sumber : kompasiana.com

sumber : kompasiana.com

Pilpres 2014 ternyata bukan cuma menciptakan kegaduhan dan intrik-intrik politik. Namun juga cerita-cerita lucu yang dibuat oleh tim-tim kreatif dadakan. Dari sekian banyak cerita yang terkumpul, baik itu melalui facebook, instagram, twitter, blog, atau media-media partisan, penulis melihat cerita-cerita bergambar-lah yang laris di “pasaran”. Gambar-gambar yang berisi monolog atau dialog tokoh-tokoh politik, biasanya menjadi kesukaan para netizen. Seperti gambar di samping, yang memperlihatkan “strategi” Prabowo yang akan mengurangi kebocoran anggaran. Gambar ini ternyata mendapatkan apresiasi yang cukup luas dikalangan pengguna media sosial.

Gambar lainnya adalah foto Aburizal Bakrie sedang memegang keris. Gambar ini beredar luas di twitter, setelah Ahmad Dhani berkicau akan memotong kemaluannya jika Jokowi terpilih menjadi presiden. Selain tokoh-tokoh politik, beberapa media partisan seperti TV One juga terkena olok-olok masyarakat. Gambar-gambar kreatif yang menunjukkan ketidakakuratan media tersebut menjadi perbincangan di beberapa akun twitter. Yang cukup populer diantaranya ialah hasil pertandingan Piala Dunia yang disiarkan oleh TV One. Dengan menggunakan hashtag “TV One Memang Beda”, hasil pertandingan yang seharusnya dimenangkan Argentina, malah berbalik menjadi kemenangan Belanda.

sumber : kabar24.com

sumber : kabar24.com

Baca entri selengkapnya »

    Pidato kemenangan Jokowi di Tugu Proklamasi, Jakarta

    Pidato Kemenangan Jokowi di Tugu Proklamasi, Jakarta


    Wahai presiden kami yang baru
    Kamu harus dengar suara ini
    Suara yang keluar dari dalam goa
    Goa yang penuh lumut kebosanan
     
    Walau hidup adalah permainan
    Walau hidup adalah hiburan
    Tetapi kami tak mau dipermainkan
    Dan kami juga bukan hiburan
     
    Turunkan harga secepatnya
    Berikan kami pekerjaan
    Pasti kuangkat engkau
    Menjadi manusia setengah dewa

     

    Begitulah tiga bait lirik lagu Manusia Setengah Dewa ciptaan musisi legendaris Iwan Fals. Lagu yang dirilis pada tahun 2004 itu, kemarin (9/7) kembali dinyanyikan oleh banyak orang. Apalagi kalau bukan untuk menyambut kedatangan pemimpin baru Indonesia : Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Meski pengumuman resmi dari KPU masih terus dinantikan, namun beberapa lembaga survei kredibel yang melakukan proses hitung cepat, telah menyatakan pasangan ini menang dengan selisih 4%-6% suara. Angka ini tak berbeda jauh dari hasil jajak pendapat sebelum pemungutan suara yang menyatakan kemenangan tipis untuk pasangan Jokowi-JK.

    Setelah mengetahui hasil sebagian hitung cepat yang memenangkan politisi PDI-P itu, tim sukses Jokowi-JK langsung menuju Tugu Proklamasi di Jakarta Pusat. Disana Jokowi telah dinanti oleh ribuan simpatisannya yang ingin mendengarkan pidato kemenangannya. Dalam pidato singkat tersebut, mantan walikota Surakarta itu menyatakan bahwa kemenangan yang diraihnya adalah kemenangan seluruh rakyat Indonesia. Bukan kemenangan Jokowi-JK, bukan kemenangan partai, dan bukan kemenangan tim sukses. Jokowi menambahkan, bahwa pada Pilpres kali ini masyarakat memilih karena kesadaran mereka, bukan karena dimobilisasi apalagi dengan diiming-imingi janji dan posisi. Lebih lanjut Jokowi menyampaikan, bahwa kemenangannya ini merupakan awal pengabdian kepada rakyat, pelayanan kepentingan rakyat, dan menggerakkan seluruh komponen untuk meraih kesejahteraan dan keadilan.

