Andre Vltchek (sumber : andrevltchek.weebly.com)

Andre Vltchek (sumber : andrevltchek.weebly.com)

Bukannya ada apa-apa jika dalam kesempatan kali ini saya harus menanggapi tulisan skeptis dari Andre Vltchek tentang Jakarta dan Indonesia pada umumnya. Namun sebelum melangkah lebih jauh, mungkin sebagian Anda akan bertanya-tanya, untuk apa menanggapi tulisan dia. Sedangkan namanya saja belum pernah mendengar. Memang banyak orang tak mengenal novelis yang satu ini. Namanya hanya santer dikalangan pengkritik pemerintah dan para pendukungnya yang membabi buta. Agar suasana menjadi lebih enak dan bacaan ini bisa steril untuk dinikmati, ada baiknya saya mendeskripsikan latar belakang beliau terlebih dahulu. Andre Vltchek lahir di St. Petersburg pada tahun 1963. Saat ini ia merupakan warga negara Amerika, yang telah menjalani aneka profesi dari pembuat film, wartawan perang, hingga menjadi novelis. Setelah hidup beberapa tahun di Amerika Latin dan Oseania, kini ia pindah dan bekerja di Afrika serta Asia Timur. Ia merupakan sedikit dari analis politik yang telah berkelana di banyak negara berkembang. Oleh karenanya ia tahu (beberapa) akar permasalahan di negara-negara tersebut, termasuk Indonesia.

Karya-karya Vltchek memang bisa membuat telinga penguasa meradang. Hal ini karena banyak dari tulisannya yang tak enak didengar. Wajar saja! Bagi saya yang merupakan penikmat aneka tulisan lepas, agaknya karya-karya Vltchek terlalu jorok. Selain skeptis, ia juga menulis secara serampangan. Menurut saya yang awam ini, sebuah karya yang berbobot seharusnya disertai fakta serta bukti-bukti yang akurat. Namun Vltchek nampaknya menghiraukan kaidah-kaidah tersebut. Setidaknya saya bisa mengatakan itu dari tulisannya yang berjudul : “The Perfect Fascist City, Take A Train in Jakarta” (bisa dilihat di : www.counterpunch.org : The Perfect Fascist City, Take A Train in Jakarta). Tulisan ini sebenarnya telah dirilis sejak awal tahun lalu. Namun yang saya lihat, sedikit sekali tokoh-tokoh kita –- terutama para ahli perkotaan, yang menanggapinya secara serius.

Orang asing mengeksplorasi kemiskinan di Jakarta. Mereka menyebutnya

Orang asing mengeksplorasi kemiskinan di Jakarta. Mereka menyebutnya “Tour over hidden places in Jakarta”

Jika Anda telah mengklik tautan di atas dan membaca artikelnya secara seksama, mungkin Anda bisa membenarkan apa yang ia katakan. Memang beberapa kalimat dalam artikel tersebut benar dan tak terbantahkan. Seperti buruknya kualitas udara di Jakarta, yang disebabkan oleh banyaknya angkutan umum yang mengeluarkan asap-asap hitam. Serta orang-orang miskin yang tinggal berjejal di pinggir-pinggir rel kereta api. Namun yang membuat tempurung saya menderu, fakta tersebut seolah-olah dibungkusnya sedemikian rupa. Hingga terkesan bombastis dan provokatif. Selain itu yang juga ikut mengusik pikiran saya adalah, sebenarnya apa sih yang hendak dikatakan Vltchek dalam artikel tersebut : transportasi, kemiskinan, atau korupsi di Indonesia? Memang itu semua berkelit berkelindan, menjadi satu kesatuan yang tak bisa terpisahkan. Tapi agaknya Vltchek terlalu berlebihan. Ia mencampurkannya menjadi satu, seolah-olah Jakarta dan Indonesia tak ada yang baik. Disini saya kutip beberapa opini Vltchek yang telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia :

“Kalau Anda naik kereta api di Jakarta, berhati-hatilah: pemandangan yang Anda lihat di balik jendela mungkin akan membuat resah Anda yang bukan wartawan perang atau dokter. Terlihat ratusan ribu orang merana tinggal di sepanjang jalur kereta. Rasanya seperti seluruh sampah di Asia Tenggara ditumpahkan di sepanjang rel kereta; mungkin sudah seperti neraka di atas bumi ini, bukan lagi ancaman yang didengung-dengungkan oleh ajaran agama.

