Kiri-kanan : Sundar Pichai, Satya Nadella, Parag Agrawal, Indra Nooyi, Arvind Krishna dan Ajay Banga

Gak sekali dua kali saya melihat masyarakat kita mengata-ngatai orang India dengan olok-olokan “Prindavan”. Mungkin ini dikarenakan stereotyping mereka yang terkenal jorok, kasar, dan tidak tertib. Tapi tahukah Anda, kalau ternyata di luar negaranya banyak diantara mereka yang jadi orang sukses. Jika Anda menyigi daftar pimpinan perusahaan-perusahaan besar di Amerika, mungkin Anda akan tercengang melihat banyaknya orang India yang menempati posisi chief executive officer (CEO). Diantara nama-nama itu yang cukup terkenal antara lain : Sundar Pichai (CEO Alphabet), Satya Nadella (CEO Microsoft), Parag Agrawal (CEO Twitter), Indra Nooyi (CEO Pepsi), Arvind Krishna (CEO IBM), Ajay Banga (MasterCard), dan Shantanu Narayen (CEO Adobe). Jika kita membaca profil mereka, maka sebagian besarnya adalah kelahiran India yang melanjutkan pendidikan tingginya di Amerika. Mereka lalu meniti karier disana dan meraih kesuksesan.

Tak hanya menjadi profesional dan pekerja kerah putih, para keturunan India juga banyak yang terjun ke dunia politik. Beberapa diantaranya bahkan sampai ke posisi puncak. Seperti Rishi Sunak yang menjadi perdana menteri Inggris (Lihat : Rishi Sunak dan Keturunan India di Inggris Raya) dan Kamala Harris yang menjabat wakil presiden Amerika. Kamala memiliki darah India dari ibunya, Shyamala Gopalan, seorang akademisi yang lahir di Madras. Selain itu yang juga cukup moncer adalah para ilmuwan keturunan India. Di negeri Paman Sam, mereka banyak yang menjadi peneliti bahkan ada yang berhasil meraih Nobel. Yang terakhir adalah Abhijit Banerjee, yang meraih Nobel pada tahun 2019 di bidang ilmu ekonomi. Ia melanjutkan jejak Har Gobind Khorana (kedokteran), Subramanyan Chandrasekhar (fisika), serta Venkatraman Ramakrishnan (kimia) yang masing-masing beroleh Nobel di tahun 1968, 1983, dan 2009.

Baca entri selengkapnya »

Jokowi melakukan groundbreaking pabrik smelter Freeport (sumber : presidenri.go.id)

Bulan Oktober nanti Presiden Joko Widodo akan memasuki masa purna tugas. Dalam satu dekade kepemimpinannya, sudah banyak pencapaian yang beliau torehkan khususnya di bidang ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Jika kita menyigi data pertumbuhan ekonomi Indonesia, maka capaian dalam 10 tahun terakhir ini tak bisa dibilang biasa-biasa saja. Di tengah perang dagang antara Amerika vs China serta konflik Rusia vs Ukraina, kita masih bisa mencetak pertumbuhan di atas 5%. Memang di tahun 2020-2022 ekonomi kita sedikit melambat dan sempat mengalami pertumbuhan negatif. Namun setelah pandemi usai (2023), pertumbuhan kita kembali menggeliat dan berada di kisaran 5%. Berbeda dengan di era SBY, pertumbuhan ekonomi di masa Jokowi boleh dikata sudah lebih sehat. Walau angkanya tak setinggi di masa Yudhoyono, namun pada termin kedua pemerintahan Jokowi kita sudah tak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah. Agaknya program hilirisasi yang beliau canangkan sejak tahun 2020 lalu, cukup berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi kita.

