Kebobrokan mesin ekonomi Amerika, satu per satu mulai terkuak. Setelah kasus subprime mortgage yang menjadi pemicunya di tahun 2007 lalu, berturut-turut kejadian besar terjadi disana. Kebangkrutan Lehman Brothers di pertengahan tahun 2008 ini, pemutusan hubungan kerja besar-besaran karyawan perusahaan otomotof the big three, sampai yang paling mutakhir kasus penipuan dengan skema ponzi.
Kasus penipuan ini cukup lucu dan tak beralasan untuk raksasa ekonomi sekaliber Amerika. Melihat kasus ini kita jadi bertanya-tanya, dimana fungsi pengawasan dan kontrol atas perusahaan investasi di negara itu. Kita tahu bahwa produk-produk instrumen keuangan terbitan Amerika, seperti reksadana, obligasi, asuransi, sampai produk derivatif-nya, selalu dinilai AAA+ oleh lembaga pemeringkat. Artinya bahwa produk-produk terbitan negeri ini, dinilai sebagai produk-produk yang aman dan paling menguntungkan. Dan lucunya lagi, banyak korban dari penipuan yang dimotori oleh Bernard Madoff ini ialah bank-bank besar seperti Royal Bank of Scotland, BNP Paribas, Nomura Holdings, dan orang-orang super kaya dunia.
India … Negeri miskin di anak benua Asia, dengan populasi besar, penduduk yang kurang kreatif, dan hanya mengandalkan hasil pertanian sebagai mata pencahariannya. Namun itu dulu, kisah dua puluh tahun lalu. Kini India telah mengkilap, telah berubah dan menjadi salah satu pesaing terberat Amerika. Tengoklah dalam daftar orang-orang tajir se-jagat yang dikeluarkan oleh majalah ternama, Forbes. India menempatkan empat wakilnya, dalam top sepuluh orang-orang kaya dunia. Amerika yang dari tahun ke tahun mendominasi daftar ini, hanyalah menempatkan dua orang dalam top sepuluh.
Adalah Lakshmi Mittal, Mukesh Ambani, Anil Ambani, dan Kushal Pal Singh, empat pengusaha India yang duduk di posisi tersebut. Lakshmi, yang memiliki pabrik baja terbesar di dunia masih yang terhebat diantara mereka. Pada tahun 2007 lalu, Arcelor Mittal memberikan US$ 45 milyar ke pundi-pundi Lakshmi. Angka ini hanya kalah dari Warren Buffett, Carlos Slim Helu, dan Bill Gates. (lebih…)
Like to Roman Empire history in fifth century, America will replay its history. The Roman Empire fell because it was bankrupted by its leaders. Well, look at the American leaders now, not only the leaders in governance, but the CEO in big companies. Like the Roman senator were selfish and self-absorbed, determined to hoard the huge wealth of the empire and determined to promote empire to enhance their wealth even further.
In business, American CEOs receive higher salary than European or Japanese CEOs. Even though American not more productive than European or Japanese. Like Jack Welch who received salary 70 times compare than his lower staff. In governance, not as well as in business, George Walker Bush, like the kings of Roman, conquering many of world. Consequently, cost of conquers, make the budget deficits, trade deficits, and a huge national debt that has tripled. Today, the sub-prime mortgage issues, bring American financial companies go to seriously loss along its history after the great depression.
Tiga belas tahun lalu, saat saya masih duduk di bangku SMP, guru bimbingan karir saya keliling bertanya kepada para siswa, apa cita-cita mereka kelak. Satu per satu anak-anak menjawab pertanyaan beliau, disertai dengan berbagai alasan yang cukup menggelitik. Mayoritas dari jawaban tersebut, mereka menginginkan untuk menjadi seorang dokter, suatu profesi yang sangat diminati oleh masyarakat kita, karena dipandang terhormat dan dapat menghasilkan banyak uang. Dari selintas gambaran di atas, nampak bahwa mayoritas masyarakat kita menginginkan untuk menjadi orang sukses, banyak duit dan dapat hidup senang. Dan sayangnya, dari mayoritas masyarakat tersebut tidak mengetahui bagaimana cara terbaik untuk mendapatkan uang.
