Buku Dilema Melayu karya Mahathir Mohammad (Sumber: mediajayastore.com)

Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad, pernah menulis buku yang berjudul The Malay Dilemma. Buku ini ditulis pada tahun 1970, namun sempat dilarang beredar oleh pemerintahan Tun Abdul Razak. Selain isinya yang banyak mengkritik kebijakan pemerintah, buku setebal 188 halaman itu dipercaya bisa memecah belah persatuan rakyat Malaysia. Beberapa pernyataan Mahathir yang cukup berani dan dimuat dalam buku itu antara lain, kritikannya terhadap kebijakan ekonomi pemerintah yang disebutnya tak berpihak kepada kaum Melayu. Serta pernyataannya yang cukup menghebohkan, tentang kualitas puak Melayu yang digelarinya sebagai bangsa pemalas dan kurang bertanggung jawab.

Namun problematika Melayu di awal milenium ini, lebih dari sekedar sikap hidup mereka yang malas itu. Tetapi sesuatu yang lebih esensi dalam pembangunan karakter bangsa dan negara, yakni identitas diri. Kebingungan mereka dalam mendefinisikan arti “Melayu”, menjadi himpitan terbesar untuk melaju sebagai bangsa yang beradab dan berbudaya.

Baca entri selengkapnya »


Gajah Mada, karya Muhammad Yamin

Banyak pihak menilai, abad ke-20 merupakan masa kejayaan peradaban Minangkabau. Hal ini ditandai dengan besarnya peran mereka dalam lima lini pokok kehidupan bermasyarakat di Indonesia (dan Nusantara pada umumnya). Dari lima bidang tersebut, yakni : politik, ekonomi, budaya, ilmu pengetahuan, serta sosial keagamaan, Minangkabau telah melahirkan ratusan bahkan ribuan ahli yang kompeten di bidangnya. Para ahli itu, yang telah go internasional dan bahkan melegenda antara lain : Tan Malaka, Hatta, Sjahrir, Tuanku Abdul Rahman, Yusof Ishak (politik); Hasyim Ning, Abdul Latief, Tunku Tan Sri Abdullah (ekonomi/bisnis); Chairil Anwar, Muhammad Yamin, Sutan Takdir Alisjahbana, Usmar Ismail, Soekarno M. Noer (budaya); Emil Salim, Sheikh Muszaphar Shukor, Taufik Abdullah, Azyumardi Azra (ilmu pengetahuan); serta Agus Salim, Hamka, Natsir, Tahir Jalaluddin, Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, dan Syafii Maarif (sosial-keagamaan).

Namun dari itu, sedikit sekali orang yang mengetahui kejayaan Minangkabau di masa lampau. Menurut hasil penelitian Mochtar Naim yang dituangkan dalam disertasinya “Merantau”, sejak dahulu kala orang-orang Minang telah banyak berkontribusi dalam pembentukan peradaban Nusantara. Dan diantara mereka banyak pula yang menjadi raja ataupun pendiri sebuah kerajaan. Dalam tulisan kali ini, kita akan melihat sepak terjang raja-raja asal Minangkabau, yang memerintah di banyak negeri seantero Nusantara.

Baca entri selengkapnya »


Teritori Aceh yang meliputi Semenanjung Malaysia

Karuan saja bunyi posting Mohd. Am, salah seorang netter asal Malaysia, dalam sebuah forum dunia maya : www.topix.com. Dalam tulisannya, dia mengklaim bahwa Sumatra merupakan bagian dari Malaysia. Pernyataan ini didasarkan atas teritori Kesultanan Johor di abad ke-18, yang meliputi daratan Riau di Sumatra. Dalam konteks Riau pernah menjadi bagian Johor, memang tak ada yang salah. Namun dari judul yang diangkat : Sumatra itu Milik Malaysia, jelas merupakan bentuk provokasi yang jauh dari nilai-nilai ilmiah. Aksi ini tentu memancing banyak komentar dari para netter lainnya. Hingga tulisan ini diturunkan, telah ada 12.921 respons yang masuk ke dalam page diskusi ini. Sepanjang pengamatan saya — yang cukup sering mengunjungi website ini — mungkin posting Mohd. Am inilah yang paling banyak mendapatkan balasan.

