Mengenang 30 tahun wafatnya Buya Hamka.

Jika kita merunut daftar nama ulama Indonesia yang paling populer, maka akan muncul nama Buya Hamka di peringkat pertama. Siapa yang tak kenal dengan beliau, salah satu dari sedikit orang Indonesia yang memiliki talenta beraneka ragam. Pandai berorasi, pintar berceramah, jago berorganisasi, serta luwes dalam pergaulan. Dalam setiap profesi yang ia tekuni, entah itu sebagai ulama, sastrawan, wartawan, ataupun politisi, namanya selalu berkibar. Kepandaiannya berpidato, mampu memikat hati jutaan pendengar. Jika orang berpidato berjela-jela, yang semula enak jadi membosankan. Sedangkan Buya selagi asyik kita merenungkan uraiannya, tak terasa sudah berada di penghujung kalam. Itulah Hamka, pandai menakar dan bisa menempatkan sesuatu sesuai dengan porsinya. Sedikit yang diberikan, namun memiliki kesan cukup mendalam.

Hamka juga salah seorang yang mahir dalam menulis. Kehebatannya menorehkan tinta, setara dengan kemampuannya berpidato. Beliau termasuk salah seorang penulis yang cukup produktif. Pada tahun 1928 disaat usianya baru menginjak 20 tahun, dia telah menerbitkan buku. Sejak masa itu hingga akhir hayatnya, Hamka telah menulis lebih dari 100 judul buku. Belum lagi artikel yang terbit di berbagai media cetak nasional maupun asing, tak terbilang jumlahnya. Karya-karya tulisnya sungguh mengagumkan. Hampir semuanya menjadi best seller, dan selalu dicetak ulang oleh penerbit. Melalui magnum opus-nya : Tafsir Al-Azhar, Hamka merupakan sedikit dari orang Indonesia yang mampu menguraikan isi Al-Quran secara gamblang. Karya tafsirnya bisa disejajarkan dengan tafsir lainnya yang lahir di abad ke-20, seperti Al-Manar (karya Rasyid Ridha) dan Fi Zhilalil Quran (Sayyid Quthb).

Baca entri selengkapnya »


Plaza Indonesia tampak dari muka

Bagi sebagian orang, nama Boyke Gozali terasa asing terdengar. Namanya tak semengkilap pengusaha lain, yang wajahnya acap wara-wiri di media massa nasional. Namun siapa yang tak tahu dengan Plaza Indonesia (PI), mal papan atas ibu kota yang satu-satunya berani menjadi hi-end boutiques mall. Bersama sekondannya Franky Widjaja dan Rosano Barack, tangan dingin Boyke berhasil mengubah konsep mal yang terletak di jantung ibu kota ini, dari sekedar mal penyedia barang bermerek menjadi pusat gaya hidup kalangan atas.

Dengan konsep baru tersebut, langkah cepat dan berani terpaksa diambilnya. Salah satu keputusan yang cukup cerdas adalah tidak diperpanjangnya sewa ruang Sogo. Padahal departemen store asal Jepang ini, telah menjadi anchor brand-nya PI selama 15 tahun (1992-2007). Dia beralasan, penghentian Sogo karena ingin menciptakan sesuatu yang berbeda, differentiate product dalam istilah pemasaran. Dengan kehadiran Grand Indonesia (GI) yang persis di depan hidung, hanya diferensiasi-lah satu-satunya cara Boyke untuk memenangkan persaingan. Lagian Sogo kini bukan hanya “milik” PI semata, gerainya telah tumbuh dimana-mana. Di tanah air, jumlahnya telah melampaui dept. store papan atas lainnya seperti Debenhams, Metro, dan Seibu. Penulis mencatat, saat ini Sogo memiliki lima gerai di Jakarta, dan juga telah membuka cabang-cabangnya di Bandung, Surabaya, dan Medan. Dengan menyebarnya outlet Sogo di beberapa tempat, maka exclusive value-nya pun berkurang. Dan hal ini sangat bertentangan dengan konsep yang ingin dibangun Boyke.

