Siang itu, Jumat 27 Juli 2018, sejumlah ulama yang tergabung dalam GNPF serta Alumni 212 berkumpul di Hotel Peninsula, Jakarta. Dalam pertemuan itu mereka berijtima, memutuskan calon pendamping Prabowo Subianto yang sudah didapuk sebagai calon presiden. Ada dua tokoh yang direkomendasikan dalam pertemuan tersebut : Salim Segaf Al Jufri dan Abdul Somad. Nama yang terakhir ini sempat mengejutkan banyak orang. Sebab selain bukan politisi, Abdul Somad atau yang biasa disapa dengan UAS (Ustad Abdul Somad), baru melejit satu tahun belakangan. Namanya mulai santer dibicarakan, sejak ia dilarang berceramah di Bali. Ketika itu sejumlah organisasi massa, seperti GP Ansor, Gerakan Nasionalis Patriot Indonesia, dan Perguruan Sandi Murti, menuduh UAS mendukung gerakan khilafah. Selain itu, UAS juga dipersepsikan suka mengkafir-kafirkan orang yang tak sepaham dengannya.

Meski pendapat itu tak sepenuhnya benar, namun gegara pemberitaan itu banyak orang yang kemudian jadi penasaran, lalu mendengar ceramahnya melalui Youtube. Hingga tulisan ini diturunkan, banyak dari ceramahnya yang telah ditonton lebih dari 1,5 juta pirsawan. Ceramah yang diunggah “Ibadah TV” tanggal 25 Desember 2017 misalnya, telah dilihat oleh 3 juta viewers. Tingginya tingkat apresiasi masyarakat terhadap beliau, disebabkan oleh materi kajiannya yang tak terlampau berat. Disamping itu, UAS juga rajin men-talkhis (merangkum) hal-hal yang ruwet menjadi lebih simpel. Selain memiliki kedalaman ilmu, UAS juga seorang yang jenaka. Dalam satu sesi ceramah, tak sekali dua kali ia mengocok perut pendengarnya. Bahkan Menteri Kelautan dan Perikanan Susy Pudjiastuti, sempat terpingkal dibuatnya. Ya, caranya berdakwah mirip dengan dai kondang Zainuddin MZ. Tak salah jika banyak yang kemudian menasbihkannya sebagai “dai sejuta viewers”.

Selain jenaka, UAS juga tergolong milenial. Ia seperti memahami alur pemikiran anak muda dan kondisi yang sedang mereka hadapi. Hal ini setidaknya terlihat dari jumlah pengikutnya di Instagram yang lebih dari 1,7 juta followers. Itulah mengapa, beberapa ulama-politisi yang tergabung ke dalam GNPF, mau meng-endorse beliau untuk menjadi calon wakil presiden (cawapres). Tujauannya cuma satu : meraup suara kaum milenial di Pilpres mendatang. Namun dengan segala ketawadhuannya, UAS menolak hasil ijtima tersebut. Ia merasa masih belum pantas dan hendak istiqomah di jalan dakwah. Dalam wawancara dengan TV One, ia juga menyatakan ingin menghindari perpecahan di tubuh umat. Sebab pasangan calon lainnya sekaligus petahana Joko Widodo, telah menggandeng ketua umum MUI: Maruf Amin.

Keputusan UAS yang menolak terlibat dalam politik praktis, ternyata mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan. Anak-anak muda yang menjadi penggemarnya, angkat topi atas keputusan tersebut. Meski memuaskan banyak pihak, namun adapula orang yang tak suka dengan langkahnya itu. Salah satunya adalah Eggi Sudjana, pengacara kum politisi Partai Amanat Nasional. Eggi, sebagaimana yang dikutip media daring Jawapos, sempat mengatakan UAS kufur nikmat, karena menolak untuk dijadikan cawapres. Tak hanya politisi, para agamawan-pun juga banyak yang kecewa. Diantaranya Arifin Ilham, yang sempat membujuk UAS agar mau mendampingi Prabowo. Bahkan Hanum Rais, novelis yang juga putri mantan ketua MPR Amien Rais, juga merasa sedih dan meringis. Dalam cuitannya di Indonesia Lawyers Club, ia menyayangkan keputusan UAS tersebut.

Abdul Somad dan TGB M. Zainul Majdi (sumber : eramuslim.com)

Meski menolak untuk dijadikan pendamping Prabowo, bukan berarti UAS berpihak kepada Jokowi. Berbeda dengan sekondannya Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, hingga saat ini UAS masih memposisikan dirinya di tengah. Entah kalau di masa mendatang pikirannya berubah. Yah mudah-mudahan saja UAS tetap memegang teguh apa yang diposting-nya di Twitter beberapa hari lalu. Dimana ia ingin menjadi suluh di tengah kelam, serta setetes embun di tengah sahara.