Memandang keluar dari jendela kereta yang kotor, Anda akan melihat segala macam penyakit yang diderita oleh manusia. Ada luka-luka yang terbuka, wajah terbakar, hernia ganas, tumor yang tak terobati dan anak-anak kurang gizi berperut buncit. Dan masih banyak pula hal-hal buruk yang bisa Anda lihat yang bahkan sulit untuk digambarkan atau difoto.”

Inilah dua paragraf pembuka dari artikel Vltchek. Terasa provokatif dan kurang bersahabat. Selanjutnya :

“Taman-taman publik diambil alih oleh kontraktor untuk dijadikan lapangan golf pribadi untuk kaum elit. Tempat pejalan kaki juga dihilangkan karena tidak menguntungkan dan dianggap ‘terlalu sosial’. Pada akhirnya, transportasi publik menjadi milik swasta dengan kualitas yang turun menjadi angkot dan metromini yang mengeluarkan asap hitam dari knalpotnya dan bajaj India bekas yang bahkan sudah tidak dipakai lagi selama beberapa dekade di negara asalnya.

Itu terjadi di Jakarta. Kota-kota lain dengan jumlah penduduk antara 1 hingga 2 juta jiwa seperti Palembang, Surabaya, Medan dan Bandung tidak memiliki transportasi publik yang berarti, selain angkot kecil, kotor berkarat, dan bis yang kotor dan bau.

Tentu saja semua ini sudah direncanakan: produsen mobil diberikan lisensi untuk memproduksi mobil model lama dari Jepang dan menjualnya dengan harga gila-gilaan (mobil di Indonesia dijual antara 50-120 persen lebih mahal daripada di Amerika Serikat), kemudian memaksa penduduk Indonesia – yang termasuk paling miskin di Asia Timur – untuk membeli mobil pribadi. Mobil yang pertama dibawa masuk, lalu sepeda motor yang lebih berbahaya, fatal untuk lingkungan hidup dan sama sekali tidak efisien. Di kota-kota besar di China dan banyak kota Asia lainnya sepeda motor sudah dilarang masuk ke kota.”

Pedesterian di Jalan Medan Merdeka Selatan

Pedesterian di Jalan Medan Merdeka Selatan

Membaca paragraf di atas, saya jadi bertanya-tanya. Tahukah ia tentang kebijakan semua kota-kota besar di Asia. China memang telah melarang sepeda motor masuk kota. Namun apakah di kota-kota besar Asia lainnya seperti Hanoi, Bangkok, Manila, atau Mumbai, sepeda motor sudah dilarang. Lalu untuk China, bagaimana dampak setelah pelarangan ini diberlakukan. Adakah lebih baik. Mengingat struktur pendapatan masyarakat kota-kota besar di China, tak berbeda jauh dengan di Jakarta. Bagaimana Vltchek bisa mengatakan sepeda motor tidak efisien? Jika dilihat secara mikro, sepeda motor justru memangkas biaya transportasi per rumah tangga. Memang ia bisa menimbulkan polusi, dan buruk untuk jangka panjang. Namun untuk saat ini, dimana pendapatan mayoritas masyarakat Jakarta berada pada kisaran USD 3,000 – USD 5,500; sepeda motor bisa menjadi katalisator untuk melompat ke kelas ekonomi berikutnya. Oleh karenanya, untuk isu yang satu ini saya lebih setuju dengan pendapat Dahlan Iskan, yang mengatakan bahwa sepeda motor sebagai dewa penolong bagi banyak masyarakat menengah ke bawah.

