Jembatan Ampera menghubungkan Kawasan Ulu (atas) dan Ilir

Jembatan Ampera menghubungkan Kawasan Ulu (atas) dan Ilir

Tahun 2018 nanti, warga Palembang boleh berbangga hati. Karena saat itulah mereka satu-satunya warga diluar Jakarta yang pernah mencicipi sebagai tuan rumah Asian Games. Menjadi penyelenggara even terbesar di Asia, memang menjadi dambaan banyak wali kota — dan tentu masyarakatnya. Apalagi jika kota tersebut bukan berstatus sebagai ibu kota negara. Tercatat baru empat kota di Asia yang bukan sebagai ibu kota, yang pernah menjadi tuan rumah Asian Games. Mereka adalah Hiroshima (1994), Busan (2002), Guangzhou (2010), serta Incheon (2014). Dan Palembang, kota terbesar ke enam di Indonesia, akan menjadi kota kelima di Asia yang mencicipi privelese tersebut. Untuk ukuran nasional, pencapaian ini cukup mengesankan. Terlebih Palembang telah menjadi penyelenggara berbagai even besar, mulai dari PON (2004), Piala Asia (2007), SEA Games (2011), hingga Islamic Solidarity Games (2013).

Walau Palembang telah menjadi host berbagai even besar, namun dampaknya terhadap peningkatan ekonomi masyarakat masihlah belum maksimal. Misalnya, dalam hal infrastruktur dan fasilitas publik. Tak ada perubahan yang berarti, kecuali sarana olah raga yang boleh dibilang hampir setara Jakarta. Namun untuk lalu lintas, transportasi umum, dan ruang terbuka hijau, kota ini masih jauh tertinggal. Dalam hal lalu lintas, jangankan di luar Palembang, di dalam kotanya saja kualitas jalan raya masih belum beranjak dibandingkan keadaan 16 tahun lalu. Jembatan penghubung antara kawasan Ulu dan Ilir, masih mengandalkan Jembatan Ampera dan Musi II. Memang ada dua flyover dan underpass yang baru dibangun, namun rasanya kota yang tak menjadi tuan rumah aneka even-pun, juga banyak membangun fasilitas tersebut. Coba tengok Pekanbaru atau Makassar, pembangunannya terasa lebih massif. Belum lagi bicara jalan penghubung antar kota dari dan menuju Palembang. Kualitasnya sangat mengecewakan! Pada ruas antara Palembang dan Jambi misalnya, atau yang menghubungkan Kota Kayu Agung, banyak badan jalan yang rusak. Padahal ruas itu termasuk kategori jalan negara.

Untuk transportasi publik, memang Palembang sudah memiliki bus Trans Musi. Namun fasilitas tersebut belum bisa diklasifikasikan sebagai bus rapid transit. Sebab tak ada lajur khusus (busway) serta shelter yang terstandardisasi. Dari lima rute yang beroperasi, memang tak bisa diharapkan semuanya memiliki lajur khusus. Namun setidaknya untuk rute Ampera – Alang-Alang Lebar, bisa dibuatkan lajur khusus di median jalan. Mengingat jalur yang dilalui rute tersebut adalah Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Kolonel Barlian yang tergolong lebar. Untuk sistem ticketing, jangan harap sudah terotomatisasi. Semuanya masih manual, yakni dengan tiket kertas yang bisa Anda beli di dalam bus. Namun ke depan rencananya jaringan ini akan menerapkan tiket elektronik. Sehingga nantinya penumpang hanya melakukan tapping kartu pintar (smart card) di pintu bus. Mengenai armadanya boleh dibilang cukup memuaskan : berpendingin ruangan dengan kabin yang cukup lapang. Saat ini baru 140 bus yang tersedia, dari 350 bus yang direncanakan.

