Archive for the ‘Ekonomi Bisnis’ Category


Hikayat Nakhoda Muda

Ciputra sering mengatakan bahwa salah satu tonggak dari kemajuan bangsa ialah lahirnya pengusaha-pengusaha tangguh yang memberikan kontribusi besar terhadap rakyat banyak. Diantara ciri pengusaha tangguh itu ialah berdikari, merintis usaha dari bawah, dan mampu bertahan dalam waktu cukup lama. Di Indonesia, banyak usahawan yang memulai bisnisnya dari modal kecil. Namun sedikit yang bisa bertahan lama dan mampu mewariskannya (setidak-tidaknya) kepada generasi ketiga. Dari nama-nama yang sedikit itu, yang cukup menonjol adalah : Nakhoda Mangkuto, Oei Tjie Sien, Liem Seeng Tee, Achmad Bakrie, dan Haji Kalla.

Nakhoda Mangkuto, lahir di Bayang, Sumatera Barat, pada akhir abad ke-17. Ia memulai usahanya dengan menjual hasil-hasil bumi, dengan komoditas utama : lada. Setelah beranjak dewasa ia pergi merantau meninggalkan kampung halamannya. Mengembara ke seantero Nusantara, dari Sumatera, terus ke Jawa, ke Kalimantan, dan Kepulauan Karimata. Disini ia menikah dan memperoleh anak yang bernama Tayan (setelah dewasa dikenal sebagai Nakhoda Muda). Keberadaannya di Karimata tak disukai para perompak Bugis. Ia pun berpindah ke Banjar dan akhirnya menetap di Piabung, Lampung. Disini ia terus berbisnis dan mengkhususkan dirinya dalam perdagangan lada. Semasa itu Kesultanan Banten menguasai perkebunan lada di Lampung dan Jawa Barat, dan Mangkuto diberi kepercayaan untuk memasarkan hasil-hasilnya.

(lebih…)


Plaza Indonesia tampak dari muka

Bagi sebagian orang, nama Boyke Gozali terasa asing terdengar. Namanya tak semengkilap pengusaha lain, yang wajahnya acap wara-wiri di media massa nasional. Namun siapa yang tak tahu dengan Plaza Indonesia (PI), mal papan atas ibu kota yang satu-satunya berani menjadi hi-end boutiques mall. Bersama sekondannya Franky Widjaja dan Rosano Barack, tangan dingin Boyke berhasil mengubah konsep mal yang terletak di jantung ibu kota ini, dari sekedar mal penyedia barang bermerek menjadi pusat gaya hidup kalangan atas.

Dengan konsep baru tersebut, langkah cepat dan berani terpaksa diambilnya. Salah satu keputusan yang cukup cerdas adalah tidak diperpanjangnya sewa ruang Sogo. Padahal departemen store asal Jepang ini, telah menjadi anchor brand-nya PI selama 15 tahun (1992-2007). Dia beralasan, penghentian Sogo karena ingin menciptakan sesuatu yang berbeda, differentiate product dalam istilah pemasaran. Dengan kehadiran Grand Indonesia (GI) yang persis di depan hidung, hanya diferensiasi-lah satu-satunya cara Boyke untuk memenangkan persaingan. Lagian Sogo kini bukan hanya “milik” PI semata, gerainya telah tumbuh dimana-mana. Di tanah air, jumlahnya telah melampaui dept. store papan atas lainnya seperti Debenhams, Metro, dan Seibu. Penulis mencatat, saat ini Sogo memiliki lima gerai di Jakarta, dan juga telah membuka cabang-cabangnya di Bandung, Surabaya, dan Medan. Dengan menyebarnya outlet Sogo di beberapa tempat, maka exclusive value-nya pun berkurang. Dan hal ini sangat bertentangan dengan konsep yang ingin dibangun Boyke.