Kemudian mengenai taman-taman publik yang berganti menjadi lapangan golf, lagi-lagi ini merupakan bentuk keserampangan Vltchek dalam menulis. Tahukah ia taman publik mana di Jakarta yang sudah berubah menjadi lapangan golf. Apakah Lapangan Golf Rawamangun atau Ancol atau Senayan dulunya merupakan taman publik? Yang saya amati justru malah sebaliknya, lapangan golf dibuat dipinggiran kota, dan gubernur Jakarta yang sekarang, justru ingin menambah ruang publik hingga mencapai 30%. Seharusnya kalau ia ingin fair, ungkapkan juga dong kebijakan pemerintah yang meniadakan kendaraan bermotor pada setiap minggu pagi di poros Sudirman-Thamrin. Kebijakan itu kan bertujuan untuk menyediakan ruang publik bagi masyarakat. Tetapi jika ia selalu melihat aspek-aspek negatif saja dari Jakarta, ya pantas saja kalau hal-hal semacam itu tak mendapatkan tempat dalam laporan-laporannya.

Pada bagian lain, ia juga menulis seperti ini :

“Banjir Kanal Timur seharusnya bisa membawa perubahan berarti bila dilakukan dengan revolusi seluruh pendekatan pekerjaan publik yang tujuannya agar pembangunan kota Jakarta sesuai dengan standar Asia di abad ke-21. Selama beberapa dekade, Jakarta telah mengalami banjir besar; pernah 2/3 kotanya terendam banjir. Hal ini disebabkan kanal-kanal yang tersumbat, lahan hijau yang hilang dan pembangunan yang membabi-buta. Akhirnya diambil keputusan untuk membebaskan tanah dan membangun kanal bankir untuk menyalurkan air berlebih ke laut. Pada saat perencanaan, dijanjikan akan dibangun taman-taman publik atau paling tidak tempat pejalan kaki di pinggir kanal. Juga dijanjikan adanya jalur khusus untuk pengendara sepeda, tempat berolahraga, juga transportasi air, bahkan angkutan dengan trem listrik.

Bagi mereka yang masih punya harapan untuk Jakarta akhirnya dibenturkan pada kenyataan yang jauh dari apa yang dijanjikan. Di tahun 2010 dan 2011, saat pembangunan kanal masih jauh dari penyelesaian, kenyataan pahit mulai terlihat.

Kualitas konstruksi kanalnya sangatlah buruk, bahkan sebelum pembangunan selesai, sampah telah menutup proyek kanal tersebut. Kejutan berikutnya: pemerintah mengatakan bahwa mereka memang tidak berencana untuk menyelenggarakan transportasi publik di pinggir/atas kanal itu. Seperti biasa, mereka meyakinkan publik bahwa tidak akan ada ruang publik disana. Di awal tahun 2012, lahan di sepanjang kanal dijadikan jalan raya (walaupun menggunakan kata jalan inspeksi) yang langsung digunakan oleh pengendara sepeda motor. Bahkan sejak sebelum selesai dengan sempurna, namun secara resmi sudah beroperasi, kanal banjir ini kelihatannya hanya akan menjadi tempat pembuangan sampah dan menambah harapan tinggi para pelobi motor/mobil.”

Sisi Banjir Kanal Timur yang dipergunakan untuk berolahraga (sumber  thejakartareview.wordpress.com)

Sisi Banjir Kanal Timur yang dipergunakan untuk berolahraga (sumber : thejakartareview.wordpress.com)

Mungkin bagi para pembaca yang melihat sendiri kondisi Banjir Kanal Timur saat ini, bisa menilai bagaimana kualitas reportase Andre Vltchek. Ia mengatakan bahwa konstruksi kanal banjir timur sangatlah buruk. Baiklah, menurut saya ini relatif. Namun di penghujung kalimat ia menambahkan, bahwa sebelum pembangunannya selesai sampah telah menutup proyek kanal tersebut. Pernyataan yang ini, sekali lagi agak membingungkan saya. Apakah benar sampah telah menutup proyek tersebut. Sepengetahuan saya yang pendek ini, rasanya tak pernah hal itu terjadi. Kemudian ia menyebut, kanal banjir ini kelihatannya hanya akan menjadi tempat pembuangan sampah. Untuk pernyataan yang satu ini ternyata dugaan Vltchek salah besar. Hingga hari ini, hampir tak ada masyarakat sekitar Banjir Kanal Timur yang membuang sampah ke saluran tersebut. Dan perlu diingat, sepanjang ruas Cipinang hingga Buaran, jalur inspeksi kanal tetap berfungsi sebagai jalur sepeda dan tempat berolahraga.

