Kereta wisata melintasi Lembah Anai

Bali boleh saja menjadi destinasi utama turis-turis mancanegara yang ingin mencari teriknya udara tropis. Namun bagi turis yang hendak merasakan keasrian alam, serta aneka rupa makanan bercita rasa tinggi, Sumatera Barat-lah tempatnya. Propinsi yang terletak di tengah-tengah pulau Sumatera ini, menawarkan keindahan alam yang molek, serta adat istiadat yang unik. Tak kurang dari 15 daerah tujuan wisata, menyajikan aneka macam kuliner, pesona alam, serta atraksi budaya yang menawan. Jika Anda merencanakan wisata singkat, empat hari perjalanan cukup untuk menjalang semua obyek wisata penting disini.

Hari pertama di ranah Minang, ada baiknya mengunjungi Bukittinggi dan nagari-nagari di sekitarnya. Bukittinggi salah satu kota utama di Luhak Nan Tigo, yang menjadi jantungnya budaya Minangkabau. Bukittinggi terletak di ketinggian 909 – 941 meter di atas permukaan laut (dpl). Hawanya yang sejuk, seperti halnya Bandung di daratan Priangan, menjadikannya sebagai tempat penginapan favorit di akhir pekan. Pedesteriannya yang lebar serta dinaungi pepohonan yang rimbun, memungkinkan para turis untuk berfoto-foto sambil menikmati ademnya suasana kota. Selain trotoar yang lebar, jenjang-jenjang dengan puluhan anak tangga, juga menghubungkan satu tempat ke tempat keramaian lainnya.

Baca entri selengkapnya »


CT dan JK di Trans Studio theme park Makassar

Dalam daftar yang dikeluarkan majalah Forbes baru-baru ini, nama Chairul Tanjung muncul dalam deretan 1000 pengusaha terkaya dunia. Chairul bertengger di posisi 937 dengan total kekayaan US$ 1,0 miliar atau setara Rp 9,2 triliun. Usianya masih muda, 47 tahun, usahanya-pun bukan warisan keluarga seperti banyak konglomerat di Indonesia. Bisa dikatakan usaha Chairul ini tak ada yang nyerempet-nyerempet haram. Kita juga tidak pernah mendengar kalau dia pernah bermasalah dengan perijinan atau perpajakan. Satu yang menjadi kunci sukses Chairul, ia sangat prudent dalam menjalankan bisnis.

Dalam satu kesempatan, dalam Investor Summit 2009 yang diselenggarakan oleh Bursa Efek Indonesia. Chairul diundang sebagai pembicara, menceritakan kisah suksesnya sebagai pengusaha. Dalam talkshow tersebut Chairul bercerita panjang lebar mengenai awal mula usahanya. Orang tua Chairul yang berdarah Sunda, suatu ketika menjual kain warisan neneknya untuk membiayai sekolahnya di Kedokteran Gigi UI. Sejak saat itu Chairul bertekad bahwa dia tidak ingin lagi merepotkan orang tuanya dengan meminta-minta uang.

Cara pertama yang ia lakukan adalah menguasai semua space kosong yang ada di bawah tangga kampus. Ia meminta ijin kepada pihak dekanat untuk memanfaatkan semua lahan kosong tersebut. Kebetulan Chairul seorang aktivis kampus, jadi perijinan dari dekanat tidaklah sulit didapat. Mulailah petualangan Chairul dengan lahan kosong di bawah tangga. Baca entri selengkapnya »


Inferioritas Dunia Islam. Korban Bom Bunuh Diri di Irak

Pasca-penembakan Dulmatin 9 Maret 2010 lalu, dunia perterorisan di Indonesia sesungguhnya belum berakhir. Dulmatin, buronan kelas kakap yang sejak lama di cari-cari Amerika, seperti halnya Amrozi, Noordin M. Top, dan Dr. Azahari, telah menularkan virus radikalisme ke pengikut-pengikutnya yang lain. Semangat ini masih terlihat dari suasana pemakaman Dulmatin di Pemalang Jawa Tengah, dimana banyak pemuda-pemuda tanggung berpikiran kosong, sesekali meneriakkan takbir dan yel-yel ”al jihad… al jihad fisabiluna”. Teriakan-teriakan jihad seperti itu, terasa melantun dari mulut mereka tanpa dengan pertimbangan rasio yang masak. Mereka mungkin lupa siapa sesungguhnya Dulmatin. Dulmatin yang berprofesi sebagai perakit alat ledak untuk beberapa aksi bom bunuh diri, telah merenggut ratusan nyawa orang tak bersalah. Dan dia, mereka anggap sebagai mujahid agung selayak-layaknya pembela agama.

