Proklamasi 17 Agustus 1945 menjadi momentum kesadaran berpolitik sekaligus pembentukan pranata sosial baru di Indonesia. Masyarakat yang selama masa kolonial berada di strata yang kurang menguntungkan, dengan semangat kemerdekaan mencoba peruntungannya untuk membalikkan keadaan. Salah satu kelompok masyarakat yang begitu antusias adalah para kelas petani dan buruh di Sumatera Timur. Mereka yang selama ini dieksploitasi oleh para pemodal dan kaum bangsawan, seperti menemukan titik balik untuk melakukan pembalasan. Dan masa-masa pembalasan yang penuh gejolak itu dikenal dengan Revolusi Sosial 1946. Bagi sebagian orang – khususnya kaum aristokrat Melayu – istilah ini terasa tak mengenakkan. Mereka menganggap ini bukanlah revolusi sosial, melainkan suatu pembantaian dan penyingkiran raja-raja Melayu. Namun menurut kaum republiken, kejadian 75 tahun silam itu memanglah suatu kejadian yang begitu cepat (revolusi), yang mengubah tatanan sosial masyarakat dalam tempo seketika. Para sultan yang pada masa pra-kemerdekaan memiliki kuasa tanpa batas, habis pamornya dan tersingkirkan. Daulat tuanku yang berpuluh-puluh tahun begitu diagungkan, berganti menjadi daulat rakyat hanya dalam tempo hitungan bulan.

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai pergerakan tersebut, ada baiknya kita menengok keadaan masyarakat Sumatera Timur sebelum masa kemerdekaan. Sejak tahun 1870, Sumatera Timur merupkan kawasan estat perkebunan yang dikuasai oleh para pemodal Eropa. Para pemodal ini bekerjasama dengan para sultan-sultan Melayu yang memberikan konsesi atas tanah di Sumatera Timur. Adalah Jacob Nienhuys, seorang pengusaha Belanda yang pertama kali mengembangkan perkebunan tembakau di Deli. Pada tahun 1869, ia mendirikan perusahaan Deli Maatschappij. Di Bursa Efek Amsterdam perusahaan ini tercatat cukup rajin membagikan dividen kepada para investor. Tentu ini tak lepas dari kinerjanya yang cukup baik, yang bisa menghasilkan keuntungan cukup besar. Dibalik keuntungan yang besar itu, ternyata terdapat kelas pekerja yang nasibnya tak menguntungkan. Mereka adalah para kuli perkebunan yang bekerja dari pagi hingga malam hari, dengan bayaran yang tak seberapa. Selain itu yang juga mengenaskan adalah perlakuan tak manusiawi yang kerap mereka terima. Absennya sistem peradilan di kesultanan Sumatera Timur, menjadikan perusahaan bisa menjatuhkan hukuman langsung kepada para kuli. Keadaan masyarakat di Sumatera Timur yang pincang inilah yang menjadi api pembakar terjadinya revolusi sosial di tahun 1946.

Baca entri selengkapnya »

Pada dekade 1990-an, orang-orang Betawi sempat dibuat geger. Pasalnya seorang peneliti asal Australia, Lance Castles, menyebut kalau etnis Betawi merupakan keturunan para budak. Sontak pernyataan itu mendapat kritikan dari sejumlah budayawan Betawi. Meski karya Castles yang berjudul “The Ethnic Profile of Jakarta” itu telah terbit sejak tahun 1967, namun hasil penelitiannya baru dibantah tiga dekade kemudian. Adalah Ridwan Saidi, seorang budayawan Betawi yang juga sempat aktif di panggung politik nasional, yang paling getol mengkritik karya Castles tersebut. Menurutnya, teori yang mengatakan kalau orang Betawi keturunan budak adalah orang-orang yang menganut aliran Kali Besar. Mereka meyakini bahwa orang Betawi baru muncul sejak kompeni Belanda menguasai Batavia. Padahal menurut Saidi, orang-orang Betawi sudah ada sejak 3.500 tahun lalu, yang para kakek buyutnya merupakan rakyat Kerajaan Salakanagara.