     
    Pemimpin yang Melayani Rakyat
    Baca entri selengkapnya »

Jokowi-JK vs Prabowo-Hatta

Jokowi-JK vs Prabowo-Hatta

Buat sebagian orang, tahun ini mungkin tak akan mudah dilupakan. Banyak kisah, banyak cerita yang bisa dikenang, terutama terkait dengan isu politik dan Pilpres 2014. Bagi mereka yang lahir pada masa Orde Baru, mungkin ini untuk kali keduanya merasakan gegap gempita atmosfer politik di tanah air. Sejak Reformasi, agaknya baru tahun inilah sebagian besar masyarakat kita kembali berpolitik praktis. Tidak seperti tahun 1998-99, dimana banyak orang yang turun ke jalan, kali ini mereka bisa melakukannya lewat media sosial. Ada yang berkicau melalui Twitter, meng-update status via Facebook, atau menyampaikan opini dan sanggahan di Kompasiana. Itulah alasannya mengapa dalam dua bulan terakhir ini saya rajin mantengin Facebook dan Kompasiana. Mungkin dengan cara inilah, sambil beraktivitas rutin, saya bisa merasakan suasana batin rakyat Indonesia dalam menyambut Pilpres 2014.

Dari media-media tersebut, saya bisa melihat opini masyarakat yang berseliweran. Ada opini positif yang mencerahkan, namun tak sedikit pula yang melewati batas-batas keadaban. Dari komentar yang masuk silih berganti, ada satu orang kawan yang tiap sebentar mem-bully Prabowo. Isunya bermacam-macam, dari persoalan HAM hingga perceraiannya dengan Titiek Soeharto. Teman saya yang lain, tak segan-segan mengirimkan berita-berita miring tentang Jokowi. Meski informasi tersebut tak jelas darimana sumbernya, namun tetap saja ia dengan giat menyebarkannya. Prinsip mereka, selama berita itu menyudutkan lawan, maka mereka tak kan peduli dengan kebenaran isi berita tersebut. Yang penting uweh-uweh-nya sudah terpuaskan.

Baca entri selengkapnya »

Gedung Negara Grahadi

Gedung Negara Grahadi

Makan tangan walikota Surabaya Tri Rismaharini mulai terlihat. Berkat kerja kerasnya, Surabaya menjadi salah satu metropolitan dunia yang diperhitungkan. Di berbagai sudut kota, ruang-ruang yang selama ini dibiarkan kosong, disulapnya menjadi taman hiburan dan tempat bermain. Tak cuma itu, Risma juga mengeruk kali-kali dan sungai yang sebelumnya dipenuhi limbah rumah tangga. Agar terlihat kinclong, di malam hari ia juga menyalakan lampu-lampu taman yang berwarna-warni. Untuk memanjakan para pegowes, ia menyediakan lajur khusus sepeda di jalan-jalan protokol. Tak ketinggalan lampu pengatur penyeberang jalan, di beberapa titik yang tak memiliki jembatan penyeberangan. Bukan hanya itu, Risma juga memperhatikan layanan kesehatan dan pendidikan masyarakatnya. Orang-orang jompo dan anak-anak jalanan benar-benar ia lindungi. Berkat prestasinya yang seabrek, ia dianugerahi United Europe Award pada pertengahan April lalu. Terlepas adanya kontroversi atas penghargaan tersebut, yang jelas Risma telah berhasil mengubah wajah Surabaya yang muram dan kusam menjadi lebih cerah dan bersih.

