Archive for the ‘Sosial Budaya’ Category


Rumah mewah keluarga Alkaff di Singapura

Rumah mewah keluarga Alkaff di Singapura

Kaum Arab-Hadhrami merupakan salah satu kelompok etnis yang cukup berpengaruh di Nusantara. Mereka diperkirakan telah tiba di negeri ini dalam kelompok-kelompok kecil sejak abad ke-13. Ada beberapa faktor yang menyebabkan berhijrahnya mereka dari Hadhramaut ke Nusantara. Antara lain ialah adanya kesempatan berdagang serta peluang menjadi kadi dan guru agama di kesultanan-kesultanan Melayu. Disamping itu kondisi politik Yaman yang sering mengalami instabilitas, juga menjadi pendorong perginya mereka ke seberang lautan. Yang menarik, meski jumlah kaum Hadhrami di Nusantara relatif kecil, namun mereka telah banyak melahirkan para cendekiawan, negarawan, dan pebisnis yang tergolong sukses.

Dibanding golongan “Timur Asing” lainnya, pada masa kolonial kaum Arab-Hadhrami adalah kelompok yang paling cepat membaur dengan para penduduk lokal. Bukan hanya karena mereka beragama Islam — agama yang dianut oleh mayoritas “pribumi”, namun juga karena mereka menolak menjadi kaki tangan kaum kolonial. Meski adapula satu-dua yang bekerja untuk Belanda, tetapi kebanyakan dari mereka merupakan orang-orang yang anti terhadap kekuasaan Hindia-Belanda. Pada masa revolusi fisik, banyak diantara mereka yang ikut berjuang mengusir penjajahan Belanda di Indonesia.

(lebih…)


Seorang Perempuan Mengerjakan Sarung Tenun Samarinda

Seorang Perempuan Mengerjakan Sarung Tenun Samarinda

Di Indonesia Timur, etnis Bugis, Makassar, dan Buton dikenal sebagai kelompok masyarakat yang banyak melahirkan pengusaha tangguh. Mereka tak hanya mengisi pasar-pasar di Sulawesi, namun juga di Kalimantan, Maluku, dan Papua. Menurut catatan sejarah, migrasi orang-orang Makassar ke seberang lautan terjadi setelah berlangsungnya Perjanjian Bongaya di tahun 1667. Tak lama kemudian masyarakat Bugis yang tak puas dengan kondisi politik di Sulawesi Selatan mengikuti jejak saudaranya untuk pergi merantau. Sedangkan etnis Buton yang berasal dari Sulawesi Tenggara, baru melakukan migrasi secara besar-besaran setelah masa kemerdekaan. Sehingga di perantauan populasi dan pencapaian mereka tak terlampau mencolok. Ada beberapa faktor yang menyebabkan berpindahnya kelompok etnis dari Sulawesi bagian selatan ini ke wilayah-wilayah lainnya di Indonesia Timur. Namun dari semua faktor itu, yang terpenting ialah besarnya peluang ekonomi, terutama di bidang perdagangan. Oleh karenanya di beberapa tempat dan pada waktu tertentu, dalam perebutan kue ekonomi itu sering terjadi pergesekan antara masyarakat lokal dengan ketiga etnis tersebut.

Dalam beberapa hal, masyarakat Bugis-Makassar dan Buton bisa disamakan dengan kelompok Arab, Tionghoa, dan Minangkabau, yang banyak mencari peluang di Indonesia Timur untuk mengembangkan jaringan dagang mereka. Etnis-etnis tersebut bertolak belakang dengan motif migrasi orang Jawa, Minahasa, dan Batak, yang pergi ke Indonesia Timur karena penempatan sebagai pegawai atau ikut program transmigrasi. Karena corak dagang inilah, maka kelompok Bugis-Makassar dan Buton cukup menarik untuk dikaji dalam kaitannya dengan dinamika kehidupan masyarakat Indonesia Timur. Dalam kajian ini, penyebutan Bugis-Makassar juga termasuk di dalamnya kelompok-kelompok lain di Sulawesi Selatan, seperti etnis Luwu dan Massenrempulu, yang juga banyak tersebar di perantauan Indonesia Timur.

(lebih…)


SP 2010

Dari hasil Sensus Penduduk tahun 2010, Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis sejumlah data mengenai kependudukan Indonesia. Salah satu data yang dipublikasikan ialah mengenai jumlah populasi suku-suku bangsa di Indonesia. Namun dari data yang dikeluarkan, timbul berbagai pertanyaan terutama mengenai naik-turunnya populasi etnis di Indonesia. Dari buku yang berjudul “Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia”, terlihat ada beberapa kelompok etnis yang mengalami penurunan cukup tajam, dan ada pula yang mengalami kenaikan diluar kewajaran. Sama seperti sensus tahun 2000, pada sensus 2010 lalu metodologi survei yang digunakan BPS dalam menentukan etnis seseorang ialah berdasarkan self-identification. Self-identification yang dimaksud adalah pengakuan seseorang terhadap kebudayaan dan adat istiadat yang dianutnya. Misalnya generasi kedua orang Jawa yang sudah lama bermukim di Jakarta, mungkin akan mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Betawi tenimbang etnis Jawa.