Selain melakukan hilirisasi minyak kelapa sawit, pengolahan bijih nikel kini juga menjadi handalan Indonesia. Dari pengolahan bijih nikel saja, dalam kurun waktu tiga tahun Indonesia sudah menciptakan nilai tambah ekspor 25 kali lipat. Dimana pada tahun 2020 nilai ekspor produk tersebut hanya sebesar USD 1,4 miliar, dan di tahun 2023 sudah melonjak ke angka USD 34,8 miliar (setara Rp 528 triliun). Karena ekspor kita yang didominasi barang hasil olahan itulah, maka sejak bulan Mei 2020 (52 bulan berturut-turut) neraca perdagangan kita terus mengalami kelebihan. Walau terjadi penurunan sebesar USD 5,47 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, namun di tahun 2024 Indonesia sudah membukukan surplus senilai USD 18,85 miliar. Di periode pertama kepemimpinan Jokowi kita juga pernah mengalami surplus selama 18 bulan (Januari 2016-Juni 2017), namun nilainya tak sebesar yang sekarang ini. Berbeda dengan surplus perdagangan di periode pertama yang masih ditopang barang-barang tambang, surplus perdagangan di termin kedua lebih ditunjang oleh hasil industrialisasi.

Baca entri selengkapnya »

Lamine dan Nico (sumber : Reuters)

Ajang Euro 2024 telah usai. Spanyol kembali keluar sebagai jawara untuk kali keempat setelah mengalahkan The Three Lions dengan skor 2-1. Dengan kemenangan itu, praktis Spanyol muncul sebagai juara terbanyak Piala Eropa meninggalkan Jerman yang sebelumnya sama-sama merengkuh tiga trofi. Di balik kemenangan tersebut, ternyata ada sosok pemain belia yang merupakan putra dari pasangan imigran Afrika. Dia adalah Lamine Yamal Nasraoui Ebana. Ayahnya, Mounir Nasraoui adalah seorang imigran yang berasal dari Maroko. Sedangkan ibunya, Sheila Ebana, lahir di Guinea Ekuator. Lamine sendiri lahir dan tumbuh di pinggiran kota Barcelona. Dari kota inilah ia kemudian mengasah bakat sepak bolanya dengan bergabung ke klub La Torreta. Dua tahun di klub tersebut, ia lalu pindah ke klub raksasa F.C. Barcelona. Di Blaugrana, Lamine menjadi salah satu pemain termuda dalam sejarah klub. Usianya belum genap 16 tahun ketika ia berhasil mengantarkan F.C. Barcelona menjadi juara La Liga musim 2022/2023.

Selain Lamine, pemain Spanyol lainnya yang juga keturunan Afrika adalah Nico Williams. Sama seperti Lamine yang berposisi sebagai penyerang, Nico juga merupakan handalan timnas Spanyol. Dari artikel theguardian.com dinyatakan bahwa orang tua Nico berasal dari Ghana. Mereka bermigrasi ke Spanyol pada tahun 1993 dengan mengarungi gurun Sahara. Dalam artikel yang berjudul “My parents crossed the desert barefoot to get to Spain” dikatakan bahwa orang tua Nico merantau ke Spanyol hanya bermodalkan tekad. Mereka pergi meninggalkan Accra dengan perbekalan yang seadanya. Ketika itu tujuan mereka adalah kota Melilla, sebuah enclave Spanyol di timur laut Maroko. Dalam artikel itu diceritakan bahwa perjalanan mereka menuju kota tersebut sangatlah sulit. Ada kalanya mereka menumpang sebuah truk dan diturunkan di negeri antah berantah. Sesampainya di perbatasan Spanyol, ibunya yang saat itu dalam keadaan hamil, harus ikut melompat pagar setinggi lima meter. Ini ia lakukan karena tak memiliki dokumen imigrasi yang sah. Setelah sempat ditahan di Melilla, mereka-pun akhirnya berhasil menyeberang ke Eropa atas bantuan seorang lawyer. Mereka kemudian menetap di Bilbao dimana putra pertamanya, Inaki Williams, dilahirkan. Inaki juga merupakan seorang pesepakbola yang sempat bergabung dengan timnas Spanyol. Kini karena tak lagi dipakai, ia-pun pindah dan merapat ke timnas Ghana.

Baca entri selengkapnya »

Pantai Ao Nang

Setelah berkelana dan menginap selama tiga malam di Bangkok, kami melanjutkan masa percutian ke Thailand selatan. Kami menjelajahi kota Krabi dan Phuket, dua kota yang menjadi tujuan para pelancong yang hendak menikmati Laut Andaman. Jarak antara Bangkok dan Krabi ditempuh dalam waktu 1 jam 25 menit. Kami berangkat dari Bandar Udara Don Mueang naik maskapai Thai Lion Air. Tiket menuju Krabi telah kami pesan sejak jauh-jauh hari – tepatnya empat bulan sebelum keberangkatan, dengan harga 1.190 Baht per orang. Saya tak tahu apakah harga tiket ini tergolong murah. Tapi jika dibandingkan dengan tiket Jakarta-Surabaya yang memiliki jarak tempuh yang sama, harga ini hanya separuhnya. Entah mengapa harga tiket domestik di Thailand jauh lebih murah tenimbang negara kita. Mungkin karena pemerintahnya memberikan subsidi untuk industri penerbangan?