 
Rasionalitas yang Mati

Perkara terorisme seperti ini sebenarnya bukan lahir baru-baru ini saja. Terorisme atas nama agama pernah juga terjadi di abad ke-11. Dalam sebuah konsili di Piacenza, tahun 1095, Paus Urbanus II mengajak seluruh umat Kristen untuk menyerang Yerusalem yang dikuasai orang-orang Muslim. Ajakan ini muncul dari otak Paus Urbanus II yang penuh dengan kebencian dan kedengkian. Urbanus dan para penyerang Kristen itu, layaknya Amrozi Cs di dunia modern ini, yang menyerang membabi buta, membunuh penduduk-penduduk yang tak mengerti, tentang apa itu yang mereka katakan sebagai jihad atau perang suci (crusade). Penyerang-penyerang itu tak mau tahu, jika anak-anak dan perempuan banyak yang menjadi korban.

Baca entri selengkapnya »


Invasi Turki ke Eropa

Sejak terakhir kali invasi Alexander the Great ke Asia 334 SM, tak ada lagi kisah ekspansi bangsa Eropa ke seberang lautan. Bahkan dalam periode yang cukup panjang, Eropa tertidur bahkan mati suri. Masa-masa ketertiduran inilah, atau yang biasa disebut oleh para sejarawan sebagai the dark age, bangsa Eropa banyak diserang oleh bangsa-bangsa asing. Mulai dari invasi bangsa Gothic abad ke-4, serta invasi bangsa Arab pada abad ke-8, yang berakibat jatuhnya semenanjung Iberia selama 7 abad ke pangkuan pemerintahan muslim. Dilanjutkan dengan invasi singkat bangsa Mongol pada abad ke-13, dan terakhir invasi bangsa Turki di abad ke-15.

Selain menjadi bulan-bulanan bangsa asing, di abad kegelapan ini pula wabah penyakit menyerang dan membunuh sepertiga masyarakat Eropa. Kekuasaan gereja-pun menjadi-jadi. Bahkan pembunuhan atas nama gereja, dilegalkan oleh masyarakat setempat. Lantas mengapa bangsa Eropa yang sakit itu, bisa bangkit hingga akhirnya menguasai dunia ? Banyak faktor yang mempengaruhinya.

 

Ajaran Averroes

Ibn Rusyd (1126 – 1198) atau yang orang Eropa kenal dengan sebutan Averroes, merupakan seorang tokoh filsafat, ahli hukum, dan teologi dari kerajaan Cordoba, Andalusia. Di masa hidupnya, ilmu filsafat menggema sampai kepada pelajar-pelajar Nasrani di luar kerajaan. St. Thomas Aquinas dan St. Bonaventura, merupakan dua orang pengagum Averroes yang akhirnya menerjemahkan pemikirannya sesuai dengan semangat Kristen. Dari ajaran-ajaran Averroes, dialektika dan logika mulai diperkenalkan. Kebenaran masyarakat yang selama ini hanya bersumber dari gereja, kini mendapat mata air baru. Sejak saat itu, lahirlah pemikir-pemikir Eropa yang banyak bersandar pada ajaran Averroes. Para pemikir tersebut telah secara cerdas dan kreatif membantu raja-raja Eropa ketika penjajahan merajalela.

