Baliho Peserta Pilpres 2009

Haruskah kini Jusuf Kalla (JK) maju sebagai capres? Pertanyaan inilah sekarang yang menggelayuti sebagian politisi Partai Golkar. Dalam survei yang dirilis oleh beberapa lembaga survei, JK kuranglah populer. Popularitasnya tidak mencapai angka 5%. Jauh dari Prabowo, Megawati, apalagi incumbent SBY. Bagi JK yang pragmatis, survei bukanlah segalanya. Desakan dari kader Golkar dan gengsi sebagai partai terbesar, telah mengayunkan langkahnya untuk ikut dalam pertarungan Pilpres besok. Walaupun pemilu legislatif belum berlangsung, bak gayug bersambut, pencalonan JK ini merupakan berkah bagi sebagian tokoh. Sejak diumumkan kesiapannya, tokoh-tokoh lintas partai mulai merapat kepadanya. Ya apalagi kalau bukan untuk menawarkan diri menjadi cawapres.

JK merupakan anti-tesis bagi demokrasi kita dewasa ini. Dia seorang saudagar sukses, pekerja keras, dan periang. Satu pengecualian untuknya, dia orang Bugis — dan bukan Jawa. Dan faktor inilah yang mungkin akan mengganjalnya maju ketampuk pimpinan nasional. Masalah primordialisme, soal Jawa dan non-Jawa mungkin merupakan persoalan serius bagi sebagian masyarakat kita. Fanatisme kesukuan dan juga ideologi, menjadi momok terbesar bagi demokrasi kita. Setelah 11 tahun reformasi, mungkin sebagian rakyat mengidamkan adanya perubahan yang berarti dalam konstelasi perpolitikan nasional. Tren Obama di Amerika, mungkin menjadi pemicunya. Dimana etnis minoritas behasil menjadi penguasa negara.

Baca entri selengkapnya »


Orang-orang Minang di Pentas Dunia

Orang-orang Minang di Pentas Dunia

Kesuksesan orang Minang di kancah kehidupan, tak terlepas dari budaya merantau yang telah melembaga dalam kehidupannya. Tsuyoshi Kato dalam penelitiannya mencatat bahwa, dari 8 juta orang Minang separuh berada di perantauan. Ukuran tersebut telah menjadikan etnis Minang sebagai masyarakat perantau terbesar di Nusantara. Mereka sering dinyatakan sebagai manusia yang kakinya tak pernah tinggal diam, senantiasa aktif berpindah serta meneruka wilayah-wilayah baru. Masyarakat Minang telah merantau sejak ratusan tahun lalu. Dari luhak nan tigo, mereka bermigrasi ke pesisr barat dan timur Sumatra.

Kemajuan perekonomian di daerah pedalaman Minangkabau, yang umumnya ditopang oleh perkebunan lada, telah mendorong orang-orang Minang untuk mengekspor hasil produksinya ke negara lain. Kegiatan ekspor ini umumnya dilakukan melalui pantai barat Sumatra. Hal ini telah mendorong masyarakat Minang untuk menetap di wilayah pesisir ini. Sehingga tak heran, jika banyak dijumpai perkampungan-perkampungan Minang yang terbentang mulai dari Meulaboh, Barus, Sibolga, Natal, hingga Bengkulu. Kemajuan perdagangan Minang, mengalami kemunduran ketika Aceh dibawah kuasa Sultan Iskandar Muda mengambil alih pelabuhan-pelabuhan ini dari tangan mereka.

Baca entri selengkapnya »


Sidang MUI di Ponpes Serambi Mekkah, Padangpanjang

Pesta demokrasi dalam hitungan hari segera tiba. Kesibukan menyambut pesta lima tahunan ini pun merata di seantero bumi Nusantara. Dari komisi pemilu, pengurus partai, para caleg, tukang cetak, tukang sablon, dan tak ketinggalan pula, “tukang pembuat fatwa” : Majelis Ulama Indonesia.

Tak seperti biasanya, para ulama kita yang berkumpul di Padangpanjang Januari lalu, ikut kasak-kusuk menyambut pemilu yang akan berlangsung 9 April nanti. Penyebabnya ialah adanya kekhawatiran atas kecenderungan meningkatnya pemilih putih atau yang biasa dikenal dengan golongan putih (golput). Kekhawatiran inipun secara sepintas cukuplah beralasan. Coba tengok tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilihan kepala daerah yang diadakan secara estafet belakangan ini. Tak lebih dari 80% masyarakat yang ikut dalam pemilihan ini. Berdasarkan hal itu, maka Majelis Ulama Indonesia berinisiatif untuk menerbitkan sebuah fatwa.

Anggapan sebagian orang, fatwa itu tidaklah murni inisiatif dari para ulama. Namun merupakan pesanan dari beberapa petinggi partai. Alasan sebagian orang itu merujuk dari banyaknya tokoh-tokoh Islam yang menyerukan untuk golput pada Pemilu nanti. Baca entri selengkapnya »


Wallstreet dan Dollar Amerika

Wallstreet dan Dollar Amerika

Kebobrokan mesin ekonomi Amerika, satu per satu mulai terkuak. Setelah kasus subprime mortgage yang menjadi pemicunya di tahun 2007 lalu, berturut-turut kejadian besar terjadi disana. Kebangkrutan Lehman Brothers di pertengahan tahun 2008 ini, pemutusan hubungan kerja besar-besaran karyawan perusahaan otomotof the big three, sampai yang paling mutakhir kasus penipuan dengan skema ponzi.