Kami tiba di Bandara Krabi sudah lewat tengah hari. Setibanya di pintu keluar, banyak orang yang menawarkan jasa mereka untuk mengantar penumpang ke berbagai tujuan. Kota Krabi tak terlampau besar. Dari segi keramaian seperti kota Pangkal Pinang di Pulau Bangka. Setelah melakukan tawar menawar dengan beberapa pihak, kami akhirnya deal dengan sebuah perusahaan taksi yang saya lupa namanya. Kami diberi harga 900 Baht untuk minibus berukuran 10 orang. Tujuannya : Pantai Ao Nang. Kebetulan penginapan kami tak jauh dari pantai tersebut. Hanya berjarak 850 meter. Jarak antara bandara dengan Ao Nang sekitar 25 km. Namun karena lalu lintasnya lengang, perjalanan hanya ditempuh selama 40 menit. Kami sempat berhenti di kantor perusahaan tersebut, dan ditawarkan paket wisata untuk berkeliling selama di Krabi. Karena sudah memiliki jadwal sendiri, tawaran itupun tak kami terima. Saya sempat menanyakan apakah ia memiliki layanan taksi menuju Phuket. Bak gayung bersambut, ternyata mereka juga menyediakan taksi untuk menuju pulau tersebut. Untuk minibus kapasitias 10 orang, kami diberi harga 3.000 Baht.

Baca entri selengkapnya »

The Grand Palace

Dalam satu dekade terakhir, Thailand telah menjadi destinasi wisata favorit warga Indonesia. Terlebih sejak dibukanya maskapai low cost carrier — seperti Air Asia, Lion Air, dan FlyScoot, semakin banyak orang Indonesia yang mengunjungi Thailand. Salah satunya kami, yang di pertengahan bulan Juni ini berkesempatan mengunjungi negara asal Madame Pang tersebut. Pada episode perjalanan kali ini, kami mengunjungi tiga kota sekaligus : Bangkok, Krabi, serta Phuket. Karena artikel ini berisi cerita liburan di Thailand, maka agar tak terlampau panjang, saya membaginya menjadi dua bagian. Di bagian pertama, menceritakan mengenai pengalaman di Bangkok. Sedangkan untuk bagian yang kedua, mengisahkan tentang perjalanan di Krabi serta Phuket. Berbeda dengan artikel wisata sebelumnya, pada artikel kali ini saya akan mensenaraikan biaya yang dikeluarkan selama di Bangkok. Ini mungkin akan berguna bagi pembaca, sebagai ancar-ancar ketika hendak mengunjungi negeri ini. Sebagai informasi, kurs yang berlaku di bulan Juni ini adalah Rp 444 untuk setiap 1 Baht-nya.

Selain tiket pesawat yang tak terlampau mahal, favoritnya negeri gajah putih sebagai tujuan wisata orang Indonesia karena biaya hidupnya yang murah. Ya, gak beda-beda jauhlah dengan biaya hidup di kota-kota besar di Indonesia. Untuk biaya konsumsi misalnya, masih banyak makanan yang dijual seharga 50 Baht. Di mal-mal berkelas, seperti Icon Siam atau Siam Paragon, masih ada makanan yang dibanderol 90 Baht. Saya sempat mencoba nasi biryani di foodcourt Siam Paragon, dengan harga yang kurang dari 100 Baht. Untuk paket KFC berisi ayam, kentang, nugget, serta minuman, cuma dihargai 116 Baht. Untuk air mineral ukuran satu liter, di 7-Eleven dijual antara 13-15 Baht, sedangkan untuk ukuran 350 ml seharga 7 Baht. Begitu pula dengan jajanan kaki lima seperti Thai pancake, yang bisa dibeli dengan harga 40 Baht.

