Invasi Turki ke Eropa

Sejak terakhir kali invasi Alexander the Great ke Asia 334 SM, tak ada lagi kisah ekspansi bangsa Eropa ke seberang lautan. Bahkan dalam periode yang cukup panjang, Eropa tertidur bahkan mati suri. Masa-masa ketertiduran inilah, atau yang biasa disebut oleh para sejarawan sebagai the dark age, bangsa Eropa banyak diserang oleh bangsa-bangsa asing. Mulai dari invasi bangsa Gothic abad ke-4, serta invasi bangsa Arab pada abad ke-8, yang berakibat jatuhnya semenanjung Iberia selama 7 abad ke pangkuan pemerintahan muslim. Dilanjutkan dengan invasi singkat bangsa Mongol pada abad ke-13, dan terakhir invasi bangsa Turki di abad ke-15.

Selain menjadi bulan-bulanan bangsa asing, di abad kegelapan ini pula wabah penyakit menyerang dan membunuh sepertiga masyarakat Eropa. Kekuasaan gereja-pun menjadi-jadi. Bahkan pembunuhan atas nama gereja, dilegalkan oleh masyarakat setempat. Lantas mengapa bangsa Eropa yang sakit itu, bisa bangkit hingga akhirnya menguasai dunia ? Banyak faktor yang mempengaruhinya.

 

Ajaran Averroes

Ibn Rusyd (1126 – 1198) atau yang orang Eropa kenal dengan sebutan Averroes, merupakan seorang tokoh filsafat, ahli hukum, dan teologi dari kerajaan Cordoba, Andalusia. Di masa hidupnya, ilmu filsafat menggema sampai kepada pelajar-pelajar Nasrani di luar kerajaan. St. Thomas Aquinas dan St. Bonaventura, merupakan dua orang pengagum Averroes yang akhirnya menerjemahkan pemikirannya sesuai dengan semangat Kristen. Dari ajaran-ajaran Averroes, dialektika dan logika mulai diperkenalkan. Kebenaran masyarakat yang selama ini hanya bersumber dari gereja, kini mendapat mata air baru. Sejak saat itu, lahirlah pemikir-pemikir Eropa yang banyak bersandar pada ajaran Averroes. Para pemikir tersebut telah secara cerdas dan kreatif membantu raja-raja Eropa ketika penjajahan merajalela.

Baca entri selengkapnya »


Bandara Polonia, Januari 2002. Ini untuk pertama kalinya aku menjejakkan kaki di Medan. Polonia adalah wajah Medan yang sebenarnya : semrawut dan acak-acakan. Meski berstatus internasional, namun dari segi fasilitas dan kenyamanan, Polonia jauh tertinggal dibanding bandara internasional manapun di Indonesia. Setiap harinya, bandara tersibuk di Pulau Sumatera ini, dipaksa untuk menampung 2.000 calon penumpang dalam waktu yang bersamaan. Padahal seharusnya, bandara ini hanya siap menampung 400 orang saja. Akibatnya, di ruang-ruang tunggu banyak calon penumpang yang tak kebagian tempat duduk. Garbarata, belalai penghubung antara ruang tunggu dengan kabin pesawat, satu-pun tak tersedia. Hal ini tentu saja merepotkan para penumpang, terutama ketika hujan turun. Satu lagi yang paling menjengkelkan di Polonia adalah kuli-kuli angkut dan sopir taksi yang setengah memaksa. Mereka selalu menjadi momok “menakutkan”, bagi para pengunjung yang baru menjejakkan kakinya disini.

Dari Polonia, aku dijemput sopir kantor klien tempat ku bertugas. Pak Hadi namanya, orang Melayu asli. Seperti kebanyakan orang Medan lainnya yang banyak cakap, Pak Hadi-pun tak pernah berhenti bercerita. Ceritanya macam-macam, dari soal PSMS sampai makanan khas kota Medan. Selama disini, Pak Hadi-lah yang mengantarkan ku berkeliling kota Medan. Hari pertama, aku langsung menjalankan tugas melakukan stock opname di kantor klien. Kebetulan klien ku ini adalah salah satu perusahaan kosmetik kesohor di tanah air, yang memiliki persediaan beraneka rupa. Jadilah penghitungan inventory di gudang klien, memakan banyak waktu. Siang menjelang petang, semua pekerjaan selesai ditunaikan. Sebelum jam 3 sore, kami telah tiba di Hotel Danau Toba, tempat ku menginap selama disini. Hotel milik keluarga Pardede ini, tergolong hotel tua di Medan. Walau interior kamar masih cukup terawat, namun lorong-lorong hotel terkesan agak angker.

