Karikatur Dahlan Iskan (sumber : alomet.net)

Karikatur Dahlan Iskan (sumber : alomet.net)

Kalau Anda berlangganan koran Jawa Pos, dan membaca tulisan-tulisan Dahlan Iskan pada halaman pertama, mungkin Anda akan merasa optimis mengenai keberlangsungan Republik ini. Bagaimana tidak, lewat tulisan itu, Pak Dis — sapaan akrab Dahlan Iskan — mampu memberikan harapan dan gairah baru bagi Indonesia. Semua urusan Perusahaan Negara (baca : BUMN) yang karut-marut selama beberapa tahun belakangan ini, selalu ada saja solusinya. Kita tahu, banyak perusahaan-perusahaan negara yang selama ini dikelola asal-asalan. Selain korupsi yang meruyak, banyak manajemen BUMN diisi orang-orang yang tak kompeten. Sehingga hampir sebagian besar perusahaan milik negara mengalami kerugian.

Salah satu perusahaan plat merah yang mengalami kerugian cukup besar adalah Pertamina. Perusahaan petroleum kebanggaan bangsa ini tidak hanya kalah di pasaran luar negeri, namun juga keok dalam memenuhi permintaan dalam negeri. Untuk menyiasatinya, maka Dahlan bersama tim manajemen Pertamina telah bersepakat membentuk “Brigade 200 K”. Pasukan ini bertujuan untuk meningkatkan produksi minyak Pertamina mencapai 200.000 barel per hari dalam waktu dua tahun. Selama ini Pertamina memang keteteran dalam memenuhi permintaan. Namun selama itu pula tak ada seorang-pun dari pihak Kementeriaan BUMN yang mau menuntasan permasalahan ini. Kini setelah Pak Dis menggebrak anak-anak muda Pertamina untuk meningkatkan angka produksi, maka diharapkan dua tahun mendatang Pertamina sudah bisa menjadi raja di kawasan ASEAN.

Baca entri selengkapnya »


Asia Hemisfer Baru Dunia

Jika Anda berbicara mengenai kebangkitan Asia 30 tahun lalu, mungkin sebagian orang tidak akan percaya, kalau hal itu bisa terwujud pada dekade kedua abad ini. Catatan yang memperlihatkan pertumbuhan ajaib China, India, dan Asia Tenggara dalam sepuluh tahun terakhir, memberikan bukti bahwa kebangkitan Asia bukan isapan jempol belaka. Bank Dunia memperkirakan bahwa di pertengahan abad ini, empat dari lima negara ekonomi terbesar dunia akan berada di Asia. Padahal 20 tahun lalu, hanya satu negara Asia yang masuk ke dalam jajaran lima besar. Selebihnya berada di Eropa (3 negara) dan Amerika (1).

Cerita sukses mengenai kebangkitan Asia ini, banyak dipaparkan oleh para ahli ekonomi dan politik internasional. Salah satunya ialah Kishore Mahbubani yang menulis secara gamblang dalam buku : The New Asian Hemisphere. Beruntung bagi pembaca Indonesia, di bulan November 2011 lalu buku ini telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, dan diterbitkan oleh penerbit buku Kompas dengan judul : Asia Hemisfer Baru Dunia. Buku ini merupakan salah satu best seller di toko-toko buku seluruh Asia. Namun kurang bergairah di sebagian besar negara Barat. Itu sebabnya pada sampul bagian dalam edisi Indonesia, buku ini menyorongkan pernyataan : perlunya bangsa-bangsa Barat melangkah keluar zona nyaman mereka dan menyiapkan peta mental baru untuk dapat memahami kebangkitan Asia.

Baca entri selengkapnya »


Kemacetan di Jalan Rasuna Said (sumber : mediaindonesia.com)

Kemacetan di Jalan Rasuna Said (sumber : mediaindonesia.com)

Sebagai megapolitan nomor dua di dunia, Jakarta tak pernah lepas dari persoalan kemacetan lalu lintas. Seperti halnya Tokyo, Bangkok, dan New York City, traffic jam di Jakarta tergolong sangat akut. Perlu suatu terobosan luar biasa, untuk mengatasi persoalan ini. Sebenarnya problem kemacetan di Jakarta bukanlah hal yang baru. Namun sudah lima kali gubernur Jakarta silih berganti, permasalahan ini tak kunjung berakhir. Yang terjadi justru sebaliknya. Jalan-jalan di ibu kota, dari waktu ke waktu malah semakin padat. Berdasarkan data statistik, pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta setiap tahunnya mencapai 9,5%. Angka ini tak sebanding dengan pertumbuhan panjang jalan raya, yang hanya berkisar 0,01% per tahunnya.

