Djamaludin Malik (kanan) mendampingi ibu negara Fatmawati dalam peresmian FFI I 1955

Big Boss, begitu panggilan akrab yang disematkan para seniman Senen, kepada raja film Indonesia : Djamaludin Malik. Sapaan ini muncul, lantaran ia kerap membantu para artis dan pemain teater, yang kala itu masih hidup susah. Pada masa setelah kemerdekaan hingga Bung Karno jatuh, seniman — utamanya para sineas dan pemain film — tidaklah mendapatkan prioritas oleh pemerintah kita. Hingga tahun 1964, tak ada satupun kementerian yang mengurusi perkembangan industri film tanah air. Oleh karenanya, di era 1950-an bioskop-bioskop banyak dikuasai film-film asing, terutama produksi Bollywood. Dalam keadaan carut-marut seperti itu, banyak film karya anak negeri yang cukup berkualitas, namun tak laku dipasaran. Akibatnya banyak rumah produksi yang gulung tikar, dan karyawannya di-PHK.

Dari sekian banyak tokoh film Indonesia yang mampu bertahan dari terpaan krisis itu adalah Djamaludin Malik. Ia merupakan pendiri sekaligus pemilik Persari (Perseroan Artis Indonesia). Sebuah perusahaan film yang menampung artis-artis Indonesia pada masa itu. Sebenarnya Djamaludin bukanlah seorang seniman. Namun kecintaannya terhadap sandiwara dan perfilman Indonesia, menyebabkannya mau memodali industri ini.

Baca entri selengkapnya »


Kamp der Onverzoenlijken (Kamp Para Pembangkang) di Boven Digul

Boven Digul, sebuah wilayah di pedalaman Papua, dulu pernah tersohor sebagai tempat pengasingan para tahanan politik. Pada masa kolonial Belanda (1927-1943), lebih dari 1.000 orang “pemberontak” dipenjarakan disini. Para ekstremis ini kebanyakan berasal dari Jawa dan Sumatera Barat. Memang, ke dua daerah ini merupakan wilayah Hindia-Belanda yang paling sering melakukan perlawanan. Pemberontakan komunis di Banten 1926 dan Silungkang 1927, merupakan perlawanan terbesar bangsa Indonesia terhadap pemerintah kolonial Belanda. Pemberontakan ini menimbulkan kepanikan yang hebat di kalangan orang-orang kulit putih. Di Batavia, banyak orang Belanda diliputi rasa cemas. Mereka takut keluar rumah dan lebih memilih untuk mengunci diri. Sejak pemberontakan itu, Belanda telah menangkap sekitar 20.000 orang rakyat Indonesia. Dari jumlah itu, 1.308 orang diasingkan (823 orang ke kamp Digul), dan 16 orang di hukum gantung.

Kamp konsentrasi Digul didirikan oleh Kapten L. Th. Becking pada awal tahun 1927. Kamp ini terletak di hulu Sungai Digul, yang berjarak kira-kira 455 km dari bibir pantai Laut Arafura. Dulu, di-Digul-kan berarti harus menghadapi maut. Hal ini dikarenakan banyaknya nyamuk malaria yang sering menyerang para penghuni kamp. Di samping itu ada pula jenis penyakit mematikan lainnya, yang dikenal sebagai black water fever. Selain dua penyakit tersebut, musuh terbesar para penghuni kamp adalah rasa sepi dan kejenuhan yang luar biasa. Tekanan semacam ini kemudian menimbulkan ketegangan dan gangguan jiwa bagi sebagian interniran.

Baca entri selengkapnya »


Bintang David di atas “Stars and Stripes”

Tak ada satupun orang yang menyangsikan bahwa abad ke-20 adalah abadnya Amerika. Namun tak banyak orang yang tahu, dibalik keperkasaan negara adidaya itu ada kaum Yahudi yang memainkan perannya secara signifikan. US Census Bureau memperkirakan, pada tahun 2008 jumlah mereka hanya berkisar 6,5 juta jiwa, atau setara 2,2% dari populasi negara tersebut. Namun dari jumlah yang tak seberapa itu, mereka mampu mendominasi kegiatan ekonomi, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Tak hanya itu, lewat lobi-lobi mereka di parlemen dan Gedung Putih, kaum Yahudi ikut mengontrol kebijakan politik Amerika.

