Kesawan, Medan (1920)

Kesawan, Medan (1920)

Masa-masa akhir pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, ditandai dengan tumbuhnya kota-kota baru di Indonesia. Dari sekian banyak daerah rural yang kemudian berkembang menjadi kota, Medan merupakan salah satu wilayah yang mencatatkan pertumbuhan cukup pesat. Berdasarkan sensus penduduk tahun 1905, penduduk Medan hanyalah berjumlah 3.191 orang. Dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Sumatera, angka ini jauh di bawah populasi Palembang (50.703 jiwa) dan Padang (39.542 jiwa). Namun dalam jangka waktu 50 tahun, Medan tumbuh menjadi kota terbesar di Sumatera. Dari hasil perhitungan tahun 1955, populasi kota Medan sudah mencapai 310.569 jiwa. Jumlah ini telah melampaui Padang (118.172 jiwa) dan Palembang (287.134 jiwa), serta menempatkannya sebagai kota terpadat keenam di Indonesia (Lihat tabel 1).

Tak hanya jumlah penduduk yang berkembang, dinamika etnisitas juga terjadi di kota ini. Dari hasil volkstelling tahun 1930, terlihat bahwa etnis Tionghoa merupakan kelompok terbesar di kota Medan. Dengan komposisi mencapai 35,6% dari keseluruhan penduduk kota, Medan menjadi kota dengan konsentrasi etnis Tionghoa terbesar di Indonesia. Berdasarkan catatan Justian Suhandinata, sebagian besar orang Tionghoa yang bermukim disini berasal dari kelompok Hokkian, dengan profesi sebagai pedagang dan buruh perkebunan. Namun pada tahun 1932, pemerintah kolonial menghentikan perekrutan buruh dari daratan China dan Negeri-negeri Selat (Penang dan Singapura). Akibatnya, buruh kontrak dari Jawa mengisi kebutuhan lahan-lahan perkebunan di Deli Serdang. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan komposisi etnis, dimana suku Jawa kemudian menjadi kelompok masyarakat terbesar di Medan. Pada tahun 1930, populasi orang Jawa hanya seperempat penduduk kota. Jumlah ini terus meningkat hingga mencapai sepertiga di tahun 2000.

Baca entri selengkapnya »


Jalan Pasteur

Beginilah suasana Bandung di akhir pekan : ramai, riuh, dan meriah. Sejak dibukanya tol Cipularang tahun 2005 lalu, Bandung bagaikan magnet bagi para shopaholic. Khususnya buat pecinta fesyen. Tak hanya warga Jakarta yang berburu barang-barang murah, orang Malaysia dan Singapura-pun ikut membelanjakan uangnya disini. Malah sebagian warga Malaysia, merasa lebih kerasan berbelanja disini tenimbang di Bangkok. Selain faktor budaya, banyaknya pilihan busana serta makanan halal, menjadi alasan mereka untuk melancong ke Bandung. Mengutip data Badan Promosi Pariwisata Daerah Jawa Barat, pada periode Januari – Oktober 2013 terdapat 96.000 wisatawan asal Malaysia yang mendarat di Bandung. Angka ini belum termasuk jumlah pelancong yang melalui Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Berdasarkan pengamatan penulis, dalam tiga tahun terakhir setidaknya lebih dari 120.000 wisatawan Malaysia yang datang ke Bandung setiap tahunnya.

Baca entri selengkapnya »


Jalan Malioboro, Jogjakarta

Jalan Malioboro, Jogjakarta

Dari hari ke hari makin banyak saja pengguna kendaraan bermotor di jalan raya. Tak hanya di kota-kota besar, namun juga di kota-kota kecil hingga ke pedesaan. Orang-orang perlahan mulai meninggalkan kebiasaan lamanya : bersepeda, naik delman, atau berjalan kaki. 45 tahun lalu di Jogjakarta, naik andong merupakan lambang orang berpunya. Di Payakumbuh semasa itu, para pegawai yang bersafari merasa terlihat gagah ketika bersepeda. Begitu pula halnya di Pulau Bali, ibu-ibu penjual salak dengan suka hati berjalan kaki menuju Pasar Sukawati. Tetapi itu dulu, cerita masa saisuk.

Kini sebagian masyarakat lebih memilih untuk membawa kendaraan. Alasannya selain lebih praktis, juga mudah dan cepat. Disamping itu, sekarang membeli kendaraan tak terlampau mahal. Terlebih sejak kredit kendaraan bermotor mudah didapat. Namun jika kita amati secara serius, ternyata bukan itu saja yang membuat orang beralih untuk berkendara. Faktor lainnya adalah kurangnya sarana bagi masyarakat yang memilih untuk tak berkendara. Di beberapa kota besar, masih banyak kita jumpai ruas jalan yang tak memiliki trotoar. Ataupun kalau ada, lebarnya tak seberapa dan penuh dengan pedagang asongan.

