Hard Rock Cafe, salah satu tempat kongkow di Jakarta

Karuan saja tingkah laku para komuter kereta listrik di selingkaran kota Jakarta (baca : KRL Jabotabek). Cuma karena bersua tiap pagi dan sore, mereka sampai-sampai buat arisan. Nggak tua nggak muda, nggak laki nggak perempuan, tanpa memandang profesi dan domisili, mereka bersatu dalam sebuah komunitas. Biasanya pihak yang mengkoordinir arisan adalah ibu-ibu yang paling ngocol diantara mereka. Kegiatan mereka tak hanya sekadar kocok arisan. Untuk memperkuat keanggotaan, mereka juga mengadakan perayaan ulang tahun dan buka puasa bersama. Kadang jika ada anggota komunitas yang nikahan atau lahiran, mereka tak lupa untuk urunan, sebagai bukti kepedulian terhadap sesama anggota. Untuk melayani keluhan serta curhat diantara penumpang KRL, milis KRL Mania menjadi wadahnya. Disini para KRL-ers bisa menumpahkan uneg-uneg hingga berbagi cerita. Komunitas kereta Jabotabek adalah salah satu contoh unik komunitas orang-orang Jakarta.

Di tempat dan waktu terpisah, ratusan orang rela keluar malam untuk mengejar midnight sale. Penyelenggara acara obral ini, biasanya toko-toko ternama macam Metro, Sogo, Matahari, dan Centro. Selain itu beberapa outlet asing seperti Zara, Mark and Spencer, dan Louis Vuitton, juga kerap mengadakan midnight sale untuk menambah penjualan akhir tahun. Diskon yang mereka agihpun tak tanggung-tanggung, hingga 70% ! Hitung-hitung ngabisin stok lama, kegiatan diskon besar-besaran inipun tak merugikan produsen. Para eksekutif muda Jakarta yang berpenghasilan pas-pasan namun hendak memakai produk-produk bermerek, sangat menantikan momen-momen seperti ini. Prinsip mereka, bisa tampil parlente tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam. Maklum, gaji bulanan yang didapat hanya pas untuk ongkos, bayar kos, dan makan sehari-hari.

Baca entri selengkapnya »


Grand Indonesia, properti milik kelompok Djarum

Beberapa waktu lalu, majalah Globe Asia merilis 100 besar kelompok usaha di Indonesia, yang diukur berdasarkan nilai penjualan yang diraih. Nama-nama beken seperti Salim, Sinar Mas, dan Lippo masih betah duduk di posisi sepuluh besar dalam daftar tersebut. Keadaan ini tak ubahnya seperti kondisi 15 tahun lalu di saat Indonesia masih menjadi macan ekonomi Asia. Ketika itu, disamping perusahaan-perusahaan plat merah, tiga kelompok bisnis inilah yang menjadi penggerak ekonomi kita. Ketahanan mereka dalam menjalani usaha patut diacungi jempol. Kalau dulu mereka mendapat bekingan penuh dari pemerintah, maka kini keistimewaan itu tak lagi mereka dapatkan. Mereka harus mampu memutar otak, untuk bertahan menghadapi pesaing lokal dan mancanegara yang terus merangsek pasar. Selain tiga itu, muncul nama-nama baru yang sepuluh tahun lalu tak pernah terdengar. Kemunculan mereka bak meteor. Sebut saja : Raja Garuda Mas atau Triputra Grup atau Para Grup. Satu dasawarsa lalu, kelompok-kelompok usaha ini tidaklah ada apa-apanya. Malah Triputra Grup baru berdiri setelah krisis ekonomi 1998.

Dari kelompok usaha yang baru terbit, Bakrie Grup-lah yang paling fenomenal. Kelompok yang digadangkan oleh Aburizal Bakrie ini, sepuluh tahun lalu baru memulai ekspansi usahanya. Tapi tengoklah kini, Bakrie Grup nongkrong di posisi kelima dalam daftar tersebut. Pencapaian ini juga telah mendudukan Aburizal sebagai manusia terkaya di Asia Tenggara pada tahun 2007 silam. Selain kelompok usaha nasional, beberapa kelompok usaha asing juga menghiasi daftar ini. Dalam daftar sepuluh besar, ada nama Jardine Matheson dan Phillip Morris International.