(lebih…)


Kota-kota dagang Laut Tengah dibawah kekuasaan Venesia (merah), di tepi Imperium Turki Utsmani (hijau)

Kajian tentang sejarah ekonomi dunia yang mengaitkannya dengan pasang surut sosial politik, masih menjadi subyek langka dalam ranah studi ekonomi pembangunan. Minimnya para ekonom yang menguasai ilmu-ilmu sosial secara komprehensif, menjadi salah satu faktor penyebab hal tersebut. Dalam tulisan ini, saya mencoba memberikan sedikit gambaran mengenai sejarah panjang ekonomi dunia beserta naik-turunnya politik negara-bangsa. Sumber-sumber primer yang terbatas serta sedikitnya referensi yang bisa menjadi acuan, menjadi kendala sekaligus tantangan dalam penulisannya. Lewat buku Paul Kennedy : The Rise and Fall of the Great Powers yang sangat memukau, ditambah karya-karya Angus Maddison serta Walter Scheidel, kajian ini coba diketengahkan. Sekadar catatan tambahan, angka-angka yang tertera di bawah setara dengan kekuatan kurs USD pada tahun 1990.

Bahasan ini saya awali dari tahun 1 Masehi, dimana pada masa itu dengan pendapatan per kapita sebesar USD 809, Italia tercatat sebagai negara paling makmur di dunia. Mantapnya perekonomian Italia, disebabkan karena luasnya daerah taklukan mereka ketika itu. Secara keseluruhan luas wilayah Imperium Romawi mencapai 4 juta km2, yang meliputi tiga benua : Eropa, Asia, dan Afrika. Ditemukannya bahan-bahan mineral berharga seperti emas, besi, dan plumbum, memicu terjadinya industrialisasi besar-besaran. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Walter Scheidel, pendapatan domestik bruto Kerajaan Romawi pada masa jayanya (tahun 150 masehi) mencapai angka USD 43,4 milyar. Dengan kekuasaan politik yang absolut, kekayaan negeri-negeri di sekeliling Laut Tengah dibawa pulang ke Italia. Boleh jadi politik sentralistik macam inilah yang menjadi sumber kemakmuran mereka.

(lebih…)


Gedung Indosat Jakarta. Indosat salah satu perusahaan negara yang sempat diakuisisi pihak asing

Kekonyolan sering muncul dan terjadi di negeri ini. Secara konsisten dan berulang-ulang. Dan sialnya lagi, kekonyolan itu tak banyak orang yang tahu. Kecuali para sarjana dan teknokrat kita, yang masih bersih dan belum terkooptasi dengan pemikiran ekonomi liberal. Masalah ekonomi dan isu di seputarannya, memang hangat untuk diperbincangkan. Terlebih lagi jika terkait dengan intervensi dan kepemilkian asing di dalamnya. Seperti kasus baru-baru ini, yakni penawaran umum perdana (IPO) saham PT. Krakatau Steel (dengan kode Bursa : KRAS) di Bursa Efek Indonesia.

Pada kasus ini, muncul masalah mengenai penentuan harga perdana yang dipatok pada level Rp 850 per sahamnya. Pemerintah dan penjamin emisi — pihak yang paling bertanggung jawab dalam penentuan harga perdana — bersikukuh bahwa angka tersebut merupakan harga yang optimal. Sedangkan para pengamat ekonomi dan kaum sosialis-nasionalis menuding, harga penawaran tersebut masih di bawah dari nilai wajar perusahaan. Walau akhirnya harga perdana tak bergeming pada nilai yang telah ditentukan, harga KRAS sempat terbang ke level Rp 1.250 atau naik sebesar 47% pada penjualan hari pertama. Melihat kenaikan KRAS yang spektakuler, para pengamat ekonomi beranggapan : negara telah dirugikan dalam proses IPO Krakatau Steel.

