Hamka : Sang Penulis Visi Islam-Indonesia Modern

Posted: September 21, 2016 in Buku
Tag:, , , , , ,

hamkas-great-story

Bagi Anda yang demen sosok Buya Hamka, baru-baru ini (Agustus 2016) telah terbit buku yang berjudul : Hamka’s Great Story: A Master Writer’s Vision of Islam for Modern Indonesia. Buku ini boleh dibilang salah satu karya terbaik tentang Hamka : sosok legendaris yang banyak mempengaruhi kaum cerdik cendekia muslim Indonesia – dan juga dunia Melayu. Ditulis oleh James Robert Rush, seorang sejarawan Asia Tenggara asal Amerika Serikat, buku ini terbagi ke dalam enam bab setebal 287 halaman. Mungkin banyak orang yang tak tahu siapa James Robert Rush. Namanya memang tak semengkilap Denys Lombard, George Mc T. Kahin, atau M.C. Ricklefs. Namun tak sedikit karyanya mengenai Indonesia yang telah dipublikasikan. Diantaranya, Java: A Travellers’ Anthology dan Opium to Java: Revenue Farming and Chinese Enterprise in Colonial Indonesia, 1860–1910. Selain biografi Hamka, Rush juga telah menulis riwayat hidup Pramoedya Ananta Toer dan Abdurrahman Wahid. Tapi keduanya hanya dalam bentuk esai.

Kajian tentang Hamka, memang telah menarik banyak peneliti dari dalam maupun luar negeri. Mereka mengulitinya dari berbagai aspek. Baik itu novel-novelnya, seperti : “Di Bawah Lindungan Ka’bah”, “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”, “Tuan Direktur”, atau “Merantau ke Deli”; pandangannya tentang keislaman, ataupun gagasannya tentang keindonesiaan. Dan yang menarik, hampir sebagian besar para peneliti itu, menempatkan Hamka sebagai tokoh besar. Tak berlebihan jika puji-pujian terhadap dirinya bertebaran dimana-mana. Menurut Rush, nama Hamka ada di banyak karya. Jika Anda membaca sejarah Islam Indonesia ataupun sejarah perjuangan Republik Indonesia, maka hampir bisa dipastikan Anda akan menemukan Hamka sebagai sumber referensinya. Rush menulis : “In another sense, however, Hamka has been ubiquitous. He has been a source in countless works of modern Indonesia history, …”

Meski dikutip oleh banyak penulis, hampir sebagian besar karya Hamka tak memiliki catatan kaki. Kalaupun ada, hanya menegaskan apa yang ia maksud. Nampaknya ketika menulis buku, Hamka hanya mengandalkan ingatannya yang tajam. Persis seperti Tan Malaka dengan jembatan keledainya. Seperti halnya Tan, Hamka hanyalah seorang sejarawan partikelir. Dalam artian, ia tak mengikuti kaidah akademik yang ketat, yang banyak dilakukan oleh para sejarawan profesional. Walau bukan seorang sejarawan akademik, namun menurut Rush, Hamka justru penyusun awal draf sejarah Indonesia. Rush menulis : Indeed, for certain key episodes in the development of Islamic modernism in Sumatra, it is no exaggeration to say that Hamka wrote “the first draft of history”. Salah satu catatannya yang kemudian menjadi sumber yang dihandalkan adalah mengenai sejarah Perang Paderi. Dalam buku “Antara Khayal dan Fakta : Tuanku Rao” misalnya, ia membantah adanya pembantaian oleh pasukan Paderi terhadap orang-orang Batak. Dan pernyataan tersebut masih tetap menjadi acuan hingga saat ini.