Baca entri selengkapnya »


Sampul Buku "Manusia Indonesia"

Sampul Buku “Manusia Indonesia”

Manusia Indonesia : Sebuah Pertanggungjawaban adalah judul pidato kebudayaan yang disusun oleh wartawan-budayawan Indonesia, Mochtar Lubis. Pidato ini kemudian dibacakannya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada tanggal 6 April 1977. Meski menerima kritik dari banyak pihak, salah satunya dari Margono Djojohadikusumo (kakek Prabowo Subianto), namun pidatonya itu mendapat tempat di hati banyak pendengar. Oleh karenanya pada tahun 2001, Yayasan Obor Indonesia perlu menerbitkannya dalam bentuk buku. Mungkin sebagian Anda akan bertanya-tanya. Mengapa buku ini baru terbit di tahun 2001, setelah 24 tahun pidato itu dibacakan. Saya mengira mungkin karena isi pidatonya yang terlampau keras. Jika dibaca secara tersirat, agaknya pidato itu ditujukan kepada kawula Orde Baru, yang dianggapnya cukup sesuai dengan enam kriteria manusia Indonesia yang diuraikannya itu. Untuk menghindari terjadinya kesewenang-wenangan pihak penguasa, penerbit memilih untuk merilisnya setelah rezim Orde Baru tumbang. Entah iya entah tidak itu alasannya, wallahualam bi shawab.

Dari subjek yang diambil, boleh jadi ini merupakan buku pertama yang mencatat kepribadian manusia Indonesia, atau lebih tepatnya “manusia Orde Baru”. Dalam buku tersebut disebutkan terdapat enam ciri manusia Indonesia, yakni:
1. Munafik atau hipokrit
2. Enggan dan segan bertanggungjawab atas perbuatannya.
3. Bersikap dan berperilaku feodal.
4. Percaya takhyul.
5. Artistik, berbakat seni.
6. Lemah watak atau karakternya.

Baca entri selengkapnya »


Kawasan Batu Uban, Penang. Basis utama pedagang Minang di Selat Malaka pada abad ke-18 (sumber : http://www.thestar.com.my)

Kawasan Batu Uban, Penang. Basis utama pedagang Minang di Selat Malaka pada abad ke-18 (sumber : http://www.thestar.com.my)

Sudah sejak lama Tanah Malaya di seberang Selat Malaka menjadi rantau tradisional bagi kaum Minangkabau. Menyusuri sungai-sungai besar di rantau timur : Rokan, Siak, Kampar, Indragiri, dan Batanghari, mereka mengembangkan koloni dagang di pesisir timur Sumatera terus ke pantai barat Semenanjung Malaya. Dalam bukunya yang berjudul Economic Change in Minangkabau as a Factor in the Rise of the Padri Movement, 1784 – 1830, Christine Dobbin mencatat bahwa perpindahan orang-orang Minang ke Tanah Malaya telah berlangsung sejak abad ke-15. Kedatangan mereka pada mulanya untuk mencari bongkahan emas dan menjual senjata hasil olah tangan para perajin Luhak nan Tigo (dataran tinggi Minangkabau). Hal ini berlangsung selama masa kejayaan Kesultanan Malaka hingga tahun 1511. Setelah Portugis menguasai Malaka, perdagangan emas Minangkabau masih terus berlanjut, meski jumlahnya sudah mulai menurun. Saudagar-saudagar Minangkabau-pun yang sebelumnya banyak berkumpul di sekitar istana sultan, satu per-satu mulai hengkang meninggalkan Malaka. Sebagian mereka pindah ke kawasaan Johor, dan sebagian lagi menyebar ke pulau-pulau lain di Nusantara.

Selain Dobbin, yang juga menarik untuk disimak adalah karya sejarawan Cornell University, Leonard Andaya. Dalam buku yang berjudul Leaves of the Same Tree : Trade and Ethnicity in the Straits of Melaka, ia menulis bahwa pada tahun 1600 di Johor telah banyak saudagar Minang yang berdagang emas. Seperti halnya di belahan lain Nusantara, para pengusaha Minang tak hanya fokus pada urusan bisnis semata. Mereka juga terlibat dalam kegiatan sosial, keagamaan, dan politik tempatan. Di Johor setelah kematian Sultan Mahmud Shah II (tahun 1699), banyak pedagang Minang yang terjun ke dunia politik dan ikut dalam perebutan kekuasaan. Melalui Raja Kecil yang diutus oleh Pagaruyung, para pedagang Minang berhasil menguasai Kesultanan Johor (1718-1723), sebelum akhirnya dikudeta oleh Raja Sulaiman beserta pasukan Bugis. Kalah dalam pertarungan, Raja Kecil mundur ke daratan Riau dan mendirikan Kesultanan Siak. Sedangkan di Semenanjung, para pedagang Minang makin terjepit dan hanya mampu menguasai negeri-negeri yang kini tergabung dalam konfederasi Negeri Sembilan.

