Rosihan Anwar, kerap menyebut para founding fathers asal Minangkabau sebagai seorang yang gilo-gilo baso (nyentrik atau gendeng dalam istilah Jawa). Hal ini berdasarkan pengamatannya selama bergaul dengan tokoh-tokoh tersebut, sejak zaman pergerakan hingga masa kemerdekaan. Jika diperhatikan dan diinap-inap, perkataan jurnalis kawakan itu ada benarnya. Penulis mencatat, hampir keseluruhan para pendiri bangsa yang berasal dari ranah Minang, memang memiliki sikap yang eksentrik. Sebut saja misalnya Tan Malaka, yang gila berkelana demi kemerdekaan Indonesia sampai lupa menikah. Hatta yang selalu tepat waktu, tak mau terlambat barang semenit-pun. Mohammad Yamin, seorang ahli mitos yang asik mendalami budaya-budaya kuno. Atau Buya Hamka yang keranjingan menulis, hingga melahirkan puluhan buku agama, filsafat, sejarah, dan cerita fiksi. Satu lagi tokoh Minang yang eksentrik adalah Haji Agus Salim. Setidaknya, politisi yang dijuluki Orang Tua Besar (The Grand Old Man) itu, memiliki tujuh karakter nyentrik.
7 Karakter Nyentrik Haji Agus Salim
Posted: 10 September 2013 in BiografiTag:Agus Salim Mendidik Anak, Diplomasi Agus Salim, Founding Fathers Indonesia, Gilo-gilo Baso, Haji Agus Salim, Humor Agus Salim, Jong Islamieten Bond, Sarekat Islam, Sidang Volksraad, The Grand Old Man
Meritokrasi Dalam Kultur Masyarakat Indonesia
Posted: 4 September 2013 in Sosial BudayaTag:Direksi BUMN, Diskriminasi Tionghoa, Konvensi Partai Golkar, Lelang Jabatan Jokowi, Merit System, Meritokrasi di Amerika, Meritokrasi Pemerintahan Indonesia, Meritokrasi Pendidikan Jepang, Meritokrasi Politik, Pemerintahan Indonesia, Pertamina Fortune 500
Baru-baru ini, gubernur DKI Joko Widodo melakukan lelang jabatan dalam penempatan kepala camat dan lurah di seluruh Jakarta. Sontak kebijakan itu membuat geger puluhan abdi negara yang selama ini sudah enjoy menduduki kursi tersebut. Meski banyak diprotes — terutama oleh pejabat yang biasa memperoleh upeti dari para warga, tindakan Jokowi itu malah didukung wakil gubernur Basuki Tjahaja Purnama. Basuki atau akrab yang disapa Ahok, dalam keterangannya menyatakan bahwa ia dan Jokowi akan terus menerapkan merit system dalam pengisian jabatan-jabatan publik.
Entah apa kata yang cocok dalam Bahasa Indonesia untuk mengartikan “merit system”. Mungkin “sistem kepantasan”? Merit system atau meritokrasi adalah sebuah sistem yang menekankan kepada kepantasan seseorang untuk menduduki posisi atau jabatan tertentu dalam sebuah organisasi. Kepantasan diartikan sebagai kemampuan per se. Tanpa memandang latar belakang etnis, agama, afiliasi politik, atau status sosial mereka. Di negara-negara maju, merit system telah diterapkan sejak ratusan tahun lampau. Malah di dunia Barat, meritokrasi menjadi salah satu kunci keunggulan mereka dibandingkan peradaban lainnya di dunia.
Enjoy Jakarta : Kota Wisata Seribu Rasa
Posted: 20 Agustus 2013 in WisataTag:Bercuti ke Jakarta, Berwisata Kepulauan Seribu, Dufan Ancol, Enjoy Jakarta, Kafe Kemang, Kota Tua Jakarta, Obyek Wisata Jakarta, Panduan Wisata ke Jakarta, Pelancongan ke Jakarta, Taman Mini Indonesia Indah, Tamasya ke Jakarta, Tempat Nongkrong di Jakarta, Wisata ke Jakarta
Jakarta, kota wisata seribu rasa. Disini Anda bisa menikmati aneka jajanan kaki lima, kuliner dari berbagai pelosok Nusantara, atraksi dan festival, gedung pencakar langit dan bangunan kuno, serta kemewahan berbelanja di mal-mal modern. Seperti kota wisata ternama lainnya, Jakarta juga didukung oleh sarana dan infrastruktur modern : jaringan jalan, layanan internet, transportasi massal, dan penginapan. Untuk memudahkan para pelancong, pemerintah kini telah menyediakan situs “Enjoy Jakarta”. Situs ini bisa menjadi panduan bagi para wisatawan sebelum melancong ke Jakarta. Namun jika Anda belum puas, buku-buku travel guide seperti “Lonely Planet”, “Frommer’s”, atau “Rough Guides” mungkin bisa dihandalkan.