Jika orang tersebut mengalami kebimbangan dalam menentukan suku bangsanya, maka BPS akan menentukannya berdasarkan etnis sang ayah. Seperti misalnya anak-anak dari pasangan Batak dan Jawa yang bingung ketika menentukan suku bangsanya, maka BPS akan menggolongkan mereka kepada suku bangsa ayahnya. Meskipun responden tersebut tidak menggunakan bahasa dan adat istiadat Batak dalam kesehariannya, namun jika sang ayah memiliki marga Batak maka responden akan digolongkan sebagai orang Batak. Metodologi survei semacam ini memang terkesan demokratis, namun mengabaikan sisi antropologis yang seharusnya dikedepankan oleh BPS. Akibatnya yang terjadi ialah dari dua sensus penduduk terakhir (tahun 2000 dan 2010), para stakeholder tidak pernah mengetahui secara tepat jumlah populasi etnis di Indonesia.

(lebih…)


Andre Vltchek (sumber : andrevltchek.weebly.com)

Andre Vltchek (sumber : andrevltchek.weebly.com)

Bukannya ada apa-apa jika dalam kesempatan kali ini saya harus menanggapi tulisan skeptis dari Andre Vltchek tentang Jakarta dan Indonesia pada umumnya. Namun sebelum melangkah lebih jauh, mungkin sebagian Anda akan bertanya-tanya, untuk apa menanggapi tulisan dia. Sedangkan namanya saja belum pernah mendengar. Memang banyak orang tak mengenal novelis yang satu ini. Namanya hanya santer dikalangan pengkritik pemerintah dan para pendukungnya yang membabi buta. Agar suasana menjadi lebih enak dan bacaan ini bisa steril untuk dinikmati, ada baiknya saya mendeskripsikan latar belakang beliau terlebih dahulu. Andre Vltchek lahir di St. Petersburg pada tahun 1963. Saat ini ia merupakan warga negara Amerika, yang telah menjalani aneka profesi dari pembuat film, wartawan perang, hingga menjadi novelis. Setelah hidup beberapa tahun di Amerika Latin dan Oseania, kini ia pindah dan bekerja di Afrika serta Asia Timur. Ia merupakan sedikit dari analis politik yang telah berkelana di banyak negara berkembang. Oleh karenanya ia tahu (beberapa) akar permasalahan di negara-negara tersebut, termasuk Indonesia.

Karya-karya Vltchek memang bisa membuat telinga penguasa meradang. Hal ini karena banyak dari tulisannya yang tak enak didengar. Wajar saja! Bagi saya yang merupakan penikmat aneka tulisan lepas, agaknya karya-karya Vltchek terlalu jorok. Selain skeptis, ia juga menulis secara serampangan. Menurut saya yang awam ini, sebuah karya yang berbobot seharusnya disertai fakta serta bukti-bukti yang akurat. Namun Vltchek nampaknya menghiraukan kaidah-kaidah tersebut. Setidaknya saya bisa mengatakan itu dari tulisannya yang berjudul : “The Perfect Fascist City, Take A Train in Jakarta” (bisa dilihat di : www.counterpunch.org : The Perfect Fascist City, Take A Train in Jakarta). Tulisan ini sebenarnya telah dirilis sejak awal tahun lalu. Namun yang saya lihat, sedikit sekali tokoh-tokoh kita –- terutama para ahli perkotaan, yang menanggapinya secara serius.

(lebih…)


Jokowi dan Ahok (sumber : kompas.com)

Jokowi dan Ahok (sumber : kompas.com)

Baru-baru ini, gubernur DKI Joko Widodo melakukan lelang jabatan dalam penempatan kepala camat dan lurah di seluruh Jakarta. Sontak kebijakan itu membuat geger puluhan abdi negara yang selama ini sudah enjoy menduduki kursi tersebut. Meski banyak diprotes — terutama oleh pejabat yang biasa memperoleh upeti dari para warga, tindakan Jokowi itu malah didukung wakil gubernur Basuki Tjahaja Purnama. Basuki atau akrab yang disapa Ahok, dalam keterangannya menyatakan bahwa ia dan Jokowi akan terus menerapkan merit system dalam pengisian jabatan-jabatan publik.