(lebih…)


Renovasi Stasiun Sudirman, Jakarta Pusat

Stasiun Sudirman telah bersalin rupa. Wajah stasiun yang dulu disebut Stasiun Dukuh Atas itu, kini telah berseri-seri. Enam bulan lalu, kondisi stasiun ini tak ubahnya stasiun lain di ibu kota : sumpek, kusam, dan kuno. Tapi sekarang, stasiun yang terletak di jantung kota Jakarta itu telah menjadi salah satu tempat perhentian kereta termodern di negeri ini. Bagi Anda yang sudah lama tak menginjakkan kaki disana, pasti akan terperangah dibuatnya.

Dengan desain minimalis dan lantai berwarna kelabu, dua tingkat stasiun kini terasa lebih kinclong. Sisi bangunan yang dulunya terbuat dari besi, sekarang telah diganti dengan stainless steel yang ramah lingkungan. Di sebelah kiri dan kanan, kaca-kaca berukuran besar menghiasi badan stasiun. Dengan begitu, di siang hari lampu penerang tak berguna lagi. Kursi-kursi berbahan dasar almunium, menambah anggun ruang tunggu stasiun. Empat eskalator dan dua buah lift di kedua belah sisi, memanjakan penumpang dari dan menuju Jalan Sudirman. Peronnya-pun lebih panjang dan lebar, dengan ketebalan yang sudah disesuaikan dengan tinggi pintu kereta. Sehingga tak lagi menyulitkan para penumpang wanita untuk naik dan turun KRL. Mushola dan toiletnya, juga tak kalah mewah dengan gedung-gedung yang ada disekelilingnya. Bersih dan rapi.

Pemugaran Stasiun Sudirman merupakan salah satu bagian program revitalisasi jaringan kereta komuter Jabotabek. Sejak berpisah dengan PT KAI setahun yang lalu, PT KAI Commuter Jabodetabek bertekad untuk menyediakan sarana transportasi cepat dan nyaman. Untuk memberikan kenyamanan bagi penggunanya, perusahaan siap menggelontorkan dana ratusan milyar rupiah. Jajaran direksi PT Comutter tentu berharap, dengan merenovasi stasiun, keuntungan akan mudah didapat.

(lebih…)


Gerai J. Co di Mal Kelapa Gading 2

Cintailah produk-produk Indonesia … begitu teriakan Alim Markus dalam iklan Maspion produksinya sendiri. Maspion, produsen alat-alat elektronik rumah tangga itu, kini telah menjadi salah satu merek kebanggaan Indonesia. Selain Maspion masih banyak lagi produk-produk Indonesia yang branded, yang tak kalah dengan produk-produk luar negeri. Sebut saja misalnya produsen sepatu dan tas kulit, Buccheri. Banyak orang tak menyangka, bahwa merek besutan Ediansyah ini merupakan produk asli buatan Indonesia. Mayoritas penikmat sepatu dan tas kulit, menyangka bahwa Buccheri adalah buatan Italia. Tak hanya Buccheri yang disangka sebagai merek luar. Sophie Martin, merek aksesoris kalangan atas itupun, banyak yang mengira buatan Prancis. Brand Sophie Martin yang menambahkan nama Paris dibelakangnya, ternyata telah mengecoh banyak konsumen.

Siapa yang menyangka kalau merek Casablanca asli dari Indonesia. Banyak orang menduga kalau merek parfum yang banyak dipakai eksekutif muda ini, berasal dari Prancis. Parfum Casablanca, yang dalam iklan-iklannya banyak menampilkan model-model bule itu, ternyata produksi Muara Kapuk, Jakarta. Selain tiga merek di atas, masih banyak lagi merek-merek lokal yang dikira masyarakat sebagai merek luar. Sebut misalnya merek fashion The Executive, gerai donat J-Co Donnuts, merek furnitur Olympic, produk celana dalam pria GT Man, sepatu Eagle, penanak nasi Cosmos, Centro departemen store, sepeda Wim Cycle, produsen pakaian Andre Laurent, dan masih banyak lagi merek-merek karya dalam negeri yang dikira barang impor.