Bukan kali pertama situs ini membuat geger masyarakat Indonesia. Sebelumnya seorang netter Malaysia lain, mengubah syair lagu Indonesia Raya dengan nada merendahkan. Merasa terhina, aksi tersebut spontan dibalas netter Indonesia, yang mengacak-acak syair lagu kebangsaan Malaysia : Negaraku. Tidak hanya itu, puluhan demonstran yang tergabung dalam kelompok Bendera, juga melempari Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta dengan plastik berisi kotoran manusia. Menurut koordinator aksi Adrian Napitupulu, tindakan tersebut perlu dilakukan sebagai bentuk balasan atas klaim dan penghinaan yang dilakukan oleh bangsa Malaysia selama ini.

Baca entri selengkapnya »


F.C Barcelona, tahun ini diperkirakan akan mengulangi prestasi Liga Champions 2009

Tanggal 28 Mei nanti, Liga Champions Eropa (d/h Piala Champions) kembali menggelar partai puncak untuk seri yang ke-56. Klub yang bertarung adalah Barcelona (Barca) kontra Manchester United (MU), dua tim unggulan yang acap wara-wiri dalam lima partai final terkahir. Pertemuan ini merupakan final ulangan dua tahun lalu, yang berkesudahan 2-0 untuk kemenangan Barca. Namun final kali ini boleh jadi ceritanya akan berbeda. Sebab MU diuntungkan oleh tempat perhelatan yang akan berlangsung di Wembley Stadium. Publik London tentunya akan memberikan dukungan penuh kepada tim asal kota Manchester itu, walaupun di kompetisi domestik mereka berseteru.

Meski MU bermain di “kandang” sendiri, namun rumah-rumah judi ternama di Eropa tetap mengunggulkan Barcelona. Masih bercokolnya para pemain yang mengantarkan Spanyol menjadi juara Piala Dunia lalu, menjadi faktor keunggulan Barca. Selain itu Barca merupakan tim langganan Liga Champions (LC). Setidaknya dalam lima tahun terakhir, Barca empat kali lolos ke babak semi final, dan meraih dua trofi juara. Faktor pelatih juga menjadi kunci keberhasilan mereka. Walau Guardiola kembali berhadapan dengan sang senior Sir Alex Fergusson, namun semangat muda dan kebersamaannya, lebih berpeluang untuk mengantarkan Barca sebagai juara. Faktor lain adalah mental anak-anak Barca yang sedang menanjak, setelah menaklukkan rival abadi mereka Real Madrid di babak semi final.

Baca entri selengkapnya »


Gereja Koinonia

Jatinegara, salah satu sudut kota Jakarta yang tak pernah lelap. Denyut kegiatan ekonominya berdegup non-stop : 24 jam. Dilihat dari keramaian dan uang yang beredar, pamornya mungkin setara dengan Tanah Abang ataupun Mangga Dua. Jatinegara yang dulunya bernama Meester Cornelis, sebelum abad ke-20 merupakan kota satelit yang terpisah dari Batavia. Pada masa itu, selain pasar sebagai tempat jual-beli, juga dibangun kantor pos, stasiun kereta, dan kantor demang. Demang Mester, begitu masyarakat menyebut penguasa “Kota Jatinegara” pada masa itu, memiliki wilayah kekuasaan yang cukup luas. Teritorinya terbentang dari Cikarang, Bekasi, Kebayoran, hingga Matraman.

