Kota-kota dagang Laut Tengah dibawah kekuasaan Venesia (merah), di tepi Imperium Turki Utsmani (hijau)

Kajian tentang sejarah ekonomi dunia yang mengaitkannya dengan pasang surut sosial politik, masih menjadi subyek langka dalam ranah studi ekonomi pembangunan. Minimnya para ekonom yang menguasai ilmu-ilmu sosial secara komprehensif, menjadi salah satu faktor penyebab hal tersebut. Dalam tulisan ini, saya mencoba memberikan sedikit gambaran mengenai sejarah panjang ekonomi dunia beserta naik-turunnya politik negara-bangsa. Sumber-sumber primer yang terbatas serta sedikitnya referensi yang bisa menjadi acuan, menjadi kendala sekaligus tantangan dalam penulisannya. Lewat buku Paul Kennedy : The Rise and Fall of the Great Powers yang sangat memukau, ditambah karya-karya Angus Maddison serta Walter Scheidel, kajian ini coba diketengahkan. Sekadar catatan tambahan, angka-angka yang tertera di bawah setara dengan kekuatan kurs USD pada tahun 1990.

Bahasan ini saya awali dari tahun 1 Masehi, dimana pada masa itu dengan pendapatan per kapita sebesar USD 809, Italia tercatat sebagai negara paling makmur di dunia. Mantapnya perekonomian Italia, disebabkan karena luasnya daerah taklukan mereka ketika itu. Secara keseluruhan luas wilayah Imperium Romawi mencapai 4 juta km2, yang meliputi tiga benua : Eropa, Asia, dan Afrika. Ditemukannya bahan-bahan mineral berharga seperti emas, besi, dan plumbum, memicu terjadinya industrialisasi besar-besaran. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Walter Scheidel, pendapatan domestik bruto Kerajaan Romawi pada masa jayanya (tahun 150 masehi) mencapai angka USD 43,4 milyar. Dengan kekuasaan politik yang absolut, kekayaan negeri-negeri di sekeliling Laut Tengah dibawa pulang ke Italia. Boleh jadi politik sentralistik macam inilah yang menjadi sumber kemakmuran mereka.

Baca entri selengkapnya »


Spanduk pendukung Nurdin. Bangga Timnas ke final Piala AFF

Sudah 7 tahun lebih duet Nurdin Halid-Nugraha Besoes memimpin PSSI. Namun prestasi yang ditunggu-tunggu pecinta sepak bola tanah air, tak jua kunjung tiba. Prestasi terakhir yang ditorehkan oleh tim nasional (timnas) Indonesia adalah pada tahun 1991, ketika berhasil keluar sebagai juara SEA Games di Filipina. Saat itu PSSI dipimpin oleh Kardono, yang didapuk sejak tahun 1983. Pada periode 1991-1999, PSSI dipimpin oleh Azwar Anas. Di bawah kepemimpinannya ia berhasil mengantarkan Indonesia untuk kali pertama tampil di Piala Asia (1996). Pada era ini pula ranking tim nasional Indonesia berhasil mencapai peringkat tertinggi sejak masa kemerdekaan, yakni di urutan 76. Selain pelatih, faktor lain seperti kompetisi dan pembinaan usia muda turut mempengaruhi pencapaian ini. Seperti diketahui Azwar berhasil mempersatukan dua kompetisi terbesar saat itu, Galatama dan Perserikatan, menjadi satu kompetisi : Liga Indonesia. Sayang ! pada tahun 1998 ia mengundurkan diri karena skandal sepak bola gajah. Jabatannya kemudian diisi oleh Agum Gumelar.

Setelah kepemimpinan Agum berakhir, sejak tahun 2003 PSSI diketuai oleh Nurdin Halid. Ia memang berhasil membawa Indonesia dua kali berlaga di Piala Asia. Namun hasilnya seperti yang sudah-sudah, belum beranjak dari fase penyisihan grup. Pasca keikutsertaan itu prestasi Indonesia terus mandeg, bahkan cenderung menurun. Contoh terakhir adalah pada turnamen Piala AFF yang digelar sejak 1 Desember 2010 lalu. Hingga tulisan ini diturunkan, posisi Indonesia tertinggal 0-3 dari Malaysia, setelah bermain pada laga final leg pertama di Stadion Bukit Jalil, Malaysia. Skuad Garuda yang perkasa, seolah-olah tak berdaya menghadapi Mohammad Shafee dan kawan-kawan. Lini belakang tim nasional yang biasanya kokoh, kali ini compang-camping dibuatnya. Maman Abdurrahman dan Hamka Hamzah, sering membuat kesalahan-kesalahan elementer. Posisi striker-pun setali tiga uang. Duet Gonzales-Yongki, yang kemudian berganti dengan Irfan-Bambang, mandul bak perawan tua.