Mengenai transportasi publik yang memang menjadi sorotan Vltchek, banyak pula ketidakakuratan data dan fakta disana-sini. Seperti yang saya kutip di bawah ini :

“Alih-alih membangun sistem transportasi kereta api massal yang bisa mengangkut jutaan penumpang setiap harinya, Jakarta ‘membangun’ jalur busway yang mengambil dua jalur dari jalur yang sudah ada di jalan-jalan utamanya, kemudian mengoperasikan kendaraan bus sempit dimana para penumpang duduk menyandar dinding sambil menghadap satu sama lain. Setiap bus hanya punya satu pintu untuk penumpang naik dan turun. Halte dan jalan masuk ke halte dibuat dari logam yang mudah berkarat dan sekarang pelat lantainya sudah banyak yang lepas dan meninggalkan lubang di jalan masuk itu. Hampir semua pintu otomatis di halte sudah tidak beroperasi dengan baik dan akhirnya ada orang yang terdorong ke jalan hingga meninggal atau luka parah.

Seperti moda transportasi lain di Jakarta, sistem ini tidak dirancang untuk meningkatkan hajat hidup orang banyak, dalam hal ini untuk mengurangi kemacetan dan mengangkut berjuta orang secara aman dan nyaman. Busway dirancang sebagai proyek untuk memperkaya perusahaan yang memiliki saham dan para pejabat yang korup.

Sistem busway tidaklah efisien, tidak memperhatikan keindahan dan tidak mempersatukan kota – malahan lebih memecah-belahnya. Hampir tidak ada tempat pejalan kaki di dekat halte busway. Penumpang yang sampai di halte busway harus beresiko kehilangan nyawanya untuk menyeberang jalan untuk sampai ke tempat tujuan atau naik angkutan umum lain.

Bahkan ketika halte busway dibangun di dekat stasiun kereta, perencana kota menjamin bahwa tidak ada jalan langsung ke sana. Selama beberapa dekade, para penguasa Jakarta telah memastikan tidak adanya interkoneksi antara moda transportasi, termasuk dengan stasiun kereta peninggalan jaman Belanda. Kota ini hampir tidak memiliki tempat pejalan kaki, hampir tidak ada tempat penyeberangan di bawah tanah (hanya ada satu di seluruh kota yaitu dekat stasiun Kota yang pembangunannya membutuhkan waktu beberapa tahun) yang menghubungkan stasiun dengan jalan raya. Dan kenyataannya Jakarta tidaklah memiliki banyak jalan raya – kebanyakan dari jalan raya ini hanyalah replika buruk dari jalanan di pinggiran kota Houston: dengan jalan tol (layang atau bukan), tidak ada tempat pejalan kaki dan fasilitas-fasilitas yang dipisahkan oleh pagar-pagar, tidak langsung bisa diakses dari jalanan.”

Kabin bus Transjakarta yang lapang dan nyaman

Kabin bus Transjakarta yang lapang dan nyaman

Membaca kutipan di atas, saya menjadi geli dan penasaran. Sebenarnya apa sih maunya Vltchek. Apa yang salah dari sistem busway. Dia menyebut busnya sempit dan penumpang duduk berhadap-hadapan. Apakah iya bus Transjakarta sempit? Dan apakah salah jika penumpang duduk saling berhadap-hadapan. Bukankah bangku yang berhadap-hadapan itu untuk memberikan daya angkut yang maksimal. Sudahkah ia tahu akan hal itu? Kemudian ia menyebut sistem busway tidak efisien dan tidak memperhatikan keindahan kota. Sekali lagi ini agak membingungkan. Menurut saya yang sering menggunakan jasa Transjakarta, sistem ticketing-nya yang hanya membeli satu karcis untuk beberapa koridor, merupakan salah satu sistem paling modern yang pernah dimiliki oleh negara berkembang.

