Bintang David di atas “Stars and Stripes”

Tak ada satupun orang yang menyangsikan bahwa abad ke-20 adalah abadnya Amerika. Namun tak banyak orang yang tahu, dibalik keperkasaan negara adidaya itu ada kaum Yahudi yang memainkan perannya secara signifikan. US Census Bureau memperkirakan, pada tahun 2008 jumlah mereka hanya berkisar 6,5 juta jiwa, atau setara 2,2% dari populasi negara tersebut. Namun dari jumlah yang tak seberapa itu, mereka mampu mendominasi kegiatan ekonomi, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Tak hanya itu, lewat lobi-lobi mereka di parlemen dan Gedung Putih, kaum Yahudi ikut mengontrol kebijakan politik Amerika.

Kaum Yahudi mulai membanjiri Amerika Serikat sejak awal abad ke-19. Kebanyakan mereka datang dari Jerman, Inggris, dan Rusia. Dari Eropa mereka tak hanya membawa kultur dan kepandaian, namun juga modal dalam jumlah besar. Dari modal serta kepandaian inilah kemudian mereka mengembangkan bisnis di negeri Paman Sam. Kini, hampir semua lini bisnis di Amerika mereka kuasai. Terutama di bidang perbankan, pasar modal, teknologi informasi, media, film, dan retail.

Baca entri selengkapnya »


Pameran mobil mewah di Medan. Salah satu pusat pertumbuhan orang kaya baru di Sumatera

Sebagian besar ekonom mengatakan, bahwa dasawarsa kedua abad ke-21 merupakan masa keemasan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Penyebabnya adalah stabilnya kondisi politik nasional, pertumbuhan regional yang cukup pesat, dan melemahnya dua kekuatan ekonomi global : Amerika Utara dan Eropa. Disamping itu naiknya tingkat pendidikan masyarakat dan pembangunan infrastruktur yang massif, juga menjadi alasan mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia dewasa ini bisa berlari kencang.

Dalam sebuah artikel di harian Seputar Indonesia, Cyrillus Harinowo seorang pengamat ekonomi berpendapat, bahwa saat ini Indonesia sedang menuju ekonomi USD 1 triliun. Menurutnya angka itu adalah suatu turning point bagi percepatan ekonomi suatu negara. Ia memperkirakan jika Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia telah melampaui USD 1 triliun, maka untuk melipatgandakannya hanya butuh waktu tak lebih dari 10 tahun. Dan di tahun 2013 mendatang, jika kurs rupiah stabil dan pertumbuhan ekonomi tetap berkisar antara 6% – 6,5%, maka angka USD 1 triliun akan dapat terealisasi

Baca entri selengkapnya »


Mesjid Selemiye, salah satu ikon bangsa Turki

Asia Tengah, sebuah wilayah marjinal di pedalaman benua Asia, adalah tempat bermukimnya bangsa-bangsa penakluk. Disini selain ras Turkik, juga terdapat suku bangsa Mongol. Mereka telah mengembara sejak ribuan tahun lalu, menaklukkan berbagai peradaban besar dan (kemudian) mendirikan kerajaan-kerajaan kuat. Orang-orang Asia Tengah dikenal sebagai pejuang yang ulung. Alamnya yang berupa gurun, stepa, dan bukit, menyebabkan masyarakatnya hidup dari berburu, dan saling berperang satu sama lainnya. Beberapa tokoh militer yang melegenda, seperti Jengis Khan (1162-1227), Timurlenk (1336-1405), Muhammad al-Fatih (1432-1481), dan Muhammad Babur (1483-1530), lahir dari kelompok masyarakat ini. Bangsa Asia Tengah boleh jadi merupakan kelompok etnik terbesar saat ini, yang masih hidup dengan cara berpindah-pindah. Kehidupannya yang nomaden, berpotensi menjadi ancaman bagi peradaban-peradaban besar yang mapan. Sejarah telah membuktikan, bahwa bangsa-bangsa Asia Tengah yang perkasa itu, telah meluluhlantakkan imperium-imperium agung seperti Romawi, Byzantium, Abbasiyah, dan Song China.