Saat ini megapolitan Jakarta Raya dihuni oleh lebih dari 28 juta jiwa penduduk. Angka ini jauh melampaui metropolitan dunia lainnya seperti New York City, London, ataupun Paris. Masyarakat Jakarta terdiri dari berbagai macam etnis dari seluruh Nusantara. “Penduduk asli-”nya dikenal dengan sebutan Orang Betawi. Komunitas Betawi sebenarnya juga merupakan pencampuran banyak etnis di Nusantara, termasuk di dalamnya orang-orang dari selatan Tiongkok, pantai timur India, Hadhramaut, dan komunitas Portugis. Oleh sebab itu, budaya Jakarta banyak menyerap unsur-unsur asing. Meski hampir keseluruhan orang Betawi beragama Islam, namun banyak pula masyarakat Jakarta yang memeluk Kristen, Budha, ataupun Konghucu. Mereka sebagian besar berasal dari Indonesia Timur atau masyarakat keturunan China.
Warkop Sang Legendaris
Posted: 12 Juli 2013 in HiburanTag:Arizal, Dono Warkop, Film Maju Kena Mundur Kena, Film Pintar-pintar Bodoh, Film Pokoknya Beres, Film Warkop, Indro Warkop, Kasino Warkop, Lagu Parodi Warkop, Nyanyian Kode, Warkop : Main-main Jadi Bukan Main, Warkop DKI, Warkop Prambors
Sang Legendaris ! Mungkin itulah ungkapan yang pas untuk kelompok lawak kenamaan : Warkop DKI. Kelompok yang digawangi oleh tiga sekawan Dono, Kasino, Indro itu, merupakan kelompok komedi yang pernah berjaya di era 1980 hingga pertengahan ‘90-an. Bermula dari acara “Obrolan Santai di Warung Kopi” radio Prambors, Warkop kemudian menjelma menjadi kelompok komedi yang diperhitungkan. Mereka tak hanya bersinar di radio dan di panggung-panggung, namun juga sukses di layar lebar. Kala itu eksistensi Warkop berhasil menggeser ketenaran kelompok Srimulat dan Kwartet Jaya. Selain sukses secara komersial, Warkop juga memberikan angin segar bagi dunia perlawakan di Indonesia, yang waktu itu banyak menonjolkan peragaan fisik dan perkataan seronok. Meski pada mulanya Warkop cukup edukatif, namun seiring berjalannya waktu mereka juga terjebak dalam guyonan yang banyak mempertontonkan aurat. Terutama setelah film-film mereka diproduksi oleh Soraya Intercine Films.
Berbicara mengenai komedian yang satu ini, boleh jadi tak pernah ada habisnya. Meski nontonin film mereka berulang kali, namun tak pernah muncul perasaan bosan. Dulu sewaktu kami sekolah, lawakan ala Warkop sempat menjadi trend-setter dan cerita di waktu senggang. Kala itu kata-kata : “Gila lu Ndro” atau “Emangnya mau main anggar …” sering meluncur dari mulut para pelajar. Malah ada seorang teman kami yang berbibir mancung, sering diejek dengan panggilan “bemo”. Sebuah angkutan roda tiga di Jakarta, yang memiliki moncong di bagian depan. Lagi-lagi istilah ini kami dapatkan dari gurauan Warkop DKI, yang sering mengolok-olok Dono dengan panggilan bemo. Ada lagi istilah IQ Jongkok, yang diambil dari salah satu judul film mereka. Istilah ini biasanya ditujukan kepada anak-anak yang lamban dalam berpikir. “Dasar IQ Jongkok !” begitu makian kami kepada kawan-kawan yang sedikit telmi (ini istilah Warkop juga gak ya?).