Mengenai pedestrian, memang diakui tak seluruh jalan-jalan di Jakarta memiliki trotoar bagi pejalan kaki. Namun kurang bijak jika ia mengatakan bahwa kota ini hampir tidak memiliki tempat pejalan kaki. Sekali lagi saya jadi bertanya-tanya, pernahkah ia mengelilingi kota Jakarta dengan berjalan kaki. Melintasi poros Sudirman-Thamrin, menyusuri bulevar Menteng yang rindang, atau berjalan di koridor Medan Merdeka yang luas. Saya yakin ia tak pernah. Kalaupun pernah, bisa dipastikan ia telah melakukan pembohongan publik. Selanjutnya mengenai tempat penyeberangan bawah tanah, apa relevansinya? Bukankah Jakarta sudah memiliki puluhan jembatan penyeberangan yang aman dan nyaman. Untuk apa lagi penyeberangan bawah tanah yang mahal.

Lagian jika dibandingkan dengan pusat kota Kuala Lumpur ataupun Bangkok, downtown Jakarta terasa lebih nyaman dan tertib. Di Jalan Tuanku Abdul Rahman Kuala Lumpur ataupun Kawasan Sukhumvit Bangkok, para pelaju bisa menyeberang jalan seenaknya. Pemandangan ini mungkin tak akan kita jumpai jika melintasi poros Thamrin-Sudirman hingga ke kawasan Blok M, yang mana orang-orang menyeberang di jembatan penyeberangan dengan tertib. Malahan di Singapura yang menjadi kota ternyaman di Asia, penyeberang harus memutar terlebih dahulu dan menunggu antrean lampu merah. Kalau begini, bukankah Jakarta terasa lebih enak!

Terakhir saya ingin menanggapi pendapat Vltchek mengenai sistem kereta api di Jakarta.

“Namun demikian, keunggulan sistem kereta api di Jakarta (yang disebut-sebut sebagai ‘keajaiban kapitalis dan demokrasi’) dari Nairobi (sebagai ibu kota dari salah satu negara paling miskin di dunia) mungkin tidak akan bertahan lama. Di awal tahun 2013 Nairobi sudah bersiap untuk memperbaharui jaringan rel kereta api lamanya dan menambah jalur modern yang pertama, diikuti dengan yang kedua di tahun 2014. Stasiun-stasiun keretanya akan memiliki tempat parkir, toko-toko dan fasilitas modern, serta akan menghubungkan area yang ditempati oleh kelas menengah dan bawah. […]

Membaca apa yang ditulis mass media Indonesia yang ahli dalam seni mengelabui akan membuat Anda bahwa Jakarta sudah punya sistem perkereta-apian dan hanya perlu sedikit penyempurnaan. Bahkan Anda dapat menemukan semacam peta dari sistem transportasi itu di internet. Tapi cobalah datang ke stasiun, coba naik keretanya, dan coba interkoneksinya, maka Anda akan berpikir ulang apakah sebenarnya sistem ini ada dan mencukupi sebagai salah satu pilihan angkutan massal.

Beberapa masalah yang saya temui antara lain: Tidak ada jadwal dan informasi yang disediakan dan mudah dimengerti penumpang; Petugas yang kurang tanggap, lamban dan tidak efisien dalam penjualan tiket secara manual. Tidak mudah untuk dapat sampai ke peron yang dituju. Padahal orang-orang yang menggunakan kereta api adalah mereka dari kelas menengah Indonesia. […]

Banyak orang dari ’kelas menengah’ ini naik ke atap kereta karena mereka tidak mampu membayar harga tiket; beberapa orang tersengat listrik setiap tahunnya, beberapa lainnya meninggal karena terjatuh. Untuk mencegah mereka naik ke atas, pemerintah yang baik hati mulai membangun bola-bola beton yang digantung di atas jalur kereta api untuk menghancurkan kepala mereka yang naik di atas atap kereta api, kadang-kadang petugas merazia mereka dengan menyemprot mereka dengan cat, bahkan dengan kotoran manusia. Beberapa stasiun, termasuk Manggarai, menempelkan kawat berduri di atap rel sehingga orang-orang yang mencoba melompat ke atap akan tersayat. […]