Baca entri selengkapnya »


Bundaran Hotel Indonesia, downtown-nya Jabotabek

Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010, jumlah populasi Jabotabek mencapai 28 juta orang. Angka ini terlihat cukup jomplang, jika kita membandingkannya dengan wilayah metropolitan lain di Indonesia. Bandung, metropolitan kedua terbesar, hanya berpenduduk 7,6 juta jiwa; Surabaya 5,6 juta jiwa; dan Medan 4,1 juta jiwa. Dengan jumlah sebesar ini, berarti sekitar 11,8% penduduk Indonesia atau seperlima penduduk Pulau Jawa berdomisili di wilayah ini. Daerah metropolitan Jabotabek terdiri dari 10 kota serta 4 kabupaten, dengan tingkat kerapatan penduduk yang bervariasi. Wilayah selatan yakni Kabupaten Bogor, merupakan wilayah dengan penduduk cukup jarang. Sedangkan Jakarta Pusat, merupakan daerah dengan tingkat kepadatan penduduk paling tinggi. Bekasi dan Tangerang, dua daerah penyangga di bagian timur dan barat, memiliki populasi yang hampir setara.

Untuk memacu mobilitas penduduk, sejak tahun 1978 pemerintah membangun jalan bebas hambatan dari Ciawi hingga Cawang terus ke Tanjung Priok. Jalan sepanjang 60 kilometer ini, menjadi poros utama utara-selatan. Sedangkan jalan tol Jakarta-Cikampek dan Jakarta-Merak, menjadi penghubung timur dan barat. Sejak tahun 2005, jalan tol Jakarta-Cikampek telah bersambung dengan jalan tol Purbaleunyi. Sehingga mengintegrasikan wilayah Jabotabek dengan metropolitan Bandung Raya. Demi kelancaran jalan-jalan arteri di tengah kota, pemerintah juga menyediakan jalan tol Lingkar Dalam Kota dan Lingkar Luar Kota. Keduanya bergerak melingkar mengelilingi downtown Jakarta yang menjadi pusatnya. Selain jalan bebas hambatan, pemerintah kota juga membangun empat jalur rel kereta api yang melayani rute Bogor-Jakarta Kota, Bekasi-Jakarta Kota, Serpong-Jakarta Kota, serta Tangerang-Jakarta Kota. Dibanding wilayah metropolitan di belahan bumi lainnya, Jabotabek masihlah tertinggal. Angkutan massal yang menjadi salah satu prasyarat mutlak sebuah metropolitan, hanya mengandalkan Transjakarta dan KRL komuter. Monorel yang sudah berjalan pembangunannya sejak pertengahan dekade 1990-an, terhenti akbiat krisis. Sedangkan subway dan MRT, hanya berkembang dari wacana ke wacana. Hal ini menjadi kendala tersendiri bagi pertumbuhan ekonomi Jabotabek di masa mendatang.

Baca entri selengkapnya »


Massa menuntut pembubaran Jemaah Ahmadiyah

Hari ini (Kamis, 10 Februari 2011), Metro TV dalam salah satu sesi perbincangan di acara 8 – 11 Show, mengangkat tema “Stop Kekerasan Ormas”. Dalam acara itu didiskusikan akar masalah kekerasan ormas yang acapkali terjadi di negeri ini. Pagi ini juga, di hari yang sama, jaringan Radio Delta FM, juga mengangkat tema yang hampir senada. Menghadirkan wartawan senior Nuim Khaiyath, Delta mengupas sebab musabab kekerasan yang mudah terjadi di Indonesia. Banyaknya diskusi bertajuk semacam ini, dikarenakan terulangnya kembali tindak kekerasan dan kebrutalan yang mengatasnamakan Islam. Kita tahu, beberapa hari yang lalu sekumpulan massa telah melakukan penyerangan dan pembakaran di dua lokasi yang berbeda. Pertama, penyerangan terhadap Jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, dan yang kedua penyerangan terhadap gereja di Temanggung, Jawa Tengah.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan mudahnya kekerasan terjadi di tengah-tengah masyarakat kita dewasa ini. Dan dalam paparannya yang sangat menarik, Nuim Khaiyath berpendapat bahwa ketidakadilan dan tiadanya penegakan hukum, menjadi biang keladi permasalahan ini bisa terjadi. Menurutnya, amuk massa yang terjadi belakangan ini, boleh jadi merupakan salah satu bentuk amarah masyarakat atas tidak terselesaikannya beberapa kasus hukum yang melibatkan orang-orang besar. Dalam hal ini, mereka sudah tidak lagi mempercayai aparat-aparat negara, yang suka mempermainkan dan memperjualbelikan hukum. Bagi sebagian orang, jalan kekerasan tentu menjadi pilihan terbaik untuk mengapresiasikan segala kekecewaan dan himpitan yang menimpa mereka.