Menjelajahi Pesona Bukittinggi
Posted: 19 Juni 2013 in PerkotaanTag:Danau Tarusan Kamang, Great Wall Koto Gadang, Hotel The Hills, Istana Bung Hatta, Janjang 40, Janjang Saribu, Kampung Cina Bukittinggi, Nasi Kapau, Pasar Aur Kuning, Pical Sikai, Rohana Kudus, Sekolah Kerajinan Amai Setia, Taman Panorama, Toko Sepatu Yap Yek
Tak banyak kota di Indonesia yang memiliki geografis kurang menguntungkan, namun mampu memikat para wisatawan. Salah satu dari yang sedikit itu ialah Bukittinggi. Bagi Anda yang belum pernah berkunjung ke kota ini, jangan pernah membayangkan besaran Bukittinggi seperti halnya Jogja ataupun Bandung, apalagi Jakarta. Meski kota ini pernah menjadi pusat pemerintahan Republik pada masa revolusi, namun bukan berarti yang ada disini segalanya besar dan megah. Satu hal yang menjadikannya besar adalah masyarakatnya yang campin. Sehingga banyak hal-hal yang penting telah terjadi disini.
Untuk ukuran kota kecil, Bukittinggi termasuk kota yang padat. Saat ini, kota yang hanya seluas Kecamatan Tanjung Priok di Jakarta itu, memiliki kepadatan mencapai 4.400 jiwa per kilometer persegi. Meski sepadat itu, namun Bukittinggi memiliki tata kota yang apik. Rumah-rumah penduduk terletak berjejeran, dengan diselingi sawah dan kebun milik ulayat. Disana Anda tak akan menemui gang-gang becek ataupun rumah reot yang berlimpit-limpit, seperti halnya slum area di kota-kota besar. Jalan-jalan yang lurus dari segala penjuru, bermuara disekitar pelataran Jam Gadang dengan bentuk melingkar.
Dunia Maritim dan Pelayaran Orang Jawa
Posted: 13 Mei 2013 in SejarahTag:Amangkurat I, Anggun nan Tongga, Dipati Unus, Hikayat Hang Tuah, Jung Jawa, Kesultanan Demak, Laksamana Cheng Ho, Pelaut Jawa, Ratu Kidul, Sawerigading, Sultan Agung, Utimutiraja
Banyak orang beranggapan, bahwa dunia pelayaran Nusantara dari masa ke masa hanya diperankan oleh masyarakat Melayu dari Sumatera atau orang-orang Bugis di Sulawesi. Sejarah yang banyak menonjolkan bagaimana hebatnya para pelaut Bugis atau kapal-kapal Sumatera yang berlayar ke pelosok Nusantara, Jepang, India, hingga pantai timur Afrika, telah menenggelamkan sejarah pelayaran orang Jawa. Banyak sejarawan yang berpikir, bahwa masyarakat Jawa identik dengan pertanian. Pandangan mereka yang cenderung melihat ke dalam (looking inward) dan bergantung kepada tanah, seolah-olah menghiraukan dunia bahari yang berada di sekeliling mereka.
Gambaran ini mungkin saja benar, jika kita membaca kajian tentang tema laut dalam kesusasteraan Indonesia. Berdasarkan hasil kajian yang dirangkum oleh Dennys Lombard dalam bukunya Le Carrefour Javanais, dikemukakan bahwa dalam kesusasteraan Jawa, hampir tak terdapat nyanyian pujian mengenai petualangan di laut. Hal ini berbeda dengan orang-orang Sumatera, yang hingga kini dalam kesehariannya masih mendendangkan cerita pelayaran Hang Tuah atau petualangan Anggun nan Tongga. Masyarakat Sulawesi Selatan, sejak ratusan tahun lalu telah mengembangkan wiracerita La Galigo yang luar biasa. Buku setebal 1.000 halaman itu, membicarakan kisah mengenai pelayaran Sawerigading. Agaknya laut dalam khayalan orang Jawa dicirikan sebagai sesuatu yang kurang menyenangkan, seperti yang terdapat di pantai selatan Jawa. Dalam mitos Ratu Kidul, tergambar suatu kegelisahan masyarakat tentang laut yang menakutkan.