Saat ini, lebih baik buat kita untuk tidak menggantungkan harapan pada kota Jakarta. ’Kota besar yang paling tidak layak untuk ditinggali di Asia-Pasifik’ ini tidak akan jadi lebih baik dalam waktu dekat ini, juga mungkin tidak dalam jangka waktu yang lama. Tidak akan ada perubahan di bawah pemerintahan sekarang ini. Tidak di bawah rejim ini.”

Stasiun Sudirman yang nyaman. Nampak tergantung monitor jadwal kedatangan kereta

Stasiun Sudirman yang nyaman. Nampak tergantung monitor jadwal kedatangan kereta

Membaca pendapatnya di atas, saya hanya berharap mudah-mudahan Vltchek mau segera merevisi opininya mengenai sistem transportasi massal di Jakarta. Sebab beberapa bulan setelah ia menulis artikel tersebut, sudah banyak perubahan yang terjadi. Pertama dan yang utama, sekarang tak ada lagi “kelas menengah” yang naik di atas atap kereta. Semuanya berada di dalam rangkaian meskipun harus berdesak-desakan. Kedua, seluruh rangkaian kereta api kini telah dilengkapi oleh pendingin ruangan yang tak lagi tersumbat. Dan semua pintu-pintu otomatis masih berfungsi dengan baik. Ketiga, di beberapa stasiun telah tersedia monitor yang memuat jadwal pemberangkatan kereta, disamping suara informasi dari petugas stasiun. Para pegawai yang berdiri di loket dan pintu masuk stasiun-pun, juga telah melayani dengan baik. Bahkan diantara mereka, sudah banyak yang mau tersenyum dan menyapa. Untuk yang satu ini, saya bisa mengatakan kalau sistem kereta api (mass rapid transit) dalam kota Jakarta, kini sudah lebih maju dibandingkan beberapa kota besar lainnya di Asia Tenggara.

 

* * *

Membaca tulisan-tulisannya (yang lain : “Indonesia: Archipelago of Fear”, “Racism and Sexual Violence in Indonesia”) memang agak menjengkelkan. Kalau mau diibaratkan, Vltchek bagaikan tamu asing yang masuk ke rumah kita (Indonesia), melihat-lihat bentuk rumah kita, berkenalan dengan anggota keluarga kita, mempelajari silsilah keluarga, dan kemudian pergi serta menulis semua hal yang buruk tentang rumah dan keluarga kita. Bukan kali ini saja kita dilecehkan orang-orang asing lewat artikel atau buku-buku “ilmiah” mereka. Sebelumnya media-media cetak dan televisi asing, sudah sering kali memberitakan hal-hal yang buruk tentang Indonesia. Cobalah tengok jaringan televisi asing seperti BBC atau National Geographic. Keseringan mereka hanya menyorot hal-hal tak senonoh dari negeri ini. Mungkin kalau kita mau membayar atau beriklan di media mereka, angel-nya baru bisa diubah. Yang buruk-buruk ditutupi berganti dengan yang indah-indah. Seperti yang kini dilakukan oleh negara-negara tetangga kita, seperti Malaysia, China, ataupun Thailand.

Kemiskinan di Rusia. Bagaimana Vltchek menanggapinya? (sumber : www.bmwclub.ru)

Kemiskinan di Rusia. Bagaimana Vltchek menanggapinya? (sumber : http://www.bmwclub.ru)

Semua orang tahu, tak ada satupun tempat di dunia ini yang sempurna. Mungkin juga negeri kelahirannya Rusia ataupun di Amerika Serikat tempat dimana ia membuat paspor. Namun tak seharusnyalah ia mengesankan Indonesia sekejam itu. Seolah-olah yang ada di Jakarta dan Indonesia ini semuanya mengerikan. Untuk melihat Indonesia secara obyektif, mungkin ia bisa belajar kepada para Indonesianis yang sudah malang melintang bergaul dengan masyarakat Indonesia. Serta mempelajari bagaimana sebenarnya Indonesia dan orang Indonesia. Sehingga tulisan-tulisan yang dihasilkannya bisa lebih menarik dan orisinal.

