Jalan Tuanku Abdul Rahman, Kuala Lumpur

Jalan Tuanku Abdul Rahman, Kuala Lumpur

Dari Malaka kami menyarter taksi ke Kuala Lumpur. Karena hari itu hari Minggu, kami dikenakan biaya sebesar RM 200. Jarak Malaka-Kuala Lumpur sekitar 145 km, atau biasa ditempuh dalam waktu 2 jam. Suasana perjalanan ke Kuala Lumpur, tak ubahnya dari Johor Bahru ke Malaka. Kiri-kanan jalan dipenuhi oleh pepohonan yang didominasi kelapa sawit. Lepas gerbang tol Kajang, pemandangan agak sedikit berubah. Rumah-rumah penduduk dan pertokoan, mulai banyak terlihat. Di kejauhan nampak menyembul gedung kembar Petronas Tower.

Pukul 13.15 kami tiba di penginapan. Di Kuala Lumpur kami menginap di Tune Hotel, sebuah penginapan low budget yang dikembangkan Tony Fernandes. Letaknya cukup strategis. Di simpang empat antara Jalan Tuanku Abdul Rahman (Jalan TAR) dan Jalan Sultan Ismail. Sehabis sholat zuhur, kami mencari makan di sekitaran hotel. Tak jauh dari sana, kami bersua warung Nasi Kandar Kudu bin Abdul. Di Kuala Lumpur, Nasi Kandar cukup terkenal. Di setiap penjuru kota, dengan mudahnya kita menjumpai warung nasi khas India-Muslim itu.

Baca entri selengkapnya »


Sungai Malaka

Sungai Malaka

Meninggalkan City Plaza di Jalan Geylang, bus berlari kencang melintasi Singapore Highway. Satu jam berada di atas bus, kami tiba di titik pemeriksaan keluar Singapura. Meski banyak turis yang meninggalkan kota ini, namun pemeriksaan disini tak berlangsung lama. Setelah 20 menit menjalani pengecekan, bus kembali berangkat. Lepas dari gedung checkpoint Woodland, kami langsung disambut oleh pemandangan Selat Johor yang menawan. Di kejauhan nampak pemukiman masyarakat Suku Laut, berupa rumah-rumah terapung. Tuntas menyeberangi selat sejauh satu kilometer, kami tiba di checkpoint Johor Bahru. Berbeda dengan kantor imigrasi Singapura yang bersih dan tertib, di Johor Bahru suasananya bertolak belakang. Selain petugasnya yang nampak santai, kebersihan disini sangat memprihatinkan. Saya yang sempat “membongkar sauh” di kamar kecil, melihat genangan air dengan jentik nyamuk yang bertebaran.

Jonker Street

Jonker Street

Setelah menempuh perjalanan selama 5 jam 20 menit, kami tiba di Malaka Sentral Bus. Tempat ini merupakan terminal bus antar kota yang juga menjadi pangkalan “kereta sewa” (taksi). Karena hari sudah malam, kami putuskan untuk menyewa taksi tak bermeter. Setelah terjadi deal dengan pemilik taksi, kamipun menuju penginapan. Jarak antara terminal dengan penginapan tak terlalu jauh. Jika menggunakan taksi bermeter, ongkos yang dibayar tak sampai RM 15. Namun pada malam itu, kami harus merogoh kocek hingga RM 20.

Baca entri selengkapnya »


Sungai Singapura dengan latar belakang Esplanade Theatres

Sungai Singapura dengan latar belakang Esplanade Theatres

Kali ini pelancongan kami sekeluarga, menuju negeri-negeri Melayu di tepi Selat Malaka. Dalam kunjungan singkat memanfaatkan masa cuti bersama, kami melawat ke tiga kota sekaligus : Singapura, Malaka, dan Kuala Lumpur. Kami berangkat menggunakan maskapai Tiger Airways. Dari Cengkareng pesawat lepas landas pukul 11.35 WIB dan mendarat di Singapura jam 14.05 waktu setempat. Terdapat perbedaan waktu lebih cepat satu jam antara Singapura dengan Jakarta.

Kami turun di Terminal 2 Bandara Internasional Changi. Dibandingkan dengan airport Cengkareng, bandara ini terasa lebih besar dan modern. Walau dari segi arsitektur dan tata letak ruangan, Soekarno-Hatta masih lebih unggul. Siang hari itu Changi tak terlampau padat. Kami bisa leluasa berfoto-foto, sambil memandangi lalu lalang kapal terbang. Di pintu-pintu garbarata, nampak beberapa petugas sedang memberi arahan kepada penumpang yang baru turun. Karyawan di bandara ini cukup disiplin. Tak ada satupun dari mereka yang nampak berleha-leha dan ngobrol ketika sedang bertugas.