Kaum Yahudi mulai membanjiri Amerika Serikat sejak awal abad ke-19. Kebanyakan mereka datang dari Jerman, Inggris, dan Rusia. Dari Eropa mereka tak hanya membawa kultur dan kepandaian, namun juga modal dalam jumlah besar. Dari modal serta kepandaian inilah kemudian mereka mengembangkan bisnis di negeri Paman Sam. Kini, hampir semua lini bisnis di Amerika mereka kuasai. Terutama di bidang perbankan, pasar modal, teknologi informasi, media, film, dan retail.

Baca entri selengkapnya »


Pameran mobil mewah di Medan. Salah satu pusat pertumbuhan orang kaya baru di Sumatera

Sebagian besar ekonom mengatakan, bahwa dasawarsa kedua abad ke-21 merupakan masa keemasan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Penyebabnya adalah stabilnya kondisi politik nasional, pertumbuhan regional yang cukup pesat, dan melemahnya dua kekuatan ekonomi global : Amerika Utara dan Eropa. Disamping itu naiknya tingkat pendidikan masyarakat dan pembangunan infrastruktur yang massif, juga menjadi alasan mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia dewasa ini bisa berlari kencang.

Dalam sebuah artikel di harian Seputar Indonesia, Cyrillus Harinowo seorang pengamat ekonomi berpendapat, bahwa saat ini Indonesia sedang menuju ekonomi USD 1 triliun. Menurutnya angka itu adalah suatu turning point bagi percepatan ekonomi suatu negara. Ia memperkirakan jika Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia telah melampaui USD 1 triliun, maka untuk melipatgandakannya hanya butuh waktu tak lebih dari 10 tahun. Dan di tahun 2013 mendatang, jika kurs rupiah stabil dan pertumbuhan ekonomi tetap berkisar antara 6% – 6,5%, maka angka USD 1 triliun akan dapat terealisasi

Baca entri selengkapnya »


Mesjid Selemiye, salah satu ikon bangsa Turki

Asia Tengah, sebuah wilayah marjinal di pedalaman benua Asia, adalah tempat bermukimnya bangsa-bangsa penakluk. Disini selain ras Turkik, juga terdapat suku bangsa Mongol. Mereka telah mengembara sejak ribuan tahun lalu, menaklukkan berbagai peradaban besar dan (kemudian) mendirikan kerajaan-kerajaan kuat. Orang-orang Asia Tengah dikenal sebagai pejuang yang ulung. Alamnya yang berupa gurun, stepa, dan bukit, menyebabkan masyarakatnya hidup dari berburu, dan saling berperang satu sama lainnya. Beberapa tokoh militer yang melegenda, seperti Jengis Khan (1162-1227), Timurlenk (1336-1405), Muhammad al-Fatih (1432-1481), dan Muhammad Babur (1483-1530), lahir dari kelompok masyarakat ini. Bangsa Asia Tengah boleh jadi merupakan kelompok etnik terbesar saat ini, yang masih hidup dengan cara berpindah-pindah. Kehidupannya yang nomaden, berpotensi menjadi ancaman bagi peradaban-peradaban besar yang mapan. Sejarah telah membuktikan, bahwa bangsa-bangsa Asia Tengah yang perkasa itu, telah meluluhlantakkan imperium-imperium agung seperti Romawi, Byzantium, Abbasiyah, dan Song China.

Baca entri selengkapnya »


Hikayat Nakhoda Muda

Ciputra sering mengatakan bahwa salah satu tonggak dari kemajuan bangsa ialah lahirnya pengusaha-pengusaha tangguh yang memberikan kontribusi besar terhadap rakyat banyak. Diantara ciri pengusaha tangguh itu ialah berdikari, merintis usaha dari bawah, dan mampu bertahan dalam waktu cukup lama. Di Indonesia, banyak usahawan yang memulai bisnisnya dari modal kecil. Namun sedikit yang bisa bertahan lama dan mampu mewariskannya (setidak-tidaknya) kepada generasi ketiga. Dari nama-nama yang sedikit itu, yang cukup menonjol adalah : Nakhoda Mangkuto, Oei Tjie Sien, Liem Seeng Tee, Achmad Bakrie, dan Haji Kalla.