Hamka memang seorang otoritatif. Tak heran jika kemudian ia sering menjadi rujukan dalam banyak segi pemikiran. Dalam kewibawaannya itu, ia juga seorang prolifik. Sependek ingatan saya, ia adalah orang Indonesia yang paling banyak menulis buku. Meski bejibun karya tulis telah ia hasilkan, namun Hamka hanyalah penulis paruh waktu. Ia menulis di tengah-tengah kesibukannya sebagai pengurus Muhammadiyah, pendakwah, guru, serta pemimpin redaksi surat kabar. Karena kemampuan menulis itulah, pada usia 21 tahun ia menjadi salah seorang pembicara dalam kongres Muhammadiyah. Selain pandai menggores pena, Hamka juga pintar berorasi. Sering pidato dan ceramahnya menyentuh perasaan banyak orang. “… and he is proud to tell us in his memoirs that at the organization’s twentieth congress in Yogyakarta in 1931 his speech moved to the audience to tears”.

 

* * *

Haji Abdul Malik Karim Amrullah lahir di Sungai Batang, Sumatera Barat pada tahun 1908. Ayahnya, Abdul Karim Amrullah, adalah seorang ulama ternama yang mendirikan — sekaligus menjadi pengajar — Sumatera Thawalib. Pada dekade 1920-an, Minangkabau merupakan kawah candradimuka bagi kaum nasionalis. Tempat dimana banyak orang melakukan agitasi dan pemberontakan terhadap pemerintah kolonial. Di Padang Panjang, banyak murid-murid ayahnya yang terjun sebagai aktivis pergerakan. Tak sedikit diantara mereka yang kemudian terbawa rendong kaum komunis dan ikut memberontak di Silungkang. Disaat bersamaan, pemikiran Islam reformis yang digaungkan oleh duo Al Azhar (Al Afghani-Abduh) sedang bermekaran di Timur Tengah. Gagasan-gagasan itu banyak dielaborasi oleh ulama pembaharuan di Minangkabau, termasuk oleh ayahnya. Dalam suasana seperti itu, Hamka tumbuh dan kemudian muncul sebagai visioner bagi Islam-Indonesia modern. “From him (his father) and others Hamka absorbed the urgent need to mobilize Islam to shape modern Muslim societies into a lifetime of writing, these two powerful ideas – of an independent Indonesia and a revitalized Islam – melded into the single master narrative of his writing and his life.” Demikian Rush menulis.

merantau-ke-deli

Pada dasawarsa 1930-an, dari alas yang sudah terbentuk itu, ia menjadi pemimpin redaksi majalah Pedoman Masyarakat. Melalui media inilah, ia menuangkan bermacam-macam gagasan serta ideologi yang kemudian tersebar ke seluruh Hindia. Dalam tulisan-tulisannya kadang ia juga mengkritik. Walaupun kritikannya itu dilakukan dengan cara yang halus : menggunakan kata melereng, kata-kata kiasan. Pada bulan Februari 1936, ia menyindir sikap pemerintah kolonial terhadap Hatta dan Sjahrir, yang ketika itu diasingkan ke Boven Digul dan kemudian ke Bandaneira. Lewat cerita bersambung “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”, ia juga mengkritik adat yang usang. Dalam cerita ini Hamka sukses menampilkan sosok Zainduddin sebagai pemuda Indonesia ideal, yang berdarah campuran, dan berhasil mencapai kepopulerannya di kota multi-etnis : Surabaya. Agaknya di masa itu, banyak pembaca Pedoman Masyarakat yang hendak mengidentifikasikan dirinya seperti dia.

Kegigihan Hamka dalam membangun masyarakat Indonesia modern, juga tercermin dari novel “Tuan Direktur”. Dalam cerita itu, ia menyindir tokoh Djazuli sebagai kebanyakan orang Melayu ketika itu, yang kerap terburu nafsu sehingga sering melanggar nilai-nilai fundamental. Pada novelnya yang lain : “Merantau ke Deli”, Hamka mengkombinasikan nasionalisme Indonesia — seperti perkawinan antara Leman pedagang Minangkabau, dan Poniem yang Jawa – dengan sifat-sifat buruk masyarakat. Poniem yang digambarkannya sebagai orang yang mau menerima nasib, dikesankan sebagai wanita Indonesia yang pantas. Pada cerita ini, tak kurang kritik Hamka terhadap hubungan kekerabatan Minangkabau yang kolot. Ninik mamak yang dikesankannya serakah — karena meminta Leman, kemenakannya yang sudah kaya itu untuk menikah lagi dengan wanita pilihan mereka – menjadi gambaran umum masyarakat kita ketika itu, yang menurut pandangan beliau tak bersesuaian dengan cita-cita masyarakat Indonesia modern.