Baca entri selengkapnya »


Bandara Polonia, Januari 2002. Ini untuk pertama kalinya aku menjejakkan kaki di Medan. Polonia adalah wajah Medan yang sebenarnya : semrawut dan acak-acakan. Meski berstatus internasional, namun dari segi fasilitas dan kenyamanan, Polonia jauh tertinggal dibanding bandara internasional manapun di Indonesia. Setiap harinya, bandara tersibuk di Pulau Sumatera ini, dipaksa untuk menampung 2.000 calon penumpang dalam waktu yang bersamaan. Padahal seharusnya, bandara ini hanya siap menampung 400 orang saja. Akibatnya, di ruang-ruang tunggu banyak calon penumpang yang tak kebagian tempat duduk. Garbarata, belalai penghubung antara ruang tunggu dengan kabin pesawat, satu-pun tak tersedia. Hal ini tentu saja merepotkan para penumpang, terutama ketika hujan turun. Satu lagi yang paling menjengkelkan di Polonia adalah kuli-kuli angkut dan sopir taksi yang setengah memaksa. Mereka selalu menjadi momok “menakutkan”, bagi para pengunjung yang baru menjejakkan kakinya disini.

Dari Polonia, aku dijemput sopir kantor klien tempat ku bertugas. Pak Hadi namanya, orang Melayu asli. Seperti kebanyakan orang Medan lainnya yang banyak cakap, Pak Hadi-pun tak pernah berhenti bercerita. Ceritanya macam-macam, dari soal PSMS sampai makanan khas kota Medan. Selama disini, Pak Hadi-lah yang mengantarkan ku berkeliling kota Medan. Hari pertama, aku langsung menjalankan tugas melakukan stock opname di kantor klien. Kebetulan klien ku ini adalah salah satu perusahaan kosmetik kesohor di tanah air, yang memiliki persediaan beraneka rupa. Jadilah penghitungan inventory di gudang klien, memakan banyak waktu. Siang menjelang petang, semua pekerjaan selesai ditunaikan. Sebelum jam 3 sore, kami telah tiba di Hotel Danau Toba, tempat ku menginap selama disini. Hotel milik keluarga Pardede ini, tergolong hotel tua di Medan. Walau interior kamar masih cukup terawat, namun lorong-lorong hotel terkesan agak angker.

Baca entri selengkapnya »


Renovasi Stasiun Sudirman, Jakarta Pusat

Stasiun Sudirman telah bersalin rupa. Wajah stasiun yang dulu disebut Stasiun Dukuh Atas itu, kini telah berseri-seri. Enam bulan lalu, kondisi stasiun ini tak ubahnya stasiun lain di ibu kota : sumpek, kusam, dan kuno. Tapi sekarang, stasiun yang terletak di jantung kota Jakarta itu telah menjadi salah satu tempat perhentian kereta termodern di negeri ini. Bagi Anda yang sudah lama tak menginjakkan kaki disana, pasti akan terperangah dibuatnya.

Dengan desain minimalis dan lantai berwarna kelabu, dua tingkat stasiun kini terasa lebih kinclong. Sisi bangunan yang dulunya terbuat dari besi, sekarang telah diganti dengan stainless steel yang ramah lingkungan. Di sebelah kiri dan kanan, kaca-kaca berukuran besar menghiasi badan stasiun. Dengan begitu, di siang hari lampu penerang tak berguna lagi. Kursi-kursi berbahan dasar almunium, menambah anggun ruang tunggu stasiun. Empat eskalator dan dua buah lift di kedua belah sisi, memanjakan penumpang dari dan menuju Jalan Sudirman. Peronnya-pun lebih panjang dan lebar, dengan ketebalan yang sudah disesuaikan dengan tinggi pintu kereta. Sehingga tak lagi menyulitkan para penumpang wanita untuk naik dan turun KRL. Mushola dan toiletnya, juga tak kalah mewah dengan gedung-gedung yang ada disekelilingnya. Bersih dan rapi.

Pemugaran Stasiun Sudirman merupakan salah satu bagian program revitalisasi jaringan kereta komuter Jabotabek. Sejak berpisah dengan PT KAI setahun yang lalu, PT KAI Commuter Jabodetabek bertekad untuk menyediakan sarana transportasi cepat dan nyaman. Untuk memberikan kenyamanan bagi penggunanya, perusahaan siap menggelontorkan dana ratusan milyar rupiah. Jajaran direksi PT Comutter tentu berharap, dengan merenovasi stasiun, keuntungan akan mudah didapat.