Menyusuri Jalan Matraman Raya ke arah selatan, pandangan kita akan tertumbur pada gereja tua warisan kolonial Belanda : Koinonia. Gereja yang didirikan pada tahun 1911 itu, dibangun untuk melayani peribadatan jemaat Bethel. Agaknya dahulu, gereja ini menjadi simbol anti-tesis dari jemaat ultra-liberal yang berkedudukan di Immanuel, Gambir. Di seberang timur gereja, nampak Lapangan Urip Sumoharjo yang berumput plontos. Lapangan ini sebenarnya tempat berlatih raga kesatuan AD. Namun sesekali, nampak jua anak-anak kampung bermain dan mengejar-ngejar bola. Di pinggir lapangan yang bersempadan dengan Jalan Jatinegara Timur, berdiri kaki lima dengan aneka barang dagangannya. Tukang-tukang obat dengan los seadanya, mendominasi jenis perdagangan disini. Tak jauh dari situ, nampak puluhan orang sedang duduk mencangkung. Membentuk dua barisan, sambil menjajakan barang-barang bekas. Tempat itu sepertinya menjadi lokasi penampungan barang loak. Kompor bekas, sepatu bekas, sampai arloji bekas, semuanya tersedia disini.

Baca entri selengkapnya »


Mengenang 30 tahun wafatnya Buya Hamka.

Jika kita merunut daftar nama ulama Indonesia yang paling populer, maka akan muncul nama Buya Hamka di peringkat pertama. Siapa yang tak kenal dengan beliau, salah satu dari sedikit orang Indonesia yang memiliki talenta beraneka ragam. Pandai berorasi, pintar berceramah, jago berorganisasi, serta luwes dalam pergaulan. Dalam setiap profesi yang ia tekuni, entah itu sebagai ulama, sastrawan, wartawan, ataupun politisi, namanya selalu berkibar. Kepandaiannya berpidato, mampu memikat hati jutaan pendengar. Jika orang berpidato berjela-jela, yang semula enak jadi membosankan. Sedangkan Buya selagi asyik kita merenungkan uraiannya, tak terasa sudah berada di penghujung kalam. Itulah Hamka, pandai menakar dan bisa menempatkan sesuatu sesuai dengan porsinya. Sedikit yang diberikan, namun memiliki kesan cukup mendalam.

Hamka juga salah seorang yang mahir dalam menulis. Kehebatannya menorehkan tinta, setara dengan kemampuannya berpidato. Beliau termasuk salah seorang penulis yang cukup produktif. Pada tahun 1928 disaat usianya baru menginjak 20 tahun, dia telah menerbitkan buku. Sejak masa itu hingga akhir hayatnya, Hamka telah menulis lebih dari 100 judul buku. Belum lagi artikel yang terbit di berbagai media cetak nasional maupun asing, tak terbilang jumlahnya. Karya-karya tulisnya sungguh mengagumkan. Hampir semuanya menjadi best seller, dan selalu dicetak ulang oleh penerbit. Melalui magnum opus-nya : Tafsir Al-Azhar, Hamka merupakan sedikit dari orang Indonesia yang mampu menguraikan isi Al-Quran secara gamblang. Karya tafsirnya bisa disejajarkan dengan tafsir lainnya yang lahir di abad ke-20, seperti Al-Manar (karya Rasyid Ridha) dan Fi Zhilalil Quran (Sayyid Quthb).

Baca entri selengkapnya »


Plaza Indonesia tampak dari muka

Bagi sebagian orang, nama Boyke Gozali terasa asing terdengar. Namanya tak semengkilap pengusaha lain, yang wajahnya acap wara-wiri di media massa nasional. Namun siapa yang tak tahu dengan Plaza Indonesia (PI), mal papan atas ibu kota yang satu-satunya berani menjadi hi-end boutiques mall. Bersama sekondannya Franky Widjaja dan Rosano Barack, tangan dingin Boyke berhasil mengubah konsep mal yang terletak di jantung ibu kota ini, dari sekedar mal penyedia barang bermerek menjadi pusat gaya hidup kalangan atas.