“Father and Son” di bab dua, bercerita mengenai latar belakang lingkungan dan keluarganya. Sebenarnya bab ini hanyalah rangkuman dari buku “Ayahku”, yang merupakan bagian dari empat volume autobiografi beliau. Dalam buku tersebut, Hamka bercerita mengenai latar belakang keluarganya hingga kehidupan di masa kecil. Tak sedikit sejarah Islam di Sumatera, yang ia masukkan ke dalam buku ini. Pertentangan antar perguruan sufi (Syattariyah versus Naqsabandiyah), hingga kemunculan kaum Paderi tak luput dari catatannya. Kebetulan, ayah dari buyut Hamka : Tuanku Pariaman, adalah salah seorang tokoh utama dalam pergerakan Paderi. Sehingga dari kisah inilah kita bisa mengetahui bahwa Hamka adalah keturunan orang-orang saleh.

Selain Tuanku Pariaman, buyutnya Amrullah Saleh dan kakeknya Muhammad Amrullah juga terhitung sebagai orang-orang saleh. Mengenai kakeknya, Rush melukiskannya sebagai berikut : “Amrullah Saleh’s son Muhammad Amrullah was a prodigy who became Hamka’s grandfather and the family patriarch. He is said to have memorized the Qur’an at a young age and to have been authorized to teach a full curriculum of Qur’an exegesis (tafsir), law (fiqh), mysticism (tasauf), and Arabic grammar by the age of twenty-six. Even as a young man he became an extraordinarily popular teacher, with a following well beyond his home school. He then shifted to Mecca for five years of study and joined Naqshbandiyyah brotherhood. Afterward, he lived out the grand life of a revered religious authority in Minangkabau, touring throughout the highlands to teach and preach, borne aloft in a palanquin, with a retinue of students carrying his books and belongings.”

Mengenai ayahnya Abdul Karim Amrullah, dalam sub-bab “Father” dikisahkan bahwa semasa kecil ia adalah seorang bocah yang nakal, pembangkang, namun penuh rasa penasaran. Ketika usia 16 tahun, ia dikirim ayahnya belajar ke Mekkah. Disana ia berguru dengan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabaui, teman sekelas ayahnya dulu. Sekembalinya dari Mekkah pada tahun 1906, Karim yang tak menyukai ajaran suluk, menjadi perintis dalam konfrontasi yang kemudian dikenal dengan pertentangan Kaum Tua melawan Kaum Muda. Dia yang digolongkan sebagai Kaum Muda, kemudian banyak melakukan reformasi dalam hal ritual-keagamaan. Seperti perayaan 100 hari setelah wafat, meninggikan makam, serta segala hal yang dianggapnya bid’ah dan khurafat. Pada tahun 1907, Karim juga mengagitasi masyarakat untuk melakukan perlawanan terhadap kebijakan pemungutan pajak (blasting). Dia mengatakan bahwa perjuangan terhadap penindasan Belanda tergolong sebagai jihad, yang jika mati akan ditempatkan di surga. Meski perlawanannya kandas, namun Karim telah menggetarkan seluruh Minangkabau. Yang mana pada tahun-tahun selanjutnya, pemberontakan yang lebih besar terjadi dimana-mana.

hamka-ayahku

Pada tahun 1918, setelah bertemu Ahmad Dahlan di Yogyakarta, Karim memperkenalkan Muhammadiyah di tanah kelahirannya. Langkah pertama yang ia lakukan adalah mengubah materi pelajaran di sekolah Sumatera Thawalib yang ia pimpin. Tak hanya itu, Karim juga memperkenalkan organisasi dan politik kepada siswa-siswanya. Yang mana kemudian menempatkan Sumatera Thawalib sebagai sekolah paling berpengaruh di Minangkabau. “Poising its students to participate in the colony’s nascent youth organizations and political movements, Haji Rasul’s Sumatra Thawalib became, in Jeffrey Hadler’s words, “the most influential reformist school in the highlands.” Largely through the efforts of its graduates, similar schools soon sprouted everywhere in Minangkabau. (By 1928 there were thirty-nine Sumatra Thawalib schools in the region.)”