Baca entri selengkapnya »


Hari itu terasa berbeda. 24 September 1999, sejumlah aktivis kampus tampak lebih sibuk dari biasanya. Aku yang baru mencatatkan diri sebagai mahasiswa, sudah diberitahu jauh-jauh hari, kalau hari itu demonstrasi akan digelar. Sasarannya adalah gedung DPR/MPR Senayan. Dengan agenda membatalkan pengesahan Undang-undang Penanggulangan Keadaan Bahaya atau yang dikenal dengan UU PKB. Lima hari sebelum hari H, lorong-lorong kampus telah dipenuhi dengan pamflet pengumuman berisi ajakan untuk berdemonstrasi.

Waktu itu masih berlaku masa orientasi bagi kami, mahasiswa-mahasiswa baru angkatan ’99. Perkuliahan-pun belum berjalan normal. Sebagian mahasiswa masih sibuk melihat papan pengumuman, mencatat jadwal kuliah yang masih bergonta-ganti. Catatan pamflet yang terpasang : Jam 10 pagi peserta aksi wajib berkumpul di Bundaran Fakultas Psikologi. Lokasi ini biasa dipilih menjadi tempat berkumpul para mahasiswa UI yang hendak berdemonstrasi. Selain mudah dijangkau, bundaran dengan lambang makara di tengahnya itu, juga menjadi muara jalan dari berbagai fakultas.

Dua hari sebelumnya, niat untuk ikut demonstrasi telah bulat diputus. Bukan karena ajakan senior yang sok idealis, tapi entah mengapa jiwa berontak-ku hari itu tersirap kuat. Rasanya ingin menentang dan merobohkan rezim Orde Baru yang zalim. Usiaku masih muda mentah : 18 tahun. Namun hawa politik yang makin lama makin merisaukan, menyelimuti raga yang kurus kuyu. Keputusan untuk berdemonstrasi, tanpa sepengetahuan ibu. Kalaulah dia tahu, maka aku akan dilarangnya ikut.

Baca entri selengkapnya »


Apa sih istimewanya Gus Dur ? Keheranan ini melekat erat-erat di benak saya, setelah melihat banyak orang terutama dari kalangan nahdliyin, yang memperjuangkannya untuk menjadi pahlawan nasional. Belakangan, bukan persoalan itu saja yang menimbulkan kontroversi, namun ziarah makam Gus Dur-pun mendulang kekhawatiran dari sebagian ulama. Ulama-ulama tersebut mengkhawatirkan, makam Gus Dur akan dijadikan sebagai tempat keramat, tempat orang berdoa, meminta, dan mungkin berkeluh kesah. Kita tahu, dalam ajaran Islam ziarah kubur semacam itu menjadikan umat jatuh kepada kemusyrikan

Sementara ratusan tokoh mengelu-elukannya sebagai sosok yang luar biasa, kok saya malah melihat Gus Dur hanya sebagai orang yang biasa-biasa saja. Yang tak perlu disanjung-sanjung apalagi harus mengkultuskannya. Gus Dur yang bernama lengkap Abdurrahman Wahid, merupakan putra mantan menteri agama Wahid Hasyim, sekaligus cucu pendiri Nahdlatul Ulama, Hasyim Asyari. Darah biru yang mengalir ditubuhnya, menjadikan kyai nyentrik ini memiliki banyak pengikut. Seperti halnya Megawati Soekarnoputri, Gus Dur merupakan patron bagi sebagian orang Jawa. Konsep budaya Jawa yang kuat mempercayai kepemimpinan kepada trah keluarga tertentu, melambungkan nama Gus Dur dikancah perpolitikan nasional.

Baca entri selengkapnya »


Gerai J. Co di Mal Kelapa Gading 2

Cintailah produk-produk Indonesia … begitu teriakan Alim Markus dalam iklan Maspion produksinya sendiri. Maspion, produsen alat-alat elektronik rumah tangga itu, kini telah menjadi salah satu merek kebanggaan Indonesia. Selain Maspion masih banyak lagi produk-produk Indonesia yang branded, yang tak kalah dengan produk-produk luar negeri. Sebut saja misalnya produsen sepatu dan tas kulit, Buccheri. Banyak orang tak menyangka, bahwa merek besutan Ediansyah ini merupakan produk asli buatan Indonesia. Mayoritas penikmat sepatu dan tas kulit, menyangka bahwa Buccheri adalah buatan Italia. Tak hanya Buccheri yang disangka sebagai merek luar. Sophie Martin, merek aksesoris kalangan atas itupun, banyak yang mengira buatan Prancis. Brand Sophie Martin yang menambahkan nama Paris dibelakangnya, ternyata telah mengecoh banyak konsumen.