Baca entri selengkapnya »


Renovasi Stasiun Sudirman, Jakarta Pusat

Stasiun Sudirman telah bersalin rupa. Wajah stasiun yang dulu disebut Stasiun Dukuh Atas itu, kini telah berseri-seri. Enam bulan lalu, kondisi stasiun ini tak ubahnya stasiun lain di ibu kota : sumpek, kusam, dan kuno. Tapi sekarang, stasiun yang terletak di jantung kota Jakarta itu telah menjadi salah satu tempat perhentian kereta termodern di negeri ini. Bagi Anda yang sudah lama tak menginjakkan kaki disana, pasti akan terperangah dibuatnya.

Dengan desain minimalis dan lantai berwarna kelabu, dua tingkat stasiun kini terasa lebih kinclong. Sisi bangunan yang dulunya terbuat dari besi, sekarang telah diganti dengan stainless steel yang ramah lingkungan. Di sebelah kiri dan kanan, kaca-kaca berukuran besar menghiasi badan stasiun. Dengan begitu, di siang hari lampu penerang tak berguna lagi. Kursi-kursi berbahan dasar almunium, menambah anggun ruang tunggu stasiun. Empat eskalator dan dua buah lift di kedua belah sisi, memanjakan penumpang dari dan menuju Jalan Sudirman. Peronnya-pun lebih panjang dan lebar, dengan ketebalan yang sudah disesuaikan dengan tinggi pintu kereta. Sehingga tak lagi menyulitkan para penumpang wanita untuk naik dan turun KRL. Mushola dan toiletnya, juga tak kalah mewah dengan gedung-gedung yang ada disekelilingnya. Bersih dan rapi.

Pemugaran Stasiun Sudirman merupakan salah satu bagian program revitalisasi jaringan kereta komuter Jabotabek. Sejak berpisah dengan PT KAI setahun yang lalu, PT KAI Commuter Jabodetabek bertekad untuk menyediakan sarana transportasi cepat dan nyaman. Untuk memberikan kenyamanan bagi penggunanya, perusahaan siap menggelontorkan dana ratusan milyar rupiah. Jajaran direksi PT Comutter tentu berharap, dengan merenovasi stasiun, keuntungan akan mudah didapat.

Baca entri selengkapnya »


Hari itu terasa berbeda. 24 September 1999, sejumlah aktivis kampus tampak lebih sibuk dari biasanya. Aku yang baru mencatatkan diri sebagai mahasiswa, sudah diberitahu jauh-jauh hari, kalau hari itu demonstrasi akan digelar. Sasarannya adalah gedung DPR/MPR Senayan. Dengan agenda membatalkan pengesahan Undang-undang Penanggulangan Keadaan Bahaya atau yang dikenal dengan UU PKB. Lima hari sebelum hari H, lorong-lorong kampus telah dipenuhi dengan pamflet pengumuman berisi ajakan untuk berdemonstrasi.

Waktu itu masih berlaku masa orientasi bagi kami, mahasiswa-mahasiswa baru angkatan ’99. Perkuliahan-pun belum berjalan normal. Sebagian mahasiswa masih sibuk melihat papan pengumuman, mencatat jadwal kuliah yang masih bergonta-ganti. Catatan pamflet yang terpasang : Jam 10 pagi peserta aksi wajib berkumpul di Bundaran Fakultas Psikologi. Lokasi ini biasa dipilih menjadi tempat berkumpul para mahasiswa UI yang hendak berdemonstrasi. Selain mudah dijangkau, bundaran dengan lambang makara di tengahnya itu, juga menjadi muara jalan dari berbagai fakultas.

Dua hari sebelumnya, niat untuk ikut demonstrasi telah bulat diputus. Bukan karena ajakan senior yang sok idealis, tapi entah mengapa jiwa berontak-ku hari itu tersirap kuat. Rasanya ingin menentang dan merobohkan rezim Orde Baru yang zalim. Usiaku masih muda mentah : 18 tahun. Namun hawa politik yang makin lama makin merisaukan, menyelimuti raga yang kurus kuyu. Keputusan untuk berdemonstrasi, tanpa sepengetahuan ibu. Kalaulah dia tahu, maka aku akan dilarangnya ikut.