 

* * *

Abdul Somad Batubara lahir di Silo Lama, Asahan, Sumatera Utara pada tahun 1977. Walau bukan datang dari keluarga raja, ia merupakan keturunan orang terpandang. Kakeknya, Tuan Syeikh Silau Laut, konon sangat dihormati oleh masyarakat Asahan. Meski orang Melayu tulen dan asli Sumatera Utara, namun UAS sempat ditolak untuk berceramah disana. Dalam sebuah spanduk yang terbentang di sekitar Bandara Kualanamu, ia bersama Bachtiar Nasir dilarang berceramah di Sumatera Utara. Mereka dianggap sebagai “orang luar” yang ingin mencampuri Pemilihan Gubernur propinsi tersebut. Meski dilarang, namun acara tabligh akbar di Tanjung Morawa itu berlangsung jua. Ketika berceramah, UAS malah berkelakar. Sambil mengeluarkan KTP dihadapan ribuan jemaah, dengan lantang ia menyebutkan data dirinya. “Nama Abdul Somad Batubara. Tempat tanggal lahir Silo Lama Kabupaten Asahan 18 Mei …”. Dalam kesempatan itu ia juga menyampaikan bahwa kedatangannya kesini bukan sedang bertandang, melainkan lagi balik kampung.

Tak seperti ustad lainnya yang cuma jago mimbar, UAS juga hebat dalam menggores pena. Sejauh ini, sudah tiga buku yang ditulisnya. Satu yang tergolong best seller adalah “37 Masalah Populer”. Saking larisnya, buku ini juga dibaca oleh banyak pegiat agama, dan telah memperoleh beberapa sanggahan. Diantara penulis yang membantah isi buku tersebut adalah Abu Ubaidah As-Sidawi dan Abdurrahman Al-Mukaffi. Lewat karya-karyanya, mereka mengkritik beberapa pernyataan UAS yang terasa menyimpang dari keyakinan mereka. Menariknya, selain bisa dibeli di toko buku, karya tersebut juga dapat diunduh secara gratis melalui Google PlayStore. Pemberian cuma-cuma itu, mungkin sebagai bentuk pertanggungjawaban moral karena ia pernah beroleh pendidikan gratis dari pemerintah Mesir. Ya, UAS adalah satu dari 100 mahasiswa Indonesia angkatan 1998, yang meraih beasiswa di Universitas Al Azhar Kairo. Setelah empat tahun mengenyam pendidikan disana, ia berhasil meraih gelar Lc. Tak puas dengan apa yang sudah diraih, ia kemudian melanjutkan pendidikan masternya di Universitas Darul Hadist El Hassania Maroko, hingga memperoleh gelar MA pada tahun 2006.

37 Masalah PopulerKini selain sebagai penceramah, UAS juga menjadi dosen tetap di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru, Riau. Beliau juga menjadi pengurus di beberapa organisasi Islam, seperti Persatuan Tarbiyah Indonesia (Perti), Nahdlatul Ulama (NU), dan Al Washliyah. Disamping menjadi bagian ketiga organisasi tersebut, UAS juga bergaul rapat dengan berbagai elemen lainnya. Tak heran jika kemudian, ia mengerti permasalahan khilafiyah yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Seperti jemaah NU yang menggunakan qunut ketika Shubuh, persoalan menjaharkan bismillah, sampai masalah celana cingkrang (isbal). Bagi beliau, persoalan itu hanyalah perbedaan furuq yang tak perlu dibesar-besarkan.

Berbeda dengan pandangan sebagian orang yang menuduhnya sebagai ulama takfiri, UAS justru menentang tindakan tersebut. Dalam beberapa kesempatan, ia sering mengkritik pihak-pihak yang dengan mudahnya mengkafirkan atau membid’ahkan jemaah lain. Bahkan ketika sebagian ustad dengan entengnya menuduh ulama yang tak sepaham dengannya sebagai ulama sesat, UAS justru menyikapinya secara proporsional. Saya teringat bagaimana UAS menanggapi tafsir jilbab Quraish Shihab yang oleh banyak orang dianggap keliru. Bukannya mencerca atau menyesat-nyesatkan beliau, UAS cuma mengkritik bahwa tafsir tersebut telah keluar dari penafsiran jumhur ulama. Begitulah Ustad Abdul Somad, yang kini sedang naik daun dan menjadi fenomena di tengah masyarakat kita.

 

Lihat pula :

1. Quraish Shihab, di Tengah Berbagai Tuduhan dan Cacian
2. Pemikiran dan Kesederhanaan Ahmad Syafii Maarif
3. Dalam Kenangan Buya Hamka

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s