Trans Musi

Trans Musi

Jika transportasi publik ke arah yang lebih baik, bagaimana dengan penataan ruang terbuka hijau? Harus diakui, kota ini masih tertinggal dari Bandung ataupun Surabaya. Saat ini Palembang bukan hanya kekurangan jumlah ruang terbuka hijau, namun juga dari segi kualitasnya. Mungkin baru Taman Kambang Iwak Besak, yang bisa dibilang cukup representatif. Selebihnya masih dikelola ala kadarnya, bahkan cenderung tak terurus. Seperti Taman Punti Kayu misalnya, dari hari ke hari jumlah satwa yang dipelihara terus berkurang. Padahal masyarakat mau berkunjung ke tempat ini, karena hendak melihat kehidupan aneka satwa. Sadar akan menurunnya jumlah pengunjung, pengelola berencana akan meng-upgrade fasilitas taman seluas 50 hektar itu dengan membangun beberapa replika keajaiban dunia. Selain ruang terbuka hijau yang telah ada, sudah seharusnya Palembang juga menambah taman-taman lain di seantero kota. Salah satu yang bisa dikembangkan ialah di sekitar Mesjid Agung dekat Ampera. Alangkah menariknya jika mesjid kebanggan warga Palembang itu memiliki taman berukuran luas, lengkap dengan lampu-lampu hias, serta fasilitas wi-fi gratis.

 

* * *

Untuk penyelenggaran Asian Games mendatang, masyarakat Palembang tak boleh lagi “kecolongan”. Terlebih pemerintah pusat sedang giat-giatnya memperhatikan kesiapan kota ini. Bahkan Presiden Joko Widodo sendiri, bolak-balik memantau secara langsung pembangunan infrastrukturnya. Seperti light rail transit (kereta ringan), wisma atlet, hingga jalan tol Indralaya-Palembang. Agar momen Asian Games ini nantinya bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, sudah semestinya warga mengawal segala pembangunan yang sedang berlangsung. Kereta ringan yang digadang-gadang akan mengubah pola pergerakan masyarakat, diharapkan bisa sesuai dengan ekspektasi. Mulai dari sistem ticketing, stasiun, hingga spesifikasi kereta yang digunakan. Untuk menjadikan Palembang sebagai kota modern, harus pula direncanakan pengintegrasian Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II dengan Stasiun Kertapati. Sehingga nantinya penumpang dari luar kota yang hendak menuju bandara, tak perlu harus mahal-mahal menyewa taksi. Cukup dengan menggunakan kereta ringan yang jauh lebih murah dan terjadwal.

Yang juga harus diperhatikan oleh para stakeholder adalah penataan Sungai Musi. Terlebih disaat Asian Games nanti, akan banyak media asing yang meliput suasana serta kehidupan kota. Dan ini tentu bisa menjadi ajang promosi gratis bagi pariwisata Palembang. Jangan sampai awak media tersebut, malah meliput kondisi tepian Sungai Musi yang tak terurus. Jujur saja, setiap kali ke Palembang saya merasa geregetan : mengapa sungai yang secantik ini tak bisa dioptimalkan menjadi tempat wisata kelas wahid. Padahal kalau saja pemerintah mau berinvestasi memperbaiki perkampungan di tepian sungai, saya rasa turis akan berlomba-lomba mendatangi kota ini. Mungkin wali kota atau gubernur bisa meniru Bangkok, yang berhasil memanfaatkan Sungai Chao Praya untuk memikat para wisatawan.

Pulau Kemaro (sumber : www.sumselprov.go.id)

Pulau Kemaro (sumber : http://www.sumselprov.go.id)

Saat ini baru Pulau Kemaro-lah tujuan para pelancong yang datang ke Palembang. Dimana di tempat ini terdapat sebuah pagoda sembilan lantai yang menjadi bagian dari Klenteng Hok Tjing Rio. Kabarnya klenteng ini merupakan salah satu destinasi umat Budha dari negeri Tiongkok, Malaysia, Hongkong, dan Singapura. Selain itu yang menarik dari pulau ini ialah legenda “pohon cinta”. Yang melambangkan cinta sejati antara Siti Fatimah dengan Tan Bun An. Entah benar entah tidak, namun legenda tersebut telah menyihir banyak orang untuk berkunjung ke pulau ini. Selain Kemaro, Benteng Kuto Besak di dekat Jembatan Ampera juga berpotensi menjadi tempat wisata yang menarik. Namun sayang tempat ini agak semrawut. Terutama di malam hari ketika banyak penggalas yang berjualan seenaknya. Kalau saja pemerintah mau menata para pedagang kecil itu dengan membuatkan los-los semi permanen, tentu bisa menjadi tempat wisata kuliner di tepi sungai. Mirip seperti kawasan Tanggo Rajo di Kota Jambi.

 

Lihat pula :
1. Menengok Perkembangan Kota Pekanbaru.
2. Surabaya Menuju Kota Wisata Warisan Dunia.
3. Menjelajahi Pesona Bukittinggi.

sumber gambar : http://www.skyscrapercity.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s