Nakhoda Mangkuto, lahir di Bayang, Sumatera Barat, pada akhir abad ke-17. Ia memulai usahanya dengan menjual hasil-hasil bumi, dengan komoditas utama : lada. Setelah beranjak dewasa ia pergi merantau meninggalkan kampung halamannya. Mengembara ke seantero Nusantara, dari Sumatera, terus ke Jawa, ke Kalimantan, dan Kepulauan Karimata. Disini ia menikah dan memperoleh anak yang bernama Tayan (setelah dewasa dikenal sebagai Nakhoda Muda). Keberadaannya di Karimata tak disukai para perompak Bugis. Ia pun berpindah ke Banjar dan akhirnya menetap di Piabung, Lampung. Disini ia terus berbisnis dan mengkhususkan dirinya dalam perdagangan lada. Semasa itu Kesultanan Banten menguasai perkebunan lada di Lampung dan Jawa Barat, dan Mangkuto diberi kepercayaan untuk memasarkan hasil-hasilnya.

Baca entri selengkapnya »


Indriati Iskak, Chitra Dewi, dan Mieke Widjaja, dalam film Tiga Dara (1956)

Misbach Yusa Biran, boleh jadi merupakan salah seorang yang paling getol mendokumentasikan sejarah film Indonesia. Dalam empat tahun terakhir, sudah lima buku yang diterbitkannya terkait dengan film dan orang-orang film Indonesia. Buku-buku itu adalah : Oh, Film (2008), Kenang-kenangan Orang Bandel (2008), Sejarah Film, 1900-1950 : Bikin Film di Jawa (2009), Peran Pemuda dalam Kebangkitan Film Indonesia (2009), serta edisi tambahan Keajaiban di Pasar Senen (2008). Selain piawai membuat film, Misbach pandai pula bercerita. Sebagai seniman yang telah banyak makan asam garam kehidupan, Misbach tahu seluk beluk perfilman hingga orang-orang di belakang layar. Tak sebatas artis-artis terkenal, segala cerita tentang sineas karbitan atau calon bintang yang tak jadi populer, banyak pula ia ungkapkan.

Salah satu ceritanya adalah tentang juru parkir yang bernama Anwar. Menurutnya, Anwar merupakan calon bintang yang paling banyak mendapatkan kesempatan memainkan peran. Aneka macam peran telah diujikan kepadanya. Menjadi seorang bandit, penyanyi bar, pesuruh, reserse, kepala polisi, dan lain-lain. Namun tak satupun peran yang berhasil dimainkannya dengan baik. Singkat kata, Anwar gagal bermain film. Adalagi ceritanya mengenai pembuat film Tionghoa, yang dipaksa tutup oleh tentara Jepang karena dianggap tak mengerti seni. Orang-orang Tionghoa ini, membuat film layaknya industri rumahan. Asal punya ruang kosong untuk pembuat set, jadilah rumah mereka sebagai studio film dadakan. Para pegawainya diperlakukan seperti karyawan bengkel atau buruh pabrik kecap. Setelah Jepang angkat kaki, studio-studio milik Tionghoa mulai bangkit kembali. Diantara yang cukup ternama adalah Bintang Surabaya, Tan & Wong Bros, Garuda Film, dan Olympiad Studio.

Baca entri selengkapnya »


Mesjid Raya Baiturrahman, Simbol Kebesaran Aceh

Anthony Reid, seorang pakar Asia Tenggara kelahiran Selandia Baru, banyak mengupas tentang kejayaan dan kemakmuran Kesultanan Aceh. Salah satu bukunya yang menarik adalah “Asal Mula Konflik Aceh : Dari Perebutan Pantai Timur Sumatra hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19”. Dalam buku tersebut Reid bercerita tentang kegemilangan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda, yang mampu menguasai separuh garis pantai timur dan barat Sumatra, hingga menjadi kerajaan taklukan Belanda di akhir abad ke-19. Dalam buku “An Indonesian Frontier: Acehnese and Other Histories of Sumatra”, lebih jauh Reid mengungkapkan tentang kemegahan dan kekayaan yang diperoleh raja-raja Aceh berkat kegigihan mereka dalam berdagang. Dari buku-buku karangan Reid, ada beberapa poin yang bisa ditangkap terkait dengan kegemilangan Aceh di masa lalu : Islam, Penguasaan Selat Malaka, dan Aliansi Politik dengan Turki Utsmani. Tiga pokok inilah yang membuat Aceh bisa bertahan lama, dan mengalami masa-masa paling gemilang yang mungkin tidak pernah dialami oleh penduduk Nusantara lainnya.