(lebih…)


Grand Indonesia, properti milik kelompok Djarum

Beberapa waktu lalu, majalah Globe Asia merilis 100 besar kelompok usaha di Indonesia, yang diukur berdasarkan nilai penjualan yang diraih. Nama-nama beken seperti Salim, Sinar Mas, dan Lippo masih betah duduk di posisi sepuluh besar dalam daftar tersebut. Keadaan ini tak ubahnya seperti kondisi 15 tahun lalu di saat Indonesia masih menjadi macan ekonomi Asia. Ketika itu, disamping perusahaan-perusahaan plat merah, tiga kelompok bisnis inilah yang menjadi penggerak ekonomi kita. Ketahanan mereka dalam menjalani usaha patut diacungi jempol. Kalau dulu mereka mendapat bekingan penuh dari pemerintah, maka kini keistimewaan itu tak lagi mereka dapatkan. Mereka harus mampu memutar otak, untuk bertahan menghadapi pesaing lokal dan mancanegara yang terus merangsek pasar. Selain tiga itu, muncul nama-nama baru yang sepuluh tahun lalu tak pernah terdengar. Kemunculan mereka bak meteor. Sebut saja : Raja Garuda Mas atau Triputra Grup atau Para Grup. Satu dasawarsa lalu, kelompok-kelompok usaha ini tidaklah ada apa-apanya. Malah Triputra Grup baru berdiri setelah krisis ekonomi 1998.

Dari kelompok usaha yang baru terbit, Bakrie Grup-lah yang paling fenomenal. Kelompok yang digadangkan oleh Aburizal Bakrie ini, sepuluh tahun lalu baru memulai ekspansi usahanya. Tapi tengoklah kini, Bakrie Grup nongkrong di posisi kelima dalam daftar tersebut. Pencapaian ini juga telah mendudukan Aburizal sebagai manusia terkaya di Asia Tenggara pada tahun 2007 silam. Selain kelompok usaha nasional, beberapa kelompok usaha asing juga menghiasi daftar ini. Dalam daftar sepuluh besar, ada nama Jardine Matheson dan Phillip Morris International.

(lebih…)


Konglomerat Indonesia

Konglomerat Indonesia

Forbes, dalam ritual tahunannya, kembali menurunkan daftar orang-orang kaya Indonesia. Ada yang berbeda tahun ini. Aburizal Bakrie yang tahun lalu duduk di kursi paling atas, kini harus merosot ke posisi enam. Sejak krisis pasar modal terjadi pada bulan Oktober 2008 lalu, saham BUMI yang menjadi mesin uang grup Bakrie, terjun bebas dari Rp 8.800 hingga mencapai Rp 700. Selain itu, diambil alihnya beberapa saham perusahaan di kelompok Bakrie dari tangan Aburizal, juga turut menekan jumlah kekayannya. Sukanto Tanoto, pengusaha kertas dan bubuk kertas asal Medan, ambil alih posisi menjadi yang teratas.

 

Berikut daftar konglomerat Indonesia menurut versi majalah Forbes Asia :

1. Sukanto Tanoto, US$ 2,8 Milyar; 58 tahun. Di bawah bendera Raja Garuda Mas International yang berpusat di Singapura, Sukanto memproduksi kertas, minyak kelapa, dan sumber daya energi.
2. Putera Sampoerna – US$ 2,1 Milyar; 58 tahun. Perusahaannya, PT H.M Sampoerna, Tbk menjadi perusahaan rokok paling menguntungkan di Indonesia. Selain bisnis rokok, Sampoerna juga mengembangkan perkebunan dibawah kendali PT Sampoerna Agro Industri.
3. Eka Tjipta Widjaja & keluarga – US$ 2,0 milyar; 80 tahun. Pemilik Sinar Mas Grup, yang bergerak di bidang perkebunan, kertas, perbankan, dan sekuritas.
4. Rachman Halim & keluarga – US$ 1,8 Milyar; 59 tahun. PT Gudang Garam yang berbasis di Kediri, Jawa timur merupakan kepunyaannya. Saat ini Gudang Garam menjadi perusahaan rokok terbesar di Indonesia.
5. R. Budi Hartono & keluarga – US$ 1,4 Milyar; 64 tahun. Selain bisnis rokok kretek dengan merek Djarum, Hartono dan keluarga juga merupakan penguasa sebagian saham bank swasta terbesar tanah air, BCA. Hartono juga mulai merambah ke bisnis properti, dengan proyek terbesarnya saat ini ialah kompleks hotel, mal, dan apartemen Grand Indonesia. (lebih…)