Pada perjumpaan kali ini, kita akan melihat gagasan yang disampaikan oleh Robert T. Kiyosaki, seorang Jepang-Amerika, mengenai konsep cash flow quadrant. Sebuah konsep yang sungguh revolusioner dan sangat bermutu. Apabila di bangku SMP/SMA teman-teman pernah menyimak pokok bahasan trigonometri dalam pelajaran matematika, tentunya kata kuadran tidaklah asing lagi. Kata cash flow berasal dari bahasa Inggris yang berarti arus kas. Jadi inti dari konsep ini ialah menawarkan kepada kita bagaimana cara memperoleh uang (arus kas) melalui empat cara (empat kuadran).
Empat kuadran tersebut ialah Employee (E), Self-businessman (S), Businessman (B), dan Investor (I).
Kuadran pertama ialahemployee (pegawai). Anda pasti selalu bercita-cita, kelak jika tamat SMA nanti, akan masuk ke perguruan tinggi favorit, setelah selesai kuliah dengan IPK memuaskan, ingin bekerja sebagai pegawai di tempat yang baik dengan mendapatkan gaji yang baik pula. Atau akhir-akhir ini kita menyaksikan bahwa proses penyeleksian pegawai negeri sipil berakhir ricuh. Coba anda bayangkan, dalam proses penyeleksian tersebut terindikasi bahwa banyak orang rela menyogok ratusan juta rupiah hanya untuk menjadi pegawai negeri, bukan masalah penyogokannya yang kita permasalahkan kali ini, tapi cita-citanya itu loh … hanya ingin menjadi seorang pegawai, yang menurut Kiyosaki, itu berada pada kuadran pertama, kuadran dasar dari empat kuadran yang beliau gagas. Kenapa sih mayoritas orang ingin menjadi pegawai? Pertama, mereka menginginkan penghasilan tetap, dalam artian disini jika kita menjadi seorang pegawai, kita akan mendapatkan pemasukan tetap, atau arus kas yang konstan setiap bulannya. Kedua, tidak ingin mengambil risiko. Mereka tidak menginginkan uang yang mereka miliki untuk diinvestasikan, dimana kegiatan investasi tersebut memiliki probabilita kerugian yang cukup besar. Dalam bahasa Kiyosaki, kuadran pertama ialah kita bekerja untuk orang lain. Banyak orang yang terstigmatisasi bahwa menjadi seorang pegawai kantoran merupakan posisi yang menyenangkan dan aman. Kiyosaki dalam pandangannya menepis anggapan tersebut. Menurut Kiyosaki, bagaimana bisa dikatakan aman jika sewaktu-waktu perusahaan bisa mem-PHK-kan kita, bagaimana bisa dikatakan aman jika gaji kita pada bulan tersebut tidak dibayar oleh perusahaan. Jadi pada kuadran pertama ini, tentulah kita belum berada pada jalur kebebasan finansial yang diharapkan, karena pendapatan kita sangat bergantung pada orang lain.
Tersirat akan sebuah kenangan yang menyedihkan, para lanun, perompak dan teroris berulah. Bursa Efek Jakarta diguncang bom. Mereka tak mengenal agama dan etnis, menghantam siapa saja yang menurutnya layak dihantam. Kini setelah tujuh tahun tragedi itu berlalu, para teroris itu tetap bergentayangan. Serangan itu semakin meluas, tak sebatas bursa, dan bahkan orang-orang tak berdosa pun terkena serangannya. Memori kita mungkin lupa, terorisme berakar dari kemiskinan dan rasa frustrasi diri menghadapi dunia nan semakin tak berpihak. Tak hanya di dunia muslim, Eropa abad ke-12 pun mencatatnya. Tatkala panggilan suci Paus Urbanus, menggerakkan ratusan ribu rakyat Eropa tuk merebut Yerusalem. Mereka berhimpun dari penjuru Eropa, “orang-orang beriman” dari Inggris, Prancis, Andalus, Prusia ikut terlibat di dalamnya. Tapi kekerasan dan teror tetaplah salah, maka Tuhan-pun tak berpihak kepada mereka. Dan sejarah mencatat, hingga kini Yerusalem tak pernah tertaklukkan. Kini penyakit itu melanda sebagian kecil umat Muslim, korbannya bukanlah musuh yang mereka harapkan, tapi kebanyakan dari kalangan mereka sendiri. Sungguh bukan pekerjaan orang beriman.