Baca entri selengkapnya »


Pada tahun 1100, kendali kerajaan Chola telah menghilang. Hal ini membuat situasi politik di India tidak stabil. Akibatnya pengaruh dan kekuatan jaringan perdagangan Tamil di utara Sumatera-pun ikut melemah. Pada saat yang sama dinasti Song di China berada dalam tekanan kuat dari suku-suku Mongol di pedalaman. Tekanan ini mendorong para pedagang China bermukim di bandar-bandar utara Sumatera, dan menggantikan peran yang selama ini dijalankan oleh masyarakat Tamil. Di bawah kekuasaan Xiazong (1163-1190), China mengembangkan angkatan laut yang kuat, sekaligus mengembangkan armada perdagangan lintas benua yang mumpuni. Pada masa itu kapal-kapal China mengungguli kapal-kapal dagang negara lain, dan berlayar jauh dari Jepang hingga Teluk Persia. Armada dagang China yang besar itu, telah mengambil alih peran yang selama lima abad dijalankan Sriwijaya. Perdagangan China yang tak lagi menggunakan jasa Sriwijaya, telah mengempiskan pundi-pundi kerajaan secara signifikan.

Perdagangan langsung China telah mendorong lepasnya kota-kota dagang Sriwijaya di utara Sumatera. Mengikuti Kampe, kota-kota dagang seperti Samudera, Pasai, Perlak, Lamuri, serta Aceh, satu per satu melepaskan diri dari Sriwijaya dan mendirikan kerajaan merdeka. Diantara semua kerajaan-kerajaan baru tersebut, Samudera Pasai-lah yang terkuat. Samudera Pasai merupakan dua kota kembar yang didirikan oleh Marah Silu, seorang mualaf yang telah mengganti namanya menjadi Malik al-Saleh. Negara-kota yang berdiri di atas sendi-sendi Islam ini, mengirimkan dutanya ke China pada tahun 1281. Kemasyuran Samudera Pasai dimulai dengan pernikahan Malik al-Saleh dengan putri penguasa Perlak di penghujung abad ke-13. Kehadiran kerajaan baru ini telah menarik pedagang-pedagang Muslim, sekaligus mempercepat keruntuhan pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya di Semenanjung Malaysia.

Baca entri selengkapnya »


Relief Kapal Sriwijaya pada Candi Borobudur

Samaratungga merupakan anak-cucu dari wangsa Sailendra yang telah berkuasa di Jawa sejak tahun 752. Dia adalah maharaja Sriwijaya pengganti Wisnu. Untuk memperkuat kekuasaannya, ia menikahi Tara, putri Dharmasetu. Di pedalaman Kedu yang permai, Samaratungga menghadapi masalah cukup pelik. Loyalitas wangsa Sanjaya dan tuan-tuan tanah tak lagi berpihak kepadanya. Mencoba mengakhiri huru-hara ini, dia memperkuat aliansi dengan menikahkan putrinya Paramodavardhani dengan Rakai Pikatan, seorang putra raja Sanjaya : Rakai Garung. Namun usaha ini tak berbuah hasil. Malah Rakai Pikatan dengan bantuan istrinya, berhasil mengusir Balaputra — anak Samaratungga yang lain sekaligus pengganti tahtanya — kembali ke Palembang. Tahun itu berangka 850. Dengan terusirnya Balaputra, berakhir pula kekuasaan Sriwijaya selama satu abad di Jawa Tengah.

Rakai Pikatan yang ambisius dengan cepat memutus ikatan Sriwijaya dengan Jawa. Naiknya Pikatan, memaksa orang-orang Jawa pengikut Balaputra untuk angkat kaki. Dan merekapun bermigrasi ke Jawa Barat untuk mendirikan Kerajaan Banten Girang. Lepasnya Jawa dari Sriwijaya, mendorong para penguasanya untuk memperkuat kerajaan. Alhasil pada abad ke-10, Jawa dengan percaya dirinya menjadi penantang Sriwijaya. Berdirinya Banten Girang yang menguasai Banten dan Lampung, ternyata bagai duri dalam daging. Banten Girang yang diberikan kepercayaan untuk berdagang lada di wilayah Sriwijaya, ternyata berbalik arah menyokong saudara Jawa-nya : Dharmawangsa, untuk menyerang Palembang. Tahun 990, untuk pertama kalinya Jawa menyerang Sumatera. Penyerangan itu memporakporandakan Palembang, walau tak berakibat jatuhnya Sriwijaya ke tangan Jawa.