Entah apa kata yang cocok dalam Bahasa Indonesia untuk mengartikan “merit system”. Mungkin “sistem kepantasan”? Merit system atau meritokrasi adalah sebuah sistem yang menekankan kepada kepantasan seseorang untuk menduduki posisi atau jabatan tertentu dalam sebuah organisasi. Kepantasan diartikan sebagai kemampuan per se. Tanpa memandang latar belakang etnis, agama, afiliasi politik, atau status sosial mereka. Di negara-negara maju, merit system telah diterapkan sejak ratusan tahun lampau. Malah di dunia Barat, meritokrasi menjadi salah satu kunci keunggulan mereka dibandingkan peradaban lainnya di dunia.

(lebih…)


Gatot Pujo Nugroho (Gubsu) menghadiri helat perantau Minang (sumber : dnaberita.com)

Gatot Pujo Nugroho (Gubsu) menghadiri helat perantau Minang (sumber : dnaberita.com)

Sejak berabad-abad lalu, wilayah Sumatera bagian utara telah menjadi rantau tradisional bagi kaum Minangkabau. Setidaknya mereka telah bermigrasi ke Sibolga, Barus, Tapaktuan, hingga ke Meulaboh sejak abad ke-14. Di wilayah ini, Bahasa Minangkabau — yang dikenal dengan Bahasa Pesisir di Sibolga atau Bahasa Anak Jamee di Meulaboh – telah lama mengakar dan menjadi bahasa pergaulan (lingua franca). Di pesisir timur, tepatnya di kawasan Batubara dan Asahan, sejak abad ke-17 telah berkumpul orang-orang kaya Minangkabau yang melakukan perdagangan lintas selat. Mereka sebagian besar merupakan nakhoda pemilik kapal, yang berbisnis hasil-hasil bumi untuk pasaran Penang dan Singapura.

Meski sebagian wilayah Sumatera Utara telah lama menjadi koloni dagang mereka, namun di Kota Medan kehadiran etnis Minangkabau relatif baru. Sejarah mencatat baru di akhir abad ke-19 banyak perantau Minang yang bermigrasi ke Medan. Kedatangan mereka kesini mayoritas hendak menjadi pedagang. Hal ini bertolak belakang dengan kehadiran orang-orang China, Jawa, dan Tamil, yang kebanyakan sebagai kuli kontrak.

(lebih…)


Kemacetan di Jalan Rasuna Said (sumber : mediaindonesia.com)

Kemacetan di Jalan Rasuna Said (sumber : mediaindonesia.com)

Sebagai megapolitan nomor dua di dunia, Jakarta tak pernah lepas dari persoalan kemacetan lalu lintas. Seperti halnya Tokyo, Bangkok, dan New York City, traffic jam di Jakarta tergolong sangat akut. Perlu suatu terobosan luar biasa, untuk mengatasi persoalan ini. Sebenarnya problem kemacetan di Jakarta bukanlah hal yang baru. Namun sudah lima kali gubernur Jakarta silih berganti, permasalahan ini tak kunjung berakhir. Yang terjadi justru sebaliknya. Jalan-jalan di ibu kota, dari waktu ke waktu malah semakin padat. Berdasarkan data statistik, pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta setiap tahunnya mencapai 9,5%. Angka ini tak sebanding dengan pertumbuhan panjang jalan raya, yang hanya berkisar 0,01% per tahunnya.

Sudah bermacam-macam cara yang ditempuh pemerintah untuk mengatasi kemacetan di ibu kota. Pada masa gubernur Wiyogo Atmodarminto, pemerintah menerapkan sistem 3 in 1 di kawasan segi tiga emas. Setiap mobil yang melintasi Jalan Sudirman, Thamrin, dan Gatot Subroto, wajib berisi minimal tiga orang. Kemudian di periode kepemimpinan gubernur Sutiyoso, pemerintah kembali melakukan terobosan, yakni dengan membangun jaringan bus rapid transit. Bus yang dikenal dengan nama Transjakarta ini, memiliki lajur dan halte tersendiri. Sampai saat ini, sudah 11 koridor yang selesai dibangun. Koridor 12, yang menghubungkan Tanjung Priok dengan Pluit, sedang dalam tahap penyelesaian. Diluar kebijakan tersebut, Dinas Pekerjaan Umum DKI juga telah banyak membangun jalan layang serta terowongan. Namun semua itu tak bisa menyelesaikan persoalan kemacetan secara menyeluruh.

(lebih…)


Bintang David di atas “Stars and Stripes”

Tak ada satupun orang yang menyangsikan bahwa abad ke-20 adalah abadnya Amerika. Namun tak banyak orang yang tahu, dibalik keperkasaan negara adidaya itu ada kaum Yahudi yang memainkan perannya secara signifikan. US Census Bureau memperkirakan, pada tahun 2008 jumlah mereka hanya berkisar 6,5 juta jiwa, atau setara 2,2% dari populasi negara tersebut. Namun dari jumlah yang tak seberapa itu, mereka mampu mendominasi kegiatan ekonomi, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Tak hanya itu, lewat lobi-lobi mereka di parlemen dan Gedung Putih, kaum Yahudi ikut mengontrol kebijakan politik Amerika.