Berikut Catatan Pinggir Goenawan Mohammad atas tragedi Bom Bursa Efek (lebih…)
Majalah ekonomi ternama asal AS, Fortune, kembali merilis daftar peringkat perusahaan dengan nilai penjualan terbaik. Dalam 50 teratas perusahaan dunia, Amerika Serikat masih mendominasi dengan menempatkan 18 perusahaannya, disusul kemudian oleh Jepang (6 perusahaan), Jerman dan Prancis (masing-masing 5 perusahaan), serta Inggris Raya (4 perusahaan). Di luar Jepang, perusahaan-perusahaan Asia mampu menempatkan empat perusahaan tambahan, yakni Sinopec (peringkat 23), State Grid (32), China National Petroleum (39), dan Samsung Electronics (46), tiga teratas merupakan perusahaan-perusahaan asal Cina, dan sisanya dari Korea Selatan.
Menarik untuk disimak bahwa industri minyak serta otomotif sedang menemukan momentumnya di tahun ini, tercermin dari keberhasilan Exxon Mobil menggeser Wal-Mart Stores sebagai perusahaan terakbar dunia. Pada tahun ini Exxon Mobil mampu membukukan penjualan sebesar US$ 339 milyar sedangkan Wal-Mart hanya membukukan US$ 315 milyar. Industri otomotif tak kalah mentereng, keberhasilan 4 perusahaan otomotif masuk kedalam jajaran top 10 dunia, merupakan indikasi bahwa industri ini sangat menjanjikan, walaupun General Motors -raksasa otomotif asal Detroit- harus mengalami pendarahan yang cukup parah. Adanya rencana aliansi lintas benua antara GM-Renault-Nissan, melanjutkan tradisi mega merger yang terjadi pada perusahaan-perusahaan otomotif dunia.
Selain itu yang patut kita cermati ialah semakin kerasnya persaingan dalam industri elektronik, dimana jago negeri gingseng Samsung Electronics mampu menumbangkan samurai Jepang, Sony Corporation. (lebih…)
Seperti halnya dunia musik dan olah raga, yang setiap tahunnya memberikan award bagi insan-insan terbaiknya, begitu juga halnya dengan dunia bisnis, yang setiap tahunnya memberikan penghargaan untuk para pengusaha terbaik. Pada tahun 2004 lalu, majalah bisnis Swa menobatkan Jacob Oetama, CEO Grup Kompas-Gramedia sebagai most valuable businessman. Dan di level internasional, nama Fujio Chou (CEO Toyota Motors Corp) patut untuk dikedepankan sebagai pebisnis tersukses saat ini. Mengapa penghargaan untuk pengusaha tersukses jatuh kepada mereka? Ternyata Jacob yang Katholik dan Fujio penganut Shinto itu, memahami ilmu yang kita kenal dengan ilmu tasawuf. Dalam buku “The Corporate Mystics” dikatakan, bahwa dewasa ini perusahaan-perusahaan besar dunia dipimpin oleh orang-orang yang mengerti tasawuf. Ironi bagi umat muslim yang banyak memahami tasawuf, namun tak satupun dari 100 besar pebisnis sukses dunia yang beragama Islam. Untuk itu, maka Nurcholish Madjid sering melakukan introspeksi dan melihat ke dalam mengenai tujuan hidup seorang muslim, pemahamannya akan tasawuf, serta kaitannya dengan etos kerja dan kewirausahaan.
Sering kita dengar pernyataan bahwa etos dalam bisnis merupakan ciri asasi, atau sifat dasar dari jiwa kewirausahaan. Pengertian etos ini mengarah kepada adanya keyakinan yang kuat akan harga atau nilai sesuatu yang menjadi bidang kegiatan bisnis. Pertama-tama, harus ada dalam etos bisnis ialah keyakinan yang teguh dan mendalam tentang nilai penting dan penuh arti dari suatu bisnis. Dengan kata lain, seseorang disebut mempunyai etos bisnis, jika padanya ada keyakinan yang kuat bahwa bisnisnya bermakna penuh bagi hidupnya. Unsur keyakinan dalam bisnis ini, umumnya terkait dengan masalah kesadaran tentang makna dan tujuan hidup. Jadi, seorang pelaku bisnis adalah seseorang yang melihat bidang usahanya sebagai kelanjutan dari makna dan tujuan hidupnya. Walaupun dibanding dengan makna dan tujuan hidup itu sendiri, bisnis hanya bernilai alat atau jalan untuk mencapai tujuan. Tetapi karena dalam keyakinannya tersebut kaitan bisnis dengan makna dan tujuan hidupnya demikian kuat, maka ia tidak menyikapinya dengan setengan hati.