Baca entri selengkapnya »


Hikayat Nakhoda Muda

Ciputra sering mengatakan bahwa salah satu tonggak dari kemajuan bangsa ialah lahirnya pengusaha-pengusaha tangguh yang memberikan kontribusi besar terhadap rakyat banyak. Diantara ciri pengusaha tangguh itu ialah berdikari, merintis usaha dari bawah, dan mampu bertahan dalam waktu cukup lama. Di Indonesia, banyak usahawan yang memulai bisnisnya dari modal kecil. Namun sedikit yang bisa bertahan lama dan mampu mewariskannya (setidak-tidaknya) kepada generasi ketiga. Dari nama-nama yang sedikit itu, yang cukup menonjol adalah : Nakhoda Mangkuto, Oei Tjie Sien, Liem Seeng Tee, Achmad Bakrie, dan Haji Kalla.

Nakhoda Mangkuto, lahir di Bayang, Sumatera Barat, pada akhir abad ke-17. Ia memulai usahanya dengan menjual hasil-hasil bumi, dengan komoditas utama : lada. Setelah beranjak dewasa ia pergi merantau meninggalkan kampung halamannya. Mengembara ke seantero Nusantara, dari Sumatera, terus ke Jawa, ke Kalimantan, dan Kepulauan Karimata. Disini ia menikah dan memperoleh anak yang bernama Tayan (setelah dewasa dikenal sebagai Nakhoda Muda). Keberadaannya di Karimata tak disukai para perompak Bugis. Ia pun berpindah ke Banjar dan akhirnya menetap di Piabung, Lampung. Disini ia terus berbisnis dan mengkhususkan dirinya dalam perdagangan lada. Semasa itu Kesultanan Banten menguasai perkebunan lada di Lampung dan Jawa Barat, dan Mangkuto diberi kepercayaan untuk memasarkan hasil-hasilnya.

Baca entri selengkapnya »


Indriati Iskak, Chitra Dewi, dan Mieke Widjaja, dalam film Tiga Dara (1956)

Misbach Yusa Biran, boleh jadi merupakan salah seorang yang paling getol mendokumentasikan sejarah film Indonesia. Dalam empat tahun terakhir, sudah lima buku yang diterbitkannya terkait dengan film dan orang-orang film Indonesia. Buku-buku itu adalah : Oh, Film (2008), Kenang-kenangan Orang Bandel (2008), Sejarah Film, 1900-1950 : Bikin Film di Jawa (2009), Peran Pemuda dalam Kebangkitan Film Indonesia (2009), serta edisi tambahan Keajaiban di Pasar Senen (2008). Selain piawai membuat film, Misbach pandai pula bercerita. Sebagai seniman yang telah banyak makan asam garam kehidupan, Misbach tahu seluk beluk perfilman hingga orang-orang di belakang layar. Tak sebatas artis-artis terkenal, segala cerita tentang sineas karbitan atau calon bintang yang tak jadi populer, banyak pula ia ungkapkan.

Salah satu ceritanya adalah tentang juru parkir yang bernama Anwar. Menurutnya, Anwar merupakan calon bintang yang paling banyak mendapatkan kesempatan memainkan peran. Aneka macam peran telah diujikan kepadanya. Menjadi seorang bandit, penyanyi bar, pesuruh, reserse, kepala polisi, dan lain-lain. Namun tak satupun peran yang berhasil dimainkannya dengan baik. Singkat kata, Anwar gagal bermain film. Adalagi ceritanya mengenai pembuat film Tionghoa, yang dipaksa tutup oleh tentara Jepang karena dianggap tak mengerti seni. Orang-orang Tionghoa ini, membuat film layaknya industri rumahan. Asal punya ruang kosong untuk pembuat set, jadilah rumah mereka sebagai studio film dadakan. Para pegawainya diperlakukan seperti karyawan bengkel atau buruh pabrik kecap. Setelah Jepang angkat kaki, studio-studio milik Tionghoa mulai bangkit kembali. Diantara yang cukup ternama adalah Bintang Surabaya, Tan & Wong Bros, Garuda Film, dan Olympiad Studio.