Baca entri selengkapnya »


Hasil Survei Capres 2014 versi Kompas (sumber : kompas.com)

Hasil Survei Capres 2014 versi Kompas (sumber : kompas.com)

Pendulum politik 2014 mulai menghangat. Beberapa lembaga survei seolah-olah berebut untuk menayangkan hasil riset mereka yang terkini. Dari sekian nama calon presiden, tercelak nama Joko Widodo (Jokowi). Gubernur Jakarta yang baru menjabat setahun terakhir. Namanya tak hanya melampaui pimpinannya : Megawati, namun juga telah menyalip Prabowo Subianto, jenderal yang digadang-gadang bakal menggantikan SBY di tahun 2014 nanti. Dari hasil survei LSI sepanjang bulan Oktober 2013, tercatat nama Jokowi berada di urutan pertama dengan tingkat dukungan sekitar 38,3%; diikuti oleh Prabowo Subianto (11,1%) dan Wiranto (10%). Melihat hasil survei tersebut, tentu ada pihak yang merasa senang dan ada yang tak senang. Selain para pesaing Jokowi, beberapa politisi yang tak puas antara lain Ruhut Sitompul dan Amien Rais. Kalau Ruhut, tak perlulah kita perbincangkan disini. Sepak terjangnya yang tak lebih dari seorang “tukang pukul”, tak kan pernah menggegerkan jagat politik tanah air.

Nah, yang menarik adalah sikap Amien Rais. Kita tahu, pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) itu merupakan penggagas Poros Tengah. Ketika itu dalam Sidang Umum MPR 1999, Amien dan politisi partai Islam lainnya berhasil mendudukkan Abdurrahman Wahid di kursi kepresidenan. Langkah tersebut sekaligus mendepak Megawati yang akhirnya harus puas menerima posisi wakil presiden. Kegigihan Amien untuk menempatkan mantan ketua NU itu sebagai presiden, sebagai bentuk ketidaksenangannya terhadap para kapitalis asing dan konglomerat non-pri yang berada di belakang kubu Megawati. Ketakutannya yang lain adalah banyaknya politisi-politisi “anti-Islam” yang menjadi penyokong putri Bung Karno itu. Amien memperkirakan, jika Megawati naik, maka “orang-orang Islam” dan segala kepentingannya akan tersingkir. Sebaliknya, para kapitalis asing, konglomerat non-pri, dan politisi “anti-Islam” akan semakin berkibar. Walaupun prasangka Amien tak sepenuhnya benar – terbukti ketika Megawati menjabat sebagai presiden periode 2001-2004, namun nampaknya prasangka ini kembali ia tiupkan kepada Jokowi.

Baca entri selengkapnya »


Andre Vltchek (sumber : andrevltchek.weebly.com)

Andre Vltchek (sumber : andrevltchek.weebly.com)

Bukannya ada apa-apa jika dalam kesempatan kali ini saya harus menanggapi tulisan skeptis dari Andre Vltchek tentang Jakarta dan Indonesia pada umumnya. Namun sebelum melangkah lebih jauh, mungkin sebagian Anda akan bertanya-tanya, untuk apa menanggapi tulisan dia. Sedangkan namanya saja belum pernah mendengar. Memang banyak orang tak mengenal novelis yang satu ini. Namanya hanya santer dikalangan pengkritik pemerintah dan para pendukungnya yang membabi buta. Agar suasana menjadi lebih enak dan bacaan ini bisa steril untuk dinikmati, ada baiknya saya mendeskripsikan latar belakang beliau terlebih dahulu. Andre Vltchek lahir di St. Petersburg pada tahun 1963. Saat ini ia merupakan warga negara Amerika, yang telah menjalani aneka profesi dari pembuat film, wartawan perang, hingga menjadi novelis. Setelah hidup beberapa tahun di Amerika Latin dan Oseania, kini ia pindah dan bekerja di Afrika serta Asia Timur. Ia merupakan sedikit dari analis politik yang telah berkelana di banyak negara berkembang. Oleh karenanya ia tahu (beberapa) akar permasalahan di negara-negara tersebut, termasuk Indonesia.