Kaum Yahudi mulai membanjiri Amerika Serikat sejak awal abad ke-19. Kebanyakan mereka datang dari Jerman, Inggris, dan Rusia. Dari Eropa mereka tak hanya membawa kultur dan kepandaian, namun juga modal dalam jumlah besar. Dari modal serta kepandaian inilah kemudian mereka mengembangkan bisnis di negeri Paman Sam. Kini, hampir semua lini bisnis di Amerika mereka kuasai. Terutama di bidang perbankan, pasar modal, teknologi informasi, media, film, dan retail.

(lebih…)


Kampung India atau yang dikenal dengan "Little India"

India adalah salah satu negara di dunia yang memiliki jumlah perantau cukup besar. Laporan UNDP menyebutkan, ada sekitar 25 juta orang India yang hidup di luar negeri, atau setara dengan 2% populasi India. Mayoritas mereka tinggal di Asia Tenggara, Timur Tengah, Eropa Barat, dan Amerika Serikat. Dari sekian banyak orang-orang India yang sukses, yang terbesar berada di Amerika Serikat. Di negeri ini mereka menjadi salah satu kekuatan ekonomi terpenting dan dikenal sebagai masyarakat yang terdidik. Dunia teknologi — khususnya teknologi komputer — merupakan spesialisasi komunitas India-Amerika. Berkat kemampuan ini, kini India menjadi salah satu bangsa berpengaruh di muka jagat, dalam pembuatan komputer dan perangkat turunannya.

 
Demografi Perantau India di Amerika

Amerika Serikat merupakan negara terbesar kedua yang menjadi tujuan para perantau India. Pada tahun 2010 tercatat ada sekitar 2,8 juta masyarakat India di Amerika. Angka ini naik 70% dibandingkan dengan tahun 2000 lalu yang hanya berjumlah 1,6 juta jiwa. Metropolitan New York, yang terdiri dari New York City, Long Island, dan daerah sekitarnya, serta daerah-daerah di dalam negara bagian New Jersey, Connecticut, dan Pennsylvania, adalah rumah bagi sekitar 557.000 orang India. Di New York City saja, berdasarkan sensus 2010 ada sekitar 195.000 masyarakat India. Di wilayah ini, sedikitnya terdapat dua puluh kantong pemukiman India atau yang dikenal dengan Little India. Daerah metropolitan lainnya yang memiliki populasi India cukup besar antara lain Atlanta, Baltimore-Washington, Boston, Chicago, Dallas, Detroit, Houston, Los Angeles, Philadelphia, dan San Francisco – San Jose – Oakland.

(lebih…)


Tempat diselenggarakannya Sumpah Pemuda 1928

83 tahun lalu, di Jalan Kramat 106 Jakarta, telah terjadi peristiwa Sumpah Pemuda. Sebuah momen sarat makna bagi persatuan Indonesia. Dan untuk mengenang kejadian tersebut, pada kesempatan kali ini penulis akan mengangkat satu pokok yang cukup penting, yakni terbentuknya Bahasa Indonesia. Nama Bahasa Indonesia itu sendiri secara resmi disampaikan pada acara Kongres Pemuda II, atau yang lebih dikenal dengan Sumpah Pemuda. Dari tiga pokok isi sumpah tersebut, yakni berbangsa satu, bertanah air satu, dan berbahasa satu, penentuan bahasa persatuan-lah yang paling sulit.

Namun akhirnya diputuskanlah Bahasa Melayu yang menjadi lingua franca di Kepulauan Nusantara, sebagai bahasa persatuan Indonesia. Mohammad Yamin, sang pencetus utama digunakannya Bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan, dalam pidatonya mengungkapkan : “Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu Bahasa Jawa dan Melayu. Tapi dari dua bahasa itu, Bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan.” Ada kejadian yang sangat menarik dan cukup mengharukan dalam pengambilan keputusan itu. Yakni sikap kedewasaan dan tenggang rasa yang ditunjukkan oleh anggota perkumpulan Jong Java. Mereka — yang mayoritasnya menggunakan Bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari — tidak memaksakan kehendak untuk menjadikan Bahasa Jawa sebagai bahasa persatuan. Padahal jika mengacu kepada hasil Volkstelling (Sensus Penduduk) tahun 1930, etnis Jawa berjumlah sekitar 47% dari seluruh penduduk Indonesia. Jauh di atas pengguna Bahasa Melayu, yang tak lebih dari 25% penduduk Indonesia.

(lebih…)