Baca entri selengkapnya »

Peta Hasil Pemilu 1955 per Kabupaten/Kota

Maklumat X, begitu nama pengumuman itu disebut, merupakan titik tolak lahirnya partai-partai politik di Indonesia. Pengumuman ini dikeluarkan oleh Bung Hatta pada tanggal 3 November 1945, menjawab permintaan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang menginginkan agar lembaga tersebut diberi kewenangan legislasi. Sebagai seorang demokrat, Hatta tentu menghendaki agar badan legislatif negara diisi oleh anggota yang dipilih rakyat. Bukan anggota yang ditunjuk berdasarkan kekuatan para elit semata. Sebagaimana diketahui, anggota KNIP saat itu merupakan orang-orang yang ditunjuk dan tidak merepresentasikan kekuatan politik riil. Oleh karenanya dengan diterbitkannya Maklumat X, Hatta berharap agar masyarakat membentuk partai politik. Dimana dari partai-partai ini akan muncul anggota terpilih yang akan duduk di kursi parlemen. Berbeda dengan konsep Hatta yang multi-partai, Bung Karno justru menginginkan agar Indonesia cuma punya satu partai, yakni Partai Nasional Indonesia. Soekarno berpandangan bahwa dengan adanya multi-partai, maka persatuan akan sulit tercapai. Sehingga ini dapat menghambat proses pembangunan. Setelah Maklumat tersebut diumumkan, muncul lah beberapa partai politik yang antusias untuk mengikuti Pemilu. Diantaranya adalah Partai Sosialis Indonesia (PSI), Partai Nasional Indonesia (PNI), Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), serta Partai Komunis Indonesia (PKI).

Semula, Pemilu akan diselenggarakan pada bulan Januari 1946. Namun karena kondisi negara yang tak menentu, maka rencana tersebut dibatalkan. Gagasan penyelenggaraan Pemilu kembali digaungkan di masa pemerintahan Mohammad Natsir. Kala itu Indonesia sudah mulai stabil dan telah bersatu di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai perdana menteri pertama dalam pemerintahan Republik Indonesia bersatu, Natsir mencanangkan agar Pemilu dapat diselenggarakan secepatnya. Untuk itu maka disusunlah Undang-undang Pemilu yang digawangi oleh Sahardjo. Setelah kabinet Natsir berhenti di bulan April 1951, pembahasan RUU Pemilu dilanjutkan oleh pemerintahan Sukiman Wirjosandjojo. Sama seperti Natsir, Sukiman juga berasal dari Partai Masyumi. Oleh karenanya ia berupaya sebisa mungkin untuk melanjutkan program Natsir yang menghendaki agar Pemilu diadakan segera. Terlebih UUDS 1950 yang baru saja terbit, mengamanatkan agar anggota parlemen dipilih oleh rakyat.

Baca entri selengkapnya »

ESPN memberitakan kemenangan Indonesia

Tim Garuda Muda berhasil lolos ke semi final Piala AFC U-23, setelah berhasil mengalahkan tim kuat : Korea Selatan. Kemenangan itu lantas mendapat pujian dari pecinta sepak bola tanah air yang tak menduga kalau Indonesia bisa mengalahkan tim asal K-Pop tersebut. Yang cukup mengejutkan datang dari pengamat sepak bola luar negeri yang memberi acungan jempol terhadap kinerja tim Garuda Muda. Mereka bilang : sepak bola kita sudah naik level dan mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Meski di satu sisi apresiasi ini nampak seperti pujian, namun di sisi lain kita menyadari bahwa sepak bola kita memang jauh tertinggal. Maksudnya? Kalau saja Jepang atau Arab Saudi yang memenangkan pertandingan tersebut, mungkin orang tak kan bereaksi sedemikian rupa. Sebab kedua negara itu merupakan kampiun sepak bola Asia. Tapi giliran Indonesia yang menang, media sekelas ESPN-pun langsung bergemuruh. Kok bisa? Ya, karena sepak bola menjadi olah raga paling favorit di dunia, dan Indonesia selama ini cuma dipandang sebelah mata. Makanya ketika Indonesia lolos ke semi final — dan selangkah lagi berlaga di Olimpiade, media-media asing-pun langsung memberitakannya. Begitu tingginya atensi warga dunia terhadap sepak bola, sehingga negara-negara medioker seperti Pantai Gading, Senegal, atau Jamaika-pun, bisa terkenal.