Sudah bermacam-macam cara yang ditempuh pemerintah untuk mengatasi kemacetan di ibu kota. Pada masa gubernur Wiyogo Atmodarminto, pemerintah menerapkan sistem 3 in 1 di kawasan segi tiga emas. Setiap mobil yang melintasi Jalan Sudirman, Thamrin, dan Gatot Subroto, wajib berisi minimal tiga orang. Kemudian di periode kepemimpinan gubernur Sutiyoso, pemerintah kembali melakukan terobosan, yakni dengan membangun jaringan bus rapid transit. Bus yang dikenal dengan nama Transjakarta ini, memiliki lajur dan halte tersendiri. Sampai saat ini, sudah 11 koridor yang selesai dibangun. Koridor 12, yang menghubungkan Tanjung Priok dengan Pluit, sedang dalam tahap penyelesaian. Diluar kebijakan tersebut, Dinas Pekerjaan Umum DKI juga telah banyak membangun jalan layang serta terowongan. Namun semua itu tak bisa menyelesaikan persoalan kemacetan secara menyeluruh.

Baca entri selengkapnya »


KLCC Park

KLCC Park

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali kami pergi ke kawasan Chow Kit. Meski hujan rintik-rintik, namun hal itu tak menghalangi kami untuk mencari sarapan ala Minangkabau. Pagi itu belum banyak toko yang buka, kecuali warung kelontong dan beberapa kedai makan. 10 menit berjalan kaki, kami tiba di simpang Jalan Raja Alang. Belok kanan ke arah Kampung Bahru, kami berjumpa Rumah Makan Seri Garuda Emas. Restoran ini adalah salah satu kedai makanan Minang di Kampung Bahru, yang dikelola oleh perantau asal Padang Panjang. Setelah melihat-lihat daftar menu, kami memesan tiga piring lontong sayur beserta teh manis. Masih belum kenyang! Kami membungkus dua buah roti bom dan teh tarik. Tambahannya kami membeli lagi tiga potong pisang goreng beserta ketan di kedai seberang jalan.

Jalan Raja Alang dan kawasan Chow Kit pada umumnya, dikenal sebagai pemukiman masyarakat Indonesia. Disini selain bermukim etnis Minangkabau, banyak pula pendatang asal Aceh dan Pulau Jawa. Di Pasar Chow Kit yang terletak di tepi Jalan TAR, hampir seluruh pedagangnya berasal dari Indonesia. Produk-produk yang dijualnya-pun kebanyakan buatan Indonesia. Sebut saja rokok Dji Sam Soe, kecap ABC, Mie Sedaap, Indomie, hingga tabloid Bola, semuanya ada disini. Banyaknya orang Indonesia yang tinggal di kawasan Chow Kit, sehingga warga setempat menjulukinya sebagai Little Jakarta.

Baca entri selengkapnya »


Jalan Tuanku Abdul Rahman, Kuala Lumpur

Jalan Tuanku Abdul Rahman, Kuala Lumpur

Dari Malaka kami menyarter taksi ke Kuala Lumpur. Karena hari itu hari Minggu, kami dikenakan biaya sebesar RM 200. Jarak Malaka-Kuala Lumpur sekitar 145 km, atau biasa ditempuh dalam waktu 2 jam. Suasana perjalanan ke Kuala Lumpur, tak ubahnya dari Johor Bahru ke Malaka. Kiri-kanan jalan dipenuhi oleh pepohonan yang didominasi kelapa sawit. Lepas gerbang tol Kajang, pemandangan agak sedikit berubah. Rumah-rumah penduduk dan pertokoan, mulai banyak terlihat. Di kejauhan nampak menyembul gedung kembar Petronas Tower.

Pukul 13.15 kami tiba di penginapan. Di Kuala Lumpur kami menginap di Tune Hotel, sebuah penginapan low budget yang dikembangkan Tony Fernandes. Letaknya cukup strategis. Di simpang empat antara Jalan Tuanku Abdul Rahman (Jalan TAR) dan Jalan Sultan Ismail. Sehabis sholat zuhur, kami mencari makan di sekitaran hotel. Tak jauh dari sana, kami bersua warung Nasi Kandar Kudu bin Abdul. Di Kuala Lumpur, Nasi Kandar cukup terkenal. Di setiap penjuru kota, dengan mudahnya kita menjumpai warung nasi khas India-Muslim itu.