Kasus penipuan ini cukup lucu dan tak beralasan untuk raksasa ekonomi sekaliber Amerika. Melihat kasus ini kita jadi bertanya-tanya, dimana fungsi pengawasan dan kontrol atas perusahaan investasi di negara itu. Kita tahu bahwa produk-produk instrumen keuangan terbitan Amerika, seperti reksadana, obligasi, asuransi, sampai produk derivatif-nya, selalu dinilai AAA+ oleh lembaga pemeringkat. Artinya bahwa produk-produk terbitan negeri ini, dinilai sebagai produk-produk yang aman dan paling menguntungkan. Dan lucunya lagi, banyak korban dari penipuan yang dimotori oleh Bernard Madoff ini ialah bank-bank besar seperti Royal Bank of Scotland, BNP Paribas, Nomura Holdings, dan orang-orang super kaya dunia.

Baca entri selengkapnya »


Lehman Brothers

Lehman Brothers

Tempo hari pengalaman menarik saya dapatkan. Sebuah cerita yang mengingatkan saya, bahwa sebuah keikhlasan sangat diperlukan dalam hidup ini. Cerita itu datang bukan dari motivator ulung atau pak kyai, tapi dari seorang rakyat terpinggirkan : tukang ojek. Begini ceritanya; hari menunjukkan pukul 7.50, 10 menit menjelang waktu saya masuk kantor. Kopaja, jelaslah pilihan yang salah untuk cepat tiba di kantor. Memilih Kopaja bisa-bisa telat lagi. Naik taksi, oh no… Mahalnya ongkos taksi, tak cukup untuk karyawan kecil macam saya. Tak ada pilihan lain, selain memilih ojek untuk sampai sebelum jam 8.00 di kantor.

Panas yang mulai meninggi di downtown kota Jakarta, plus kondisi lalu lintas yang cukup semrawut, tak membuat wajah ini absen mengumbar senyum. Senyum pagi itu, saya tumburkan ke seseorang tukang ojek setengah baya. Senyum tipis dari pengojek itulah, yang membuat saya membalas senyum. Setelah itu, tawar menawar pun terjadi diantara kami. “Bang, Komdak sepuluh ribu ya?” Tanya saya pada pengojek tersebut. Tawaran saya pun langsung di iyakannya. Setelah tawaran kepada dua tukang ojek sebelumnya, ditolak mentah-mentah. Tanpa ba bi bu, si pengojek ramah itu langsung menancap motor bebek bututnya.

Baca entri selengkapnya »


Orang Kaya

India … Negeri miskin di anak benua Asia, dengan populasi besar, penduduk yang kurang kreatif, dan hanya mengandalkan hasil pertanian sebagai mata pencahariannya. Namun itu dulu, kisah dua puluh tahun lalu. Kini India telah mengkilap, telah berubah dan menjadi salah satu pesaing terberat Amerika. Tengoklah dalam daftar orang-orang tajir se-jagat yang dikeluarkan oleh majalah ternama, Forbes. India menempatkan empat wakilnya, dalam top sepuluh orang-orang kaya dunia. Amerika yang dari tahun ke tahun mendominasi daftar ini, hanyalah menempatkan dua orang dalam top sepuluh.

Adalah Lakshmi Mittal, Mukesh Ambani, Anil Ambani, dan Kushal Pal Singh, empat pengusaha India yang duduk di posisi tersebut. Lakshmi, yang memiliki pabrik baja terbesar di dunia masih yang terhebat diantara mereka. Pada tahun 2007 lalu, Arcelor Mittal memberikan US$ 45 milyar ke pundi-pundi Lakshmi. Angka ini hanya kalah dari Warren Buffett, Carlos Slim Helu, dan Bill Gates. Baca entri selengkapnya »


Kehancuran AS

Like to Roman Empire history in fifth century, America will replay its history. The Roman Empire fell because it was bankrupted by its leaders. Well, look at the American leaders now, not only the leaders in governance, but the CEO in big companies. Like the Roman senator were selfish and self-absorbed, determined to hoard the huge wealth of the empire and determined to promote empire to enhance their wealth even further.

In business, American CEOs receive higher salary than European or Japanese CEOs. Even though American not more productive than European or Japanese. Like Jack Welch who received salary 70 times compare than his lower staff. In governance, not as well as in business, George Walker Bush, like the kings of Roman, conquering many of world. Consequently, cost of conquers, make the budget deficits, trade deficits, and a huge national debt that has tripled. Today, the sub-prime mortgage issues, bring American financial companies go to seriously loss along its history after the great depression.