Karena adanya dua pandangan yang saling bertolak belakang itu, saya jadi tergelitik untuk melihat sejauh mana relevansi karya Castles dan sanggahan Saidi terkait pembentukan kelompok masyarakat Betawi. Disamping masalah itu, kita juga akan melihat gelombang migrasi kelompok etnis lainnya ke Jakarta yang banyak berdatangan pasca-kemerdekaan. Sebenarnya Castles bukanlah orang pertama dan satu-satunya yang mengajukan teori pembentukan etnis Betawi yang dihubungkan dengan unsur budak. Dalam berbagai karya sejarah tentang masyarakat Jakarta disebutkan bahwa orang Betawi berasal dari percampuran berbagai macam etnis yang menghuni Batavia pada abad ke-17 dan ke-18. Memang benar bahwa sampai abad ke-18 jumlah budak di dalam kota Batavia lebih banyak daripada jumlah penduduk bebas. Namun jika kita mengalihkan perhatian ke wilayah di luar tembok kota (Ommelanden) akan didapat gambaran yang berbeda. Jumlah penduduk Ommelanden jauh lebih besar daripada penduduk dalam kota. Di wilayah Ommelanden persentase jumlah budak tidak pernah melampaui 30% dari total populasi. Dengan demikian argumen Castles yang menyatakan bahwa budak sebagai unsur utama yang membentuk etnis Betawi tidaklah akurat.

Baca entri selengkapnya »

Beberapa hari belakangan ini rencana penggabungan dua perusahaan teknologi Grab dan Gojek kembali mengemuka. Adalah situs berita Bloomberg, yang kembali mengabarkan rencana merger dua raksasa tersebut. Dalam artikelnya yang berjudul Grab, Gojek Close In on Terms for Merger, dikabarkan bahwa telah terjadi kesepakatan diantara para pemilik modal terkait rencana perkawinan tersebut. Berita ini sontak menjadi buah bibir di kalangan pers dan pemerhati bisnis di tanah air. Kabarnya penggabungan ini juga sebagai bentuk gencatan sejata, setelah mereka berperang selama lebih dari separuh dekade. Bagi pemilik modal, rencana ini tentu untuk memberikan kepastian di masa depan terkait perolehan laba perusahaan. Selama ini publik memang tak pernah tahu, apakah program bakar duit dua perusahaan tersebut telah beroleh hasil. Sebab kalau berdasarkan hitung-hitungan kasar, rasanya mereka belum break even point.

Sebenarnya rencana merger kedua perusahaan itu telah bergulir sejak awal tahun lalu. Namun karena ada pandemi virus Corona, rencana inipun sempat dibatalkan. Isu merger kembali mengemuka, dikarenakan menurunnya valuasi mereka di berbagai negara. Valuasi Grab yang tahun lalu sebesar USD 14 miliar, kini telah diperdagangkan di pasar sekunder dengan diskon mencapai 25%. Begitupula dengan Gojek yang tahun lalu bernilai hampir USD 10 miliar, kini dijual dengan diskon besar-besaran. Kerugian yang timbul akibat pandemi Covid-19, telah menekan dua perusahaan ride-hailing ini untuk melakukan penggabungan. Peleburan ini menurut Tech in Asia, berpotensi akan meningkatkan valuasi keduanya menjadi USD 72 miliar di tahun 2025 nanti.

Baca entri selengkapnya »

Dia boleh dibilang merupakan salah satu dari sedikit orang Indonesia yang konsisten dalam memperjuangkan ide-idenya. Rizal Ramli, tokoh yang terus meneriakkan apa yang dianggapnya benar, baik ketika di pemerintahan maupun di luar pemerintahan. Dia merupakan seorang pemikir tulen, yang memiliki segudang ide out of the box. Tak jarang ide-idenya itu justru berbenturan dengan sang penguasa. Ketika menjadi menteri di Kabinet Kerja, ia adalah satu-satunya menteri yang terang-terangan mengkritik kinerja pemerintah. Nampak kalau ia tak ingin dikooptasi oleh apapun. Termasuk oleh jabatannya sendiri. Dalam batasan tertentu, ia mirip seperti Tan Malaka dan Sutan Sjahrir. Tokoh-tokoh pergerakan yang selalu ingin bebas dari belenggu. Ingin merdeka 100%. Karena jiwa yang merdeka itulah, Rizal tak pernah takut mengkritik siapapun. Meski taruhannya akan dicopot dari jabatan, atau masuk bui.