Baca entri selengkapnya »


Kisah Sumatera pada periode klasik, sangat jarang dibahas dalam literatur-literatur sejarah nasional. Kejayaan imperium orang-orang Sumatera yang akbar, seolah tenggelam dalam bahasan panjang sejarah Jawa. Pola pandang Jawasentris dalam banyak kajian sejarah Indonesia, telah menutup informasi penting seputar kehidupan masyarakat Sumatera. Dengan merujuk pada catatan-catatan China, India, dan Arab, serta beberapa prasasti yang terserak di sepanjang Pulau Sumatera, kita akan menengok sejarah bangkit dan jatuhnya orang-orang Melayu yang bermukim di pulau tersebut sejak abad ke-7 hingga ke-15. Masa tersebut, yang dikategorikan oleh sejarawan Krom sebagai masa klasik, merujuk pada masa terbentuknya Kerajaan Malayu hingga bangkitnya Kesultanan Malaka di tepi barat Semenanjung Malaysia.

Dalam catatan musafir-musafir mancanegara, Suwarnadwipa atau Zabag atau Sanfotsi, merupakan tempat penting dalam rute perdagangan mereka. Pedagang-pedagang Arab dan Persia, kerap mendapatkan bumbu-bumbu masak yang dibutuhkan pasaran Eropa dari wilayah ini. Sedangkan raja-raja China dan India membutuhkan mineral yang banyak dikandung oleh pulau emas ini. Kerajaan Kantoli di Sumatera Selatan yang mengalami keruntuhan pada pertengahan abad ke-6, mengakhiri periode kuno Sumatera. Selanjutnya sejarah Sumatera masuk pada fase ekspansi dan kedewasaan kultural kerajaan Hindu-Budha.

Baca entri selengkapnya »


(ki-ka, tas-wah) Hatta, Natsir, Agus Salim, Sjahrir, Abdul Halim, A.K. Gani, Chaerul Saleh, Assaat, Abdul Latief, Awaludin Djamin, Fahmi Idris, Gamawan Fauzi

Kiprah politisi Minang dalam kancah pemerintahan Indonesia cukup menarik untuk disimak. Ketertarikan itu mengingat kecilnya jumlah etnis Minang dalam populasi Indonesia, namun mampu memainkan peranan penting dalam roda pemerintahan. Peranan ini nampak mencolok pada masa perjuangan kemerdekaan dan demokrasi parlementer, ketika banyak orang Minang duduk sebagai perdana menteri serta mengisi pos-pos penting kabinet.

15 tahun awal berdirinya Republik Indonesia, bisa dikatakan sebagai era keemasan politik orang Minang. Pada periode 1945-1960, politisi Minang tidak hanya duduk di posisi strategis pemerintahan, namun juga cukup mewarnai kebijakan politik negara. Di penghujung dekade 1950-an era kejayaan tersebut berakhir. Dimulai dengan lengsernya Hatta dari kursi wakil presiden (1956), yang diikuti oleh gerakan koreksi PRRI (1958-1959), serta dibubarkannya partai Masyumi dan PSI (1960), dua partai yang menjadi motor politik orang-orang Minang.

Sejak negeri ini merdeka, hingga kini telah 39 kabinet yang terbentuk. Angka 39 itu, tanpa mengikutsertakan kabinet sementara Susanto dan kabinet tandingan PRRI, yang hanya bersifat ad hoc. Dalam 39 kali pembentukan kabinet, tak pernah sekalipun orang-orang Minang absen duduk sebagai menteri. Kabinet Presidensial yang terbentuk pada tanggal 2 September 1945, merupakan kabinet pertama yang dibentuk oleh pemerintahan Soekarno-Hatta. Pada masa ini, Mohammad Amir putra kelahiran Sawahlunto, tercatat sebagai orang Minang pertama yang diangkat menjadi menteri.

Baca entri selengkapnya »


Wisma 46 di tengah-tengah pencakar langit Jakarta

Indonesia tak kalah dengan negara-negara lain yang telah maju di dunia. Mampu membuat struktur bangunan yang menjulang tinggi ke langit. Saat ini bangunan tertinggi di Indonesia ialah menara televisi Indosiar, yang terletak di daerah Kembangan, Jakarta Barat. Tinggi menara mencapai 395 meter dan berfungsi sebagai pemancar siaran Indosiar ke seluruh Indonesia.