Disamping membangun kota yang inovatif dan layak huni, Risma juga mengembangkan wisata di dalam kota. Salah satu cara yang ia lakukan adalah dengan menghidupkan kembali bangunan-bangunan bersejarah yang terserak di seantero kota. Jika Anda menyusuri Jalan Rajawali, terus ke Jembatan Merah dan kawasan Ampel, maka dengan mudahnya dijumpai gedung-gedung tua yang tak terawat. Gedung-gedung itu kini mulai direvitalisasi sebagai obyek wisata yang menjanjikan. Dulunya hampir sebagian besar bangunan tersebut digunakan oleh perusahaan-perusahaan Belanda. Ada yang difungsikan sebagai kantor, ada pula yang untuk gudang.

Baca entri selengkapnya »

SP 2010

Dari hasil Sensus Penduduk tahun 2010, Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis sejumlah data mengenai kependudukan Indonesia. Salah satu data yang dipublikasikan ialah mengenai jumlah populasi suku-suku bangsa di Indonesia. Namun dari data yang dikeluarkan, timbul berbagai pertanyaan terutama mengenai naik-turunnya populasi etnis di Indonesia. Dari buku yang berjudul “Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia”, terlihat ada beberapa kelompok etnis yang mengalami penurunan cukup tajam, dan ada pula yang mengalami kenaikan diluar kewajaran. Sama seperti sensus tahun 2000, pada sensus 2010 lalu metodologi survei yang digunakan BPS dalam menentukan etnis seseorang ialah berdasarkan self-identification. Self-identification yang dimaksud adalah pengakuan seseorang terhadap kebudayaan dan adat istiadat yang dianutnya. Misalnya generasi kedua orang Jawa yang sudah lama bermukim di Jakarta, mungkin akan mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Betawi tenimbang etnis Jawa.

Jika orang tersebut mengalami kebimbangan dalam menentukan suku bangsanya, maka BPS akan menentukannya berdasarkan etnis sang ayah. Seperti misalnya anak-anak dari pasangan Batak dan Jawa yang bingung ketika menentukan suku bangsanya, maka BPS akan menggolongkan mereka kepada suku bangsa ayahnya. Meskipun responden tersebut tidak menggunakan bahasa dan adat istiadat Batak dalam kesehariannya, namun jika sang ayah memiliki marga Batak maka responden akan digolongkan sebagai orang Batak. Metodologi survei semacam ini memang terkesan demokratis, namun mengabaikan sisi antropologis yang seharusnya dikedepankan oleh BPS. Akibatnya yang terjadi ialah dari dua sensus penduduk terakhir (tahun 2000 dan 2010), para stakeholder tidak pernah mengetahui secara tepat jumlah populasi etnis di Indonesia.

Baca entri selengkapnya »

Pedagang Madura di Surabaya (sumber : food.detik.com)

Pedagang Madura di Surabaya (sumber : food.detik.com)

Setelah Jakarta, Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia. Berdasarkan hasil volkstelling 1930, penduduk Surabaya berjumlah 341.675 jiwa. Etnis Jawa merupakan kelompok terbesar dengan komposisi mencapai 66,7%, diikuti oleh masyarakat Tionghoa (11,4%), Madura (10,3%), Belanda (6,6%), dan Arab (1,5%). Dari buku Howard W. Dick yang berjudul Surabaya, City of Work: A Socioeconomic History, 1900-2000, terlihat bahwa pada masa itu kedudukan masyarakat Jawa dan Madura kuranglah menguntungkan. Hampir separuh dari mereka yang bekerja, berada pada okupasi terendah, seperti menjadi pelayan atau penarik becak. Tingkat pendidikan yang belum memadai serta politik kolonial yang menempatkan orang-orang “pribumi” di strata dasar, menjadi alasan mengapa kelompok Jawa dan Madura jauh tertinggal dari etnis lainnya. Orang-orang Tionghoa, meski juga berpendidikan rendah, namun mempunyai keahlian di bidang perdagangan. Oleh karenanya lebih dari 62% pengusaha-pedagang di Surabaya ketika itu diperankan oleh masyarakat Tionghoa. Sedangkan orang Eropa yang di masa itu masih memegang kekuasaan, banyak mengisi pos-pos kepegawaian (67,6%) dan profesional kerah putih (82,3%).