Selain sepak bola, ajang Formula One (F1) dan MotoGP juga bisa mendongkrak pamor suatu negara. Namun sayangnya tak ada satupun pembalap Indonesia yang berlaga di ajang tersebut. Di tahun 2016, kita punya pembalap Rio Haryanto yang berlaga di Formula One. Meski gak pernah menang, namun bendera merah putih selalu terpampang di layar kaca ketika Rio berhasil menyelesaikan lomba. Untuk balap motor, Indonesia baru menempatkan wakilnya di Moto2 — satu level di bawah MotoGP – yang tahun ini diwakili oleh Mario Suryo Aji. Meski tak ada pembalap kita yang berlaga di F1 atau MotoGP, namun sejak tahun 2022 Indonesia sudah menjadi penyelenggara MotoGP. Selanjutnya Indonesia akan mencalonkan diri sebagai penyelenggara F1, yang rencananya akan digelar di Bintan atau Pantai Indah Kapuk, Jakarta.

Baca entri selengkapnya »

Tesla Y vs BYD Atto 3

Pada bulan Januari lalu, Asosiasi Mobil Penumpang Tiongkok merilis laporan jumlah penjualan kendaraan penumpang di negeri tersebut. Dalam laporan itu dinyatakan bahwa pada tahun 2023, Tiongkok untuk pertama kalinya menjadi eksportir kendaraan penumpang terbesar di dunia. Menurut laporan CNBC yang mengutip dari Wind Information, dinyatakan bahwa Tiongkok telah menjadi pemuncak eksportir kendaraan penumpang dengan jumlah yang diekspor mencapai 4,14 juta unit. Sementara itu Jepang — yang sebelumnya merajai kendaraan penumpang, hanya mengekspor 3,98 juta unit. Laporan itu juga menyebutkan kalau lebih dari 70% mobil yang diekspor masih berupa kendaraan berbahan bakar minyak. Kendaraan jenis ini sebagian besarnya ditujukan untuk pasar Rusia dan Meksiko. Berbeda dengan kedua negara tersebut, ekspor kendaraan Tiongkok ke Uni Eropa sudah berupa mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV). Belgia dan Inggris adalah dua negara pembeli terbesar mobil listrik buatan China.

Jika kita membedah merek kendaraan listrik yang diekspor, maka akan terlihat kalau jenama otomotif asal Amerika : Tesla, masih menjadi eksportir mobil listrik terbesar dari Tiongkok. Jumlahnya mencapai 344.078 unit. Lalu di peringkat kedua ada merek asli Tiongkok : BYD, yang telah mengekspor lebih dari 242.000 unit. Larisnya penjualan BYD di luar negeri disebabkan karena harganya yang miring. Jika dibandingkan dengan Tesla, maka harga jual BYD sekitar 20% – 30% lebih murah. SUV BYD Atto 3 misalnya, dibanderol dengan harga USD 51.011, sedangkan sedan Tesla model Y dijual seharga USD 65.400. Padahal keduanya memiliki spesifikasi yang hampir sama. Murahnya produk keluaran BYD, lantaran mereka mampu melakukan efisiensi biaya di segala lini. Terlebih Tiongkok telah memiliki ekosistem mobil listrik yang mumpuni, sehingga tak sulit bagi perusahaan besutan Wang Chuanfu itu untuk memenuhi komponennya dengan harga murah. Ini pulalah kemudian yang mendorong Tesla untuk membangun pabriknya di Shanghai, agar bisa bersaing dengan pabrikan mobil listrik asal China.

Baca entri selengkapnya »

Hasil hitung cepat sejumlah Lembaga Survei, menyatakan kalau pasangan Prabowo-Gibran memenangkan pertarungan Pilpres tahun ini. Pasangan ini beroleh sekitar 59% suara, setelah mengalahkan dua pasangan lainnya yakni Anies-Muhaimin (memperoleh 24% suara) serta Ganjar-Mahfud (17%). Dalam kontestasi ini, nampak sekali kalau pasangan Prabowo-Gibran lebih siap. Selain dikelilingi para relawan yang massif – kebanyakan pendukung Jokowi di 2014 dan 2019 lalu, pasangan ini juga disokong oleh pendanaan yang kuat. Diantaranya dari Hashim Djojohadikusumo, Aburizal Bakrie, serta duo abang-beradik Erick dan Boy Thohir. Yang juga perlu dicatat adalah dukungan dari partai koalisi yang saat ini menguasai parlemen. Disamping partai besutan Prabowo : Gerindra, pasangan ini juga didukung Partai Golkar, Demokrat, serta PAN.