Karya-karya Vltchek memang bisa membuat telinga penguasa meradang. Hal ini karena banyak dari tulisannya yang tak enak didengar. Wajar saja! Bagi saya yang merupakan penikmat aneka tulisan lepas, agaknya karya-karya Vltchek terlalu jorok. Selain skeptis, ia juga menulis secara serampangan. Menurut saya yang awam ini, sebuah karya yang berbobot seharusnya disertai fakta serta bukti-bukti yang akurat. Namun Vltchek nampaknya menghiraukan kaidah-kaidah tersebut. Setidaknya saya bisa mengatakan itu dari tulisannya yang berjudul : “The Perfect Fascist City, Take A Train in Jakarta” (bisa dilihat di : www.counterpunch.org : The Perfect Fascist City, Take A Train in Jakarta). Tulisan ini sebenarnya telah dirilis sejak awal tahun lalu. Namun yang saya lihat, sedikit sekali tokoh-tokoh kita –- terutama para ahli perkotaan, yang menanggapinya secara serius.

Baca entri selengkapnya »


Chairil AnwarAku mau bebas dari segala
Merdeka
Juga dari Ida

Pernah
Aku percaya pada sumpah dan cinta
Menjadi sumsum dan darah
Seharian kukunya-kumamah

Sedang meradang
Segala kurenggut
Ikut bayang

Penggalan Puisi Merdeka oleh Chairil Anwar

Mungkin banyak orang yang melewatkan membaca puisi-puisi Chairil Anwar. Alasannya tentu bermacam-macam. Kebanyakan berpendapat, puisi-puisinya terlalu rumit, melankolis, dan agak membingungkan. Namun bagi seorang Goenawan Mohamad, puisi-puisi Chairil cukup menginspirasi dirinya. Banyak Catatan Pinggir Goenawan, yang bermula dari semangat-semangat Chairil. Beberapa hari yang lalu di harian Sinar Harapan, saya membaca tulisan Mohammad Sobary. Dalam artikelnya, budayawan ini hendak menggugat rasa keberpihakan dan kebanggaan bangsa Indonesia terhadap yang berbau-bau asing. Seperti Goenawan, Sobary memulainya dengan potongan puisi karya Chairil. Mungkin Sobary ingin mengambil spirit Chairil pula. Yang meski telah wafat lebih dari 60 tahun, namun masih memberikan api kepada bangsa Indonesia.

Baca entri selengkapnya »


Agus Salim

Rosihan Anwar, kerap menyebut para founding fathers asal Minangkabau sebagai seorang yang gilo-gilo baso (nyentrik atau gendeng dalam istilah Jawa). Hal ini berdasarkan pengamatannya selama bergaul dengan tokoh-tokoh tersebut, sejak zaman pergerakan hingga masa kemerdekaan. Jika diperhatikan dan diinap-inap, perkataan jurnalis kawakan itu ada benarnya. Penulis mencatat, hampir keseluruhan para pendiri bangsa yang berasal dari ranah Minang, memang memiliki sikap yang eksentrik. Sebut saja misalnya Tan Malaka, yang gila berkelana demi kemerdekaan Indonesia sampai lupa menikah. Hatta yang selalu tepat waktu, tak mau terlambat barang semenit-pun. Mohammad Yamin, seorang ahli mitos yang asik mendalami budaya-budaya kuno. Atau Buya Hamka yang keranjingan menulis, hingga melahirkan puluhan buku agama, filsafat, sejarah, dan cerita fiksi. Satu lagi tokoh Minang yang eksentrik adalah Haji Agus Salim. Setidaknya, politisi yang dijuluki Orang Tua Besar (The Grand Old Man) itu, memiliki tujuh karakter nyentrik.

Baca entri selengkapnya »


Jokowi dan Ahok (sumber : kompas.com)

Jokowi dan Ahok (sumber : kompas.com)

Baru-baru ini, gubernur DKI Joko Widodo melakukan lelang jabatan dalam penempatan kepala camat dan lurah di seluruh Jakarta. Sontak kebijakan itu membuat geger puluhan abdi negara yang selama ini sudah enjoy menduduki kursi tersebut. Meski banyak diprotes — terutama oleh pejabat yang biasa memperoleh upeti dari para warga, tindakan Jokowi itu malah didukung wakil gubernur Basuki Tjahaja Purnama. Basuki atau akrab yang disapa Ahok, dalam keterangannya menyatakan bahwa ia dan Jokowi akan terus menerapkan merit system dalam pengisian jabatan-jabatan publik.

Entah apa kata yang cocok dalam Bahasa Indonesia untuk mengartikan “merit system”. Mungkin “sistem kepantasan”? Merit system atau meritokrasi adalah sebuah sistem yang menekankan kepada kepantasan seseorang untuk menduduki posisi atau jabatan tertentu dalam sebuah organisasi. Kepantasan diartikan sebagai kemampuan per se. Tanpa memandang latar belakang etnis, agama, afiliasi politik, atau status sosial mereka. Di negara-negara maju, merit system telah diterapkan sejak ratusan tahun lampau. Malah di dunia Barat, meritokrasi menjadi salah satu kunci keunggulan mereka dibandingkan peradaban lainnya di dunia.

Baca entri selengkapnya »