Bagi sebagian orang, kritik Rizal tak lebih hanya sekedar untuk mencari panggung. Terlebih ia memang berambisi untuk menjadi presiden. Ada juga yang bilang, kalau kritiknya itu karena ia sakit hati pernah di-reshuffle. Padahal kalau kita melihat track record-nya, dia sudah berkali-kali mengkritik pemerintah. Pada zaman Orde Baru, ketika ia masih menjadi mahasiswa ITB, bersama beberapa orang aktivis ia menyusun “Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 1978”. Isinya banyak mengkritik kebijakan pemerintah kala itu. Gara-gara buku tersebut, ia ditahan satu setengah tahun di Sukamiskin. Meski buku itu dilarang pemerintah, namun seorang profesor Amerika, Ben Anderson, malah menerjemahkannya ke dalam Bahasa Inggris. Setelah keluar dari penjara, Rizal jadi tertarik belajar ekonomi. Tanpa menyelesaikan kuliah S1-nya di ITB, ia melanjutkan ke jenjang master di Boston University. Beruntung ia beroleh beasiswa dari Ford Foundation. Setelah lulus S-3 dari Harvard, ternyata jiwa kritisnya tak berubah. Bedanya, ia kini semakin matang dan berbobot. Lewat lembaga ECONIT yang ia dirikan, Rizal acap mengkritik cara pengelolaan ekonomi negara.

Baca entri selengkapnya »

Tiga minggu lalu (5 Oktober), DPR baru saja mensahkan Undang-undang Cipta Kerja. Undang-undang yang merevisi lebih dari 75 undang-undang yang ada sebelumnya itu, dipercaya akan menyatukan berbagai peraturan ketenagakerjaan serta investasi yang cukup beragam. Meski undang-undang ini bertujuan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan, namun sejumlah elemen buruh menyatakan justru peraturan ini akan mengamputasi hak-hak buruh. Menurut hasil kajian Fakultas Hukum UGM, ada beberapa pasal dalam peraturan ini yang akan merugikan kaum pekerja. Diantaranya pasal mengenai status pekerja. Dalam UU Ketenagakerjaan, Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) tadinya terbatas paling lama dua tahun dan hanya boleh diperpanjang satu kali untuk jangka waktu satu tahun. Namun di UU Cipta Kerja ini, PKWT menjadi tak dibatasi. Pasal lainnya adalah mengenai penerimaan pesangon. Jumlah pesangon yang diterima pekerja yang sebelumnya sebanyak 32 kali gaji, dipangkas menjadi 25 kali gaji.

Selain kluster ketenagakerjaan, persoalan lainnya yang juga disorot adalah masalah lingkungan hidup. Isu ini tak sampai membesar seperti halnya isu ketenagakerjaan yang diteriakkan oleh para buruh akhir-akhir ini. Namun sejumlah aktivis lingkungan mengatakan, ada risiko tinggi bagi lingkungan dibalik efisiensi investasi dan kemudahan berusaha yang ditawarkan oleh undang-undang tersebut. Kalau kita melihat pasal demi pasal, ada beberapa poin penting mengenai lingkungan yang tak lagi diatur secara tegas. Seperti minimal luas hutan yang harus dipertahankan, serta dihapusnya kalimat “tanpa perlu pembuktian” pada pasal kewajiban pengusaha terhadap kerusakan lingkungan.

Baca entri selengkapnya »

Pada tahun 2012 banyak pencinta seni Indonesia yang menaruh harapan besar terhadap perkembangan film di negeri ini. Sebab pada tahun itu, The Raid menjadi salah satu film box office di Amerika. Selain tampil dalam berbagai festival, film yang disutradarai oleh Gareth Evans tersebut berhasil meraup pendapatan sebesar USD 9,3 juta. Dari jumlah itu, USD 4,1 juta atau sekitar 45%-nya diraih dari pasar Amerika dan Kanada. Sebagai perbandingan, film beladiri Thailand Ong Bak: Muay Thai Warrior (2003) yang juga populer di Amerika, beroleh pendapatan sekitar USD 4,5 juta. Selain sukses dari segi bisnis, dari segi kualitas-pun, The Raid juga cukup berhasil. Berdasarkan penilaian situs web Rotten Tomatoes, film ini beroleh rating 87% dari 52.427 audiens, serta 86% dari 166 kritikus film. Bahkan Peter Bradshaw dari The Guardian memberikan nilai sempurna untuk film yang dibintangi oleh Iko Uwais, Yayan Ruhian, dan Joe Taslim itu.  