Baca entri selengkapnya »


Lanskap kota Pekanbaru. Nampak Menara Dang Merdu (kiri) dan Perpustakaan Soeman Hs (tengah)

Jika Anda membandingkan wajah Pekanbaru saat ini dengan 15 tahun lampau, maka Anda akan tercengang melihat perubahan yang terjadi. Pada tahun 1997 lalu, Pekanbaru masih relatif terbelakang. Dibanding dengan kota-kota menengah lainnya di Indonesia, perkembangan ibu kota Riau ini terasa jalan di tempat. Dengan jumlah penduduk kurang dari 500.000 jiwa, hanya ada satu sentra keramaian, yakni Pasar Pusat. Ketika itu real estat dan hunian vertikal belum berkembang. Rumah toko-pun bisa dihitung dengan jari. Tak banyak orang yang mau berkunjung ke kota ini, kecuali hendak menjumpai sanak saudara mereka. Penerbangan langsung hanya ada dari Jakarta dan Batam. Itupun satu hari sekali penerbangan.

Namun tengoklah kini! Pekanbaru telah bersalin rupa. Gedung-gedung bertingkat serta mal yang menjadi ciri metropolitan, tumbuh bak cendawan di musim hujan. Tak lama lagi, Jalan Jenderal Sudirman di pusat kota akan menjadi hutan beton. Selain hotel dan perkantoran, apartemen bertingkat juga terlihat banyak dibangun. Tak hanya itu, gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat-pun ikut berubah. Jika sebelumnya warga Pekanbaru cuma bisa berbelanja di pasar-pasar tradisional, maka kini mereka dapat membeli kebutuhan sehari-hari di toko berpendingin ruangan. Sebab beberapa kulakan besar seperti Giant, Lotte Mart, dan Hypermart telah menancapkan kukunya disini. Disamping restoran-restoran siap saji, Starbucks yang menjadi simbol kaum urban tak ketinggalan untuk membuka gerainya disini. Hal ini seiring dengan bertumbuhnya pendapatan masyarakat Pekanbaru yang dari tahun ke tahun semakin meningkat.

Baca entri selengkapnya »


Anggun C. Sasmi (sumber : kapanlagi.com)

Siapa yang tak kenal Anggun C. Sasmi, penyanyi Indonesia yang sukses berkarier di blantika musik mancanegara. Wanita kelahiran Jakarta 29 April 1974 ini, berhasil menggapai mimpi-mimpinya setelah pergi merantau ke Perancis. Atas bantuan seorang produser besar : Erick Benzi, pada tahun 1997 Anggun meluncurkan album internasional pertamanya yang berjudul “Au nom de la lune”. Di bawah bendera Sony Music International, album ini dipasarkan di 33 negara dan mencetak penjualan cukup besar. Lagu “Snow on the Sahara” yang berhasil meraih peringkat pertama dalam tangga lagu Asian United Chart, French Airplay Chart, dan Italian Singles Chart, merupakan singel terfavorit pada album tersebut.

Lewat album ini pula namanya mulai meroket. Di ajang penghargaan tertinggi industri musik Perancis, Victoires de la Musique, Anggun masuk nominator sebagai “Pendatang Baru Terbaik”. Berkat kesuksesannya itu, ia beberapa kali diwawancarai televisi Amerika dan tampil dalam salah satu acara bergengsi : The Rosie O’Donnell Show. Selama berkarier, ia telah menghasilkan lima album internasional yang dinyanyikan dalam beberapa bahasa. Anggun juga memperoleh banyak penghargaan, seperti Diamond Export Award, The Cosmopolitan Asia Women Award, dan The Women Inspire Award. Namun dari semua penghargaan itu, yang paling mengesankan adalah Chevalier des Arts et Lettres dari pemerintah Perancis. Penghargaan ini merupakan sebuah pengakuan atas kontribusinya dalam menyebarkan kultur Perancis ke seluruh dunia.

Baca entri selengkapnya »


Pertambangan batu bara milik PT Bumi Resources Tbk

Sejak diumumkannya penyelidikan oleh Bumi Plc atas dugaan penyimpangan keuangan dan operasi anak perusahaannya : PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), sebagian saham perusahaan grup Bakrie turun tajam. Selain BUMI dan BRAU, penurunan juga terjadi pada saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan PT Viva Media Asia Tbk (VIVA). Sedangkan untuk saham PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA), dalam beberapa hari terakhir tidak terjadi transaksi. Kedua saham ini telah menyandar di posisi Rp 50, atau berada pada harga terbawah saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Di Bursa London, saham Bumi Plc juga terkena koreksi tajam. Emiten yang sebelumnya bernama Vallar Plc ini, tertekan 46,33% pada perdagangan 21 dan 24 September 2012.