Baca entri selengkapnya »


Heboh-heboh WikiLeaks di penghujung tahun 2010 ini, menjadi fenomena bagi zaman kebebasan. Sebagian orang berpendapat, kemunculan WikiLeaks merupakan bentuk dari radikalisme kebebasan. Sebagian lagi menilai, ini merupakan kebebasan yang sejati. Seperti halnya Lehman Brothers dan skema ponzinya Madoff, WikiLeaks merupakan produk dari liberalisme.

Sejarah telah mencatat, sejak satu abad lampau Amerika dan konco-konconya di Eropa, merupakan promotor terpenting dari program demokratisasi dan liberalisasi ke seluruh dunia. Tidak ada satupun negara yang alpa dan absen dari mega-proyek tersebut. Tak terkecuali negara-negara komunis dan kerajaan-kerajaan yang tertutup. Dalam proyek ini Barat meminta (bahkan memaksa) negara-negara lain, agar melakukan transparansi dan kebebasan. Satu abad berlalu, dunia benar-benar menjalankan kebebasan itu : liberalisasi ekonomi, liberalisasi informasi, dan liberalisasi agama.

Baca entri selengkapnya »


Pantai Kuta, Bali

Baru-baru ini Majalah SWA bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) menyelenggarakan survei dalam rangka Indonesia Tourism Award (ITA) 2010. Kegiatan ini terselenggara untuk yang kedua kalinya, sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan pariwisata Indonesia. Dalam hasil survei itu terlihat bahwa Denpasar, Bali merupakan kota terfavorit (the most favourite cities) pilihan responden. Selain itu dua daerah wisata Bali lainnya, yakni Bedugul dan Pantai Sanur terpilih sebagai daerah tujuan wisata paling favorit (the most favourite destination cities).

Tak beranjaknya daerah tujuan wisata utama kita dari Pulau Dewata, menandakan tak adanya perkembangan berarti pariwisata di daerah lain. Hal ini diperkuat oleh timpangnya jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang mengunjungi Bali dibanding dengan propinsi-propinsi lainnya. Berdasarkan data Kemenbudpar 2009, tercatat bahwa Bali dikunjungi oleh sekitar 2,38 juta wisman atau 37,7% dari total seluruh wisman yang berkunjung ke Indonesia. Banyak faktor yang menghambat perkembangan pariwisata di daerah-daerah lain. Salah satunya adalah sarana seperti hotel, restoran, dan klub-klub malam. Selain itu kemudahan wisatawan menjangkau wilayah tersebut, juga menjadi faktor penentu sukses tidaknya pariwisata di daerah itu.

Baca entri selengkapnya »


Seorang peneliti Indonesia dari luar, bisa dimaafkan kalau mengira bahwa dua budaya besar Nusantara adalah Jawa dan Minangkabau. Apabila kita menyimak nama-nama dalam buku-buku sejarah atau membuat daftar orang-orang yang telah membentuk budaya nasional, kedua kelompok etnik ini akan terlihat menonjol. Pakar-pakar kolonial Belanda menempatkan orang Minangkabau dari Sumatera Barat – dianggap dinamik, berwawasan ke luar, dan bertauhid – sebagai imbangan terhadap orang Jawa yang feodal, involutif, dan sinkretik keagamaannya. […]

[…] Jadi, adalah menakjubkan bahwa ternyata pada 1930 orang Jawa mencapai 47 persen penduduk Hindia Timur Belanda. Ditambah lagi orang Sunda di Jawa Barat dan Madura – ketiga kelompok etnis yang bersama-sama dipandang negara sebagai jantung budayanya – maka jumlahnya mencapai 70 persen penduduk. Pada masa itu, orang Minangkabau hanya 3,36 persen penduduk Hindia, kurang dari dua juta orang. Mengingat dominasi orang Jawa ini, adalah mengherankan bahwa orang Minangkabau, suatu wilayah kecil dan marginal dalam suatu kepulauan besar, begitu meraksasa dalam sejarah nasional. Jumlah besar orang Minangkabau dalam daftar orang-orang ternama Indonesia, belum pernah terjelaskan dengan memuaskan.[…]

Dan pertanyaan (baca : permasalahan) inilah, yang coba dijawab oleh Jeffrey Hadler melalui bukunya, “Sengketa Tiada Putus” (Freedom Institute, 2010). Karya ini pada mulanya merupakan disertasi Hadler untuk meraih gelar PhD di Cornell University. Dan kemudian atas inisiatif penerbit kampus, karya ini dibukukan dengan mengambil judul, Muslim and Matriachs : “Cultural Resilience in Indonesia through Jihad and Colonialism” (Cornell University Press, 2008).