Setelah The Raid, perkembangan film di Indonesia tak lantas meningkat. Jangankan go internasional, di negeri jiran-pun film-film kita belum mampu mendominasi. Tak usah dengan film Amerika yang sudah maju berpuluh-puluh tahun, dengan film India dan Korea-pun kita masih kedodoran. Menurut Rosnani Jamil, salah seorang sineas kenamaan asal Malaysia, minat anak-anak muda terhadap film Indonesia belakangan ini memang agak menurun. Mengutip dari situs balaikita.com, Rosnani — yang masih berdarah Indonesia itu – mengatakan : “Ayat-ayat Cinta itu cetak duit disini, Surga Yang Tak Dirindukan bolehlah, tapi setelah itu tak tahu lagi ape film Indonesia yang diputar disini, rasenye tak ade lagi.” Senada dengan Rosnani, beberapa mahasiswi Malaysia yang diwawancarai balaikita juga tak tahu lagi apa film Indonesia yang diputar di Malaysia. “Film Indonesia boring-lah. Ceritenye begitu-begitu saje, tak ade kemajuan.”

Baca entri selengkapnya »

Gak nyangka ya sekarang, kalau Youtube bisa menggeser preferensi seseorang dari yang sebelumnya nonton tivi, jadi nonton Youtube, Ya kali, kamu masih mau nonton sinentron yang gak selesai-selesai jalan ceritanya. Atau acara lawakan yang cuma body shaming. Zaman kekinian gitu loh. Disaat orang punya seabrek pilihan, ngapain juga mau nongkrongin acara yang gak mutu. Mungkin semua Anda sudah tahu, kalau Youtube bisa semenarik itu karena diisi oleh konten-konten yang oke punya. Nah dalam artikel kali ini, kami akan mengajak Anda melihat siapa-siapa saja content creator atau Youtuber yang mewarnai jagad peryutuban Indonesia. Banyak diantara mereka yang awalnya cuma iseng-iseng, dari nyalurin hobi sampai akhirnya dapat cuan gede. Ada juga yang lagi sepi order, maksudnya yang biasanya main film atau show, tapi karena satu dan lain hal akhirnya ikutan jadi Youtuber juga. Siapa saja mereka, yuk kita kulik satu per satu.

Raffi Ahmad

Wah ini Youtuber yang sedang naik daun. Bersama istrinya Nagita Slavina (Gigi), Raffi membuat kanal Youtube yang bernama RANS Entertainment. Nama itu diambil dari singkatan nama mereka berdua : Raffi Ahmad Nagita Slavina. Meski masih seumur jagung, namun kini kanal Youtube mereka sudah diikuti oleh sekitar 17,1 juta subscribers. Kontennya bermacam-macam, namun sebagian besar berisi keseharian rumah tangga mereka. Banyak pula acaranya yang melibatkan putra semata wayang : Rafathar Malik Ahmad. Dari sekian banyak acara yang dirilis, yang paling laku adalah acara beli mobil mahal. Ya Raffi sering menunjukkan mobil barunya yang dibeli dengan harga puluhan milyar. Dalam suatu episode terlihat Raffi sedang memberikan mobil Range Rover untuk istrinya, dan Mercy untuk mamanya. Di episode lain, dia pernah nawar oplet legendaris Si Doel untuk ditukar dengan Rolls Royce miliknya. Untuk meraup jumlah penonton, kadang Raffi bikin acara yang rada aneh. Dia pernah ngerjain Rafathar supaya mau jadi anaknya Baim Wong. Atau ngebohongin Gigi kalau dia mau nikah lagi. Emang bener deh Raffi, bisa aja lo.

