dan jika keputusan ini diberlakukan, maka kemungkinan besar ASML akan menghentikan ekspor mesinnya ke China. Dengan berhentinya ekspor mesin litografi ke Tiongkok – plus pelarangan ekspor mikrochip dari Samsung dan TSMC ke Tiongkok — praktis perusahaan-perusahaan teknologi China akan berhenti beroperasi. Atau mereka akan terus menggunakan teknologi jadul, dengan konsekuensi produk mereka akan ditinggalkan konsumen. Saat ini pabrikan asal China menguasai lebih dari 30% pangsa pasar smartphone dunia. Produsen-produsen lainnya seperti Xiaomi, Oppo, Vivo, dan Lenovo tentu tak mau kehilangan miliaran dollar gara-gara sanksi Huawei. Dan jika pelarangan ini benar-benar terjadi, maka ancaman China untuk menghentikan ekspor germanium dan gallium secara keseluruhan bisa saja terwujud. Selain ancaman itu, pemerintah Tiongkok juga berencana untuk melepas kepemilikan surat utangnya dalam mata uang US Dollar. Diguyurnya dollar dalam jumlah besar, tentu akan menimbulkan inflasi besar-besaran dan gejolak sosial di Amerika.
Jika saja China berani lebih jauh menghantam kepentingan Amerika, maka kemungkinan besar negeri Paman Sam akan mengambil langkah-langkah militer. Kartu Taiwan bisa saja digunakan untuk mengancam Tiongkok, seperti yang dilakukannya terhadap Rusia dengan mendorong Ukraina menjadi anggota NATO. Taktik serupa pernah dilakukan Inggris terhadap Dinasti Qing di paruh pertama abad ke-19, dimana kala itu Tiongkok dipaksa untuk masuk ke dalam Perang Candu. Ke depan kita akan melihat sejauh mana kemampuan Tiongkok dalam menemukan teknologi mesin litografi. Dan terobosan Amerika untuk lepas dari ketergantungan pada germanium dan gallium. Yang juga sedang ditunggu-tunggu adalah diluncurkannya teknologi 6G yang akan mengubah lanskap marketplace serta video streaming saat ini. Boleh jadi setelah penemuan itu, TikTok, Shopee, ataupun YouTube semakin tak relevan.
Kalau boleh memprediksi, saya memperkirakan dalam 50 tahun ke depan Amerika dan para sekutunya masih menghegemoni teknologi mikrochip dunia. Berat rasanya bagi China untuk menerobos tembok kuat yang sudah dipancangkan para ilmuwan Amerika sejak tahun 1940-an itu. Kesalahan China menurut saya, terlalu berambisi untuk merebut teknologi ini secepat-cepatnya dari tangan Amerika. Jepang saja yang sudah menjadi sekutunya, mengalami kegagalan. Apatah lagi China yang sejak Perang Dingin sudah dianggap musuh bagi negara-negara Barat. Teknologi ini sudah mereka genggam sejak 80 tahun lalu, dan pastinya secara sadar mereka tak mau kalau supremasi ini akan lepas begitu saja.
Sebagaimana William Shockley, Robert Noyce, Gordon Moore, serta Jay Lathrop di pertengahan abad lalu, nampaknya para ilmuwan Amerika saat ini sedang mencari terobosan untuk keluar dari teknologi mikrochip yang sudah berdarah-darah ini. Kalau kata orang IT, mereka akan mendisrupsi teknologi yang sudah ada. Anda, saya, dan kita semua mungkin tak pernah membayangkan seperti apa dunia di masa depan. Sepanjang manusia masih melakukan learn, unlearn, dan relearn (mengutip istilah Yuval Noah Harari) maka tindakan militer terhadap kompetitor — seperti yang dilakukan di abad-abad sebelumnya — mungkin tak akan terpikirkan.
Lihat pula :
Ambisi Tiongkok dan Keengganan Jepang Dalam Mengembangkan Mobil Listrik


