Archive for the ‘Sosial Budaya’ Category


Al Azhar Kebayoran Jakarta, merayakan Idul Fitri pada tanggal 30 Agustus 2011

Dalam laman kali ini, izinkanlah saya untuk mengkompliasi beberapa tulisan yang tercecer mengenai hisab dan rukyat, serta cara pandang Muhammadiyah dalam menentukan awal puasa dan Idul Fitri. Tulisan ini merupakan saripati dari berbagai sumber, yang ditulis oleh para fuqaha serta pakar astronomi. Sebagai mukadimah, ada baiknya saya nukilkan disini ayat-ayat Al Quran serta hadist yang menjadi dasar bagi kaum Muhammadiyah untuk menggunakan metode hisab dalam penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawal.

Dalam Quran Surat (Q.S) Ar Rahman (55) ayat 5 dinyatakan bahwa “Matahari dan bulan beredar menurut perhitugan.” Kemudian Q.S Yunus (10) ayat 5 menerangkan bahwa “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” Kemudian Q.S Al-Isra’ (17) ayat 12 juga menegaskan bahwa : “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.” Serta Hadist Rasulullah SAW : “Sesungguhnya satu bulan itu 29 (hari), maka janganlah kamu berpuasa sehingga kamu melihatnya dan janganlah kamu berbuka sehingga melihatnya, maka jika terhalang atasmu maka perkirakanlah ia.” (H.R. Muslim). Dari ayat-ayat dan hadist di atas jelaslah bahwa semangat Islam adalah semangat untuk berpikir progresif. Semangat yang memerintahkan kita untuk menjunjung tinggi akal, dalam perjalanannya mengimani perintah-perintah Allah.

(lebih…)


Perpustakaan Soeman Hs, Pekanbaru

Dilema Melayu Pesisir Timur Sumatra

Selain Malaysia, pesisir timur Sumatra juga merupakan wilayah konsentrasi puak Melayu yang cukup besar. Dan masyarakat disini-pun, juga sedang mengalami disorientasi jati diri serta stagnasi (kalau tidak bisa dibilang kemunduran) dalam pencapaian hidupnya. Bahkan dilema yang mereka hadapi, jauh terperosok dibandingkan dengan kaum Melayu di Malaysia. Sejak dulu masyarakat Melayu Pesisir Timur telah dimanjakan oleh alam mereka yang subur. Di wilayah ini jenis tanaman apa saja, terutama yang laku di pasaran dunia, dengan mudah tumbuh dan berkembang. Kondisi alam yang bersahabat, sedikit banyak telah berpengaruh terhadap sikap dan gaya hidup masyarakatnya. Tidaklah salah kalau pada akhir abad ke-19 dan awal abad lalu, pemerintah Hindia-Belanda harus membawa buruh-buruh perkebunan dari negeri Tiongkok dan Pulau Jawa, dikarenakan Belanda enggan mempekerjakan orang Melayu yang dianggapnya malas.

Kini setelah lebih dari 60 tahun Indonesia merdeka, stereotipe seperti itu rasanya belum beranjak dari diri mereka. Di kampung-kampung mereka sendiri, mereka menjadi pihak yang kalah dan tersingkir. Cobalah Anda berkunjung ke Pekanbaru, Medan, ataupun Batam. Di tiga kota besar kampung halaman orang Melayu ini, mereka tidaklah banyak berperan. Malah di kota-kota ini, jumlah mereka sangatlah minim. Di Pekanbaru jumlah orang Melayu hanya seperempat dari keseluruhan penduduk kota. Di Batam tak lebih dari seperlima, bahkan di Medan jumlah mereka hanya sekitar 6,6%. Selain itu dari hasil sensus penduduk pada tingkat kabupaten di Propinsi Riau dan eks-Karesidenan Sumatra Timur, jumlah mereka-pun tak terlalu menggembirakan.

(lebih…)


Buku Dilema Melayu karya Mahathir Mohammad (Sumber: mediajayastore.com)

Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad, pernah menulis buku yang berjudul The Malay Dilemma. Buku ini ditulis pada tahun 1970, namun sempat dilarang beredar oleh pemerintahan Tun Abdul Razak. Selain isinya yang banyak mengkritik kebijakan pemerintah, buku setebal 188 halaman itu dipercaya bisa memecah belah persatuan rakyat Malaysia. Beberapa pernyataan Mahathir yang cukup berani dan dimuat dalam buku itu antara lain, kritikannya terhadap kebijakan ekonomi pemerintah yang disebutnya tak berpihak kepada kaum Melayu. Serta pernyataannya yang cukup menghebohkan, tentang kualitas puak Melayu yang digelarinya sebagai bangsa pemalas dan kurang bertanggung jawab.