Siapa yang menyangka kalau merek Casablanca asli dari Indonesia. Banyak orang menduga kalau merek parfum yang banyak dipakai eksekutif muda ini, berasal dari Prancis. Parfum Casablanca, yang dalam iklan-iklannya banyak menampilkan model-model bule itu, ternyata produksi Muara Kapuk, Jakarta. Selain tiga merek di atas, masih banyak lagi merek-merek lokal yang dikira masyarakat sebagai merek luar. Sebut misalnya merek fashion The Executive, gerai donat J-Co Donnuts, merek furnitur Olympic, produk celana dalam pria GT Man, sepatu Eagle, penanak nasi Cosmos, Centro departemen store, sepeda Wim Cycle, produsen pakaian Andre Laurent, dan masih banyak lagi merek-merek karya dalam negeri yang dikira barang impor.

Baca entri selengkapnya »


Sampul Buku Dari Penjara ke Penjara

Seharian ini saya membaca buku Dari Penjara ke Penjara (DPKP) karya Bapak Republik Indonesia : Tan Malaka. Walaupun Tan orang politik, namun tak terasa kalau buku ini ditulis oleh orang politik yang biasanya kaku dan berapi-api. Membaca tulisan Tan, serasa membaca karya Hamka atau A.A Navis atau Abdul Muis. Ceritanya mengalir begitu saja, kaya kosa kata, mendayu-dayu, ciri khas tulisan orang Minangkabau tulen. Tapi lebih dari itu, DPKP menerangkan kepada kita kemana condongnya pikiran Tan. Dan mengapa Tan harus rela berjuang demi rakyat proletar yang tertindas.

Buku ini dibagi menjadi dua jilid, menceritakan riwayat perjalanan Tan di Hindia-Belanda, Eropa, Filipina, Tiongkok, dan kembali ke Republik Indonesia. Menurut pengakuan Tan, lahirnya DPKP atas desakan kawan sejawatnya yang menginginkan Tan menulis riwayat hidup, asam garam perjuangannya. Tapi Tan merasa tak mungkin menulis riwayat hidupnya dari lahir, seperti halnya menulis sebuah autobiografi. Jadilah yang ditulisnya hanya saripati perjuangan serta reportasenya selama melawan imperialisme Belanda, Amerika, dan Inggris. Justru belakangan, orang lainlah yang menulis biografi Tan secara lengkap. Seorang sejarawan Belanda yang cukup kesohor : Harry A. Poeze.

Dari tebalnya buku yang saya baca ini, ada beberapa bab yang menarik hati. Bab 6 : Di Deli, menceritakan kondisi kuli kontrak yang merana, ditekan di bawah kaki tuan-tuan kebun yang kejam. Laporan Tan 90 tahun lalu ini, sangat mengiris hati. Berikut ini saya kutip apa yang Tan tulis : “Deli penuh dengan lanterfanters dan schiemiels Belanda. Tongkat besar kepala kosong dan suara keras. Inilah gambaran borjuis gembel di Deli. Mereka dapat lekas kaya, karena gaji besar dan mendapat bagian tetap dari keuntungan, apabila telah bekerja setahun saja. Kalau tidak salah, selain gaji puluhan ribu setahun itu, tuan kebun mendapat bagian keuntungan f 200.000. Tuan maskapai malah lebih dari itu, mendapat gaji tetap sebagai direktur dan adviseur beberapa maskapai, dari bunga modal yang ditanamnya, tetap juga menerima bagian yang lebih besar lagi dari keuntungan kebun. Tuan maskapai adalah pemegang andil yang terbesar, tetapi tidak bekerja, dan biasanya berada di tempat yang jauh, tamasya keliling Eropa. Yang kaya cepat bertambah kaya. Inilah impian kosong schiemels Belanda dengan tongkat besar di kebun Deli, di kamar bola di depan gelas bir dan wiskinya.

Baca entri selengkapnya »