Baca entri selengkapnya »


Museum Batak di Balige

Diresmikannya Museum Batak oleh Presiden Yudhoyono pada hari Selasa (18/1) lalu, telah menyiratkan kesadaran baru akan identitas Batak. Melalui museum ini, peradaban Batak yang tak banyak diketahui orang, mulai coba diperkenalkan. Terkikisnya kesadaran berbudaya di tengah-tengah masyarakat Batak, telah menjadi kegundahan para tetua adat. Menurut mereka, saat ini banyak anak-anak muda yang tak lagi memahami adat istiadat Batak. Beberapa orang yang berdomisili di rantau, bahkan malu mengaku sebagai keturunan Batak, sehingga menanggalkan marga di belakang namanya.

Kesadaran akan identitas Batak memang menjadi suatu hal yang baik, di tengah-tengah derasnya arus westernisasi dan globalisasi yang menerjang bangsa ini. Namun kesadaran itu terasa agak berlebihan dan cenderung primordial. Bahkan sampai meletup dan mencederai kebersamaan di antara sub-sub etnis Batak. Kasus terhangat ialah pembentukan Propinsi Tapanuli yang akhirnya dibekukan oleh pemerintah. Dalam pembentukan propinsi tersebut akhirnya kebersamaan itu kandas, dan berujung dengan wafatnya Ketua DPRD Sumatera Utara, Abdul Azis Angkat. Majalah Tempo yang melakukan investigasi atas kasus tersebut melaporkan, bahwa pembentukan propinsi itu hanya kemauan komunitas tertentu saja. Dalam hal ini adalah masyarakat Toba, yang mendiami eks-Kabupaten Tapanuli Utara. Kerasnya keinginan mereka nampak dari penentuan ibu kota propinsi yang sebelumnya telah diputuskan di Sibolga, malah dialihkan ke Siborong-borong.

Baca entri selengkapnya »


Kota-kota dagang Laut Tengah dibawah kekuasaan Venesia (merah), di tepi Imperium Turki Utsmani (hijau)

Kajian tentang sejarah ekonomi dunia yang mengaitkannya dengan pasang surut sosial politik, masih menjadi subyek langka dalam ranah studi ekonomi pembangunan. Minimnya para ekonom yang menguasai ilmu-ilmu sosial secara komprehensif, menjadi salah satu faktor penyebab hal tersebut. Dalam tulisan ini, saya mencoba memberikan sedikit gambaran mengenai sejarah panjang ekonomi dunia beserta naik-turunnya politik negara-bangsa. Sumber-sumber primer yang terbatas serta sedikitnya referensi yang bisa menjadi acuan, menjadi kendala sekaligus tantangan dalam penulisannya. Lewat buku Paul Kennedy : The Rise and Fall of the Great Powers yang sangat memukau, ditambah karya-karya Angus Maddison serta Walter Scheidel, kajian ini coba diketengahkan. Sekadar catatan tambahan, angka-angka yang tertera di bawah setara dengan kekuatan kurs USD pada tahun 1990.