Di satu sisi, artikel ini memang bisa menjadi pelecut bagi bangsa Indonesia untuk terus berbenah dan memperbaiki diri. Namun di sisi lain, tulisan-tulisan Vltchek telah membentuk stereotip buruk tentang Indonesia. Sehingga turis asing akan enggan datang kemari, dan para investor segan berinvestasi disini. Jangan-jangan memang itu yang hendak ia tuju. Seperti kebanyakan orang-orang Barat lainnya yang tak senang melihat (kebangkitan) Asia dewasa ini.

 

Lihat pula :
Peringkat Jakarta Diantara Kota-Kota Global

sumber gambar : http://www.skyscrapercity.com

Iklan
Komentar
  1. Rudolf berkata:

    Artikel Bagus! Iseng-iseng googling tentang pendapat orang-orang mengenai tulisannya Vltchek, dan akhirnya sampai di sini. Rata-rata saya lihat respon ke Vltchek (terutama) di sosmed ttg tulisannya mengenai Jakarta dan Indonesia cenderung mengiyakan tulisannya begitu saja. Tulisannya memang rada lebay kalau saya rasa. Tulisannya yang terakhir tentang Jokowi, ketika Jokowi terpilih jadi Gubernur DKI Jakarta. Beberapa yang saya tangkap di tulisannya salah satunya mengenai kenapa tidak ada Transportasi Umum bagus di Jakarta, menurutnya karena perusahaan mobil yang ngasih “uang tahunan” ke pemprov DKI sejak 1992 supaya proyek transportasi umum jadi batal, diperburuk, atau minimal diperlambat. Entah bener atau tidak tulisannya.

    Again, meskipun ada poin-poin yang benar, saya gak terlalu suka dengan tulisannya dia, terlalu berlebihan. Mirisnya, malah banyak orang Indonesia yang setuju begitu saja tanpa kritik lebih jauh.

    • Afandri Adya berkata:

      Sependapat kita Bung Rudolf. Siapapun boleh saja mengkritik, namun harus ada bukti yang kuat. Satu lagi yang saya agak keberatan dengan tulisan-tulisan dia ialah gaya bahasanya yang lebay. Dan parahnya lagi — seperti yang Bung Rodolf katakan, hampir sebagian besar orang mengiyakan pendapat dia. Bahkan para pakar-pun, sepengetahuan saya tidak ada yang mengkonter pendapat Vltchek dengan argumen yang meyakinkan. Padahal kalau kita lihat di televisi, banyak sekali pakar-pakar perkotaan yang mempunyai ide-ide bernas. Namun kemana mereka disaat kita “ditelanjangi” oleh orang asing? Entahlah.

    • nihon berkata:

      apa mungkin ya adanya intervensi Jepang supaya proyek transportasi umum jadi batal, diperburuk, atau minimal diperlambat, karena mengingat jika transportasi massal berkembang di Indonesia dan motor dilarang masuk kota, artinya yang rugi kan Jepang sebagai produsen utama kendaraan bermotor di Indonesia dan dunia, pantasan nggak maju-maju transportasi massal kita. Kalau jalan tol aja, tanpa kabar berita, tiba2 udah diresmikan, mungkin saja Jepang tidak segan2 menggelontorkan yen-nya untuk investasi jalan tol di Indonesia, karena ini berkiatan dengan pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor mereka, pantasan mereka tidak berminat berinvestasi di transportasi massal di Indonesia, karena merugikan buat mereka…umh terlalu Jepang.