Selain bercerita mengenai nenek moyangnya, dalam bab ini dijelaskan pula bagaimana Hamka menjalani ritus pencarian jati diri : merantau. Di halaman 61, sempat diceritakan bagaimana ia bersitegang dengan ayahnya, sebelum akhirnya diperkenankan untuk pergi ke Jawa. Rush menulis : “Not long afterward he managed to confront his father with the words: “I want to go to Java, abuya.” “Why do you want to go there?” “To study” “What exactly will you study there? If it’s religion, Java’s not the place, but here in Minangkabau.” But Rasul then deftly opened a door. “But perhaps you are going to your brother-in-law’s in Pekalongan,” he said, referring to Sutan Mansur, Rasul’s trusted protégé and now husband to Hamka’s sister, Fatimah. “Exactly” said Hamka, “that’s my intention.” Setibanya di Jawa, Hamka tak hanya berguru dengan kakak iparnya, Sutan Mansur. Namun juga belajar sosialisme Islam dari H.O.S Cokroaminoto, sosiologi dari Suryopranoto, dan ilmu tauhid dari H. Fachruddin.

Di Yogyakarta, pamannya Ja’far Amrullah mengenalkannya dengan Ki Bagus Hadikusumo, dimana kemudian ia banyak menimba ilmu tafsir Quran. Dari Ki Bagus pulalah Hamka bersentuhan dengan Sarekat Islam, dan menjadi anggota organisasi tersebut. Yang berkesan dan juga memberikan spirit kebangsaan kepada dirinya ialah pidato Cokroaminoto yang berapi-api. “The fiery public speaker and Sarekat Islam leader Cokroaminoto impressed him deeply. He describes a public meeting in Pekalongan where the Communists attacked religion as “ the opium of the masses,” after which Cokro rebutted slurs one at a time. “Since that time,” he writes, “that great leader has greatly influenced the spirit of our young man.”

Setelah merasakan asam garam kehidupan di Jawa, barulah alam pandangnya mulai terbuka. Ternyata kedudukan Islam di tanah kelahirannya berlainan dengan keadaan disini. Di Minangkabau, dimana Islam telah berurat akar, komunisme-pun masih diletakkan dalam bingkai keagamaan. Sedangkan di Jawa, agama hanyalah menjadi bahan cemoohan, dan berada di bawah ancaman. Selain itu yang membuatnya terbelalak adalah banyaknya ritual keagamaan yang bercampur dengan ajaran Hindu-Budha, dan ini terjadi dimana-mana. Dengan kondisi tersebut, layaklah jika kemudian banyak pemimpin Muslim di Jawa yang lebih aware tenimbang para sekondan mereka di Sumatera. Dari pengalaman baru inilah, Hamka sadar bahwa Islam adalah perjuangan. Sebuah keyakinan yang selalu bergerak dinamis. Rush mencatat : “Meanwhile, he was reassessing his past education and perspective. In Minangkabau, Islam was entrenched, and the ulamas were obsessed with trivial matters of proper practice. In Java, Islam was under threat. Unlike in Sumatra, where the surging Communists spoke in a Muslim vocabulary, in Java they scorned religion of all kinds. This was the true Communism, he came to see (just as his father had warned him). … Then there was “Javanese religion,” a fusion of Islam and ancient Hindu-Budhist elements that prevailed everywhere except the neighborhoods of the most pious Muslims.”