Baca entri selengkapnya »

Gordon Ramsay di Ngarai Sianok

Awal tahun ini, salah seorang maestro kuliner dunia : Gordon Ramsay, datang berkunjung ke Indonesia. Kedatangannya kali ini untuk membuat konten pada televisi internasional, National Geographic. Pada acara yang berjudul “Uncharted” itu, Gordon mengeksplorasi budaya makan di Sumatera Barat. Memang Sumatera Barat memiliki khasanah kuliner yang cukup lengkap. Dari adat makannya seperti bajamba, cita rasa masakannya yang penuh bumbu, hingga rendang yang telah mendunia. Karena alasan itulah, William Wongso — sang inisiator kedatangan Gordon ke Indonesia — memilih Sumatera Barat untuk tempat syuting Uncharted. Awal keinginannya mengundang Gordon, karena ia ingin mempopulerkan masakan rendang ke seluruh dunia. Menurutnya, survei CNN telah dua kali menobatkan rendang sebagai masakan terlezat di dunia, namun kita (Indonesia) tak mendapatkan apa-apa.

Karena kegelisahan itulah, William berinisiatif untuk mendatangkan Gordon dalam perjalanannya dari Tasmania ke India Selatan. William bercerita, tim Gordon Ramsay: Uncharted sebelumnya memiliki jadwal syuting di Tasmania. Selanjutnya baru ke India Selatan. Untuk mengisi jeda waktu syuting antara dua tempat tersebut, William mengundang tim Uncharted untuk syuting di Sumatera Barat. “Saya berikan semua data, budaya makan di Sumatera Barat, rendang, dan sebagainya. Lalu dua minggu langsung di-approve. Mereka mulai approve saya itu September terus minggu ketiga Oktober mereka sudah datang. Lalu proses syutingnya baru berlangsung Februari kemarin,” kata William pada acara bincang-bincang di kanal youtube Helmy Yahya.

Baca entri selengkapnya »

Mo Salah Sujud Setelah Mencetak Gol

Mohamed Salah mungkin tak pernah mengira, kalau kehadirannya di Liga Inggris akan memperbaiki citra Islam di Britania. Ya, sejak serangan Al Qaeda ke menara kembar WTC di tahun 2001, citra Islam di negara tersebut memang agak sedikit tercoreng. Banyak masyarakat disana yang menganggap Islam sebagai agama kekerasan. Persepsi itu semakin terbangun karena banyaknya imigran muslim yang melakukan tindakan kriminal. Kekesalan warga Inggris semakin menjadi-jadi ketika terjadi bom bunuh diri di London pada tahun 2005 lalu. Seperti diketahui serangan itu dilakukan oleh sekelompok imigran muslim keturunan Pakistan.

Namun sejak kehadiran Mo Salah di lapangan hijau, Islam yang sebelumnya dicitrakan buruk perlahan-lahan mulai terkikis. Selebrasi Salah berupa sujud setelah mencetak gol, memberikan kesan kepada warga Inggris mengenai pentingnya bersyukur kepada pencipta. Padahal dua dekade lalu, selebrasi semacam itu sering diolok-olok orang. Bahkan legenda Inggris Gary Lineker menjulukinya sebagai “eat grass celebration”. Merujuk pada gaya sang pemain yang seperti sedang memakan rumput. Meski Mo Salah bukan pemain muslim pertama di Liga Inggris, namun hingga saat ini ia boleh dibilang sebagai pemain muslim tersukses di Premier League. Pembawaannya yang tenang baik di dalam maupun di luar lapangan, menjadikannya diterima oleh sebagian besar masyarakat Inggris.

Baca entri selengkapnya »

Sejak virus Covid-19 mewabah pada pertengahan Maret 2020 lalu, sebagai pekerja yang menggunakan layanan kereta komuter tentu saya cukup khawatir. Hal ini dikarenakan penyebaran virus Covid-19 dapat terjadi melalui siapa saja dari percikan (droplet) air liur, baik batuk ataupun bersin. Dikarenakan pengguna layanan kereta komuter sangatlah ramai, maka jarak antar penumpang kadang tak terperhatikan. Namun semenjak virus ini merebak, banyak orang yang takut berdekatan dengan penumpang yang sedang batuk ataupun bersin.

Untuk mengantisipasi agar tidak terpapar virus Covid-19, bagi Anda pengguna layanan kereta komuter ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Berikut adalah langkah-langkah sederhana untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 :

Baca entri selengkapnya »