Baca entri selengkapnya »


Apa sih istimewanya Gus Dur ? Keheranan ini melekat erat-erat di benak saya, setelah melihat banyak orang terutama dari kalangan nahdliyin, yang memperjuangkannya untuk menjadi pahlawan nasional. Belakangan, bukan persoalan itu saja yang menimbulkan kontroversi, namun ziarah makam Gus Dur-pun mendulang kekhawatiran dari sebagian ulama. Ulama-ulama tersebut mengkhawatirkan, makam Gus Dur akan dijadikan sebagai tempat keramat, tempat orang berdoa, meminta, dan mungkin berkeluh kesah. Kita tahu, dalam ajaran Islam ziarah kubur semacam itu menjadikan umat jatuh kepada kemusyrikan

Sementara ratusan tokoh mengelu-elukannya sebagai sosok yang luar biasa, kok saya malah melihat Gus Dur hanya sebagai orang yang biasa-biasa saja. Yang tak perlu disanjung-sanjung apalagi harus mengkultuskannya. Gus Dur yang bernama lengkap Abdurrahman Wahid, merupakan putra mantan menteri agama Wahid Hasyim, sekaligus cucu pendiri Nahdlatul Ulama, Hasyim Asyari. Darah biru yang mengalir ditubuhnya, menjadikan kyai nyentrik ini memiliki banyak pengikut. Seperti halnya Megawati Soekarnoputri, Gus Dur merupakan patron bagi sebagian orang Jawa. Konsep budaya Jawa yang kuat mempercayai kepemimpinan kepada trah keluarga tertentu, melambungkan nama Gus Dur dikancah perpolitikan nasional.

Baca entri selengkapnya »


Gerai J. Co di Mal Kelapa Gading 2

Cintailah produk-produk Indonesia … begitu teriakan Alim Markus dalam iklan Maspion produksinya sendiri. Maspion, produsen alat-alat elektronik rumah tangga itu, kini telah menjadi salah satu merek kebanggaan Indonesia. Selain Maspion masih banyak lagi produk-produk Indonesia yang branded, yang tak kalah dengan produk-produk luar negeri. Sebut saja misalnya produsen sepatu dan tas kulit, Buccheri. Banyak orang tak menyangka, bahwa merek besutan Ediansyah ini merupakan produk asli buatan Indonesia. Mayoritas penikmat sepatu dan tas kulit, menyangka bahwa Buccheri adalah buatan Italia. Tak hanya Buccheri yang disangka sebagai merek luar. Sophie Martin, merek aksesoris kalangan atas itupun, banyak yang mengira buatan Prancis. Brand Sophie Martin yang menambahkan nama Paris dibelakangnya, ternyata telah mengecoh banyak konsumen.

Siapa yang menyangka kalau merek Casablanca asli dari Indonesia. Banyak orang menduga kalau merek parfum yang banyak dipakai eksekutif muda ini, berasal dari Prancis. Parfum Casablanca, yang dalam iklan-iklannya banyak menampilkan model-model bule itu, ternyata produksi Muara Kapuk, Jakarta. Selain tiga merek di atas, masih banyak lagi merek-merek lokal yang dikira masyarakat sebagai merek luar. Sebut misalnya merek fashion The Executive, gerai donat J-Co Donnuts, merek furnitur Olympic, produk celana dalam pria GT Man, sepatu Eagle, penanak nasi Cosmos, Centro departemen store, sepeda Wim Cycle, produsen pakaian Andre Laurent, dan masih banyak lagi merek-merek karya dalam negeri yang dikira barang impor.

Baca entri selengkapnya »


Sampul Buku Dari Penjara ke Penjara

Seharian ini saya membaca buku Dari Penjara ke Penjara (DPKP) karya Bapak Republik Indonesia : Tan Malaka. Walaupun Tan orang politik, namun tak terasa kalau buku ini ditulis oleh orang politik yang biasanya kaku dan berapi-api. Membaca tulisan Tan, serasa membaca karya Hamka atau A.A Navis atau Abdul Muis. Ceritanya mengalir begitu saja, kaya kosa kata, mendayu-dayu, ciri khas tulisan orang Minangkabau tulen. Tapi lebih dari itu, DPKP menerangkan kepada kita kemana condongnya pikiran Tan. Dan mengapa Tan harus rela berjuang demi rakyat proletar yang tertindas.