Namun problematika Melayu di awal milenium ini, lebih dari sekedar sikap hidup mereka yang malas itu. Tetapi sesuatu yang lebih esensi dalam pembangunan karakter bangsa dan negara, yakni identitas diri. Kebingungan mereka dalam mendefinisikan arti “Melayu”, menjadi himpitan terbesar untuk melaju sebagai bangsa yang beradab dan berbudaya.

(lebih…)


Teritori Aceh yang meliputi Semenanjung Malaysia

Karuan saja bunyi posting Mohd. Am, salah seorang netter asal Malaysia, dalam sebuah forum dunia maya : www.topix.com. Dalam tulisannya, dia mengklaim bahwa Sumatra merupakan bagian dari Malaysia. Pernyataan ini didasarkan atas teritori Kesultanan Johor di abad ke-18, yang meliputi daratan Riau di Sumatra. Dalam konteks Riau pernah menjadi bagian Johor, memang tak ada yang salah. Namun dari judul yang diangkat : Sumatra itu Milik Malaysia, jelas merupakan bentuk provokasi yang jauh dari nilai-nilai ilmiah. Aksi ini tentu memancing banyak komentar dari para netter lainnya. Hingga tulisan ini diturunkan, telah ada 12.921 respons yang masuk ke dalam page diskusi ini. Sepanjang pengamatan saya — yang cukup sering mengunjungi website ini — mungkin posting Mohd. Am inilah yang paling banyak mendapatkan balasan.

Bukan kali pertama situs ini membuat geger masyarakat Indonesia. Sebelumnya seorang netter Malaysia lain, mengubah syair lagu Indonesia Raya dengan nada merendahkan. Merasa terhina, aksi tersebut spontan dibalas netter Indonesia, yang mengacak-acak syair lagu kebangsaan Malaysia : Negaraku. Tidak hanya itu, puluhan demonstran yang tergabung dalam kelompok Bendera, juga melempari Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta dengan plastik berisi kotoran manusia. Menurut koordinator aksi Adrian Napitupulu, tindakan tersebut perlu dilakukan sebagai bentuk balasan atas klaim dan penghinaan yang dilakukan oleh bangsa Malaysia selama ini.

(lebih…)


Massa menuntut pembubaran Jemaah Ahmadiyah

Hari ini (Kamis, 10 Februari 2011), Metro TV dalam salah satu sesi perbincangan di acara 8 – 11 Show, mengangkat tema “Stop Kekerasan Ormas”. Dalam acara itu didiskusikan akar masalah kekerasan ormas yang acapkali terjadi di negeri ini. Pagi ini juga, di hari yang sama, jaringan Radio Delta FM, juga mengangkat tema yang hampir senada. Menghadirkan wartawan senior Nuim Khaiyath, Delta mengupas sebab musabab kekerasan yang mudah terjadi di Indonesia. Banyaknya diskusi bertajuk semacam ini, dikarenakan terulangnya kembali tindak kekerasan dan kebrutalan yang mengatasnamakan Islam. Kita tahu, beberapa hari yang lalu sekumpulan massa telah melakukan penyerangan dan pembakaran di dua lokasi yang berbeda. Pertama, penyerangan terhadap Jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, dan yang kedua penyerangan terhadap gereja di Temanggung, Jawa Tengah.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan mudahnya kekerasan terjadi di tengah-tengah masyarakat kita dewasa ini. Dan dalam paparannya yang sangat menarik, Nuim Khaiyath berpendapat bahwa ketidakadilan dan tiadanya penegakan hukum, menjadi biang keladi permasalahan ini bisa terjadi. Menurutnya, amuk massa yang terjadi belakangan ini, boleh jadi merupakan salah satu bentuk amarah masyarakat atas tidak terselesaikannya beberapa kasus hukum yang melibatkan orang-orang besar. Dalam hal ini, mereka sudah tidak lagi mempercayai aparat-aparat negara, yang suka mempermainkan dan memperjualbelikan hukum. Bagi sebagian orang, jalan kekerasan tentu menjadi pilihan terbaik untuk mengapresiasikan segala kekecewaan dan himpitan yang menimpa mereka.