Berdasarkan informasi yang beredar, rencana penyelidikan oleh Bumi Plc itu bermula dari adanya dugaan penyelewengan penggunaan dana pengembangan BUMI sebesar USD 247 juta dan biaya eksplorasi BRAU sebanyak USD 390 juta. Kedua pengeluaran tersebut tidak tercantum dalam laporan keuangan Bumi Plc pada akhir tahun 2011. Dalam pengumuman resminya tanggal 24 September 2012, Bumi Plc hanya mengatakan telah terjadi penyimpangan dana di dua anak usahanya, tanpa merinci obyek penyimpangan tersebut. Meskipun begitu, langkah Bumi Plc yang hendak melakukan investigasi dianggap sebagian pihak terlalu terburu-buru. Apalagi jika sumber informasinya belum jelas benar. Pembelian BUMI oleh Vallar Plc pada tahun 2010 lalu, mestinya sudah melalui proses uji tuntas (due diligence). Dan jika kini terjadi penyelewengan, seharusnya sebelum melakukan pembelian, Vallar Plc sudah bisa mencium adanya gelagat yang kurang baik. Ini malah mereka yang berambisi untuk masuk sebagai pemegang saham BUMI. Kejanggalan lain adalah dibeberkannya perkara ini ke khalayak ramai, sehingga terjadi kasak-kusuk di kalangan investor. Padahal kasus ini sebenarnya adalah urusan internal antara induk dan anak perusahaan, yang seharusnya bisa diselesaikan di dalam.

Baca entri selengkapnya »


Kantor N.V. de Bouwploeg di awal abad ke-20

Tak banyak orang yang tahu, kalau dulunya Mesjid Cut Meutia di kawasan Menteng adalah bekas kantor N.V. de Bouwploeg (biasa disebut Boplo). Boplo adalah perusahaan pengembang Nieuw Gondangdia (sebutan Menteng untuk pertama kalinya), yang didirikan oleh Pieter Jacobus Moojen pada tahun 1912. Selain Moojen, proyek ini juga didesain oleh arsitek Belanda lainnya : F.J Kubatz. Pada masanya, ia adalah seorang arsitek yang jempolan. Rancangan Kubatz sangat terasa pengaruhnya, terutama pada bentuk jalan dan taman-taman di Menteng.

Semula Menteng merupakan lahan perkebunan rakyat yang dimiliki oleh sekitar 3.500 orang. Kemudian pemerintah Batavia membeli lahan tersebut untuk dijadikan pemukiman, menggantikan kawasan Molenvliet (kini Jalan Hayam Wuruk – Gajah Mada) yang mulai padat. Berbeda dengan pemukiman lama di Jakarta Kota, proyek ini dirancang sebagai kota taman tropis dengan ruang terbuka hijau mencapai 30%. Pembangunan Menteng terbagi ke dalam dua tahap. Tahap pertama berada di bagian utara, yang meliputi Kelurahan Gondangdia saat ini. Dan fase kedua, terletak di bagian selatan Kali Gresik hingga Kanal Banjir Barat. Pada bagian utara, banyak jalan yang disusun secara radial. Sehingga rumah-rumah hook di kawasan ini memiliki bentuk tanah persegi. Disamping itu, pola ini juga menghasilkan persimpangan jalan yang bercabang-cabang. Di depan Galeri Seni Kunstkring (Bataviasche Kunstkring gebouw) misalnya, terdapat simpang yang menjadi tempat bermuaranya lima lebuh utama. Malah di Javaweg (kini Jalan Cokroaminoto) dan Oude Tamarindelaan (kini Jalan Wahid Hasyim), ditemukan persimpangan yang bercabang enam.

Baca entri selengkapnya »


Shanghai, simbol kebangkitan Tiongkok

Sejak digulirkannya program reformasi oleh Deng Xiaoping, perekonomian Tiongkok terus melesat. Salah satu paket reformasinya yang penting adalah mengundang sebanyak-banyaknya investor asing untuk menanamkan modalnya di negeri ini. Untuk memuluskan rencana tersebut, Deng melakukan beberapa perubahan regulasi yang memudahkan para investor asing untuk merelokasi asetnya ke Tiongkok. Tidak hanya itu, Deng juga memberikan beraneka macam insentif bagi perusahaan-perusahaan asing yang mendirikan pabriknya disini.