Buku ini dibagi menjadi dua jilid, menceritakan riwayat perjalanan Tan di Hindia-Belanda, Eropa, Filipina, Tiongkok, dan kembali ke Republik Indonesia. Menurut pengakuan Tan, lahirnya DPKP atas desakan kawan sejawatnya yang menginginkan Tan menulis riwayat hidup, asam garam perjuangannya. Tapi Tan merasa tak mungkin menulis riwayat hidupnya dari lahir, seperti halnya menulis sebuah autobiografi. Jadilah yang ditulisnya hanya saripati perjuangan serta reportasenya selama melawan imperialisme Belanda, Amerika, dan Inggris. Justru belakangan, orang lainlah yang menulis biografi Tan secara lengkap. Seorang sejarawan Belanda yang cukup kesohor : Harry A. Poeze.

Dari tebalnya buku yang saya baca ini, ada beberapa bab yang menarik hati. Bab 6 : Di Deli, menceritakan kondisi kuli kontrak yang merana, ditekan di bawah kaki tuan-tuan kebun yang kejam. Laporan Tan 90 tahun lalu ini, sangat mengiris hati. Berikut ini saya kutip apa yang Tan tulis : “Deli penuh dengan lanterfanters dan schiemiels Belanda. Tongkat besar kepala kosong dan suara keras. Inilah gambaran borjuis gembel di Deli. Mereka dapat lekas kaya, karena gaji besar dan mendapat bagian tetap dari keuntungan, apabila telah bekerja setahun saja. Kalau tidak salah, selain gaji puluhan ribu setahun itu, tuan kebun mendapat bagian keuntungan f 200.000. Tuan maskapai malah lebih dari itu, mendapat gaji tetap sebagai direktur dan adviseur beberapa maskapai, dari bunga modal yang ditanamnya, tetap juga menerima bagian yang lebih besar lagi dari keuntungan kebun. Tuan maskapai adalah pemegang andil yang terbesar, tetapi tidak bekerja, dan biasanya berada di tempat yang jauh, tamasya keliling Eropa. Yang kaya cepat bertambah kaya. Inilah impian kosong schiemels Belanda dengan tongkat besar di kebun Deli, di kamar bola di depan gelas bir dan wiskinya.

Baca entri selengkapnya »


Hard Rock Cafe, salah satu tempat kongkow di Jakarta

Karuan saja tingkah laku para komuter kereta listrik di selingkaran kota Jakarta (baca : KRL Jabotabek). Cuma karena bersua tiap pagi dan sore, mereka sampai-sampai buat arisan. Nggak tua nggak muda, nggak laki nggak perempuan, tanpa memandang profesi dan domisili, mereka bersatu dalam sebuah komunitas. Biasanya pihak yang mengkoordinir arisan adalah ibu-ibu yang paling ngocol diantara mereka. Kegiatan mereka tak hanya sekadar kocok arisan. Untuk memperkuat keanggotaan, mereka juga mengadakan perayaan ulang tahun dan buka puasa bersama. Kadang jika ada anggota komunitas yang nikahan atau lahiran, mereka tak lupa untuk urunan, sebagai bukti kepedulian terhadap sesama anggota. Untuk melayani keluhan serta curhat diantara penumpang KRL, milis KRL Mania menjadi wadahnya. Disini para KRL-ers bisa menumpahkan uneg-uneg hingga berbagi cerita. Komunitas kereta Jabotabek adalah salah satu contoh unik komunitas orang-orang Jakarta.

Di tempat dan waktu terpisah, ratusan orang rela keluar malam untuk mengejar midnight sale. Penyelenggara acara obral ini, biasanya toko-toko ternama macam Metro, Sogo, Matahari, dan Centro. Selain itu beberapa outlet asing seperti Zara, Mark and Spencer, dan Louis Vuitton, juga kerap mengadakan midnight sale untuk menambah penjualan akhir tahun. Diskon yang mereka agihpun tak tanggung-tanggung, hingga 70% ! Hitung-hitung ngabisin stok lama, kegiatan diskon besar-besaran inipun tak merugikan produsen. Para eksekutif muda Jakarta yang berpenghasilan pas-pasan namun hendak memakai produk-produk bermerek, sangat menantikan momen-momen seperti ini. Prinsip mereka, bisa tampil parlente tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam. Maklum, gaji bulanan yang didapat hanya pas untuk ongkos, bayar kos, dan makan sehari-hari.