(lebih…)


Museum Batak di Balige

Diresmikannya Museum Batak oleh Presiden Yudhoyono pada hari Selasa (18/1) lalu, telah menyiratkan kesadaran baru akan identitas Batak. Melalui museum ini, peradaban Batak yang tak banyak diketahui orang, mulai coba diperkenalkan. Terkikisnya kesadaran berbudaya di tengah-tengah masyarakat Batak, telah menjadi kegundahan para tetua adat. Menurut mereka, saat ini banyak anak-anak muda yang tak lagi memahami adat istiadat Batak. Beberapa orang yang berdomisili di rantau, bahkan malu mengaku sebagai keturunan Batak, sehingga menanggalkan marga di belakang namanya.

Kesadaran akan identitas Batak memang menjadi suatu hal yang baik, di tengah-tengah derasnya arus westernisasi dan globalisasi yang menerjang bangsa ini. Namun kesadaran itu terasa agak berlebihan dan cenderung primordial. Bahkan sampai meletup dan mencederai kebersamaan di antara sub-sub etnis Batak. Kasus terhangat ialah pembentukan Propinsi Tapanuli yang akhirnya dibekukan oleh pemerintah. Dalam pembentukan propinsi tersebut akhirnya kebersamaan itu kandas, dan berujung dengan wafatnya Ketua DPRD Sumatera Utara, Abdul Azis Angkat. Majalah Tempo yang melakukan investigasi atas kasus tersebut melaporkan, bahwa pembentukan propinsi itu hanya kemauan komunitas tertentu saja. Dalam hal ini adalah masyarakat Toba, yang mendiami eks-Kabupaten Tapanuli Utara. Kerasnya keinginan mereka nampak dari penentuan ibu kota propinsi yang sebelumnya telah diputuskan di Sibolga, malah dialihkan ke Siborong-borong.

(lebih…)


Tokoh-tokoh Minang dalam pecahan mata uang Dollar, Ringgit, dan Rupiah

Abdul Aziz Ishak, pada tahun 1983 pernah menulis buku berjudul : “Mencari Bako”. Konon buku ini ia tulis karena kebanggaannya sebagai orang keturunan Minang yang banyak mencipta peradaban di kedua belah negeri, Indonesia dan Malaysia. Walau menurut adat Minangkabau yang matrilineal itu, Aziz tak “benar-benar sebagai orang Minang”, namun kegalauannya mencari keluarga ayah (bako dalam istilah Minangkabau), mendorongnya untuk menulis buku setebal 155 halaman. Dalam buku itu diterangkan, bahwa Aziz merupakan generasi kelima keturunan Datuk Jannaton, anggota keluarga Kerajaan Pagaruyung yang meneroka Pulau Pinang di awal abad ke-18. Walau jauh sudah pertautan Aziz dengan ranah Minang, namun rasa keminangannya itu masih perlu ia nukilkan. Dari catatan ini, terungkap pula nama Jamaluddin atau Che Din Kelang, seorang kaya Minangkabau asal Kelang Selangor, yang menikahi emak tua-nya Aishah. Kini keturunan Datuk Jannaton telah menyebar ke serata dunia, dan banyak dari mereka yang “menjadi orang”. Selain Aziz Ishak yang pernah menjabat menteri pertanian Malaysia, saudara tertuanya Yusof Ishak sukses menjadi Presiden Republik Singapura yang pertama.

Kisah lainnya datang dari Rais Yatim, yang saat ini menjabat sebagai menteri komunikasi, informasi, dan kebudayaan Malaysia. Rais lahir dari pasangan Mohammad Yatim dan Siandam asal Palupuh, luhak Agam. Orang tuanya yang berprofesi sebagai pedagang, telah merantau ke Malaysia sejak tahun 1920-an. Dalam sebuah autobiografinya, Rais menulis seluk beluk memasak rendang, masakan Minangkabau yang telah mendunia. Rais mencatat, ada tiga kunci memasak rendang agar terasa nikmat : pertama cukup kelapa dan ramuan, kedua mesti dikacau berterusan, dan ketiga apinya jangan besar. Komentar Rais mengenai rendang, melengkapi pengamatannya tentang adat perpatih yang berhulu di Minangkabau. Ternyata kecintaan Rais akan budaya Minang, bukan sebatas masakannya saja. Gaya rumah yang dibangunnya-pun, mengikuti arsitektur Minang beratapkan gonjong. Seperti banyak perantau Minang lainnya yang sukses berkarya di seantero jagad, Rais juga memiliki sifat demokratis dan egaliter. Selain itu karakter Minang yang melekat pada dirinya adalah, ia orang yang berprinsip, mudah bergaul, tahu dengan ereng dan gendeng, serta alur dan patut.