Baca entri selengkapnya »


Tokoh-tokoh Minang dalam pecahan mata uang Dollar, Ringgit, dan Rupiah

Abdul Aziz Ishak, pada tahun 1983 pernah menulis buku berjudul : “Mencari Bako”. Konon buku ini ia tulis karena kebanggaannya sebagai orang keturunan Minang yang banyak mencipta peradaban di kedua belah negeri, Indonesia dan Malaysia. Walau menurut adat Minangkabau yang matrilineal itu, Aziz tak “benar-benar sebagai orang Minang”, namun kegalauannya mencari keluarga ayah (bako dalam istilah Minangkabau), mendorongnya untuk menulis buku setebal 155 halaman. Dalam buku itu diterangkan, bahwa Aziz merupakan generasi kelima keturunan Datuk Jannaton, anggota keluarga Kerajaan Pagaruyung yang meneroka Pulau Pinang di awal abad ke-18. Walau jauh sudah pertautan Aziz dengan ranah Minang, namun rasa keminangannya itu masih perlu ia nukilkan. Dari catatan ini, terungkap pula nama Jamaluddin atau Che Din Kelang, seorang kaya Minangkabau asal Kelang Selangor, yang menikahi emak tua-nya Aishah. Kini keturunan Datuk Jannaton telah menyebar ke serata dunia, dan banyak dari mereka yang “menjadi orang”. Selain Aziz Ishak yang pernah menjabat menteri pertanian Malaysia, saudara tertuanya Yusof Ishak sukses menjadi Presiden Republik Singapura yang pertama.

Kisah lainnya datang dari Rais Yatim, yang saat ini menjabat sebagai menteri komunikasi, informasi, dan kebudayaan Malaysia. Rais lahir dari pasangan Mohammad Yatim dan Siandam asal Palupuh, luhak Agam. Orang tuanya yang berprofesi sebagai pedagang, telah merantau ke Malaysia sejak tahun 1920-an. Dalam sebuah autobiografinya, Rais menulis seluk beluk memasak rendang, masakan Minangkabau yang telah mendunia. Rais mencatat, ada tiga kunci memasak rendang agar terasa nikmat : pertama cukup kelapa dan ramuan, kedua mesti dikacau berterusan, dan ketiga apinya jangan besar. Komentar Rais mengenai rendang, melengkapi pengamatannya tentang adat perpatih yang berhulu di Minangkabau. Ternyata kecintaan Rais akan budaya Minang, bukan sebatas masakannya saja. Gaya rumah yang dibangunnya-pun, mengikuti arsitektur Minang beratapkan gonjong. Seperti banyak perantau Minang lainnya yang sukses berkarya di seantero jagad, Rais juga memiliki sifat demokratis dan egaliter. Selain itu karakter Minang yang melekat pada dirinya adalah, ia orang yang berprinsip, mudah bergaul, tahu dengan ereng dan gendeng, serta alur dan patut.

Baca entri selengkapnya »


Gedung Indosat Jakarta. Indosat salah satu perusahaan negara yang sempat diakuisisi pihak asing

Kekonyolan sering muncul dan terjadi di negeri ini. Secara konsisten dan berulang-ulang. Dan sialnya lagi, kekonyolan itu tak banyak orang yang tahu. Kecuali para sarjana dan teknokrat kita, yang masih bersih dan belum terkooptasi dengan pemikiran ekonomi liberal. Masalah ekonomi dan isu di seputarannya, memang hangat untuk diperbincangkan. Terlebih lagi jika terkait dengan intervensi dan kepemilkian asing di dalamnya. Seperti kasus baru-baru ini, yakni penawaran umum perdana (IPO) saham PT. Krakatau Steel (dengan kode Bursa : KRAS) di Bursa Efek Indonesia.

Pada kasus ini, muncul masalah mengenai penentuan harga perdana yang dipatok pada level Rp 850 per sahamnya. Pemerintah dan penjamin emisi — pihak yang paling bertanggung jawab dalam penentuan harga perdana — bersikukuh bahwa angka tersebut merupakan harga yang optimal. Sedangkan para pengamat ekonomi dan kaum sosialis-nasionalis menuding, harga penawaran tersebut masih di bawah dari nilai wajar perusahaan. Walau akhirnya harga perdana tak bergeming pada nilai yang telah ditentukan, harga KRAS sempat terbang ke level Rp 1.250 atau naik sebesar 47% pada penjualan hari pertama. Melihat kenaikan KRAS yang spektakuler, para pengamat ekonomi beranggapan : negara telah dirugikan dalam proses IPO Krakatau Steel.