Baca entri selengkapnya »


Sungai Malaka

Sungai Malaka

Meninggalkan City Plaza di Jalan Geylang, bus berlari kencang melintasi Singapore Highway. Satu jam berada di atas bus, kami tiba di titik pemeriksaan keluar Singapura. Meski banyak turis yang meninggalkan kota ini, namun pemeriksaan disini tak berlangsung lama. Setelah 20 menit menjalani pengecekan, bus kembali berangkat. Lepas dari gedung checkpoint Woodland, kami langsung disambut oleh pemandangan Selat Johor yang menawan. Di kejauhan nampak pemukiman masyarakat Suku Laut, berupa rumah-rumah terapung. Tuntas menyeberangi selat sejauh satu kilometer, kami tiba di checkpoint Johor Bahru. Berbeda dengan kantor imigrasi Singapura yang bersih dan tertib, di Johor Bahru suasananya bertolak belakang. Selain petugasnya yang nampak santai, kebersihan disini sangat memprihatinkan. Saya yang sempat “membongkar sauh” di kamar kecil, melihat genangan air dengan jentik nyamuk yang bertebaran.

Jonker Street

Jonker Street

Setelah menempuh perjalanan selama 5 jam 20 menit, kami tiba di Malaka Sentral Bus. Tempat ini merupakan terminal bus antar kota yang juga menjadi pangkalan “kereta sewa” (taksi). Karena hari sudah malam, kami putuskan untuk menyewa taksi tak bermeter. Setelah terjadi deal dengan pemilik taksi, kamipun menuju penginapan. Jarak antara terminal dengan penginapan tak terlalu jauh. Jika menggunakan taksi bermeter, ongkos yang dibayar tak sampai RM 15. Namun pada malam itu, kami harus merogoh kocek hingga RM 20.

Baca entri selengkapnya »


Sungai Singapura dengan latar belakang Esplanade Theatres

Sungai Singapura dengan latar belakang Esplanade Theatres

Kali ini pelancongan kami sekeluarga, menuju negeri-negeri Melayu di tepi Selat Malaka. Dalam kunjungan singkat memanfaatkan masa cuti bersama, kami melawat ke tiga kota sekaligus : Singapura, Malaka, dan Kuala Lumpur. Kami berangkat menggunakan maskapai Tiger Airways. Dari Cengkareng pesawat lepas landas pukul 11.35 WIB dan mendarat di Singapura jam 14.05 waktu setempat. Terdapat perbedaan waktu lebih cepat satu jam antara Singapura dengan Jakarta.

Kami turun di Terminal 2 Bandara Internasional Changi. Dibandingkan dengan airport Cengkareng, bandara ini terasa lebih besar dan modern. Walau dari segi arsitektur dan tata letak ruangan, Soekarno-Hatta masih lebih unggul. Siang hari itu Changi tak terlampau padat. Kami bisa leluasa berfoto-foto, sambil memandangi lalu lalang kapal terbang. Di pintu-pintu garbarata, nampak beberapa petugas sedang memberi arahan kepada penumpang yang baru turun. Karyawan di bandara ini cukup disiplin. Tak ada satupun dari mereka yang nampak berleha-leha dan ngobrol ketika sedang bertugas.

Baca entri selengkapnya »


Lanskap kota Pekanbaru. Nampak Menara Dang Merdu (kiri) dan Perpustakaan Soeman Hs (tengah)

Jika Anda membandingkan wajah Pekanbaru saat ini dengan 15 tahun lampau, maka Anda akan tercengang melihat perubahan yang terjadi. Pada tahun 1997 lalu, Pekanbaru masih relatif terbelakang. Dibanding dengan kota-kota menengah lainnya di Indonesia, perkembangan ibu kota Riau ini terasa jalan di tempat. Dengan jumlah penduduk kurang dari 500.000 jiwa, hanya ada satu sentra keramaian, yakni Pasar Pusat. Ketika itu real estat dan hunian vertikal belum berkembang. Rumah toko-pun bisa dihitung dengan jari. Tak banyak orang yang mau berkunjung ke kota ini, kecuali hendak menjumpai sanak saudara mereka. Penerbangan langsung hanya ada dari Jakarta dan Batam. Itupun satu hari sekali penerbangan.

Namun tengoklah kini! Pekanbaru telah bersalin rupa. Gedung-gedung bertingkat serta mal yang menjadi ciri metropolitan, tumbuh bak cendawan di musim hujan. Tak lama lagi, Jalan Jenderal Sudirman di pusat kota akan menjadi hutan beton. Selain hotel dan perkantoran, apartemen bertingkat juga terlihat banyak dibangun. Tak hanya itu, gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat-pun ikut berubah. Jika sebelumnya warga Pekanbaru cuma bisa berbelanja di pasar-pasar tradisional, maka kini mereka dapat membeli kebutuhan sehari-hari di toko berpendingin ruangan. Sebab beberapa kulakan besar seperti Giant, Lotte Mart, dan Hypermart telah menancapkan kukunya disini. Disamping restoran-restoran siap saji, Starbucks yang menjadi simbol kaum urban tak ketinggalan untuk membuka gerainya disini. Hal ini seiring dengan bertumbuhnya pendapatan masyarakat Pekanbaru yang dari tahun ke tahun semakin meningkat.