Untuk kategori gedung tertinggi, Indonesia belum bisa berbicara banyak. Gedung-gedung tinggi di Indonesia, masih kalah ukuran jika dibandingkan dengan gedung-gedung di Kuala Lumpur atau Singapura. Malah jika dibandingkan dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, Cina, ataupun Uni Emirat Arab, Indonesia tidak ada apa-apanya. Sejak tahun 1997, Indonesia telah berencana untuk membangun gedung tertinggi di dunia, yakni Menara Kemayoran. Namun, menara yang kabarnya akan dibangun setinggi 550 meter ini, hingga kini tak pernah terwujud. Sekarang Indonesia hanya berpuas diri dengan Wisma 46, yang menjadi gedung tertinggi dengan ketinggian 262 meter. Gedung perkantoran milik Bank Negara Indonesia ini terletak di Jalan Sudirman, tepat di jantung ibu kota Jakarta. Bentuknya yang unik seperti pulpen, menjadikan Wisma 46 sebagai ikon kota Jakarta disamping Tugu Monas. Pembangunan Indonesia yang tidak merata, tercermin pula pada penyebaran pencakar langitnya, dimana dari 25 pencakar langit tertinggi, semuanya berada di Jabotabek (baca: Jakarta).

 

Berikut 25 Gedung Tertinggi di Indonesia :

The Peak Tower

1. Wisma 46, tinggi 262 meter, 48 lantai, selesai dibangun tahun 1996, terletak di Jalan Sudirman Jakarta Pusat.
2. Menara BCA, tinggi 230 meter, 56 lantai, selesai dibangun tahun 2009, terletak di Jalan Thamrin Jakarta Pusat.
3. The Peak Tower I, tinggi 218,5 meter, 55 lantai, selesai dibangun tahun 2006, terletak di Jalan Sudirman Jakarta Selatan.
4. The Peak Tower II, tinggi 218,5 meter, 55 lantai, selesai dibangun tahun 2006, terletak di Jalan Sudirman Jakarta Selatan.
5. Graha Energi, tinggi 217 meter, 40 lantai, selesai dibangun tahun 2008, terletak di Sudirman CBD Jakarta Selatan. Baca entri selengkapnya »


Konglomerat Indonesia

Konglomerat Indonesia

Forbes, dalam ritual tahunannya, kembali menurunkan daftar orang-orang kaya Indonesia. Ada yang berbeda tahun ini. Aburizal Bakrie yang tahun lalu duduk di kursi paling atas, kini harus merosot ke posisi enam. Sejak krisis pasar modal terjadi pada bulan Oktober 2008 lalu, saham BUMI yang menjadi mesin uang grup Bakrie, terjun bebas dari Rp 8.800 hingga mencapai Rp 700. Selain itu, diambil alihnya beberapa saham perusahaan di kelompok Bakrie dari tangan Aburizal, juga turut menekan jumlah kekayannya. Sukanto Tanoto, pengusaha kertas dan bubuk kertas asal Medan, ambil alih posisi menjadi yang teratas.

 

Berikut daftar konglomerat Indonesia menurut versi majalah Forbes Asia :

1. Sukanto Tanoto, US$ 2,8 Milyar; 58 tahun. Di bawah bendera Raja Garuda Mas International yang berpusat di Singapura, Sukanto memproduksi kertas, minyak kelapa, dan sumber daya energi.
2. Putera Sampoerna – US$ 2,1 Milyar; 58 tahun. Perusahaannya, PT H.M Sampoerna, Tbk menjadi perusahaan rokok paling menguntungkan di Indonesia. Selain bisnis rokok, Sampoerna juga mengembangkan perkebunan dibawah kendali PT Sampoerna Agro Industri.
3. Eka Tjipta Widjaja & keluarga – US$ 2,0 milyar; 80 tahun. Pemilik Sinar Mas Grup, yang bergerak di bidang perkebunan, kertas, perbankan, dan sekuritas.
4. Rachman Halim & keluarga – US$ 1,8 Milyar; 59 tahun. PT Gudang Garam yang berbasis di Kediri, Jawa timur merupakan kepunyaannya. Saat ini Gudang Garam menjadi perusahaan rokok terbesar di Indonesia.
5. R. Budi Hartono & keluarga – US$ 1,4 Milyar; 64 tahun. Selain bisnis rokok kretek dengan merek Djarum, Hartono dan keluarga juga merupakan penguasa sebagian saham bank swasta terbesar tanah air, BCA. Hartono juga mulai merambah ke bisnis properti, dengan proyek terbesarnya saat ini ialah kompleks hotel, mal, dan apartemen Grand Indonesia. Baca entri selengkapnya »