Pada bab 3 : “Hamka-san and Bung Haji”, juga diperlihatkan bagaimana pandangan beliau tentang kesesuaian adat dan Islam. Karena beliau anak jati Minangkabau, sehingga banyak kritikan-kritikannya yang tertuju kepada adat negeri tersebut. Lewat buku “Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi”, ia berujar bahwa adat bukanlah segala-galanya. Orang yang memberhalakan adat, berarti ia telah mengetepikan Tuhan. Tak ada itu “adat nan tak lekang dek panas, dan tak lapuk dek hujan”, yang kekal hanyalah Allah SWT. Lebih lanjut Hamka menyatakan, bahwa di dunia manapun, rumah tangga adalah dasar masyarakat. Namun di Minangkabau, perempuan-lah yang mendominasi. Inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya poligami dan perceraian, serta ketidakstabilan dalam rumah tangga-rumah tangga Minang. Hamka bisa menceritakan ini semua, sebab ia mengalaminya sendiri. Oleh sebab itu beliau berharap, dalam masyarakat Indonesia modern keluarga inti harus benar-benar tercipta, sehingga bisa terbentuk masyarakat dan negara yang kuat.

Rumah Kelahiran Buya Hamka (sumber : www.indonesiakaya.com)

Rumah Kelahiran Buya Hamka (sumber : http://www.indonesiakaya.com)

Dalam bab “Islam for Indonesia”, Hamka juga menghimbau kepada masyarakat untuk sama-sama membangun bangsa Indonesia yang baru. Tak hanya orang Jawa saja yang berhak membentuk bangsa baru ini, namun juga masyarakat Sumatera dan orang-orang lainnya dari seluruh Indonesia. Pengalamannya di Medan, Sumatera Timur pada dasawarsa 1930-an telah memberikannya gambaran, bagaimana masyarakat Indonesia yang majemuk bisa bersatu dan menjadi masyarakat baru di kota itu. Kita tahu, Medan pada saat itu adalah sedikit dari kota di Indonesia yang tergolong kosmopolit. Disana orang Melayu, Batak, Tionghoa, Jawa, Minangkabau, Tamil, dan Aceh, bisa hidup bersatu dalam kemajemukan. Hal ini pulalah yang kemudian dirasakannya ketika tinggal di Jakarta, dimana para perantau dari berbagai daerah secara bersama-sama membentuk suatu entitas baru. Rush mencatat : “Java’s high culture, he (Hamka-pen) wrote in the Sumatra-based daily Haluan, is only one element of Indonesian culture. Our true national culture is being created all around us every day as our regional cultures meet and mingle in the national society. Hamka had identified this very same process in the 1930s in East Sumatra, where a new hybrid society and language were forming. The same thing is happening today in Jakarta, he said, where migrants from every region jostle together dynamically …”

 

* * *

Setelah membaca buku ini, mungkin sebagian dari kita jadi lebih tahu, siapa sosok Buya Hamka yang sebenarnya. Meski dikenal luas sebagai ulama berpengaruh, ternyata Hamka juga seorang penulis roman percintaan. Sesuatu hal yang tak lazim bahkan hingga saat ini. Dia yang tak pernah menyelesaikan sekolah dasarnya itu, juga merupakan seorang yang memiliki pengetahuan mendalam tentang filsafat, tasawuf, serta sejarah. Terlebih ilmu-ilmu Quran dan hadis, yang sudah ia pelajari “sejak dalam kandungan”. Hamka, memang berbeda jalan dengan Soekarno, Hatta, Sjahrir, ataupun Tan Malaka, yang berjuang melalui jalur politik. Meskipun begitu, karena jasa-jasanya bolehlah pula kita menempatkan beliau sebagai salah satu founding fathers Indonesia. Yang telah berjuang untuk mewujudkan masyarakat (Islam)-Indonesia modern, yang maju, majemuk, dan berkesetaraan.

 

Lihat pula :
1. Dalam Kenangan : Buya Hamka.
2. Mencari Akar Dinamisasi Minangkabau.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s