Baca entri selengkapnya »


Mesjid Raya Baiturrahman, Simbol Kebesaran Aceh

Anthony Reid, seorang pakar Asia Tenggara kelahiran Selandia Baru, banyak mengupas tentang kejayaan dan kemakmuran Kesultanan Aceh. Salah satu bukunya yang menarik adalah “Asal Mula Konflik Aceh : Dari Perebutan Pantai Timur Sumatra hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19”. Dalam buku tersebut Reid bercerita tentang kegemilangan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda, yang mampu menguasai separuh garis pantai timur dan barat Sumatra, hingga menjadi kerajaan taklukan Belanda di akhir abad ke-19. Dalam buku “An Indonesian Frontier: Acehnese and Other Histories of Sumatra”, lebih jauh Reid mengungkapkan tentang kemegahan dan kekayaan yang diperoleh raja-raja Aceh berkat kegigihan mereka dalam berdagang. Dari buku-buku karangan Reid, ada beberapa poin yang bisa ditangkap terkait dengan kegemilangan Aceh di masa lalu : Islam, Penguasaan Selat Malaka, dan Aliansi Politik dengan Turki Utsmani. Tiga pokok inilah yang membuat Aceh bisa bertahan lama, dan mengalami masa-masa paling gemilang yang mungkin tidak pernah dialami oleh penduduk Nusantara lainnya.

Kesultanan Aceh terletak di ujung utara Pulau Sumatra. Pintu masuk Selat Malaka dan di bibir pantai Lautan Hindia. Diawali oleh kerajaan kota Samudera dan Pasai, Aceh berkembang menjadi daerah kosmopolitan. Orang-orang dari berbagai bangsa menginjakkan kakinya di sudut pulau Sumatra itu, sebelum meneruskan perjalanannya ke pulau rempah-rempah atau ke negeri di atas angin. Mereka datang ke Aceh, bukan hanya untuk membongkar sauh atau sekedar mengisi perbekalan, namun juga mengembangkan peradaban. Para musafir Arab dan Gujarat, boleh jadi merupakan pihak terpenting dalam membangun dasar-dasar peradaban Aceh.

Baca entri selengkapnya »


Butik Gucci di Canton Road, Hongkong

Di era modern sekarang ini, mungkin Italia-lah negara terdepan dalam urusan desain dan fesyen. Fesyen, selalu menjadi bagian terpenting dari kehidupan orang Italia. Mereka, baik wanita maupun pria, selalu memperhatikan penampilan dan cara berpakaian. “La bella figura”, atau kesan yang indah, adalah ciri sekaligus kultur masyarakat Italia. Menggunakan fesyen dengan desain terbaik, merupakan salah satu cara mereka untuk mengungkapkan diri kepada lingkungan.

Menurut sejarahnya, desain Italia sudah terkenal sejak 1000 tahun lampau. Pada masa itu kota-kota utama seperti Venesia, Milan, Firenze, Vicenza, dan Roma, mulai memproduksi jubah, perhiasan, tekstil, sepatu, kain, hiasan, dan gaun-gaun yang rumit. Namun sejak abad ke-17 hingga awal abad ke-20, fesyen Italia kehilangan pamornya. Perannya digantikan oleh Prancis yang kemudian menjadi trendsetter di Benua Eropa. Naiknya popularitas Prancis, dikarenakan gaun-gaun mewah yang dirancang untuk istana Louis XIV. Namun setelah Perang Dunia II, sekolah-sekolah mode Italia segera menyalip ketenaran desain Prancis. Dan label seperti Ferragamo dan Gucci, mulai bersaing dengan Chanel dan Dior. Berdasarkan data Global Language Monitor yang dirilis pada tahun 2009, Milan menduduki peringkat teratas sebagai kota mode dunia, sedangkan Roma berada di urutan keempat. Dengan pencapaian tersebut, berarti dua dari lima pusat mode dunia saat ini berada di Italia.

Baca entri selengkapnya »


Restoran Padang di Whitney Avenue, Elmhurst, New York

Sejak ramainya lalu lintas darat yang menghubungkan satu kota ke kota lainnya, peranan rumah makan makin terasa penting. Di Indonesia, satu dari sekian banyak kelompok masyarakat yang bisa mengambil peluang tersebut adalah etnis Minangkabau. Orang Minang yang rata-rata suka berjalan dan berpetualang itu, mengerti betul kebutuhan para musafir yang sedang berpergian. Kebutuhan pangan, disamping tempat bermalam dan membasuh diri, adalah kebutuhan pokok yang harus segera terpenuhi. Oleh karenanya berdagang makanan atau membuka restoran, merupakan salah satu kegemaran sekaligus profesi utama para perantau Minang.