Kesultanan Aceh terletak di ujung utara Pulau Sumatra. Pintu masuk Selat Malaka dan di bibir pantai Lautan Hindia. Diawali oleh kerajaan kota Samudera dan Pasai, Aceh berkembang menjadi daerah kosmopolitan. Orang-orang dari berbagai bangsa menginjakkan kakinya di sudut pulau Sumatra itu, sebelum meneruskan perjalanannya ke pulau rempah-rempah atau ke negeri di atas angin. Mereka datang ke Aceh, bukan hanya untuk membongkar sauh atau sekedar mengisi perbekalan, namun juga mengembangkan peradaban. Para musafir Arab dan Gujarat, boleh jadi merupakan pihak terpenting dalam membangun dasar-dasar peradaban Aceh.

Baca entri selengkapnya »


Butik Gucci di Canton Road, Hongkong

Di era modern sekarang ini, mungkin Italia-lah negara terdepan dalam urusan desain dan fesyen. Fesyen, selalu menjadi bagian terpenting dari kehidupan orang Italia. Mereka, baik wanita maupun pria, selalu memperhatikan penampilan dan cara berpakaian. “La bella figura”, atau kesan yang indah, adalah ciri sekaligus kultur masyarakat Italia. Menggunakan fesyen dengan desain terbaik, merupakan salah satu cara mereka untuk mengungkapkan diri kepada lingkungan.

Menurut sejarahnya, desain Italia sudah terkenal sejak 1000 tahun lampau. Pada masa itu kota-kota utama seperti Venesia, Milan, Firenze, Vicenza, dan Roma, mulai memproduksi jubah, perhiasan, tekstil, sepatu, kain, hiasan, dan gaun-gaun yang rumit. Namun sejak abad ke-17 hingga awal abad ke-20, fesyen Italia kehilangan pamornya. Perannya digantikan oleh Prancis yang kemudian menjadi trendsetter di Benua Eropa. Naiknya popularitas Prancis, dikarenakan gaun-gaun mewah yang dirancang untuk istana Louis XIV. Namun setelah Perang Dunia II, sekolah-sekolah mode Italia segera menyalip ketenaran desain Prancis. Dan label seperti Ferragamo dan Gucci, mulai bersaing dengan Chanel dan Dior. Berdasarkan data Global Language Monitor yang dirilis pada tahun 2009, Milan menduduki peringkat teratas sebagai kota mode dunia, sedangkan Roma berada di urutan keempat. Dengan pencapaian tersebut, berarti dua dari lima pusat mode dunia saat ini berada di Italia.

Baca entri selengkapnya »


Restoran Padang di Whitney Avenue, Elmhurst, New York

Sejak ramainya lalu lintas darat yang menghubungkan satu kota ke kota lainnya, peranan rumah makan makin terasa penting. Di Indonesia, satu dari sekian banyak kelompok masyarakat yang bisa mengambil peluang tersebut adalah etnis Minangkabau. Orang Minang yang rata-rata suka berjalan dan berpetualang itu, mengerti betul kebutuhan para musafir yang sedang berpergian. Kebutuhan pangan, disamping tempat bermalam dan membasuh diri, adalah kebutuhan pokok yang harus segera terpenuhi. Oleh karenanya berdagang makanan atau membuka restoran, merupakan salah satu kegemaran sekaligus profesi utama para perantau Minang.

Dimana-mana di sepanjang Jalan Lintas Sumatera, dari Banda Aceh hingga Bakauheni, kemudian bersambung ke Merak dan Banyuwangi, terus ke Denpasar dan Lombok, sampai ke kota-kota kecil di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, dengan mudahnya kita menemukan Restoran Padang. Bahkan dewasa ini, Rumah Makan Padang mencogok pula di kota-kota besar mancanegara : seperti Singapura, Kuala Lumpur, Hongkong, hingga ke Leiden dan New York City. Sampai saat ini belum ada data yang menyebutkan jumlah Restoran Padang di seluruh dunia. Namun sebagai gambaran, untuk wilayah Jakarta saja Ikatan Warung Padang Indonesia (Iwapin) mencatat ada sekitar 20.000 Rumah Makan Padang. Jeffrey Hadler memperkirakan, menjamurnya rumah makan khas Minangkabau ini, sejak dibukanya Jalan Lintas Sumatera yang menghubungkan Padang – Medan dipermulaan abad ke-20 lalu.

Baca entri selengkapnya »