Bahasan ini saya awali dari tahun 1 Masehi, dimana pada masa itu dengan pendapatan per kapita sebesar USD 809, Italia tercatat sebagai negara paling makmur di dunia. Mantapnya perekonomian Italia, disebabkan karena luasnya daerah taklukan mereka ketika itu. Secara keseluruhan luas wilayah Imperium Romawi mencapai 4 juta km2, yang meliputi tiga benua : Eropa, Asia, dan Afrika. Ditemukannya bahan-bahan mineral berharga seperti emas, besi, dan plumbum, memicu terjadinya industrialisasi besar-besaran. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Walter Scheidel, pendapatan domestik bruto Kerajaan Romawi pada masa jayanya (tahun 150 masehi) mencapai angka USD 43,4 milyar. Dengan kekuasaan politik yang absolut, kekayaan negeri-negeri di sekeliling Laut Tengah dibawa pulang ke Italia. Boleh jadi politik sentralistik macam inilah yang menjadi sumber kemakmuran mereka.

Baca entri selengkapnya »


Spanduk pendukung Nurdin. Bangga Timnas ke final Piala AFF

Sudah 7 tahun lebih duet Nurdin Halid-Nugraha Besoes memimpin PSSI. Namun prestasi yang ditunggu-tunggu pecinta sepak bola tanah air, tak jua kunjung tiba. Prestasi terakhir yang ditorehkan oleh tim nasional (timnas) Indonesia adalah pada tahun 1991, ketika berhasil keluar sebagai juara SEA Games di Filipina. Saat itu PSSI dipimpin oleh Kardono, yang didapuk sejak tahun 1983. Pada periode 1991-1999, PSSI dipimpin oleh Azwar Anas. Di bawah kepemimpinannya ia berhasil mengantarkan Indonesia untuk kali pertama tampil di Piala Asia (1996). Pada era ini pula ranking tim nasional Indonesia berhasil mencapai peringkat tertinggi sejak masa kemerdekaan, yakni di urutan 76. Selain pelatih, faktor lain seperti kompetisi dan pembinaan usia muda turut mempengaruhi pencapaian ini. Seperti diketahui Azwar berhasil mempersatukan dua kompetisi terbesar saat itu, Galatama dan Perserikatan, menjadi satu kompetisi : Liga Indonesia. Sayang ! pada tahun 1998 ia mengundurkan diri karena skandal sepak bola gajah. Jabatannya kemudian diisi oleh Agum Gumelar.

Setelah kepemimpinan Agum berakhir, sejak tahun 2003 PSSI diketuai oleh Nurdin Halid. Ia memang berhasil membawa Indonesia dua kali berlaga di Piala Asia. Namun hasilnya seperti yang sudah-sudah, belum beranjak dari fase penyisihan grup. Pasca keikutsertaan itu prestasi Indonesia terus mandeg, bahkan cenderung menurun. Contoh terakhir adalah pada turnamen Piala AFF yang digelar sejak 1 Desember 2010 lalu. Hingga tulisan ini diturunkan, posisi Indonesia tertinggal 0-3 dari Malaysia, setelah bermain pada laga final leg pertama di Stadion Bukit Jalil, Malaysia. Skuad Garuda yang perkasa, seolah-olah tak berdaya menghadapi Mohammad Shafee dan kawan-kawan. Lini belakang tim nasional yang biasanya kokoh, kali ini compang-camping dibuatnya. Maman Abdurrahman dan Hamka Hamzah, sering membuat kesalahan-kesalahan elementer. Posisi striker-pun setali tiga uang. Duet Gonzales-Yongki, yang kemudian berganti dengan Irfan-Bambang, mandul bak perawan tua.

Baca entri selengkapnya »


Heboh-heboh WikiLeaks di penghujung tahun 2010 ini, menjadi fenomena bagi zaman kebebasan. Sebagian orang berpendapat, kemunculan WikiLeaks merupakan bentuk dari radikalisme kebebasan. Sebagian lagi menilai, ini merupakan kebebasan yang sejati. Seperti halnya Lehman Brothers dan skema ponzinya Madoff, WikiLeaks merupakan produk dari liberalisme.