Baca entri selengkapnya »


Grand Indonesia, properti milik kelompok Djarum

Beberapa waktu lalu, majalah Globe Asia merilis 100 besar kelompok usaha di Indonesia, yang diukur berdasarkan nilai penjualan yang diraih. Nama-nama beken seperti Salim, Sinar Mas, dan Lippo masih betah duduk di posisi sepuluh besar dalam daftar tersebut. Keadaan ini tak ubahnya seperti kondisi 15 tahun lalu di saat Indonesia masih menjadi macan ekonomi Asia. Ketika itu, disamping perusahaan-perusahaan plat merah, tiga kelompok bisnis inilah yang menjadi penggerak ekonomi kita. Ketahanan mereka dalam menjalani usaha patut diacungi jempol. Kalau dulu mereka mendapat bekingan penuh dari pemerintah, maka kini keistimewaan itu tak lagi mereka dapatkan. Mereka harus mampu memutar otak, untuk bertahan menghadapi pesaing lokal dan mancanegara yang terus merangsek pasar. Selain tiga itu, muncul nama-nama baru yang sepuluh tahun lalu tak pernah terdengar. Kemunculan mereka bak meteor. Sebut saja : Raja Garuda Mas atau Triputra Grup atau Para Grup. Satu dasawarsa lalu, kelompok-kelompok usaha ini tidaklah ada apa-apanya. Malah Triputra Grup baru berdiri setelah krisis ekonomi 1998.

Dari kelompok usaha yang baru terbit, Bakrie Grup-lah yang paling fenomenal. Kelompok yang digadangkan oleh Aburizal Bakrie ini, sepuluh tahun lalu baru memulai ekspansi usahanya. Tapi tengoklah kini, Bakrie Grup nongkrong di posisi kelima dalam daftar tersebut. Pencapaian ini juga telah mendudukan Aburizal sebagai manusia terkaya di Asia Tenggara pada tahun 2007 silam. Selain kelompok usaha nasional, beberapa kelompok usaha asing juga menghiasi daftar ini. Dalam daftar sepuluh besar, ada nama Jardine Matheson dan Phillip Morris International.

Baca entri selengkapnya »


Pada tahun 1100, kendali kerajaan Chola telah menghilang. Hal ini membuat situasi politik di India tidak stabil. Akibatnya pengaruh dan kekuatan jaringan perdagangan Tamil di utara Sumatera-pun ikut melemah. Pada saat yang sama dinasti Song di China berada dalam tekanan kuat dari suku-suku Mongol di pedalaman. Tekanan ini mendorong para pedagang China bermukim di bandar-bandar utara Sumatera, dan menggantikan peran yang selama ini dijalankan oleh masyarakat Tamil. Di bawah kekuasaan Xiazong (1163-1190), China mengembangkan angkatan laut yang kuat, sekaligus mengembangkan armada perdagangan lintas benua yang mumpuni. Pada masa itu kapal-kapal China mengungguli kapal-kapal dagang negara lain, dan berlayar jauh dari Jepang hingga Teluk Persia. Armada dagang China yang besar itu, telah mengambil alih peran yang selama lima abad dijalankan Sriwijaya. Perdagangan China yang tak lagi menggunakan jasa Sriwijaya, telah mengempiskan pundi-pundi kerajaan secara signifikan.

Perdagangan langsung China telah mendorong lepasnya kota-kota dagang Sriwijaya di utara Sumatera. Mengikuti Kampe, kota-kota dagang seperti Samudera, Pasai, Perlak, Lamuri, serta Aceh, satu per satu melepaskan diri dari Sriwijaya dan mendirikan kerajaan merdeka. Diantara semua kerajaan-kerajaan baru tersebut, Samudera Pasai-lah yang terkuat. Samudera Pasai merupakan dua kota kembar yang didirikan oleh Marah Silu, seorang mualaf yang telah mengganti namanya menjadi Malik al-Saleh. Negara-kota yang berdiri di atas sendi-sendi Islam ini, mengirimkan dutanya ke China pada tahun 1281. Kemasyuran Samudera Pasai dimulai dengan pernikahan Malik al-Saleh dengan putri penguasa Perlak di penghujung abad ke-13. Kehadiran kerajaan baru ini telah menarik pedagang-pedagang Muslim, sekaligus mempercepat keruntuhan pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya di Semenanjung Malaysia.

Baca entri selengkapnya »