Baca entri selengkapnya »


Trihatma Kusuma Haliman

Berani memulai bisnis di saat krisis, itulah intisari pembicaraan Trihatma Kusuma Haliman pada sesi acara success story Investor Summit 2010. Sosok dan pribadi Trihatma, tak banyak orang yang tahu. Kalangan bisnis dan investor, mungkin lebih mengenal PT. Agung Podomoro Land, Tbk (APLN), dibanding sosok Trihatma yang notabene merupakan pendiri dan pemilik perusahaan properti tersebut. Suryopratomo yang memandu acara itu, menggambarkan sosok Trihatma sebagai pribadi yang humble, jauh dari hingar bingar selebritas dan pentas.

Agaknya dia orang yang penuh prinsip. Begitu kesan yang muncul dari pria kelahiran Jakarta 58 tahun lalu itu. Dan prinsip-prinsip itulah yang dibagikan kepada kami, para peserta temu investor pasar modal Indonesia. Memulai usaha di usia yang relatif muda, Trihatma banyak menyerap filosofis dan gaya kepemimpinan sang ayah. Dari ayahnya-lah, Trihatma belajar bagaimana mengelola dan mengolah tanah. Tahun 1974, menjadi awal karier Trihatma di bisnis tanah dan properti. Dengan bermodalkan Rp 270 juta dari hasil pinjaman bank, Trihatma memberanikan diri mengakuisisi proyek properti di daerah Sunter Podomoro, Jakarta Utara. Kelak, dari wilayah itulah bisnis ayah dua anak itu terus maju dan berkembang.

Baca entri selengkapnya »


Patung Sultan Hasanuddin di Makassar

Christian Pelras dalam bukunya yang kesohor : The Bugis, bercerita tentang riwayat hidup masyarakat Bugis dari awal abad pertama hingga abad kontemporer. Melalui karyanya itu, Pelras menuturkan kehidupan masyarakat Bugis yang pada mulanya merupakan masyarakat agraris, kemudian bermigrasi sejak jatuhnya Makassar pada tahun 1666. Di perantauan, orang-orang Bugis terkenal sebagai pelaut ulung, serdadu bayaran, dan penguasa kerajaan-kerajaan Islam Nusantara. Peran dan kiprah mereka, telah mewarnai perjalanan sejarah Indonesia, khususnya pada abad ke-18 dan 19 Masehi.

 

Dari Darat ke Laut

Bugis, salah satu dari tiga etnik di Nusantara (selain Banjar dan Minangkabau) yang telah menempatkan manusia-manusianya di seberang lautan sejak ratusan tahun lampau. Kepindahan masyarakat Bugis-Makassar, lebih disebabkan karena besarnya dorongan politik di Sulawesi Selatan, yang merupakan kampung halaman mereka. Kerajaan-kerajaan Bugis-Makassar yang telah bersaing sejak abad ke-14, menciptakan ketegangan yang berkepanjangan. Aliansi, ekspansi, dan peperangan yang berlangsung ratusan tahun lamanya, mengundang petualang-petualang asing untuk ikut bermain di dalamnya. Pemerintah Hindia-Belanda yang tahu keadaan ini, menjadi pihak yang paling siap membantu salah satu kerajaan yang bersaing.

Baca entri selengkapnya »


Pengemis jalanan

Setiap kali ku melintas jembatan penyeberangan Dukuh Atas (Jakarta Pusat), duduknya selalu menyila. Mengapit anaknya yang tertidur di pangkuan. Parasnya tak pernah nampak jelas oleh ku. Selain tertutup tudung putih lusuh yang sudah kecoklatan, kepalanya selalu menekur. Wajahnya yang acap merunduk, mungkin sedang larut dalam simpuh kepada sang Khalik. Dalam doanya ia meminta, agar anak yang dipangkuannya itu, kelak tak menemui nasib seperti dirinya. Usianya ku tak tahu pasti. Tua belum mudapun terlampau. Mungkin sudah kepala empat. Yang jelas, anak yang dipangkuan itu, lewat sedikit dari umur anakku yang baru pandai berjalan.

Aku yakin, anak yang dipelukan itu, anak kandungnya sendiri. Bukan anak sewaan atau anak pungut yang biasa banyak dipakai oleh para pengemis jalanan. Meskipun statusnya miskin, namun yang ku lihat, ia tak pernah menengadahkan tangan. Apalagi membuat-buat cacat palsu, seperti pengemis lain di ujung jembatan penyeberangan itu. Walau tak semua orang lewat melemparkan recehan ke hadapannya. Sepintas ku lihat dari kejauhan, ada saja rezeki ibu ini.

Baca entri selengkapnya »