Dengan kebijakan tersebut, ekonomi Tiongkok tumbuh 9,5% per tahunnya. Tingkat kemiskinan-pun menyusut, dari 41% pada tahun 1978 menjadi 5% di tahun 2001. Pada tahun 2010, Produk Domestik Bruto (PDB) negeri tirai bambu itu mencapai USD 5.739 miliar, atau sekitar 9,16% dari total PDB global. Hal ini sekaligus menempatkan Tiongkok sebagai kekuatan ekonomi kedua di dunia, menggeser Jepang yang selama tiga dekade sebelumnya menduduki posisi tesebut. Dari daftar Fortune Global 500 yang dirilis pada bulan lalu, Tiongkok juga berhasil melampaui Jepang untuk pertama kalinya. Negeri komunis itu menempatkan 73 perusahaannya ke dalam daftar tersebut. Naik dibandingkan dua tahun lalu yang hanya memasukkan 46 perusahaan. Bahkan dalam daftar 10 besar, Tiongkok berhasil mendudukkan tiga wakilnya, yakni Sinopec, China National Petroleum, dan State Grid.

Baca entri selengkapnya »


Djamaludin Malik (kanan) mendampingi ibu negara Fatmawati dalam peresmian FFI I 1955

Big Boss, begitu panggilan akrab yang disematkan para seniman Senen, kepada raja film Indonesia : Djamaludin Malik. Sapaan ini muncul, lantaran ia kerap membantu para artis dan pemain teater, yang kala itu masih hidup susah. Pada masa setelah kemerdekaan hingga Bung Karno jatuh, seniman — utamanya para sineas dan pemain film — tidaklah mendapatkan prioritas oleh pemerintah kita. Hingga tahun 1964, tak ada satupun kementerian yang mengurusi perkembangan industri film tanah air. Oleh karenanya, di era 1950-an bioskop-bioskop banyak dikuasai film-film asing, terutama produksi Bollywood. Dalam keadaan carut-marut seperti itu, banyak film karya anak negeri yang cukup berkualitas, namun tak laku dipasaran. Akibatnya banyak rumah produksi yang gulung tikar, dan karyawannya di-PHK.

Dari sekian banyak tokoh film Indonesia yang mampu bertahan dari terpaan krisis itu adalah Djamaludin Malik. Ia merupakan pendiri sekaligus pemilik Persari (Perseroan Artis Indonesia). Sebuah perusahaan film yang menampung artis-artis Indonesia pada masa itu. Sebenarnya Djamaludin bukanlah seorang seniman. Namun kecintaannya terhadap sandiwara dan perfilman Indonesia, menyebabkannya mau memodali industri ini.

Baca entri selengkapnya »


Kamp der Onverzoenlijken (Kamp Para Pembangkang) di Boven Digul

Boven Digul, sebuah wilayah di pedalaman Papua, dulu pernah tersohor sebagai tempat pengasingan para tahanan politik. Pada masa kolonial Belanda (1927-1943), lebih dari 1.000 orang “pemberontak” dipenjarakan disini. Para ekstremis ini kebanyakan berasal dari Jawa dan Sumatera Barat. Memang, ke dua daerah ini merupakan wilayah Hindia-Belanda yang paling sering melakukan perlawanan. Pemberontakan komunis di Banten 1926 dan Silungkang 1927, merupakan perlawanan terbesar bangsa Indonesia terhadap pemerintah kolonial Belanda. Pemberontakan ini menimbulkan kepanikan yang hebat di kalangan orang-orang kulit putih. Di Batavia, banyak orang Belanda diliputi rasa cemas. Mereka takut keluar rumah dan lebih memilih untuk mengunci diri. Sejak pemberontakan itu, Belanda telah menangkap sekitar 20.000 orang rakyat Indonesia. Dari jumlah itu, 1.308 orang diasingkan (823 orang ke kamp Digul), dan 16 orang di hukum gantung.

Kamp konsentrasi Digul didirikan oleh Kapten L. Th. Becking pada awal tahun 1927. Kamp ini terletak di hulu Sungai Digul, yang berjarak kira-kira 455 km dari bibir pantai Laut Arafura. Dulu, di-Digul-kan berarti harus menghadapi maut. Hal ini dikarenakan banyaknya nyamuk malaria yang sering menyerang para penghuni kamp. Di samping itu ada pula jenis penyakit mematikan lainnya, yang dikenal sebagai black water fever. Selain dua penyakit tersebut, musuh terbesar para penghuni kamp adalah rasa sepi dan kejenuhan yang luar biasa. Tekanan semacam ini kemudian menimbulkan ketegangan dan gangguan jiwa bagi sebagian interniran.

Baca entri selengkapnya »