Dengan konsep baru tersebut, langkah cepat dan berani terpaksa diambilnya. Salah satu keputusan yang cukup cerdas adalah tidak diperpanjangnya sewa ruang Sogo. Padahal departemen store asal Jepang ini, telah menjadi anchor brand-nya PI selama 15 tahun (1992-2007). Dia beralasan, penghentian Sogo karena ingin menciptakan sesuatu yang berbeda, differentiate product dalam istilah pemasaran. Dengan kehadiran Grand Indonesia (GI) yang persis di depan hidung, hanya diferensiasi-lah satu-satunya cara Boyke untuk memenangkan persaingan. Lagian Sogo kini bukan hanya “milik” PI semata, gerainya telah tumbuh dimana-mana. Di tanah air, jumlahnya telah melampaui dept. store papan atas lainnya seperti Debenhams, Metro, dan Seibu. Penulis mencatat, saat ini Sogo memiliki lima gerai di Jakarta, dan juga telah membuka cabang-cabangnya di Bandung, Surabaya, dan Medan. Dengan menyebarnya outlet Sogo di beberapa tempat, maka exclusive value-nya pun berkurang. Dan hal ini sangat bertentangan dengan konsep yang ingin dibangun Boyke.

Baca entri selengkapnya »


Bundaran Hotel Indonesia, downtown-nya Jabotabek

Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010, jumlah populasi Jabotabek mencapai 28 juta orang. Angka ini terlihat cukup jomplang, jika kita membandingkannya dengan wilayah metropolitan lain di Indonesia. Bandung, metropolitan kedua terbesar, hanya berpenduduk 7,6 juta jiwa; Surabaya 5,6 juta jiwa; dan Medan 4,1 juta jiwa. Dengan jumlah sebesar ini, berarti sekitar 11,8% penduduk Indonesia atau seperlima penduduk Pulau Jawa berdomisili di wilayah ini. Daerah metropolitan Jabotabek terdiri dari 10 kota serta 4 kabupaten, dengan tingkat kerapatan penduduk yang bervariasi. Wilayah selatan yakni Kabupaten Bogor, merupakan wilayah dengan penduduk cukup jarang. Sedangkan Jakarta Pusat, merupakan daerah dengan tingkat kepadatan penduduk paling tinggi. Bekasi dan Tangerang, dua daerah penyangga di bagian timur dan barat, memiliki populasi yang hampir setara.

Untuk memacu mobilitas penduduk, sejak tahun 1978 pemerintah membangun jalan bebas hambatan dari Ciawi hingga Cawang terus ke Tanjung Priok. Jalan sepanjang 60 kilometer ini, menjadi poros utama utara-selatan. Sedangkan jalan tol Jakarta-Cikampek dan Jakarta-Merak, menjadi penghubung timur dan barat. Sejak tahun 2005, jalan tol Jakarta-Cikampek telah bersambung dengan jalan tol Purbaleunyi. Sehingga mengintegrasikan wilayah Jabotabek dengan metropolitan Bandung Raya. Demi kelancaran jalan-jalan arteri di tengah kota, pemerintah juga menyediakan jalan tol Lingkar Dalam Kota dan Lingkar Luar Kota. Keduanya bergerak melingkar mengelilingi downtown Jakarta yang menjadi pusatnya. Selain jalan bebas hambatan, pemerintah kota juga membangun empat jalur rel kereta api yang melayani rute Bogor-Jakarta Kota, Bekasi-Jakarta Kota, Serpong-Jakarta Kota, serta Tangerang-Jakarta Kota. Dibanding wilayah metropolitan di belahan bumi lainnya, Jabotabek masihlah tertinggal. Angkutan massal yang menjadi salah satu prasyarat mutlak sebuah metropolitan, hanya mengandalkan Transjakarta dan KRL komuter. Monorel yang sudah berjalan pembangunannya sejak pertengahan dekade 1990-an, terhenti akbiat krisis. Sedangkan subway dan MRT, hanya berkembang dari wacana ke wacana. Hal ini menjadi kendala tersendiri bagi pertumbuhan ekonomi Jabotabek di masa mendatang.