Masyarakat Minang di Kota Medan
Posted: 10 April 2013 in Sosial BudayaTag:Anak Jamee, Ani Idrus, Bachtiar Junus, Deliar Noer, Durian Ucok, H.M. Arbie, Hotel Madani Medan, Joesoef Sou’yb, Karim Marah Sutan, Masri Nur, Merantau ke Deli, Pajak Sentral, Panji Islam, Pasar Sukaramai, Pedoman Masyarakat, Perantau Minang di Medan, Plaza Gelora Medan, Restoran Garuda, Sjoerkani, Sofyan Raz, Zainal Abidin Ahmad
Sejak berabad-abad lalu, wilayah Sumatera bagian utara telah menjadi rantau tradisional bagi kaum Minangkabau. Setidaknya mereka telah bermigrasi ke Sibolga, Barus, Tapaktuan, hingga ke Meulaboh sejak abad ke-14. Di wilayah ini, Bahasa Minangkabau — yang dikenal dengan Bahasa Pesisir di Sibolga atau Bahasa Anak Jamee di Meulaboh – telah lama mengakar dan menjadi bahasa pergaulan (lingua franca). Di pesisir timur, tepatnya di kawasan Batubara dan Asahan, sejak abad ke-17 telah berkumpul orang-orang kaya Minangkabau yang melakukan perdagangan lintas selat. Mereka sebagian besar merupakan nakhoda pemilik kapal, yang berbisnis hasil-hasil bumi untuk pasaran Penang dan Singapura.
Meski sebagian wilayah Sumatera Utara telah lama menjadi koloni dagang mereka, namun di Kota Medan kehadiran etnis Minangkabau relatif baru. Sejarah mencatat baru di akhir abad ke-19 banyak perantau Minang yang bermigrasi ke Medan. Kedatangan mereka kesini mayoritas hendak menjadi pedagang. Hal ini bertolak belakang dengan kehadiran orang-orang China, Jawa, dan Tamil, yang kebanyakan sebagai kuli kontrak.
Langkah Dahlan Iskan Membenahi BUMN
Posted: 14 Maret 2013 in Ekonomi BisnisTag:BUMN karya, Dahlan Iskan, Holdingisasi BUMN, Jalan Tol Bali, Jawa Pos, Jembatan Selat Sunda, Manufacturing Hope, Mobil Listrik, The New Tanjung Priok
Kalau Anda berlangganan koran Jawa Pos, dan membaca tulisan-tulisan Dahlan Iskan pada halaman pertama, mungkin Anda akan merasa optimis mengenai keberlangsungan Republik ini. Bagaimana tidak, lewat tulisan itu, Pak Dis — sapaan akrab Dahlan Iskan — mampu memberikan harapan dan gairah baru bagi Indonesia. Semua urusan Perusahaan Negara (baca : BUMN) yang karut-marut selama beberapa tahun belakangan ini, selalu ada saja solusinya. Kita tahu, banyak perusahaan-perusahaan negara yang selama ini dikelola asal-asalan. Selain korupsi yang meruyak, banyak manajemen BUMN diisi orang-orang yang tak kompeten. Sehingga hampir sebagian besar perusahaan milik negara mengalami kerugian.
Salah satu perusahaan plat merah yang mengalami kerugian cukup besar adalah Pertamina. Perusahaan petroleum kebanggaan bangsa ini tidak hanya kalah di pasaran luar negeri, namun juga keok dalam memenuhi permintaan dalam negeri. Untuk menyiasatinya, maka Dahlan bersama tim manajemen Pertamina telah bersepakat membentuk “Brigade 200 K”. Pasukan ini bertujuan untuk meningkatkan produksi minyak Pertamina mencapai 200.000 barel per hari dalam waktu dua tahun. Selama ini Pertamina memang keteteran dalam memenuhi permintaan. Namun selama itu pula tak ada seorang-pun dari pihak Kementeriaan BUMN yang mau menuntasan permasalahan ini. Kini setelah Pak Dis menggebrak anak-anak muda Pertamina untuk meningkatkan angka produksi, maka diharapkan dua tahun mendatang Pertamina sudah bisa menjadi raja di kawasan ASEAN.