Setelah kemerdekaan keadaan masyarakat “pribumi” semakin membaik. Orang-orang Jawa dan Madura yang sebelumnya berada pada strata terbawah, naik menjadi penguasa kota. Hingga tahun 2000, hampir keseluruhan jabatan walikota diduduki oleh etnis Jawa. Mereka juga mendominasi okupasi kepegawaian dan tentara, walau banyak pula yang bekerja di strata terbawah. Sedangkan kelompok Madura yang dari segi persentase tak banyak berubah, sedikit demi sedikit mulai merangsek menguasai perdagangan menengah-bawah. Disamping orang Madura, masyarakat Bugis-Makassar, Minangkabau, dan keturunan Arab juga merupakan kelompok etnis yang aktif berbisnis di kota ini. Bahkan untuk industri galangan kapal, orang-orang Arab telah menguasainya sejak awal abad ke-19. Diantara komunitas Arab yang memiliki bisnis cukup besar adalah keluarga Baswedan. Mereka tak hanya menguasai industri tekstil, namun juga memiliki aset cukup banyak. Salah satu aset keluarga Baswedan yang kemudian diambil alih oleh pemerintah ialah tanah di kawasan Karangmenjangan. Tanah ini kemudian digunakan pemerintah untuk mendirikan Universitas Airlangga. Meski populasi Tionghoa dari tahun ke tahun terus merosot, namun peran mereka di bidang perdagangan agaknya belum tergoyahkan. Untuk pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus, seperti dokter, wartawan, dan ahli hukum, sudah banyak diisi oleh orang-orang Jawa yang terdidik, serta ditambah sedikit dari kaum Tionghoa dan Minangkabau.

Baca entri selengkapnya »

Kesawan, Medan (1920)

Kesawan, Medan (1920)

Masa-masa akhir pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, ditandai dengan tumbuhnya kota-kota baru di Indonesia. Dari sekian banyak daerah rural yang kemudian berkembang menjadi kota, Medan merupakan salah satu wilayah yang mencatatkan pertumbuhan cukup pesat. Berdasarkan sensus penduduk tahun 1905, penduduk Medan hanyalah berjumlah 14.000 orang. Dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Sumatera, angka ini jauh di bawah populasi Palembang (65.000 jiwa) dan Padang (47.000 jiwa). Namun dalam jangka waktu 50 tahun, Medan tumbuh menjadi kota terbesar di Sumatera. Dari hasil perhitungan tahun 1955, populasi kota Medan sudah mencapai 310.569 jiwa. Jumlah ini telah melampaui Padang (118.172 jiwa) dan Palembang (287.134 jiwa), serta menempatkannya sebagai kota terpadat keenam di Indonesia (Lihat tabel 1).

Tak hanya jumlah penduduk yang berkembang, dinamika etnisitas juga terjadi di kota ini. Dari hasil volkstelling tahun 1930, terlihat bahwa etnis Tionghoa merupakan kelompok terbesar di kota Medan. Dengan komposisi mencapai 35,6% dari keseluruhan penduduk kota, Medan menjadi kota dengan konsentrasi etnis Tionghoa terbesar di Indonesia. Berdasarkan catatan Justian Suhandinata, sebagian besar orang Tionghoa yang bermukim disini berasal dari kelompok Hokkian, dengan profesi sebagai pedagang dan buruh perkebunan. Namun pada tahun 1932, pemerintah kolonial menghentikan perekrutan buruh dari daratan China dan Negeri-negeri Selat (Penang dan Singapura). Akibatnya, buruh kontrak dari Jawa mengisi kebutuhan lahan-lahan perkebunan di Deli Serdang. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan komposisi etnis, dimana suku Jawa kemudian menjadi kelompok masyarakat terbesar di Medan. Pada tahun 1930, populasi orang Jawa hanya seperempat penduduk kota. Jumlah ini terus meningkat hingga mencapai sepertiga di tahun 2000.

Baca entri selengkapnya »