Baca entri selengkapnya »


Anggun C. Sasmi (sumber : kapanlagi.com)

Siapa yang tak kenal Anggun C. Sasmi, penyanyi Indonesia yang sukses berkarier di blantika musik mancanegara. Wanita kelahiran Jakarta 29 April 1974 ini, berhasil menggapai mimpi-mimpinya setelah pergi merantau ke Perancis. Atas bantuan seorang produser besar : Erick Benzi, pada tahun 1997 Anggun meluncurkan album internasional pertamanya yang berjudul “Au nom de la lune”. Di bawah bendera Sony Music International, album ini dipasarkan di 33 negara dan mencetak penjualan cukup besar. Lagu “Snow on the Sahara” yang berhasil meraih peringkat pertama dalam tangga lagu Asian United Chart, French Airplay Chart, dan Italian Singles Chart, merupakan singel terfavorit pada album tersebut.

Lewat album ini pula namanya mulai meroket. Di ajang penghargaan tertinggi industri musik Perancis, Victoires de la Musique, Anggun masuk nominator sebagai “Pendatang Baru Terbaik”. Berkat kesuksesannya itu, ia beberapa kali diwawancarai televisi Amerika dan tampil dalam salah satu acara bergengsi : The Rosie O’Donnell Show. Selama berkarier, ia telah menghasilkan lima album internasional yang dinyanyikan dalam beberapa bahasa. Anggun juga memperoleh banyak penghargaan, seperti Diamond Export Award, The Cosmopolitan Asia Women Award, dan The Women Inspire Award. Namun dari semua penghargaan itu, yang paling mengesankan adalah Chevalier des Arts et Lettres dari pemerintah Perancis. Penghargaan ini merupakan sebuah pengakuan atas kontribusinya dalam menyebarkan kultur Perancis ke seluruh dunia.

Baca entri selengkapnya »


Pertambangan batu bara milik PT Bumi Resources Tbk

Sejak diumumkannya penyelidikan oleh Bumi Plc atas dugaan penyimpangan keuangan dan operasi anak perusahaannya : PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), sebagian saham perusahaan grup Bakrie turun tajam. Selain BUMI dan BRAU, penurunan juga terjadi pada saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan PT Viva Media Asia Tbk (VIVA). Sedangkan untuk saham PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA), dalam beberapa hari terakhir tidak terjadi transaksi. Kedua saham ini telah menyandar di posisi Rp 50, atau berada pada harga terbawah saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Di Bursa London, saham Bumi Plc juga terkena koreksi tajam. Emiten yang sebelumnya bernama Vallar Plc ini, tertekan 46,33% pada perdagangan 21 dan 24 September 2012.

Berdasarkan informasi yang beredar, rencana penyelidikan oleh Bumi Plc itu bermula dari adanya dugaan penyelewengan penggunaan dana pengembangan BUMI sebesar USD 247 juta dan biaya eksplorasi BRAU sebanyak USD 390 juta. Kedua pengeluaran tersebut tidak tercantum dalam laporan keuangan Bumi Plc pada akhir tahun 2011. Dalam pengumuman resminya tanggal 24 September 2012, Bumi Plc hanya mengatakan telah terjadi penyimpangan dana di dua anak usahanya, tanpa merinci obyek penyimpangan tersebut. Meskipun begitu, langkah Bumi Plc yang hendak melakukan investigasi dianggap sebagian pihak terlalu terburu-buru. Apalagi jika sumber informasinya belum jelas benar. Pembelian BUMI oleh Vallar Plc pada tahun 2010 lalu, mestinya sudah melalui proses uji tuntas (due diligence). Dan jika kini terjadi penyelewengan, seharusnya sebelum melakukan pembelian, Vallar Plc sudah bisa mencium adanya gelagat yang kurang baik. Ini malah mereka yang berambisi untuk masuk sebagai pemegang saham BUMI. Kejanggalan lain adalah dibeberkannya perkara ini ke khalayak ramai, sehingga terjadi kasak-kusuk di kalangan investor. Padahal kasus ini sebenarnya adalah urusan internal antara induk dan anak perusahaan, yang seharusnya bisa diselesaikan di dalam.

Baca entri selengkapnya »