Selain support system-nya yang mumpuni, Prabowo sendiri boleh dibilang sudah sangat siap. Terlebih, beliau sudah tiga kali mengikuti kontestasi pemilihan Presiden-Wakil Presiden, jadi sudah khatam seluk beluk serta medan tempur yang akan dilalui. Kalau dibandingkan dengan tiga Pilpres sebelumnya, pembawaan Prabowo saat ini agak sedikit kalem. Ia acapkali berjoget, sehingga terlihat seperti gemoy. Satu lagi yang berbeda dari penampilan Prabowo tahun ini adalah dress code yang dikenakannya. Berbeda dengan dua Pilpres sebelumnya dimana ia sering mengenakan safari coklat, di Pilpres kali ini ia acap memakai baju biru muda. Yang juga menarik adalah atribut kampanyenya yang terkesan futuristik. Dengan menggunakan kecerdasan buatan, Prabowo yang sudah berumur di-remake seperti bocah. Boleh jadi ini merupakan strategi konsultan politiknya, agar citranya di masyarakat — terutama kalangan milenial dan gen Z — terlihat positif.

Baca entri selengkapnya »

Kantor Perwakilan Muhammadiyah di Makassar

Tahun 1511, Kesultanan Malaka di Semenanjung Malaya jatuh. Orang-orang Portugis yang sudah mengincar kesultanan ini sejak satu dekade sebelumnya, berhasil merebut kota dagang Malaka dari tangan pedagang “Melayu”. Akibatnya, para peniaga “Melayu” yang telah berkumpul disana sejak abad ke-15, menyebar dan mencari tempat-tempat baru sebagai basis ekonomi mereka. Diantara orang-orang “Melayu” itu, termasuk di dalamnya adalah etnis Minangkabau, yang sudah menjadi pedagang antar pulau sejak era Sriwijaya. Menurut catatan Heather Sutherland dalam jurnal yang berjudul The Makassar Malays : Adaptation and Identity, circa 1660-1790, disebutkan bahwa bersama para pedagang Pahang, Patani, Champa, dan Johor, orang-orang Minang yang sebelumnya berdagang di Malaka pindah dan mengembara ke Makassar. Pada saat itu Makassar belumlah begitu ramai, hanya sebatas pelabuhan bagi Kerajaan Gowa dan Tallo.

Kedatangan orang-orang “Melayu” di Makassar ternyata disambut baik oleh Karaeng Tunipalangga, raja Gowa ke-10 (1546-1565) yang sangat ramah dan berpikiran maju. Di bawah pimpinan Anakhoda Bonang (Datuk Maharaja Bonang), para pedagang ini membawa seserahan berupa kain dan bedil. Sebagai gantinya, mereka diberikan sebidang tanah untuk bermukim serta hak otonomi untuk mengatur secara terbatas (tahun 1561). Karena kehadiran para pedagang “Melayu” inilah, lambat laun Makassar menjadi bandar dagang yang ramai. Sebelum orang-orang “Melayu” menetap di Makassar, sebenarnya sejak tahun 1490 — mungkin lebih awal dari itu — mereka sudah ulang-alik ke Sulawesi Selatan. Anthony Reid dalam bukunya “Charting the Shape of Early Modern Southeast Asia” memerikan, bahwa pelabuhan Siang (Pangkajene) di sebelah utara Makassar telah menjadi pusat perniagaan yang dikunjungi oleh para pedagang “Melayu”. Reid menambahkan, agaknya pelabuhan Bantaeng di ujung selatan juga pernah dikunjungi saudagar Minang. Menarik untuk dicatat, bahwa di awal abad ke-16 raja-raja di Sulawesi Selatan berlomba-lomba menarik para peniaga “Melayu” dan Jawa untuk berdagang di pelabuhan mereka.

Baca entri selengkapnya »