Baca entri selengkapnya »


Massa menuntut pembubaran Jemaah Ahmadiyah

Hari ini (Kamis, 10 Februari 2011), Metro TV dalam salah satu sesi perbincangan di acara 8 – 11 Show, mengangkat tema “Stop Kekerasan Ormas”. Dalam acara itu didiskusikan akar masalah kekerasan ormas yang acapkali terjadi di negeri ini. Pagi ini juga, di hari yang sama, jaringan Radio Delta FM, juga mengangkat tema yang hampir senada. Menghadirkan wartawan senior Nuim Khaiyath, Delta mengupas sebab musabab kekerasan yang mudah terjadi di Indonesia. Banyaknya diskusi bertajuk semacam ini, dikarenakan terulangnya kembali tindak kekerasan dan kebrutalan yang mengatasnamakan Islam. Kita tahu, beberapa hari yang lalu sekumpulan massa telah melakukan penyerangan dan pembakaran di dua lokasi yang berbeda. Pertama, penyerangan terhadap Jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, dan yang kedua penyerangan terhadap gereja di Temanggung, Jawa Tengah.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan mudahnya kekerasan terjadi di tengah-tengah masyarakat kita dewasa ini. Dan dalam paparannya yang sangat menarik, Nuim Khaiyath berpendapat bahwa ketidakadilan dan tiadanya penegakan hukum, menjadi biang keladi permasalahan ini bisa terjadi. Menurutnya, amuk massa yang terjadi belakangan ini, boleh jadi merupakan salah satu bentuk amarah masyarakat atas tidak terselesaikannya beberapa kasus hukum yang melibatkan orang-orang besar. Dalam hal ini, mereka sudah tidak lagi mempercayai aparat-aparat negara, yang suka mempermainkan dan memperjualbelikan hukum. Bagi sebagian orang, jalan kekerasan tentu menjadi pilihan terbaik untuk mengapresiasikan segala kekecewaan dan himpitan yang menimpa mereka.

Baca entri selengkapnya »


Museum Batak di Balige

Diresmikannya Museum Batak oleh Presiden Yudhoyono pada hari Selasa (18/1) lalu, telah menyiratkan kesadaran baru akan identitas Batak. Melalui museum ini, peradaban Batak yang tak banyak diketahui orang, mulai coba diperkenalkan. Terkikisnya kesadaran berbudaya di tengah-tengah masyarakat Batak, telah menjadi kegundahan para tetua adat. Menurut mereka, saat ini banyak anak-anak muda yang tak lagi memahami adat istiadat Batak. Beberapa orang yang berdomisili di rantau, bahkan malu mengaku sebagai keturunan Batak, sehingga menanggalkan marga di belakang namanya.

Kesadaran akan identitas Batak memang menjadi suatu hal yang baik, di tengah-tengah derasnya arus westernisasi dan globalisasi yang menerjang bangsa ini. Namun kesadaran itu terasa agak berlebihan dan cenderung primordial. Bahkan sampai meletup dan mencederai kebersamaan di antara sub-sub etnis Batak. Kasus terhangat ialah pembentukan Propinsi Tapanuli yang akhirnya dibekukan oleh pemerintah. Dalam pembentukan propinsi tersebut akhirnya kebersamaan itu kandas, dan berujung dengan wafatnya Ketua DPRD Sumatera Utara, Abdul Azis Angkat. Majalah Tempo yang melakukan investigasi atas kasus tersebut melaporkan, bahwa pembentukan propinsi itu hanya kemauan komunitas tertentu saja. Dalam hal ini adalah masyarakat Toba, yang mendiami eks-Kabupaten Tapanuli Utara. Kerasnya keinginan mereka nampak dari penentuan ibu kota propinsi yang sebelumnya telah diputuskan di Sibolga, malah dialihkan ke Siborong-borong.

Baca entri selengkapnya »