Sejarah telah mencatat, sejak satu abad lampau Amerika dan konco-konconya di Eropa, merupakan promotor terpenting dari program demokratisasi dan liberalisasi ke seluruh dunia. Tidak ada satupun negara yang alpa dan absen dari mega-proyek tersebut. Tak terkecuali negara-negara komunis dan kerajaan-kerajaan yang tertutup. Dalam proyek ini Barat meminta (bahkan memaksa) negara-negara lain, agar melakukan transparansi dan kebebasan. Satu abad berlalu, dunia benar-benar menjalankan kebebasan itu : liberalisasi ekonomi, liberalisasi informasi, dan liberalisasi agama.

Baca entri selengkapnya »


Pantai Kuta, Bali

Baru-baru ini Majalah SWA bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) menyelenggarakan survei dalam rangka Indonesia Tourism Award (ITA) 2010. Kegiatan ini terselenggara untuk yang kedua kalinya, sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan pariwisata Indonesia. Dalam hasil survei itu terlihat bahwa Denpasar, Bali merupakan kota terfavorit (the most favourite cities) pilihan responden. Selain itu dua daerah wisata Bali lainnya, yakni Bedugul dan Pantai Sanur terpilih sebagai daerah tujuan wisata paling favorit (the most favourite destination cities).

Tak beranjaknya daerah tujuan wisata utama kita dari Pulau Dewata, menandakan tak adanya perkembangan berarti pariwisata di daerah lain. Hal ini diperkuat oleh timpangnya jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang mengunjungi Bali dibanding dengan propinsi-propinsi lainnya. Berdasarkan data Kemenbudpar 2009, tercatat bahwa Bali dikunjungi oleh sekitar 2,38 juta wisman atau 37,7% dari total seluruh wisman yang berkunjung ke Indonesia. Banyak faktor yang menghambat perkembangan pariwisata di daerah-daerah lain. Salah satunya adalah sarana seperti hotel, restoran, dan klub-klub malam. Selain itu kemudahan wisatawan menjangkau wilayah tersebut, juga menjadi faktor penentu sukses tidaknya pariwisata di daerah itu.

Baca entri selengkapnya »


Seorang peneliti Indonesia dari luar, bisa dimaafkan kalau mengira bahwa dua budaya besar Nusantara adalah Jawa dan Minangkabau. Apabila kita menyimak nama-nama dalam buku-buku sejarah atau membuat daftar orang-orang yang telah membentuk budaya nasional, kedua kelompok etnik ini akan terlihat menonjol. Pakar-pakar kolonial Belanda menempatkan orang Minangkabau dari Sumatera Barat – dianggap dinamik, berwawasan ke luar, dan bertauhid – sebagai imbangan terhadap orang Jawa yang feodal, involutif, dan sinkretik keagamaannya. […]

[…] Jadi, adalah menakjubkan bahwa ternyata pada 1930 orang Jawa mencapai 47 persen penduduk Hindia Timur Belanda. Ditambah lagi orang Sunda di Jawa Barat dan Madura – ketiga kelompok etnis yang bersama-sama dipandang negara sebagai jantung budayanya – maka jumlahnya mencapai 70 persen penduduk. Pada masa itu, orang Minangkabau hanya 3,36 persen penduduk Hindia, kurang dari dua juta orang. Mengingat dominasi orang Jawa ini, adalah mengherankan bahwa orang Minangkabau, suatu wilayah kecil dan marginal dalam suatu kepulauan besar, begitu meraksasa dalam sejarah nasional. Jumlah besar orang Minangkabau dalam daftar orang-orang ternama Indonesia, belum pernah terjelaskan dengan memuaskan.[…]

Dan pertanyaan (baca : permasalahan) inilah, yang coba dijawab oleh Jeffrey Hadler melalui bukunya, “Sengketa Tiada Putus” (Freedom Institute, 2010). Karya ini pada mulanya merupakan disertasi Hadler untuk meraih gelar PhD di Cornell University. Dan kemudian atas inisiatif penerbit kampus, karya ini dibukukan dengan mengambil judul, Muslim and Matriachs : “Cultural Resilience in Indonesia through Jihad and Colonialism” (Cornell University Press, 2008).

Baca entri selengkapnya »