(lebih…)


Pengemis jalanan

Setiap kali ku melintas jembatan penyeberangan Dukuh Atas (Jakarta Pusat), duduknya selalu menyila. Mengapit anaknya yang tertidur di pangkuan. Parasnya tak pernah nampak jelas oleh ku. Selain tertutup tudung putih lusuh yang sudah kecoklatan, kepalanya selalu menekur. Wajahnya yang acap merunduk, mungkin sedang larut dalam simpuh kepada sang Khalik. Dalam doanya ia meminta, agar anak yang dipangkuannya itu, kelak tak menemui nasib seperti dirinya. Usianya ku tak tahu pasti. Tua belum mudapun terlampau. Mungkin sudah kepala empat. Yang jelas, anak yang dipangkuan itu, lewat sedikit dari umur anakku yang baru pandai berjalan.

Aku yakin, anak yang dipelukan itu, anak kandungnya sendiri. Bukan anak sewaan atau anak pungut yang biasa banyak dipakai oleh para pengemis jalanan. Meskipun statusnya miskin, namun yang ku lihat, ia tak pernah menengadahkan tangan. Apalagi membuat-buat cacat palsu, seperti pengemis lain di ujung jembatan penyeberangan itu. Walau tak semua orang lewat melemparkan recehan ke hadapannya. Sepintas ku lihat dari kejauhan, ada saja rezeki ibu ini.

(lebih…)


Kampung Badui, yang masih mempertahankan kuasa atas tanah ulayat mereka

Tanah ulayat atau tanah milik komunitas adat yang turun temurun telah diwarisi dan dipakai bersama, kini mulai terancam punah. Di beberapa wilayah, seperti pedalaman Kalimantan, Papua, dan Sumatera, tanah ulayat satu per satu tak terlihat lagi maknanya. Di Jawa, tanah ulayat telah hilang sejak tergadainya Kerajaan Mataram kepada kolonialisme Hindia-Belanda. Di Eropa atau Amerika, kejadian hilangnya hak waris dan hak pakai tanah ulayat, telah terjadi sejak berabad-abad lampau. Bangsa Indian yang sangat mengagung-agungkan tanah sebagai sumber produksi dan kehidupan mereka, telah merasakan betapa pahitnya kehilangan hak atas pengelolaan tanah, sejak datangnya kolonial Spanyol ke negeri mereka.

Entah kapan hak atas tanah ulayat mulai terkikis. Mungkin sejak lahirnya manusia-manusia serakah, yang tak puas dengan kepemilikan tanah yang mereka punya. Sehingga dengan ketidakpuasan itu, mereka berkelana, mencari, dan menguasai tanah-tanah ulayat masyarakat tempatan. Sejarah mencatat, model kapitalisme dan imperialisme ala Eropa, telah merongrong tanah-tanah milik pribumi untuk dieksploitasi dan dieksplorasi.

(lebih…)


Perangkat Lunak Indonesia

Peserta Kongres Pemuda II di Jakarta

Indonesia dibangun bukan tanpa persiapan. Lewat olah pikir pemuda-pemuda berpendidikan Eropa, dasar-dasar negara digali, bahasa persatuan dipilih, dan undang-undang disusun. Mengerjakan itu semua, mereka tanpa bantuan siapa-siapa. Hanya melihat-lihat best practice di negara lain, serta mengambil beberapa kearifan lokal. Dasar negara terilhami dari semangat sosialis dan anti-kolonialisme yang sedang hangat-hangatnya dipertengahan abad ke-20 lalu. Undang-undang negara, banyak diambil dari hukum positif Belanda yang berkiblat ke hukum-hukum Turki Utsmani.

Bahasa Melayu, bahasa yang berurat akar di Sumatera Timur dan telah menjadi lingua franca sejak berabad-abad lalu, dipilih menjadi bahasa persatuan Indonesia. Masalah dipilihnya Bahasa Melayu sebagai bahasa nasional, sempat menjadi perdebatan di antara pemuda-pemuda yang sedang melangsungkan Kongres Pemuda II. Ketika itu Bahasa Jawa dan Melayu, berpeluang untuk menjadi bahasa persatuan calon negara baru. Namun dalam kongres tersebut, Mohammad Yamin mengusulkan agar Bahasa Melayu yang dipilih. Selain sudah dikenal masyarakat luas, Bahasa Melayu cenderung mudah digunakan dibanding Bahasa Jawa yang berkasta-kasta.

(lebih…)