      • Afandri Adya berkata:

        Sebenarnya Jepang bukan mengintervensi supaya proyek transportasi umum jadi batal, diperburuk, atau minimal diperlambat Pak. Namun dalam memberikan pinjaman/investasi, Jepang lebih memprioritaskan proyek-proyek yang akan menguntungkan industri mereka. Seperti pembangunan jalan tol, bendungan, dsb. Apa penyebabnya? silahkan baca ulasan berikut : Politik-Ekonomi Jepang : Dari Restorasi Meiji hingga Produk Berkualitas

        Terkait dengan investasi Jepang di transportasi massal, perlu diingat Jepang telah komit menginvestasikan dananya sebesar USD 15,7 juta untuk pembangunan subway (MRT) di Jakarta. Jadi sebenarnya Jepang juga berminat berinvestasi di transportasi massal, sepanjang itu menguntungkan mereka.

        Mengenai transportasi massal kita yang tak maju-maju, ini sebenarnya terkait kebijakan/arah pembangunan pemerintah. Sekian lama pemerintah kita menganaktirikan angkutan massal (kereta api dan kapal laut), yang disebabkan oleh mindset pemerintah yang menganggap angkutan massal sebagai angkutan kelas bawah. Sehingga perkembangan kereta api dan kapal laut tak pernah diperhatikan dengan baik.

        Namun sejak tahun 2011 ketika Dahlan Iskan menjadi Menteri BUMN, KAI dan Pelni terus berbenah. Kini di bawah pemerintahan Jokowi, kita berharap arah pembangunan Indonesia lebih pro kepada pengembangan angkutan massal. Harapan ini semoga bisa berjalan mulus, mengingat Jokowi telah menginisiasi pembangunan subway (MRT) ketika menjadi Gubernur Jakarta.

  2. ojodumehhh@gmail.com berkata:

    kalo kamu tidak setuju dengan pendapat orang bukan berarti pendapatmu setuju…… jadikan itu sebagai masukan yang konstruktif….dikasih masukan kok malah cari pembenaran…..hadeeee

    • Afandri Adya berkata:

      Mbak atau Mas ojodumehhh. Dalam artikel tersebut saya bukannya hendak mencari pembenaran. Cuma ingin meminta kepada para pengkritik, dalam hal ini Vltchek, jangan menilai segala sesuatunya secara berlebihan. Sehingga kesan yang muncul adalah misleading information.

      Kalau mbak atau mas ojodumehhh menilai artikel Vltchek sebagai masukan yang konstruktif, saya rasa agak janggal ya. Kok orang “menelanjangi” kita dibilang masukan yang konstruktif … hadeeee … Btw, terima kasih ya telah berkomentar.

  3. rudi berkata:

    pendapatan kota besar di china beda jauh sama di indonesia mas! di shanghai gaji fresh graduate karyawan bank 12-16 jutaan, kalau di indonesia cuma 2,5-3juta di bank besar (saya sendiri kerja di bank).

    • Afandri Adya berkata:

      Mas Rudi, dalam artikel di atas saya menyebut pendapatan rata-rata masyarakat kota besar di China, tak berbeda jauh dengan di Jakarta. Jadi ngukurnya bukan dari gaji fresh graduate karyawan bank, tetapi secara rata-rata. Berdasarkan data IMF per April 2015, pendapatan per kapita masyarakat Shanghai sekitar USD 15,847. Angka ini tak berbeda jauh dengan pendapatan per kapita orang Jakarta yang berkisar antara USD 13,000 – 15,000.

  4. andrew berkata:

    nah gimana rasanya ketika di korek boroknya? padahal rakyat sini sering mentertawai negara tetangga lho, philipina malaysua china vietnam sering kali di ejek rakyat sini.mereka sering diejek pemalas, negara produk kw, negara miskin, tentara sendal jepit… padahal negaranya sendiri melarat.

    • Afandri Adya berkata:

      Mas, namanya Andrew atau Rudi? Kok IP Address-nya sama. Btw, siapapun ingin mengkritisi apapun, sah-sah saja. Namun harus dengan bukti yang akurat. Tidak serampangan seperti apa yang dilakukan Vltchek.

  5. irfan aulia monaski berkata:

    Yang pasti jakarta kota kotor tidak terawat dan dan merusak pemandangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s