Toko Merah di Jalan Kali Besar Barat

Toko Merah di Jalan Kali Besar Barat

Pergi melancong ke Kota Tua Jakarta (Oud Batavia), ternyata memiliki keasyikan tersendiri. Tak perlu merogoh kocek dalam-dalam, saya sudah bisa menikmati keindahan tempat-tempat bersejarah di lokasi awal mula Jakarta berdiri. Agar hemat sampai tujuan, moda transportasi murah seperti kereta listrik dan bis Transjakarta menjadi pilihan. Untuk perjalanan kali ini, saya memilih kereta listrik ekonomi. Selain praktis dan cepat, harga tiketnya-pun super murah. Sekali jalan dari Cakung ke Jakarta Kota, cukup dengan tiga koin Rp 500. Pagi itu kereta berjalan lambat dari biasanya. Beberapa kali kereta kami harus tertahan untuk berganti jalan dengan yang lain. 45 menit perjalanan, saya tiba di Jakarta Kota. Jam di stasiun masih menunjuk ke angka sembilan, tanda sinar mentari belum keras menyengat.

Ke arah utara menyusuri pedestrian yang sempit, saya berserobok bangunan tua dengan halaman cukup luas. Kompleks bangunan ini kira-kira berukuran 200 x 150 meter. Konon tempat ini dulu menjadi balai kota (stadhuis) dan kantor bagi para penggede VOC. Dari bangunan besar inilah, VOC mengendalikan bisnisnya yang terbentang luas mulai dari Afrika hingga Kepulauan Maluku. Kini bangunan yang berdiri sejak tahun 1710 itu, telah berubah menjadi Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta. Museum ini memang terkesan angker. Di bawah tanah, terdapat beberapa ruang penjara setinggi tengkuk orang dewasa. Di tempat inilah dulu, Untung Suropati menjalani hukuman sekaligus menjalin kisah asmara dengan anak gadis penggede VOC. Museum ini berlantai tiga, dengan beberapa rumah kecil di sekitarnya. Di halaman muka, berdiri tiang bekas tempat eksekusi hukuman gantung bagi narapidana kelas kakap. Sedangkan di belakang, terletak meriam Si Jagur yang terkenal itu.

Baca entri selengkapnya »


Kapitalisme

Di zaman ekonomi kartal dewasa ini, segalanya menjadi mungkin. Orang-orang yang coba untuk menjadi kaya, cukuplah tampil parlente. Tak perlu sekolah tinggi-tinggi, asal bisa berhitung, baca peluang plus pergaulan luas, menjadi seorang miliuner tak sulit digapai. Hanya pakai jas, sedikit wewangian, dan diantar sopir dengan mobil bermerek, bisa menambat hati banyak orang. Tak terkecuali pihak bank. Masuklah Anda ke bank dengan gaya necis macam ini, layanan prioritas tak kan sulit diraih. Tawaran kartu kredit platinum tanpa limit, serta bunga pinjaman yang menarik menanti Anda. Mau buka usaha tapi tak punya modal, tinggal pinjam uang ke bank. Cukup kasih komisi 1% ke para pejabat bank, dijamin urusan Anda cepat kelar. Buka usaha tak perlu pintar-pintar amat. Asal bisa memenej orang serta patpatgulipat dengan birokrat, bisnis Anda dijamin sukses. Untuk tenaga kerja, Anda tinggal hire alumni-alumni terbaik UI dan ITB. Kasih gaji tinggi dan minta mereka menjalankan usaha Anda sebaik mungkin.

Mau memperbesar skala usaha, banyak jalan menuju Roma. Mungkin salah satu cara yang tepat, masuk ke pasar modal. Sukses di pasar modal resepnya cuma satu, buat semenarik mungkin kinerja saham perusahaan Anda. Jadikan seolah-olah saham ini sebagai tempat investasi yang menguntungkan bagi banyak orang. Dimasa sekarang, dimana kepeng rupiah yang berbicara, menciptakan yang seperti ini tidaklah sulit. Baca entri selengkapnya »