Dimana-mana di sepanjang Jalan Lintas Sumatera, dari Banda Aceh hingga Bakauheni, kemudian bersambung ke Merak dan Banyuwangi, terus ke Denpasar dan Lombok, sampai ke kota-kota kecil di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, dengan mudahnya kita menemukan Restoran Padang. Bahkan dewasa ini, Rumah Makan Padang mencogok pula di kota-kota besar mancanegara : seperti Singapura, Kuala Lumpur, Hongkong, hingga ke Leiden dan New York City. Sampai saat ini belum ada data yang menyebutkan jumlah Restoran Padang di seluruh dunia. Namun sebagai gambaran, untuk wilayah Jakarta saja Ikatan Warung Padang Indonesia (Iwapin) mencatat ada sekitar 20.000 Rumah Makan Padang. Jeffrey Hadler memperkirakan, menjamurnya rumah makan khas Minangkabau ini, sejak dibukanya Jalan Lintas Sumatera yang menghubungkan Padang – Medan dipermulaan abad ke-20 lalu.

Baca entri selengkapnya »


Kampung India atau yang dikenal dengan "Little India"

India adalah salah satu negara di dunia yang memiliki jumlah perantau cukup besar. Laporan UNDP menyebutkan, ada sekitar 25 juta orang India yang hidup di luar negeri, atau setara dengan 2% populasi India. Mayoritas mereka tinggal di Asia Tenggara, Timur Tengah, Eropa Barat, dan Amerika Serikat. Dari sekian banyak orang-orang India yang sukses, yang terbesar berada di Amerika Serikat. Di negeri ini mereka menjadi salah satu kekuatan ekonomi terpenting dan dikenal sebagai masyarakat yang terdidik. Dunia teknologi — khususnya teknologi komputer — merupakan spesialisasi komunitas India-Amerika. Berkat kemampuan ini, kini India menjadi salah satu bangsa berpengaruh di muka jagat, dalam pembuatan komputer dan perangkat turunannya.

 
Demografi Perantau India di Amerika

Amerika Serikat merupakan negara terbesar kedua yang menjadi tujuan para perantau India. Pada tahun 2010 tercatat ada sekitar 2,8 juta masyarakat India di Amerika. Angka ini naik 70% dibandingkan dengan tahun 2000 lalu yang hanya berjumlah 1,6 juta jiwa. Metropolitan New York, yang terdiri dari New York City, Long Island, dan daerah sekitarnya, serta daerah-daerah di dalam negara bagian New Jersey, Connecticut, dan Pennsylvania, adalah rumah bagi sekitar 557.000 orang India. Di New York City saja, berdasarkan sensus 2010 ada sekitar 195.000 masyarakat India. Di wilayah ini, sedikitnya terdapat dua puluh kantong pemukiman India atau yang dikenal dengan Little India. Daerah metropolitan lainnya yang memiliki populasi India cukup besar antara lain Atlanta, Baltimore-Washington, Boston, Chicago, Dallas, Detroit, Houston, Los Angeles, Philadelphia, dan San Francisco – San Jose – Oakland.

Baca entri selengkapnya »


Pantai Kuta

Pagi menjelang siang. Ombak di Pantai Kuta seperti hari-hari biasanya, menggulung kencang, memanjakan para peselancar yang sedang berakrobat. Saya bersama ratusan turis lainnya, menikmati suasana pantai yang belum begitu menyengat. “Selamat pagi Pak, silahkan duduk-duduk disini”, seseorang menyapaku dengan ramah dan sopan. Tanpa pikir panjang, saya-pun menuruti perkataannya. Setelah itu perbincangan kami-pun berjalan gayeng. Diperlakukan seperti saudara sendiri, segan pula rasanya untuk tak mencicipi kelapa muda yang tersaji. Meski kelapa muda yang dijualnya terlalu masak, namun perlakuan istimewa dari sang penjual, tak membuatku keberatan mengeluarakan Rp 15.000 untuk sebatok kelapa yang sudah menua. Tak jauh dari tempat saya duduk, nampak beberapa wanita setengah baya sedang memijat keluarga asal Australia. Didekat mereka, tiga perempuan Jepang asyik berselonjor sambil menikmati ombak pagi.

Di Bali every day is holiday, begitu penuturan Ni Putu Ayu, salah seorang pemandu wisata kami yang cukup cekatan. Oleh karenanya, banyak orang yang memanjangkan kata Bali menjadi “banyak libur”. Meski Bali menjadi tujuan utama wisata nasional, namun tak semua wilayah di Pulau Dewata ini merupakan tempat pariwisata. Hanya beberapa lokasi yang menjadi surga bagi para pelancong, antara lain : Nusa Dua, Benoa, Sanur, Jimbaran, Tabanan, Kintamani, Ubud, dan Kuta.

Baca entri selengkapnya »