Kapitalisme

Di zaman ekonomi kartal dewasa ini, segalanya menjadi mungkin. Orang-orang yang coba untuk menjadi kaya, cukuplah tampil parlente. Tak perlu sekolah tinggi-tinggi, asal bisa berhitung, baca peluang plus pergaulan luas, menjadi seorang miliuner tak sulit digapai. Hanya pakai jas, sedikit wewangian, dan diantar sopir dengan mobil bermerek, bisa menambat hati banyak orang. Tak terkecuali pihak bank. Masuklah Anda ke bank dengan gaya necis macam ini, layanan prioritas tak kan sulit diraih. Tawaran kartu kredit platinum tanpa limit, serta bunga pinjaman yang menarik menanti Anda. Mau buka usaha tapi tak punya modal, tinggal pinjam uang ke bank. Cukup kasih komisi 1% ke para pejabat bank, dijamin urusan Anda cepat kelar. Buka usaha tak perlu pintar-pintar amat. Asal bisa memenej orang serta patpatgulipat dengan birokrat, bisnis Anda dijamin sukses. Untuk tenaga kerja, Anda tinggal hire alumni-alumni terbaik UI dan ITB. Kasih gaji tinggi dan minta mereka menjalankan usaha Anda sebaik mungkin.

Mau memperbesar skala usaha, banyak jalan menuju Roma. Mungkin salah satu cara yang tepat, masuk ke pasar modal. Sukses di pasar modal resepnya cuma satu, buat semenarik mungkin kinerja saham perusahaan Anda. Jadikan seolah-olah saham ini sebagai tempat investasi yang menguntungkan bagi banyak orang. Dimasa sekarang, dimana kepeng rupiah yang berbicara, menciptakan yang seperti ini tidaklah sulit. (lebih…)


Di bulan Ramadhan, ketika pembayaran zakat diwajibkan kepada seluruh umat Muslim, banyak saudara-saudara kita yang mengikutsertakan pula pembayaran zakat profesi disamping zakat fitrah. Emangnya zakat profesi tuh ada? Zakat profesi, zakat jenis apa tuh ..? Definisi yang berkembang luas dimasyarakat, zakat profesi merupakan zakat yang wajib dikeluarkan oleh para profesional, dari gaji yang diterimanya setiap bulan. Entah itu ia berprofesi sebagai dokter, akuntan, konsultan, pengacara, pegawai, ataupun jenis profesi lainnya. Besarnya 2,5% dari total gaji yang diterima, tanpa ada haul (putaran satu tahun), dan nisab yang sama dengan zakat harta.

Kita semua sepakat bahwa zakat itu wajib hukumnya. Jadi apabila zakat profesi itu benar-benar ada, maka haram hukumnya bagi umat Muslim yang tidak menyisihkan 2,5% gajinya. Wah..wah.. kasihan juga ya buat orang-orang yang punya kebutuhan banyak, namun gaji yang mereka terima tidak mencukupi semua kebutuhannya. Sudah tak mampu memenuhi keperluan, masih pula harus diwajibkan berzakat. Apa benar hal yang seperti ini sesuai dengan prinsip ajaran Islam yang pro kepada orang-orang lemah.

(lebih…)