Baca entri selengkapnya »


Kapal VOC berlayar ke Nusantara

Kapal VOC berlayar ke Nusantara

Nusantara dalam kajian sejarah dunia, merupakan daerah pinggiran yang jarang tersentuh serta disorot secara menyeluruh. Sejarawan besar macam Arnold Toynbee-pun hanya mengulas sedikit kehidupan budaya dan sejarah masyarakat Nusantara dalam bukunya yang sensasional “Mankind and Mother Earth”. Dalam buku itu Arnold menulis bahwa kebudayaan Nusantara hanyalah perkembangan dari budaya India (Indian civilization influenced), seperti halnya budaya Benggala dan Urdhu.

Jika Arnold Toynbee hanya memintaslalukan perkembangan masyarakat Nusantara, namun ada beberapa pakar yang mengulas sejarah Asia Tenggara (Nusantara) secara mendalam dan menyeluruh. Diantara sejarawan-sejarawan tersebut ialah Dennys Lombard, Anthony Reid, dan Rovere van Bruegel. Ketiga sejarawan itu perlu mengulas Nusantara secara mendetail sebagai bangsa besar dan berpengaruh dalam percaturan perdagangan dunia. Merujuk dari beberapa karya sejarawan di atas, dalam artikel kali ini kita akan melihat dan meneropong Nusantara sebagai daerah yang maju, dan akhirnya menjadi bangsa yang miskin. Kita juga akan menengok penyebab dan dampak dari merosotnya perdagangan Nusantara sehingga akhirnya memiskinkan penduduk di kawasan ini.

Baca entri selengkapnya »


Rosihan Anwar, sang penulis petite histoire.

Menarik membaca hasil pengamatan serta pandangan para peneliti asing, mengenai kehidupan masyarakat dan budaya Nusantara. Pada perjumpaan kali ini, kita akan melihat penuturan Olivier serta pandangannya mengenai kehidupan bangsa-bangsa Hindia Timur pada abad ke-19. Olivier hanya melihat tiga etnis pribumi dan dua etnis asing yang menonjol dalam kehidupan kerajaan-kerajaan Hindia Timur. Pengkategorian tiga etnis pribumi, Jawa, Melayu, dan Bugis, merupakan suatu bentuk simplifikasi para sejarawan dan budayawan asing mengenai bangsa-bangsa Hindia Timur. Melayu misalnya, mungkin Olivier menyamaratakan seluruh etnis yang hidup di pulau Sumatera dan Kalimantan sebagai etnis Melayu. Dalam hal ini etnis Aceh, Melayu Pesisir, Minangkabau, dan Ogan, dikelompokkan ke dalam etnis Melayu, yang mana secara kultural mereka sangat berbeda. Begitu juga dengan etnis Jawa, yang diartikan sebagai bangsa yang hidup di pulau Jawa, dan Bugis merupakan orang-orang yang berada di Sulawesi.

Mungkin pandangan Olivier dan peneliti-peneliti sealiran dengannya inilah, yang akhirnya diserap oleh pemerintahan Malaysia, untuk menggelembungkan jumlah etnis Melayu di Malaysia. Pemerintahan Malaysia pasca kolonialisme Inggris, telah menggolongkan perantau-perantau Aceh, Mandailing, dan Minangkabau sebagai etnis Melayu. Bahkan untuk kepentingan politis tersebut, Malaysia menggolongkan pula perantau-perantau asal Jawa, Banjar dan Bugis sebagai orang Melayu Malaysia, sehingga kini secara keseluruhan etnis “Melayu” di Malaysia berjumlah 60% dari total populasi, melebihi China (25%) dan India (15%). Jikalau kita melihat secara cermat, mungkin etnis Melayu asli tidaklah akan lebih dari 20% di Malaysia.

Baca entri selengkapnya »


Bill Gates dan Paul Allen, dua orang yang melahirkan Microsoft Windows

Beberapa kelompok mahasiswa dan aktivis, belakangan ini sering melontarkan pernyataan bahwa sistem neo-liberalisme yang dianut oleh pemerintah kita, makin memperlebar jurang pemisah antara si kaya dengan si miskin. Hal ini tercermin dari realita kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Dimana kalangan jetset nan berduit, yang barang tentu sudah hidup mapan, semakin hari semakin kaya saja hidupnya. Sedangkan kaum papa yang kurang beruntung, semakin hari semakin susah dan terhimpit. Singkatnya, si kaya makin kaya dan yang miskin semakin miskin.

Seorang motivator pernah berkata kepada saya, bahwa kondisi tersebut sebenarnya adalah hukum Tuhan yang berlaku bagi seluruh manusia. Sesaat saya sempat berpikir, mengapa sang motivator berkesimpulan seperti itu. Sebegitu kejamkah Tuhan, sehingga tak berpihak kepada kaum papa. Dari hasil penjelasannya ia berujar, bahwa kaum kaya yang sudah mapan, dari hari ke hari semakin menajamkan kemampuannya, semakin meningkatkan pengetahuannya, dan semakin memperluas jaringannya. Sementara si miskin dari hari ke hari tanpa disadari malah sering melakukan tindakan-tindakan yang memiskinkan dirinya.

Baca entri selengkapnya »